
Braaakk! Stakk!
Suara gebrakan begitu terdengar bahkan dapat dirasakan meja berkayu itu sedikit patah akibat tahanan emosional seorang devil mereka. Letha saja hingga menoleh ke arah meja yang dia tempati. Satu kakinya sudah patah. Wah, tenaga Lesya saat marah memang tak dapat diragukan lagi. Mengerikan namun letha tak dapat pungkiri harus menantang Lesya.
"I say again, give me back my necklace! (Gw bilang sekali lagi, balikin kalung gw!) " kata Lesya dingin seolah tak ingin dibantah. Letha yang tetap kekeuh masih diam saja dengan tatapannya yang tak kalah tajam menatap Lesya.
"And I no matter what you say! (Dan gw gak peduli apa yang lo ucapkan) " tajam Letha membalas tanpa rasa takut. Kehilangan kesabaran, Lesya tanpa segan menarik kasar tangan Letha agar berjalan keluar dari kantin. Letha sendiri hanya terkejut dan memekik kesakitan saat Lesya memainkan kukunya di arah pergelangan tangannya. Nadinya kecekik!
Lisa merentangkan tangannya kearah Amel dan Nayla yang hendak menyusul Letha yang sudah ditarik keluar dari kantin oleh Lesya. Berbeda dengan Luna yang menatap tajam ke arah seluruh siswa-siswi yang sibuk merekam dengan ponsel pintar mereka masing-masing. Ada juga yang asik menyimak dan menjadikan bakso ataupun mie ayam mereka sebagai ganti popcorn. Mereka kira ini bioskop?!
"HAPUS VIDIONYA SEBELUM GW CEKEK KALIAN SEBAGAI GANTINYA?! " ancam Luna dengan nadanya yang lantang.
Tentu saja mereka reflek menunduk dan segera menghapus rekaman vidio yang sempat mereka rekam. Sia-sia memang, asalkan nyawa mereka aman mengapa tidak? Mengapa mereka menurut jika diancam oleh two girls trouble maker? Jawabannya adalah karena mereka tahu jika ucapan para perusuh sekolah mereka tak pernah main-main. Anak lelaki yang bandel sering kali menjadi saksi korban penepatan ucapan kedua gadis pembuat ulah. Terlebih pada Lesya, sang devil yang tak pernah main-main dengan ucapannya.
"Misi?! "
Sentakan dari Nayla yang tak sabar ingin menyusul sepasang kakak beradik itu, tanpa sadar membentak Lisa. Memang kedua teman Lesya itu kebal bentakkan dari orang yang tak dekat dengan mereka. Hanya saja hal itu membuat Elvan dkk yang sengaja datang ke kantin menoleh ke arah mereka. Dapat dilihat dari raut wajahnya Elvan, sang ketua OSIS itu menahan geram dengan postingan di media sosial yang menyeret namanya.
Sebelum rapat OSIS, Valen yang memang sedang bermain ponsel dengan Ken tanpa sengaja melihat postingan Letha. Setelah sibuk berkomentar, kedua teman Elvan itu memberitahu tentang postingan Letha yang sudah top trending di sekolah mereka. Tentu saja Elvan tak terima. Terlebih sang kakak—Elena, sudah turun tangan walau sekedar berkomentar.
__ADS_1
"Lah, Letha nya mana? " tanya Ken pada Nayla. Kedua teman Letha itu menoleh dan menggeleng jujur karena tak tahu.
"Dibawa Lesya keluar tapi gak tau kemana! " ucap Lisa sebagai jawaban. Tentu saja kelima lelaki remaja itu yang berkedudukan anggota OSIS segera pergi mencari sepasang adik kakak kembar itu. Bukan apa-apa karena pasalnya keributan dikantin membuat mereka harus turun tangan untuk melerai keduanya.
"Mencar! " perintah Elvan.
Keempat teman Elvan itu mengangguk bersamaan dan berpencar mengelilingi sekolah mereka. Luna yang merupakan sahabat Lesya juga ikut turun tangan karena dia tahu kemarahan sahabatnya sulit dikendalikan. Bahkan butuh waktu berminggu-minggu jika ingin kembali seperti biasanya. Itu sebabnya sangat sulit jika ingin menjadi teman Lesya karena mood gadis itu harus dipahami.
Revan? Lelaki itu sedang bolos karena dia merasa bosan ketika kelima temannya sibuk membicarakan tentang hal-hal yang berbau OSIS. Lebih tepatnya Revan salah satu badboy di sekolah Gregus. Lalu pertemanan? Terkadang dia sering sapa dan mengobrol santai dengan Leon. Yah, walau hanya sekilas saja. Revan salah satu anak pendiam namun dapat menjadi api panas jika bersama kelima temannya.
...~o0o~...
Dengan kasarnya Lesya melepaskan tangannya yang menarik tangan Letha dan menatap datar ke arah sang adik. Bagaimana pun wujud dan sikap Letha, dia tetaplah kembarannya. Tetaplah adiknya. Dan tetaplah seseorang yang berbagi tempat hidup sejak dalam kandungan.
"Balikin! " tegas Lesya lagi mencoba sabar. Walaupun emosionalnya sudah mencapai puncak, Lesya tetap berusaha menahan dalam hatinya untuk tak main tangan dengan sang adik. Sekali lagi, hanya Letha lah keluarganya sedari kecil setelah kepergian kedua mendiang papi dan maminya. Walaupun terdapat Mily, Gilang, dan Galang, Letha tetaplah sesorang yang selalu akan tetap menjadi adik kembarnya. Ya, memang tak identik.
Letha tetap menggeleng kekeuh dan menjauhkan dirinya setelah tangannya dilepaskan oleh Lesya. Pergelangan tangannya serasa perih bahkan memerah karena ulah Lesya yang menariknya.
"Sampai kapanpun lo gak pantes make kalung ini! Lo cuman nyusahin keluarga Elvano doang! Lagi pula kalian cuman nikah gak mungkin pake cinta kan? Gw tau gimana sikap Elvan dan juga sikap lo! Kalian terpaksa kan? Atas dasar apa lo tiba-tiba nikah sama dia? Padahal jelas-jelas lo tau gimana perasaan gw sama Elvan! " sarkas Letha mencoba mencari informasi. Dia juga cukup bingung mengapa sang kakak dapat tiba-tiba menyandang gelar sebagai sang menantu kecil dari keluarga terhormat.
__ADS_1
"Balikin! " ulang Lesya lagi.
"Sebelum lo jawab pertanyaan gw, gw gak akan balikin! " tegas Letha. Lesya menendang batu kecil yang berada di depannya hingga terlempar ke arah dahan pohon di sana. Emosionalnya memuncak sekarang. Dapat Lesya rasakan tiba-tiba perutnya kram. Namun sekuat tenaga dia mencoba menahan rasa sakit itu.
"Oke dan lo harus terima setiap kata yang gw ucapin! " final Lesya. Bukan apa-apa, Lesya hanya tak mau sang adik dilanda kebingungan. Dia juga mau sang adik dapat menerima kenyataan tanpa menolak keras. Dia tak mau menyimpan rahasia besar lagi. Dia bukan takut dengan ancaman Letha, namun sepertinya dia merasakan ini adalah waktu yang tepat untuk jujur mengenai statusnya sebagai sang istri dan mungkin calon ibu~
"Gw dijodohin atas dasar permintaan mami yang mau gw menikah sama Papan. Pernikahan gw dengan Elvan memang dirahasiakan bahkan oleh pihak sekolah. Tapi cuman pak Rio dan bu Bunga yang tau tentang pernikahan gw dan Papan. Awalnya gw rasa kita bakal gak akur. Nyatanya justru gw diperlakukan bagaikan ratu sama mereka. Gw dimanja bunda, Ayah juga sayang sama gw, kak Elen terkadang datang nemenin gw di rumah dan gw sendiri selalu dapat perlakuan manis sama Elvan. Itu yang buat gw betah tinggal sama mereka selama lima bulan ini." jujur Lesya tanpa rasa takutnya ataupun ragu nya.
Letha hanya diam mencerna setiap kata yang terlontar dari mulut Lesya. Menahan sesak, tangannya sudah terkepal kuat bahkan tanpa sadar menampar pipi Lesya yang hendak menutup ceritanya.
"Karena lo udah tau cerita gw, jadi jangan harap lo bisa--- "
Plaaakk!
Lesya memegang pipinya. Hanya dua rasa yang dia rasakan. Panas dan sakit. Namun sepertinya rasa panas jauh lebih kecil dibandingkan rasa sakitnya. Ini bukanlah sakit karena ditampar. Melainkan sakit diperlakukan tak layak seperti kakak beradik pada umumnya. Dunia ini begitu banyak drama yang membuatnya muak. Dia ingin hidup dengan tenang walau tak memiliki harta sepeser pun. Namun pada kenyataannya, ekspektasinya tak sesuai dengan realita yang harus dia dapatkan.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
>>><<<
__ADS_1
Ini penndek ya alurnya atau kalian ketagihan? Wkwk, ini udah panjang lho author ketiknya. Jangan lupa tunggu terus ya dan juga sedikit kasih bunga boleh gak? Buat yang mau aja btw ya😄