
Lesya, Luna dan Leon kini berada di sebuah tempat dimana gengster Lesya berada. Lebih tepatnya ruangan Luna alias queen Al.
Mereka berbincang sesekali bergosip dan bercanda ria. Mirip emak-emak aja!
Tiba-tiba saja ruangan mendadak hening saat Luna bertanya.,"Sya, gimana soal bokap lo? " tanya Luna hati-hati.
Lesya terdiam. Begitu juga dengan Leon yang menyimak. Posisi Leon sebagai orang kepercayaan Lesya yang diandalkan di bidang pelacak kan.
Luna menunduk merasa bersalah akan pertanyaannya. Di saat Luna ingin berbicara, Lesya menghela nafas panjang.
"Gw gak mikir rencana dia, yang gw pikirin hanya kebahagian Ara sekarang" jawab Lesya. Luna mengangguk saja.
"Bagus tekad lo, kita bahagia-in Letha dulu sebelum dia tau semuanya" timpal Luna.
Leon mengangguk setuju dengan timpal-an Luna. Lesya mengerutkan keningnya bingung, "Emang Letha bakal tau? "
Luna menghembuskan nafasnya sebelum bicara, "Bukan mau nakutin lo atau yang lainnya tapi lo tau? Sebuah bangkai akan tercium suatu saat nanti? "
Lesya terdiam. Ucapan Luna memang masuk akal. Leon mengangguk membenarkan ucapan Luna, "Dan kita tinggal tunggu waktu dimana semua akan terungkap" timpal Leon tanpa sadar.
"Yeah! It's true and I'm not ready for that yet" jawab Lesya bermolog. Setelah percakapan itu, Lesya pamit pulang karena waktu sudah menandakan hampir sore.
"Btw, dah sore aja ya, gw balik dulu takut dicari byee" pamit Lesya melambaikan tangannya dan beranjak pergi.
"Yaiyalah di cari sama mertua tersayang" Kan, balik lagi sikap Luna. Pikir Lesya.
"Iri lo ya? Gak dicariin sama mertua? " Luna terdiam dan kali ini Lesya tertawa dibarengi Leon yang lucu dengan ekpresi Luna saat ini.
Lesya pergi meninggalkan gangster miliknya dan menancap gas ke kediaman Grey.
Sedikit informasi tentang gangster Lesya. Lesya membangun gengster tersebut di saat dirinya berumur 10 tahun. Dimana dia sudah lihai bermain senjata api.
Dia membangun tanpa bantuan orang lain. Bahkan orang-orang nya lihai bermain senjata api karena terus dilatih oleh Lesya.
__ADS_1
Luna masuk ke dalam dunia gengster di saat dirinya berumur 14 tahun. Dia adalah seorang gadis tanpa ayah.
Ayahnya meninggal dan ibunya tak menikah lagi karena permintaan Luna yang mengenang ayahnya. Ibu Luna tentu saja setuju.
Luna masuk ke dalam gengster milik Lesya dan dilatih secara khusus oleh Lesya hingga dinobatkan sebagai queen Al. Dia bertekad akan melindungi ibunya dari orang jahat. Anak berbakti bukan?
...~o0o~...
Sesampainya di kediaman Grey, Lesya memarkirkan motornya dan memasuki rumah nan mewah tersebut. Lesya berjalan santai dan menemukan Mayang yang berada di ruang tamu.
"Bunda? " Mayang menoleh dan melihat Lesya yang baru datang. Mayang tersenyum dan menyuruh Lesya duduk di sampingnya.
Lesya menyalim punggung tangan mertuanya itu dan duduk di sebelah Mayang. Mata Mayang tertuju kepada celana Lesya yang sedikit bewarna merah.
"Tadi kamu berulah lagi? " tanya Mayang memakan cemilan di tangannya. Lesya mengambil cemilan dan mengangguk.
"Iya Bun, tadi Lesya gak sengaja nyengol bahu orang yang bawa mangkok isinya bakso panas. Baksonya tumpah, mangkoknya pecah terus Lesya kepleset kena beling jadi berdarah deh" jujur Lesya.
Mayang geleng-geleng kepala saat Lesya dengan lucu memperagakan kejadian dengan tangannya., "Trus kamu gpp kan? "
"Udah diobatin? " Lesya mengangguk lagi sebagai jawaban, "Sama siapa? " tanya Mayang lagi., "Papan, eeh maksudnya Elvan bund" cengir Lesya.
"Serius kutub yang ngobatin? " Lesya mengangguk lucu. Mayang tak menyangka, "Emang kenapa Bun? " tanya Lesya.
"Dulu ya waktu kecil, Elena jatuh dari sepeda terus nangis. Elvan yang ada di depannya malah masuk ke dalam enggak bantuin kakaknya" Lesya melongo.
"Ternyata dari kecil udah kayak papan tembok! " gumam Lesya yang diangguki oleh Mayang.
"Iya Sya. Ada yang lebih parah lagi waktu Elena sakit, dia malah cuekkin bukannya ngobatin" cerita Mayang.
"Bunda sempet heran kalo itu bocah beneran ngobatin kamu" gumam Mayang yang di dengar Lesya.
Tanpa mereka sadari, Elvan berada di belakang mereka. Dia berada di sana sejak Lesya jujur tentang ulahnya. Dia menghembuskannya nafas kasar saat dijadikan bahan gosip.
__ADS_1
Dengan langkah yang sengaja dikeraskan, Elvan melangkah ke arah dua perempuan yang beda usia tersebut.
"Bun, " sapa Elvan datar. Tak di rumah tak di sekolah, Elvan datar bak papan atau tembok. Pikir Lesya.
"Nih orangnya! Kenapa baru balik? " tanya Mayang. Elvan duduk di sofa yang berbeda dari kedua perempuan tersebut.
"Rapat Bun" singkat, padat dan jelas. Mengapa anaknya bisa se-datar itu? Padahal ayahnya tak segitunya? Pikir Mayang.
Mayang menghembuskan nafas dalam sebelum berbicara, "Ya sudah kalian mandi dulu gih sono baru nanti makan"
Elvan menurut dan segera menghilang dari pandangan Mayang dan Lesya. Lesya juga heran apakah Elvan menggunakan pintu doraemon?
"Buju gil* cepet amat! " gumamnya bermenolog kecil. Mayang geleng-geleng kepala, "Ada-ada saja, gak berubah dari kecil! Kamu kuat ya Sya ngadepin dia"
Lesya mengangguk kikuk. Dia pamit ke kamarnya kepada Mayang lalu pergi dengan santai. Tasnya? Jangan lupakan tasnya yang tertinggal di sekolah. Dia tak peduli sama sekali soal itu.
...~o0o~...
Suara pintu terbuka terdengar di satu ruangan yang dihuni dua makhluk manusia. Elvan dan Lesya! Yah, Lesya sudah tiba di kamarnya.
Suara germecik air terdengar di telinga Lesya. Lesya tahu bahwa Elvan yang sedang mandi. Lesya merenggangkan ototnya dan bertepatan Elvan membuka pintu kamar mandi dengan handuk di pinggangnya.
Lesya yang melihat itu melotot tajam dan menutup matanya. Dia berbalik dan menutup wajahnya dengan bantal yang berada di sampingnya.
"Yakk! Ngapain keluar pake handuk?! " kesal Lesya. Elvan tak menanggapi itu. Dia memakaikan bajunya dan tertawa kecil dalam hatinya.
Sudah 25 menit berlalu, "Udah belom? " Elvan sudah selesai bahkan mengerjakan tugasnya di laptopnya. Namun, dia tak menjawab pertanyaan Lesya.
Lesya merasa ada yang tak beres. Dia memberanikan diri melihat sekelilingnya. Dan benar saja Elvan dengan santai mengerjakan tugasnya dan melirik nya sekilas.
"Yakk! Ngapa lo gak bilang dari tadi sih?!! " Elvan tak menjawab. Injakkan kecil yang diberikan Lesya tak terasa baginya.
Lesya berdecak kesal dan pergi ke kamar mandi. Dalam hatinya, dia mengabsen nama hewan khusus Elvan. Elvan terkekeh melihat Lesya yang kesal.
__ADS_1
Bahkan, pintu kamar mandi ditutup dengan kasar oleh Lesya. Untung saja Elvan menyalakan mode penyedap suara di kamarnya. Jika tidak? Pasti orang tua mereka akan tau!
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗