
Episode 397: Suasana Rumah
Kini di sebuah rumah sudah ramai diisi beberapa suara ricuhan. Kali ini tepat di rumah Lesya mereka sedang asik bermain dengan salah satu teknologi canggih sang pemilik rumah.
Kacamata dengan teknologi canggih yang dirancang khusus untuk sekedar melihat-lihat keindahan alam dunia sedang digunakan. Nama benda tersebut ialah kacamata futuristic.
...(kacamata futuristic)...
...sumber: google...
Bahkan Luna dan Valen saja berebutan ingin lebih dahulu kembali menggunakannya. Dan dengan terpaksa Elvan memberikan kacamata futuristic yang dia gunakan untuk menegahi perdebatan yang tak haqiqi itu.
Begitu juga dengan Gilang dan Mily yang berebut kacamata berteknologi canggih itu. Untung Galang yang sedang malas melihat perdebatan mereka, memberikan kacamata futuristic yang sempat dia gunakan tadi pada adiknya.
Lalu untuk Felicia, dia asik menemani anaknya—Vay bermain dengan kacamata canggih itu. Sementara Lisa hanya asik memberi makan ikan-ikan milik Tuan Rumah. Ya, kini mereka semua sedang berada di ayunan taman rumah Lesya. Taman itu memiliki satu patung air mancur yang di dalamnya berisikan beberapa ikan hias.
Dan untuk sang pemilik rumah, berbeda cerita dengan mereka. Dia tampak asik menikmati ayunannya ditemani oleh sang mommy tirinya. Ya, dia mulai merasa nyaman dengan kehadiran wanita berkepala dua itu. Namun sepertinya dia tak sadar jika di sampingnya sudah ada Elvan.
"Gw heran sama lo, kenapa sih mau-mau aja sama daddy? Baik kagak, kejam iya! " tanya Lesya heran. Bukan apa-apa, Lesya hanya membuka pembicaraan agar dia tak merasa bosan di rumahnya itu.
"Itu karena saya ganteng! " sahut Galang yang berjalan mendekat ke arah mereka. Sella terkekeh pelan sementara Lesya memasang tampang hendak muntahnya. Coba bilang dia, ganteng dari mananya?! Dari got sih iya, wkwk…
"Hoeeekkk, idih PeDe-an amat jadi orang! Ganteng kagak, tua iya haha… " ledek Lesya tertawa pelan walau tak tahu di mana Galang berada. Sejenak Galang mendengus sebal namun diam-diam mengukir senyu melihat tawa Lesya. Setidaknya untuk terakhir kalinya mungkin, dia melihat senyum itu walau tak dapat melihat senyum Letha.
"Namanya juga cinta, pasti kagak mandang fisik Sya! " sahut Lisa yang tak sengaja mendengar dari belakang.
Lesya mengukir senyum tipisnya. "Iya, kayak lo sama Leon kan? " balas Lesya mencibir. Lisa hanya mengangkat bahunya acuh. Dia cukup merindukan sosok lelaki yang sering memberikannya gombalan receh hingga Luna dan Lesya terkadang sering kali membuat kalimat protes karena kemesraan keduanya.
"Menurut saya pribadi sih sama kayak yang dibilang. Namanya juga cinta, ya pasti gak pandang fisik, umur, bakat ataupun kekurangannya, Sya." jawab Sella yang awalnya ditanya oleh Lesya.
Sementara si pemilik pertanyaan hanya mengangguk paham saja tanpa berniat membalas lagi. Cukup lama dia terdiam dengan menyimak pembicaraan kecil Galang dan Sella, gadis itu tampak sedikit terkejut dengan sebuah tangan kekar yang memegang rambutnya.
"Ini gw Sya. Cuman ngambil daun doang kok tadi jatoh di kepala lo," kata Elvan yang paham dengan raut wajah Lesya yang terkejut. Mengangguk pelan, dia juga sedikit bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan Galang untuk Elvan.
"Bunda sama Ayahmu nanti jadi datang kan? " tanya Galang pada Elvan dan dibalas anggukan kepala lelaki itu. "Jadi kok dad, kata Bunda tinggal pesan tiket aja terus berangkat." jawab Elvan.
"Loh, Ayah sama Bunda mau ke sini? Emang tau jalannya? " tanya Lesya yang sama sekali belum mendengar kabar kedua mertuanya itu. Elvan menoleh dan mengangguk pelan saja. Sedetik dia menepuk jidatnya pelan karena lupa dengan kondisi mata Lesya.
"Iya, bareng bang Cakra, kak Elen sama bang Alam. Nanti tinggal bang Alam yang jadi supir mereka." jelas Elvan. Lesya hanya beroh'ria saja menjawabnya.
__ADS_1
"Papa sama mama gak ikut dateng gitu Van? " tanya Lisa yang ingin menanyakan tentang keadaan kedua orang tuanya.
Sudah lama Lisa tak bersama kedua orang tuanya. Bahkan saat dia pamit pergi saja, awalnya Arya melarang keras karena dapat menghambat pendidikan anak bungsunya. Namun karena Lisa memiliki sifat yang keras kepala, akhirnya dengan berat kedua orang tua itu melepas anaknya pergi walau dengan tangisan Maurine yang tak rela.
"Ikut, nanti disopirin bang Cakra." jawab Elvan membuat senyum Lisa mengembang dengan antusias. Rencananya, dia ingin meminta maaf karena membuat sang mama sempat menangis saat mereka akan berpisah.
...〰〰〰〰〰〰〰✍...
Malam sudah tiba dan hari ini merupakan hari terakhir melihat dunia bagi Galang. Sampai detik ini juga, baik Galang juga Elvan, masih belum menemukan pendonor yang cocok untuk Lesya. Itu sebabnya Galang memilih dirinya menjadi pendonor dibandingkan Lesya tak dapat melihat dunia luas.
Dan kini Galang lebih memilih bermain bersama anaknya—Justine di ruang keluarga. Saat sore tadi, Gilang saja terus-terusan membujuknya agar tak menjadi pendonor untuk Lesya. Namun dia tetap kekeuh untuk menolak keras bujukan adik kembarnya. Tau lah dia salah satu orang yang keras kepala.
Bahkan saat hendak mandi pun sebenarnya Sella juga meminta agar menunda waktu. Bagaimana pun juga, Galang memiliki seorang anak yang masih berusia beberapa minggu. Sella hanya tak mau jika Galang salah memilih jalan untuk kedepannya. Namun karena kekeras kepalaan Galang, dia tetap kekeuh untuk menjadi pendonor.
Ting nong...
Semua mata yang masih asik bermain ini itu di ruang keluarga menoleh. Jika bell yang ditekan mengeluarkan suara, artinya sedang meminta izin pada pemilik rumah untuk masuk. Namun anehnya, bell tersebut berada di depan pintu. Dan artinya, orang tersebut sudah berhasil menerobos pagar rumah.
"Siapa sih malem begini? " heran Luna.
"Mungkin Tante May sama Om Angga," kata Lisa menyahut dari remote televisi yang sedang dia obok-obok. Luna hanya cengo saja. Dia memang tak tahu akan kedatangan mereka semalam ini.
"Hellooo.. Whatsapp broo... Gimana gays kabar kalian setelah lama berpisah dari Cakra tertampan ini huyyy! " heboh Cakra setelah masuk dan meletakkan beberapa makanan yang dia bawa dari Indonesia.
"No bad," jawab beberapa dari mereka.
"Haduhh, setelah menyelesaikan skripsi dari dosen terhormat akhirnya gw tinggal tunggu kelulusan gw baru nikahan ahayyy.. Akhirnya anaknya Elen sama Alam punya temen," cerocos Cakra.
Plakk!
Dengan segera Alam memberikan bogeman pelan di tenguk Cakra hingga sang empu meringis sakit. "Berisik lo, crewet! Lagian restu bokap nyokap Lita belom lo pegang" ledek Alam.
"Gw heran sama lo bang, kok mau ya pacar lo nerima lo yang modelan suka nonton bok*p? " polos Luna menyahut dari belakang setelah menutup pintu rumah.
"Heh?! Jaga weh ucapannya, kartu AS gw tuh! Lagian gw tuh udah tobat dari dunia tak haqiqi itu jeng, " ucap Cakra dengan nada lebaynya lalu beralih merangkul pundak dan mengacak rambut Luna.
Sang empu yang dirangkul hanya memasang wajah hendak muntah nya mendengar kelebayan yang tiba-tiba dari sang mantan preman. Namun melihat makanan yang dia suka sudah tertera di atas meja keluarga, dengan segera melepaskan diri dan melahap donat kesukaannya. Bahkan Luna sendiri hanya masa bodo dengan Cakra yang hampir saja terjungkal karena ulahnya.
"Eh anj*r, bocah prikk! " umpat Cakra kesal. Cakra langsung mendudukkan dirinya di samping Lesya yang sedang asik tertidur dengan memejamkan mata. Tak lupa dengan headphone nya, dengan segera Cakra berniat mengganggu ketenangan si pemilik rumah itu.
Grrrrhhhh!!
__ADS_1
Cakra memekik kaget karena aksi menganggunya itu sudah diketahui oleh penjaga ketat dengan sifat yang mudah sekali marah. Sungguh, dia tak melihat adanya harimau galak itu di ruang keluarga. Untung saja aksinya itu tak jadi. Mungkin, dia digigit kalau jadi.
"Aaarkk?! Anj*r, kaget gw ya Lion! Biasain ucap salam kalau ada orang." cebik Cakra ngawur. Lion hanya acuh saja dan berjalan dengan tenang ke arah bawah sofa majikannya. Lagi pula Cakra aneh. Ya kali seekor harimau dapat mengucapkan salam layaknya manusia.
"Lo makin ke sini makin keliatan lebaynya level akut Cak, kesepian lo ya di markas gak ada siapa-siapa? " tebak Alam dengan nada pelannya setelah duduk di samping Cakra. Sang pemilik nama hanya mengangguk sok sedih saja.
"Ho'oh, sepi! Biasanya kan ada Leon yang bisa gw ajak candaan, tapi orangnya lagi ngoma" lirih Cakra. Alam memutar bola matanya malas mendengar nada sok sedih itu. Dah lah, percuma berbicara dengan Cakra yang otaknya sedang dalam mode miring sebelah.
"Loh, ini Lesya gak mau makan nih? Masih banyak loh," tanya Mayang yang heran karena menantu kecilnya itu sama sekali tak bergeming dari tempatnya. Berbeda dengan Elena yang langsung melahap donat yang dia bawa.
"Simpen besok aja, mungkin habis." sahut Sella yang ikut melahap makanan yang dibawa. Mayang mengangguk setuju mendengarnya.
"KAK FELIII... MAU DONAT GAK LO?? PAI JUGA MANA WOYY?! " tanya Luna dengan teriakan andalannya. Sang pemilik nama yang baru saja masuk ke ruangan keluarga itu hanya menutup kuping saja mendengar lengkingan Luna.
"Sabar lagi OTW nih," malas Felicia.
"Pai mau? " tawar Valen yang melihat Vay justru berlari ke arahnya. Sang pemilik nama mengangguk dan berbisik agar donat yang dia maksud diambilkan oleh Valen. Dengan tanggap Valen mengambil apa yang dimaksud dan memberikan donat itu pada Vay.
"Nih,"
"Thanks bang,"
Suasana tampak ricuh saat menyambut kedatangan beberapa orang yang baru saja datang. Lisa saja kini sudah duduk di antara kedua orang tuanya yang menyempatkan diri untuk datang ke negara asing itu. Tak hanya itu bahkan Elena, Cakra, dan Alam juga asik saling melempar canda dan tawa.
Ada juga Felicia, Lisa, Luna, juga Valen yang asik menyudutkan Valen. Sementara Angga dan Arya sibuk menjulidkan Gilang dan Galang yang akhir ini tak sekasar dahulu. Berbeda dengan Mily, Sella, Mayang, dan Maurine lebih sibuk membahas mengenai tumbuh kembang anak.
Ditambah kedatangan para dokter yang bertugas juga membuat suasana lebih hidup. Diam-diam Lesya yang mendengar pembicaraan mereka menitikkan air matanya karena saking bahagianya.
Setidaknya, mereka yang terus berdebat sedari zaman SMA mulai saling mencoba berdamai satu sama lain. Dan Luna sendiri juga Lisa tanpa sadar menerima Felicia walau dahulu wanita itu memiliki kelakuan jahat pada mereka.
Dan sayangnya Lesya tak tahu bagaimana tawa mereka dan wajah mereka. Untung saja diam-diam juga dia menyuruh Nic untuk merekam dengan alat pintar yang sempat dia buat jauh-jauh hari. Bahkan dia dapat mendengar auman lucu Lion yang rupanya bermain dengan Elvan. Entah apa yang mereka mainkan, dia bahagia.
Di pandangan Lesya yang gelap, dia melihat suatu penerang untuk dia dapat melihat apa yang terjadi. Ternyata, dia sedang melihat wajah sang papi yang amat dia rindukan. Senyum papinya itu menggambarkan betapa bangganya pria itu terhadap anak kesayangannya.
* Papih, Lyra berhasil buat mereka damai dan semoga ini bukan terakhir kalinya pih, * batin Lesya tersenyum samar. * Walaupun Lyra gak bisa liat mereka seakrab apa, tapi Lyra buat perekam buat kenang semuanya. * lanjut Lesya lagi membatin seolah mengirim pesan pada mendiang Arga a.k.a Gatara.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗
>>><<<
Entah kenapa author nulisnya rada kasian, feel-nya dapet gak? Komen dongg yang lucu gitu...
__ADS_1