
Lesya sudah tahu jika dirinya dalam kondisi mabuk, dia akan bertingkah bak anak kecil umur 3 tahun. "Ja-jadi lo bawa gw waktu gw mabuk? " Elvan mengangguk.
Lesya dengan sontak berdiri dan menunjuk ke arah Elvan panik. Dia berharap jika Elvan tak mengetahui sikapnya di saat mabuk. Di mana harga dirinya nanti? Pikirnya.
"Si-sikap gw gimana? Waktu mabuk! " Elvan ingin sekali mengejek Lesya yang terlihat gugup itu. "Kenapa? "
"Y-ya ja-jawab aja apa susahnya?! " Elvan mengangkat alisnya. "Kemaren, lo gigit jari gw! " Hening, Lesya ingin menenggelamkan wajahnya ke dalam dasar samudera Hindia saat ini.
Elvan menarik jari telunjuk Lesya yang lantang menunjuknya sedari tadi. Lesya yang tak siap dengan tarikkan Elvan, maju beberapa langkah hingga dirinya berada di pangkuan Elvan.
Ada yang mampu membantu Lesya dari papan balok di depannya ini? Ayolah, wajahnya sudah memerah saat ini. Ingin sekali Elvan tertawa keras di saat dirinya mengetahui bagaimana penampakkan seorang bad girl malu-malu kucing.
"Bo-bohong! Gw gak pernah tuh! " elak Lesya tak percaya. Elvan mengangkat satu alisnya ke atas. Dia tak meringis di saat merasakan jika lutut Lesya tak sengaja menekan luka nya.
Dia mengambil ponselnya di dalam saku dan memperlihatkan vidio yang sempat dia rekam kemaren tentang kelakuan Lesya malam itu. Sudah merah, wajah Lesya semakin merah melihatnya.
Dia menatap Elvan yang menatapnya dengan alis terangkat. Di saat dia ingin mengambil alih ponsel Elvan, dengan cepat Elvan menyimpan ponselnya di saku celananya. "Kenapa? "
"Ha-hapus ya" Lesya menempelkan kedua tangannya dan menatap Elvan bagai tatapan penuh harap.
Lesya tak masalah sebenarnya naas, dia takut jika Elvan menyebarkan vidionya mengingat betapa dendamnya Elvan padanya sejak dirinya dan Elvan pertama kali bertemu.
Elvan yang melihat itu tersenyum samar lalu menggeleng. Dengan cepat Lesya kembali mendekatkan tangannya itu yang masih menyatu. "Zioner Elvano Gregorius Grey yang baik hati, tidak sombong, murah hati, em.. yang paling ganteng hapus ya.. "
Elvan menggeleng membuat lesya meninju dadanya malas. "Ah bod*amat lah! " Elvan melingkarkan tangannya di pinggang Lesya membuat Lesya was-was sendiri. "Pan, lepass ish! "
Elvan tak bergeming. "Ulangin! " Lesya sontak menatap Elvan bingung. "Yang mana? Bod*amat? "
"Sebelumnya! " Lesya mengangguk paham dan mengingat apa yang dia ucapkan tadi. "Zioner Elvano Gregorius Grey yang baik hati, tidak sombong, murah hati! "
__ADS_1
"Lalu? " Lesya mengangkat satu alisnya bingung. "Em.. Apa ya? Oh! Yang gant-teng? " Elvan mengukir senyum di bibirnya dan sekilas mengencup pipi Lesya.
Cup!
Lesya kali ini tak diam saja. Justru dia meninju lengan kanan Elvan kesal. "Apaan sih lo! " Elvan mengangkat kedua bahunya acuh. "Hapuss ya Pan.. " rengek Lesya.
Elvan sontak menatap Lesya dan tersenyum jail. Dia menunjuk pipi kanan kiri nya bergantian membuat Lesya justru mencebikkan bibirnya malas. "Mau gak? " tanya Elvan menaik turunkan alisnya.
Dengan berat Lesya menghela nafas panjangnya dan ragu-ragu untuk melakukan apa yang diminta Elvan demi vidionya terhapus.
Cup! Cup!
Dengan singkat Lesya menuruti syarat Elvan dan mengambil ponsel Elvan dari sakunya. "Masukkin kodenya Pan! "
"Tujuh enam dua ****" Lesya terdiam mendengar jika sandi tersebut adalah sandi dimana pernikahan dirinya dan Elvan berlangsung. Dengan cepat dia mengetik empat digit tersebut dan menghapus vidionya.
"Gak mau! " Lesya berusaha terlepas dari pelukkan Elvan nihil! Tenaga Elvan jauh lebih kuat dibandingkan dirinya. "Hoeekk! Bau lo sumpah! " bohong Lesya berpura-pura muntah.
Dapatkah Lesya jujur jika aroma tubuh Elvan sama sekali tak berbau. Aroma mint khas tubuh Elvan menyegarkan indra penciuman Lesya. "Gak bau kok! " bantah Elvan tak terima.
"Makanya lepas ish! Enggap nih! " Merasa ada celah dari Elvan, Lesya segera kabur pergi dari kamar.
Sebelum benar-benar pergi, Lesya menyempatkan untuk menjulurkan lidah mengejeknya kepada Elvan. Elvan geleng-geleng kepala saja melihatnya. Dengan cepat dia segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya yang terasa lengket.
...~o0o~...
Lesya yang turun ke bawah mendapati Elena yang belajar memasak ditemani oleh Mayang di dapur. Dengan cepat dirinya menghampiri kedua wanita berbeda usia itu. "Bunda! Kak Elen! " panggilnya.
Sontak mereka menoleh ke arah Lesya yang baru saja masuk ke dalam lingkup dapur. "Lesya? Ngapain? " Lesya cengengesan. "Gak tau mau ngapain jadi nyamper aja"
__ADS_1
"Mau bantuin masak? " Lesya mengangguk saja karena merasa bosan tak ada kerjaan, lebih baik dia masak bukan? Pikir Lesya.
Elena terperanjat kaget. "Bisa masak? " Lesya mengangguk kecil. "Kalo menunya simple ya bisa sih.. " jawabnya.
Elena mengangguk setuju. "Akhir ini gw juga belajar masak dikit-dikit" Mayang yang sibuk mendengar pembicaraan anak dan menantunya ikut menimbrung.
"Sebagai istri udah wajar harus bisa masak buat suami dan anak nanti! Kalo gak bisa, anak sama suami makan apa? Apa harus sewa pembantu? Kalo misalnya gak mampu sewa pembantu gimana? Makan di luar? Itu namanya pemborosan! " jelas Mayang berceloteh.
Lesya dan Elena mengangguk menyetujui nasihat Mayang untuk mereka berdua. "Kak, bang Alam datang gak? " Elena menunjuk dimana Alam duduk berbincang dengan Angga di ruang keluarga. "Itu! Emang kenapa? "
"Enggak sih cuman mau nanya soalnya aku mau mintol sama dia" Elena mengangguk. Lesya segera berlari ke arah Alam yang sendirian di ruang keluarga karena Angga pamit ke toilet tadi. "Bang! "
Alam menoleh dan menyuruh Lesya duduk di sampingnya. "Kenapa? Kayaknya penting ya? " Lesya mengangguk. "Gw cuman mau mintol! "
"Mintol apaan? " Wajah Lesya berubah drastis menjadi sangat serius. "Bang, kalo TW bukan pelaku dari mama Luna, terus siapa dong? "
"Oh.. Lo minta cari tau soal itu? " Lesya mengangguk cepat dengan tebakkan Alam yang tepat. "Iyaa! Gak mau tau harus ketemu! Udah ya byee.. "
Lesya segera pergi karena matanya melihat dimana Angga kembali dari toilet menuju mereka. "Lesya kenapa lam? " Alam menggeleng. "Enggak kok Yah! "
Lesya berlari menuju dapur hingga tak sengaja menabrak bi Lilis yang sudah kembali sejak kemarin. Alhasil, Lesya jatuh sementara bi Lilis yang membawa baju dalam keranjang ikut jatuh bersama baju-baju kotor yang ada.
"Aw! Maaf bi Lesya gak sengaja! " Lesya membantu bi Lilis mengumpulkan baju kotor yang berserakan. "Iya non eh sya, gak papa" Lesya tersadar dan menatap bi Lilis. "Loh, bi Lilis? "
"Udah pulang ya? Kapan? Kok aku gak tau yah? " Baju kotor yang berserakan tadi sudah terkumpul rapi. "Kemarin sya, mungkin karena kamu gak ada mungkin gak tau"
"Ouh iya kemarin aku gak di sini, maaf ya bi" Bi Lilis menggeleng. "Gak papa sya, " Lesya berdiri lalu pamit menuju dapur sementara bi Lilis pergi ke tempat pembersihan baju.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
__ADS_1