
Suara deheman bariton familiar terdengar jelas di telinga Lesya. Lesya yang sudah tau siapa orangnya menghela nafas panjang.
"Ekhem!! " tajamnya. Mereka melirik ke belakang. Termasuk Leon. Gadis culun tadi berhenti menangis melihat pembelanya sudah datang.
"Stt! Saha? " bisik Leon tepat di telinga Lesya. Luna mendengar bisikkan Leon karena jarak mereka berdekatan.
"Yang gw ceritain waktu itu! " bisik Luna. Lesya mengkode kedua sahabatnya, "Satu, dua, tiga, KABORR! "
Tiga manusia itu kabur dengan berlawanan arah. Lesya lurus ke depan dan menuruni tangga depan.
Luna ke arah kiri dan tentunya menuruni tangga yang berada di sana. Sedangkan Leon ke kiri dan menuruni tangga yang ada.
Keempat sahabat Elvan terbelak kaget. Elvan mengatur nafasnya, "Val, Rel lo ke sono" tunjuk Elvan ke arah Luna.
"Lo berdua ke sono" tunjuk Elvan ke arah Leon. Mereka mengangguk dan mengejar target mereka masing-masing.
Sementara Elvan berjalan ke arah Lesya. Keberadaan Lesya sudah menghilang. Elvan terus mengejar Lesya hingga taman belakang sekolah.
Luna dan Leon dapat di tangkap dan dibawa ke ruang OSIS seraya menunggu Elvan yang menangkap Lesya.
Kambali kepada Lesya yang terus berlari meski kakinya terasa nyeri. Langkah Lesya melambat karena merasa letih. Itu bertepatan Elvan sudah berada di belakang Lesya.
Lesya masih terus berlari sesekali melihat ke belakang. Elvan berjalan santai dan langkah lebarnya membuatnya mudah mengejar Lesya.
Saat Lesya ingin melangkah satu langkah, dia terpleset dan jatuh. Lesya pasrah jika dia akan terjatuh kembali. Namun, dirinya tak merasa sakit justru hangat.
"Aw, kaki gw! Kok gak sakit ya? " Lesya mengerjapkan matanya. Dia terkejut dirinya berada di atas tubuh Elvan.
Elvan menatap datar Lesya yang berada di atasnya. Dia memberi isyarat kepada Lesya untuk segera bangun. Lesya terbangun dan berdiri sedikit pincang.
Jika bertanya apakah Lesya malu? Tentu saja! Kedua kalinya bagi seorang Lesya jatuh di pelukkan seorang lelaki. Beruntung taman belakang hanya ada mereka saja. Jika tidak?
Setelah Elvan berdiri, Lesya mengalihkan pandangannya. Pipinya memanas sedikit.
"Ikut gw! " tegas Elvan. Lesya menoleh ke arah Elvan yang berada di sampingnya. Pipinya yang sedikit memerah berubah kesal.
"Gak mau! " bantah Lesya ingin kabur. Malas sekali mengerjakan hukuman kali ini. Pikir Lesya.
Namun, disaat Lesya ingin kabur, Elvan menarik Lesya dan membawa paksa ke ruang OSIS. Lesya pasrah saja kali ini.
__ADS_1
"Shht! Pelan² woy lah! Sakit nih kaki gw" Elvan terus berjalan tak menanggapi ucapan Lesya.
...~o0o~...
Ruang OSIS sudah berisi anggota OSIS beserta manusia yang membuat keributan. Bahkan Lesya tampak kesal dibawa ke tongkrongan nya menurutnya. Sksk, sadar gak sih Sya? Itu bukan tongkrongan!
Elvan masih sibuk mencari berkas hitam baru di lemari OSIS. Karena yang dulu sudah penuh atas nama Lesya.
"Sya? Tuh kaki lo gpp? " bisik Luna kecil. Lesya mengangguk saja, "Fine! " Luna mendengus, "Fine gimana?! Udah berdarah gitu juga! "
"It's ok! Don't worry, I'm used to it" Luna mendengus sebal. Selalu saja begitu! Dasar keras kepala! Pikir Luna.
Leon menyenggol bahu Lesya di sampingnya. Lesya berada di tengah-tengah Leon dan Luna. Lesya mengangkat dagunya bertanya ada apa kepada Leon.
"Serius dia suami lo? " bisik Leon menunjuk Elvan.
Lesya menghela nafas malas. Pasti Luna yang sudah membocorkan nya. Pikir Lesya., "Kagak! Iya lah! " ngegas Lesya mengagetkan anggota OSIS.
Luna hampir tertawa mendengarnya. Begitu juga dengan Leon walau sempat kaget. Lesya kikuk saat ditatap tajam anak OSIS. Keturunan ketuanya nih!
"Hehe, mangap kelepasan! " Leon yang mau tertawa meringis kecil saat lengannya dicubit oleh Lesya.
"Argghh! Sakit sya! Kejam amat sih lo sama gw" Lesya tak peduli dengan rengekkan Leon.
"Salah apa sih gw sama lo berdua? " gumam Leon yang di dengar Lesya dan Luna.
Lesya melotot, "Salah lo itu udah bawa gw sama Luna ke ruang tongkrongan keramat kita! " kompak Luna dan Lesya bertos ria.
Leon tersenyum iklas seiklas-iklasnya. Dosa apa dirinya kepada dua gadis di sampingnya? Pikir Leon.
Elvan sudah mendapatkan berkas tersebut. Dia kembali duduk di kursinya dan menulis kedua nama yang dikenalnya. Lesya dan Luna! Leon? Elvan tak tahu namanya. Melihat saja belum!
"Nama lo? " tanya Elvan datar menunjuk Leon. Dengan bodohnya, Leon menunjuk dirinya sendiri, "Gw? "
"Bukan temen gw! " Lesya dan Luna menjauh beberapa cm dari Leon.
Wajah Leon sudah masam bagaikan lemon. Seisi ruangan tertawa dengan candaan Lesya yang tak mengakui Leon temannya. Tentunya kecuali Elvan?
"Gw Leonard Putra I " jawab Leon malas. Elvan menuliskan nama yang disebutkan Leon di komputer yang ada di sana.
__ADS_1
Luna mendorong Lesya mendekat kepada Leon karena tak mau dekat dengan orang disebelahnya, Valen!
"Apaan sih Lun?! " kesal Lesya menabrak lengan Leon. Leon bersikap biasa saja karena sudah terbiasa dengan tingkah Luna.
"Ada makhluk asral! Iw, gw ngeri " Lesya yang tau siapa orang yang dibilang oleh Luna malas menanggapinya.
"Enak aja lo bilang gw makhluk asral! " ucap Valen tak terima. Luna melotot tajam, "Emang bener adanya kok! "
Elvan menggebrak meja karena malas menanggapi perkelahian yang akan terjadi. Hening! Seisi ruangan takut dengan amarah Elvan walau belum sepenuhnya. Kecuali Lesya tentunya!
"Serem uy! Kaget gw" cicit Leon sedikit berbisik. Luna mengangguk membenarkan cicitan Leon.
"Lo masih anak baru jangan bikin masalah! " Leon melotot mendengar penuturan dingin Elvan.
"Hilih! Kalo mantan² gw bikin masalah, gw ikut lah! " Lesya dan Luna memberikan satu jempol tangan mereka untuk Leon.
Leon membanggakan dirinya. Namun senyumnya pudar setelah melihat jempol tersebut turun ke bawah.
"Mantan? " beo Kenneth. Leon mengangguk, "Mantan gebetan gw, knp? " jawab Leon enteng.
"Bersihin lapangan sekarang! " Elvan menunjuk Luna dan Leon bergantian.
Lesya menunjuk dirinya sendiri, "Gw? Kagak? " tanyanya.
"Lo ikut gw" Elvan berjalan mendahului Lesya keluar ruang OSIS.
Leon membulatkan matanya, "Heh! Mantan gw kalo lecet pala lo ke penggal ya! " ucapnya tak terima.
Luna menutup telinganya. Lesya sudah jalan terlebih dahulu di belakang Elvan. Luna memukul tenguk Leon kecil, "Brisik lo! "
Leon menyengir, "Mansa yok ke lapangan! " Leon merangkul Luna bagaikan sahabat. Memang bersahabat!
"Heh! Nama gw Luna bukan Mansa! " sahut Luna kesal namanya diganti.
"Iya nama lo Mansa! Mantan satu, wkwk" tawa Leon. Luna memukul punggung Leon dari belakang.
"Buaya! " gumamnya. Mereka pergi ke lapangan dan membersihkan lapangan seperti hukuman mereka.
Buat yang mau tau siapa Leon, dia salah satu orang kepercayaan Lesya di gangster nya. Dia memang suka dengan Lesya dan Luna sekaligus. Namun mereka tak pernah pacaran.
__ADS_1
Umur mereka juga sama. Dia dulu bersekolah di sekolah lain. Karena dikeluarkan, Alam mengirimnya ke sekolah GG guna menjaga Luna dan Lesya di sana.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗