Aleesya: My KetBok, My Hubby!

Aleesya: My KetBok, My Hubby!
91: Luka!


__ADS_3

Lesya berjalan dengan santai menuju arah motornya. Namun, salah satu dari sepuluh mereka, kembali bangkit dan melemparkan pisau ke arah Lesya hingga tertusuk di perutnya.


"Shhhsst! " Lesya meringis kecil merasakannya. Elvan yang melihat, menghampiri Lesya. Dia langsung mencabut pisau yang tertancap di perut Lesya. "Argh! " ringisnya.


Lesya memegang lengan kekar Elvan sebagai penopang. Elvan melemparkan kembali pisau tersebut ke arah pelaku dan pelaku kembali tak sadarkan diri.


Elvan yang melihat Lesya meringis kesakitan seraya memegang perutnya dengan cepat melepas jas yang dia gunakan saat bertemu clain sang ayah tadi.


Dengan cepat Elvan memasangkan di pinggang Lesya agar menutup bekas darah di bagian perut belakangnya. "Masih bisa diri kan lo? "


Lesya mengangguk, "Tapi nyeri kalo duduk" Elvan memutar otaknya. Dia ingat jika dudukan motor Lesya lumayan lembut untuk diduduki.


Dengan cepat dia menggendong Lesya ala bridal style dan membawanya ke arah motor. Lesya sontak menggalungkan tangannya di leher Elvan.


Beruntung jalanan tampak sepi. Sebelumnya Elvan sudah menyuruh anak buahnya mengurus sepuluh orang tadi. Lesya mengalihkan pandangannya kemana saja asal tak ke wajah Elvan.


Elvan menurunkan Lesya di dudukan belakang dengan hati-hati. Lesya dengan segera melepaskan galungan tangannya dari leher Elvan.


Elvan mengetik pesan kepada sang Ayah, Angga jika dirinya dan Lesya akan pergi ke apart miliknya. Tak mungkin bukan jika mereka pulang dengan kondisi seperti ini?


Elvan masih waras kali ini. Dia tak mau akan mendapatkan ceramahan pidato bunda nya nanti. Lagi pula, letak apart milik Elvan dari tempat tersebut sangatlah dekat.


...~o0o~...


Lesya memegang perutnya yang terasa sakit itu. Darah miliknya masih tak ingin berhenti. Mulutnya berkomat-kamit menyumpah serapahi orang yang menusuknya barusan.

__ADS_1


Elvan mengambil kotak P3K di lemarinya dan menghampiri Lesya yang terus menggerutu. "Sial*n! Ini juga darah ngapa kagak berhenti sih? Pengen gw tusuk lo ya?! " gumamnya kecil.


Elvan dengan cepat membuka seragam bawah Lesya yang bersimbah darah. Dengan cepat Lesya membulatkan matanya dan memukul tangan Elvan.


"Heh! Jangan macam-macam lo ya! Mentang-mentang lo ajak gw ke hotel! Lo pikir gw mau hah!? " Elvan tak mempedulikan ucapan Lesya.


Dia justru mengambil gunting yang ada dan memotong sedikit perban. "Jangan gerak! " Lesya diam membeku mendengarnya.


Elvan memijit pelipisnya pusing. Maksud dari ucapannya bukan lah dirinya melarang Lesya agar diam bagaikan patung. Namun dia tak peduli.


Elvan dengan telanten membuka seragam sekolah Lesya di bagian bawah dan mulai mengobati luka tusuk tersebut. Lesya hanya bisa terdiam tak bersuara.


Hingga satu tetes alkohol dituang sedikit di kapas yang membuat Lesya terjungkal ke belakang kasur. "Haaa! Gak jauh-jauhin! "


Elvan memegang kedua tangan Lesya dan menempelkan nya ke dinding. Sementara satu tangannya kembali mengobati luka tusuk Lesya.


Lesya mengigit bibir bawahnya kuat-kuat di saat perutnya merasakan tetesan alkohol sudah tersentuh di luka tusuknya. Karena tak tahan merasakan perihnya luka, Lesya mencakar tangan Elvan yang menahannya.


Creeet!


Elvan melotot merasakan cakaran yang diberikan oleh Lesya. Namun, dirinya tak bergeming justru malah mempererat tahanannya. "Jangan gerak! " tajamnya.


Lesya memayunkan bibirnya mendengarnya. Sebenarnya dia sudah terbiasa merasakan tetesan alkohol. Namun, rasanya nyeri jika menggunakannya lagi. "Ssstt! Pelan-pelan woy! Sakit tauk! "


"Ngapin berantem dijalan kalo gak mau sakit? " tanya Elvan datar tanpa mengalihkan pandangannya. "Lah mereka nya aja yang ngalangin jalan gw! "

__ADS_1


Dia melepaskan tahanannya karena satu tangannya harus mengambil serpihan besi kecil di sana. Wajahnya mendekat ke arah perut Lesya membuat Lesya geli sendiri merasakan nafas Elvan. "Pan, geli! "


"Sssttt! " ringis Lesya kecil. Dia menjambak rambut Elvan dengan keras karena merasakan sesuatu keluar dari perutnya.


Darah Lesya kembali keluar walau hanya sedikit saja. "Sat! Apaan sih tuh pan? " Lesya celinguk kan melihat besi kecil dari pisau tadi. "Besi? Wah ngajak war tuh anak! "


Di saat Lesya ingin beranjak, Elvan menariknya agar tetap diam. "Diem! " Lesya mengunci mulutnya rapat-rapat dan memayunkan bibirnya sekilas. "Kembaran tembok! " gumam Lesya kecil.


Elvan tak peduli akan gumaman Lesya. Setelah selesai mengobati luka Lesya, Elvan menyimpan kembali kotak P3K ke dalam laci nakas. Sementara Lesya memegang lukanya sendiri.


Elvan beranjak dan membiarkan Lesya di sana memegang dan meracau tak jelas. Dia pergi ke kamar mandi dan melaksanakan ritual mandinya.


"Sshhtt! Kok sakit ya? Perasaan waktu itu gak sesakit ini dah! Apa orang tadi nusuk gw nyampe kena ginjal? Trus ginjal gw gimana? " racau Lesya sedikit ngarang.


Dia mengulurkan tangannya mengambil remote TV yang ada di nakas. Dia menekan tombol merah yang membuat TV menyala. "Enaknya nonton apa ya? "


"Indosiar? Sinetron! Indoselir? Pelakor! Indomie? Makanan! Ah iya! Masak indomie enak kagak ya? " molog Lesya kembali bersemangat setelah mendapatkan ide aktivitasnya hari ini.


Lesya adalah orang yang tak mudah diam. Jika dirinya menggabut sedikit, dia pasti akan melakukan hal yang aneh-aneh! Seperti menginjak remote TV, loncat-loncat di kasur, merobek sofa, dll.


Dengan sisa tenaganya, Lesya turun dengan tangan yang memegang lukanya. "Luka sial*n! Sakit bener sih! "


Lesya merenggangkan ototnya. "Gini kan enak! " Dengan cepat drinya berjalan menuju dapur yang ada walaupun dirinya sedikit menyasar di sana karena kurang tahu letaknya.


Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗

__ADS_1


__ADS_2