Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
48: Markas!


__ADS_3

"Ya kali Tiger Wong! " ceplos Lesya sedikit kencang hingga terdengar oleh Elvan dkk. Mereka melototkan matanya tak percaya dengan ceplosan Lesya.


"Tapi bisa juga! Karena logonya juga huruf 'W' gambar harimau" Kini bukan Lesya ataupun Leon yang bicara. Tapi Luna!


"Nanti gw ke basecamp! " Final Lesya disetujui oleh Luna. Mereka sepakat akan mencari tahu dalang dibalik semua ini.


Mereka melanjutkan perbincangan dan memasuki kelas mereka hingga pelajaran berakhir. Lesya juga sudah mengirim pesan kepada Elvan bahwa dirinya ada kepentingan mendadak.


📩Lele Naughty


Pan, gw ada urusan habis pulsek.


Jangan cari gw


Begitulah kira-kira isi pesan dari Lesya di ponsel Elvan. Setelah mengirimkan pesan tersebut, Lesya mengambil motor sport nya dan pulang ke basecamp bersama Leon dan Luna.


Lesya, Leon dan Luna memberhentikan kendaraan mereka masing-masing di depan bangunan bernama 'Lion Claws' .


Itulah nama gengster pendirian Lesya sejak kecil. Makna dari Lion Claws adalah cakar singa. Berarti siapapun yang berani mengusik Lion Claws, berani merasakan cakar singa.


Dengan itu Lesya mengangkat Luna sebagai wakilnya. Karena dia tak ingin menjadi queen sendiri. Tak adil rasanya! Padahal pendirinya Lesya!


Lesya turun dari motornya dan menggunakan masker hitamnya. Tak lupa dia sudah menggunakan jaket kebanggaannya bertulisan 'Queen Ellion' berlogo cakaran dan wajah singa.


Begitu pula dengan Luna! Bedanya, dia bertulisan 'Queen Allion' . Al dari kata panggilan mereka sementara lion dari nama gengster mereka.


Leon tak memakai jaket yang sama seperti Luna dan Lesya. Namun, logo cakaran dan wajah singa bertulisan 'Tangan Kanan' di jaket kebanggaan Leon.


Mereka masuk dengan langkah bak pemimpin. Dengan cepat Lesya mendobrak ruangan Cakra yang ada di sana.


brakk!


Cakra yang sedang tertidur di mejanya, terperanjat kaget dengan suara dobrak kan Lesya. Luna dan Leon mengelus dadanya sabar.


"OASU! SIA-- " Ucapan Cakra terpotong saat dirinya melihat tiga orang masuk ke dalam ruangannya.


Leon yang berada di belakang Lesya, membuka maskernya dan menggeleng dari belakang. Cakra menelan salivanya susah payah.


Isyarat yang Leon kasih pertanda tebakannya benar jika di depan Lesya sementara di belakang samping Leon Luna.

__ADS_1


Cakra menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia tersenyum kikuk kepada tiga orang di depannya ini.


Luna melepas maskernya dan menirukan gaya Cakra berteriak tadi, "OASU! SIA-- " Leon dan Luna tertawa ngakak.


Pintu ruangan sudah tertutup otomatis. Itu dirancang Lesya supaya jika kelupaan menutup pintu tak ada orang yang menguping.


Wajah Cakra masam seperti Lemon mendengar ejek-kan adik angkatnya. Lesya tersenyum samar dibalik maskernya. Dia duduk disatu kursi kebesaran Cakra dan membuka satu per satu laci meja di sana.


"Bang mana barang terornya? " Lesya terus mencari hingga menemukan box kecil bersimbah sedikit darah.


"Itu box kecil warna coklat ada darahnya" Benar dugaan Lesya! Dia mengambil box tersebut dan menunjukkan kepada Cakra, "Ini? "


Cakra mengangguk. Lesya perlahan membuka isi box tersebut. Ada kertas berisi bangkai tikus yang sudah membusuk.


Lesya mengambil kertas tanpa mempedulikan dirinya memegang bangkai tikus. Karena kertas berada di bawah bangkai tikus.


"Sya, coba bacain" Lesya mengangguk dan mulai membaca surat teror tersebut, "Salam Queen Ellion terhormat dan Queen Allion tersayang, terimakasih"


"Lah ini bagimane? Neror tapi cuman nyapa doang anjrott! Salam King TW" lanjut Lesya. Lesya berpikir sejenak.


Apa mungkin king TW alias Tiger Wong mencari masalah dengannya? Selama ini mereka biasa saja tuh. Tak perang, tak damai juga.


Pikiran Lesya melayang-layang memikirkan itu semua. Dia tak mendengarkan ocehan Luna yang tanpa jeda memberikan serangan balik.


"Oy! El! Ellion! Queen! ELLIONNN-!! " pekik Luna pada akhirnya. Lesya terperanjat kaget dan menatap Luna bertanya, "Apa? "


"Lo mah ngelamun mulu! Kita ngirim serangan balik aja yok" Hati Lesya berkata tidak. Begitu pula dengan pikiran. Entah apa maksud dari surat ini, Lesya masih belum mengetahuinya.


"No-!! Jangan ada yang ngirim serangan balik! " tegas Lesya tak ingin dibantah.


Mereka bertanya kenapa? Bukankah mereka mengibarkan bendera perang lebih dulu? Pikir mereka.


"Why? Mereka udah berani ngusik Lion Claws! Siapapun yang berani ngusik ketenangan LC, harus siap menerima cakaran singa! Inget kan? " oceh Luna tanpa jeda.


Lesya mengangguk. "Gw inget Lun, tapi masalah-nya beda. Ini bukan masalah perangnya! Tapi maksud dan tujuan sebenarnya"


Mereka terdiam mendengar ucapan queen mereka. Mereka mencerna setiap kata dari Lesya dengan baik.


"Kalian tau? Sebelumnya, LC dan TW belom pernah perang? Tiba-tiba nyapa gitu aja pake teror, bukannya aneh ya? " Mereka baru menyadari ucapan dari Lesya.

__ADS_1


"Tapi kalo tujuan mereka merebut kekuasaan? Gimana dah? " Lesya tersenyum smirk dibalik maskernya.


Dia menyenderkan punggungnya di kursi dan melipat tangannya di dada. Dia berpikir dengan pertanyaan Leon. "Serang balik! "


Mereka mengangguk menyetujui rencana Lesya. Mereka masih bertanya-tanya siapa dibalik semua ini.


"Buang boxnya jauh-jauh! Gw punya rencana buat nyerang TW" Cakra mengangguk sedetik dan melotot., "Katanya gak usah! "


Lesya memijit pelipisnya dan mengkode untuk menurut padanya. Dia mengarahkan dagunya kepada box tersebut., "Ganti rencana! "


"Gw punya firasat kalo mereka bakal nyerang kita! Dan kita harus siaga kali ini" Mereka tak mengerti maksud ucapan Lesya.


Cakra yang menangkap, langsung membuang box tersebut dan membakarnya di tong besar milik LC. Lesya menghela nafas lega melihat Cakra yang tanggap.


"Dah! Sekarang, rencananya apa? " Cakra mendudukkan kursinya di depan Lesya.


Begitu pula dengan Luna dan Leon yang duduk di sebelah Cakra. Intinya, Cakra di tengah.


"Di bangkai tikus tadi ada penyadap suara. Jadi, pake cara pertama buat gak nyerang balik TW! " Mereka mengangguk mantap.


"Dan rencana B, cari pelaku sampe ketemu dan bawa ke ruang bawah tanah LC" Mereka mengangguk setuju lagi.


Lesya berdiri dan meletakkan tangannya di saku celananya. "Gw mau balik, takut curiga"


"Yee, lo mah bukan takut tapi malas jelasinnya kan? " ucap Luna yang bediri dan memasang maskernya.


Lesya tak mempedulikan ucapan Luna. "Dah lah, gw balik. Sya, nebeng" Lesya mengangguk, "Tunggu di depan"


Luna segera ke depan dan menunggu Lesya. Dia tadi pergi bersama Leon yang menaiki mobil. Padahal, tadi dia membawa motor ke sekolah.


Kenapa gak pake motor waktu ke markas? Katanya bensinnya habis! Sksk, tak modal!


Lesya menitipkan markasnya kepada Cakra dan diangguki oleh Cakra. "Ti-ati lo pada" Lesya mengangguk dan keluar menghampiri Luna.


Lesya menyetir sementara Luna yang dibonceng. Di saat Lesya menancap gas, sontak Luna memeluk baju Lesya yang di pinggangnya.


Lesya menghela nafas malas melihatnya. Kebiasaan yang tak pernah hilang dari Luna adalah, memeluknya di saat seperti ini.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2