
Sesampainya di kediaman Grey, Lesya dan Elvan turun dari kendaraan mereka masing-masing. Lesya langsung menapakkan kakinya ke dalam rumah yang megah tersebut.
"Bibi! " Lesya menghampiri bi Lilis yang kebetulan sedang menyiram tanaman.
Bi Lilis yang merasa terpanggil menoleh ke sumber suara. Dia melihat Lesya sedang menghampirinya. Dia meletakkan selang air dan membersihkan tangannya dengan bajunya.
"Bi, ini kuncinya, makasih udah bantu Lesya tadi" bi Lilis mengangguk dan mengambil kunci motor yang Lesya sodorkan.
"Udah tugas bibi non, kalau begitu bibi permisi atuh" Lesya mengangguk sopan dan melihat punggung bi Lilis yang mulai menjauh.
Setelah melihat bi Lilis yang hampir menjauh, Lesya hendak pergi dari situ. Namun suara gemercik air menganggu nya.
Lesya menutup keran air hingga tak terlihat air yang keluar dari selang, "Ceroboh! "
Setelah memastikan keran air sudah tertutup, Lesya melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Dia sedikit kesasar ke kamar mertuanya karena dia memang tak tahu jalan.
ceklek!
"Loh, Lesya ada apa? " Lesya sempat terkejut mendengar ucapan Mayang. Dia tersenyum kikuk kepada mertuanya itu.
"Enggak sih Bun, kirain ini kamar Elvan soalnya mirip pintunya" jujur Lesya. Mayang terkekeh mendengar itu.
"Kamu naik ke atas dulu, baru pintu abu itu kamar Elvan" Lesya mengangguk. Dia hanya salah lantai saja rasanya malu 7 keliling.
Lesya pamit ke kamarnya setelah diberitahukan oleh Mayang letak kamar Elvan. Mayang mengangguk dan menatap kepergian Lesya sambil geleng kepala.
"Dsr! Elvan mana sih?! " Angga keluar dari kamar mandi setelah mendengar suara bising.
Dia menatap sang istri bingung, "Tadi ada orang ya? " tanyanya.
Mayang mengangguk, "Tadi Lesya ke sini nanya kamar Elvan dimana, emang ya anak kutub itu! " kesal Mayang.
Angga mengelus punggung Mayang sabar, "Sabar, walaupun kutub dia anak kamu" Mayang menepis tangan Angga kasar.
"Tapi sifatnya dari kamu! " Mayang menutup pintu kemudian berjalan ke arah kasurnya dan tertidur.
Angga yang melihat itu mengelus dadanya sabar, "Sabar, susah dapetin dia"
...~o0o~...
Lesya menapakkan kakinya ke lantai atas. Dia tak tahu di kediaman Grey memiliki lift. Tiba-tiba saja tubuhnya melemas entah kenapa.
Lesya memberhentikan diri di satu tangga dan memegang perutnya, "Arh! Ini kenapa ya? Apa gw telat makan? "
Lesya duduk di pinggir tangga dan meremas kuat perutnya. Rasanya nyawanya terbang entah kemana dan hanya tersisa tubuhnya yang ada.
"Gw masih hidup kan? Kok gak ngerasa ya? Perut gw juga udah gak sakit lagi" Lesya menampar pipinya keras hingga dia sadar.
__ADS_1
plakk!
"Shht! Masih hidup toh! Gw kira nyawa gw udah melayang" Lesya kembali berdiri dan melanjutkan perjalanan ke kamar Elvan dan dirinya.
Setelah sedikit berlari menuju tujuannya, Lesya berhenti di antara dua kamar. Dua-duanya berpintu abu namun berbeda dominan.
Pintu satu berdominasi abu ke putihan sementara yang satunya lagi abu ke hitaman. Dia lupa kemarin dia memasuki kamar hitam atau putih.
Tanpa sengaja dia membuka kamar abu berdominasi putih itu bertepatan Elvan membuka kamarnya yang berpintu abu ke hitaman.
Hal yang pertama kali dilihatnya adalah Alam yang berada di atas Elena. Elvan yang melihat dari belakang terkejut. Apalagi Lesya yang di depannya. Lesya salah memilih kamar lagi.
Terlihat baju Elena yang lecet. Bukan Lesya namanya yang langsung berfikiran positif. Orang lain pun akan berfikiran negative jika melihat ini.
Elena dan Alam terperanjat terkejut melihat kamar yang mereka tempati terbuka. Tak ingin membuat salah paham, Alam berdiri dan hendak mengucapkan sesuatu namun dipotong Lesya.
"Eh, maaf Lesya salah kamar lagi. Sok silahkan dilanjutin eh maksudnya jangan dilanjutin" ucap Lesya kikuk.
Alam menghela nafas sabar, "Ini bukan seperti yang kalian pikirin" Lesya terkejut bahunya disenggol seseorang dibelakangnya.
Rupanya Elvan melangkah maju dan memasuki kamar kakaknya. Dia meninju wajah tampan Alam dengan keras. Elena yang melihat itu berusaha menenangkan Elvan yang terus membogem wajah sang kekasih.
bugh...!!!
Alam pasrah saja. Toh dia memang salah karena terpleset hingga mengakibatkan Elena terjatuh dibawahnya.
Tanpa sengaja Lesya membuka pintu kamar Elena. Niatnya hanya menolong Elena untuk menyelesaikan tugas kuliahnya.
Alam menyukai wanita? Rasanya bukan Alam mungkin. Dia masih belum bisa menerima kenyataan itu. Bukan karena dia suka dengan Alam, namun karena dia menganggap Alam abangnya.
Alam yang super over dengan Lesya dan Luna, yang selalu membagikan semua masalahnya kepada Lesya dan Luna tiba-tiba saja tertutup. Aneh bukan?
"Lesya, bantuin gw dong nih! " Lesya tersadar dan membantu Luna menarik Elvan untuk tak meninju Alam lagi.
Perdebatan mereka mengundang kehadiran Mayang dan Angga dari lantai bawah. Mayang segera menenangkan Elvan sementara Angga membantu Alam.
"Jelasin sama kita apa masalahnya! " tegas Angga tak bisa dibantah.
Elena menghampiri sang kekasih dan berusaha menjelaskan apa yang terjadi. Namun suara tajam Elvan memberhentikan niatnya.
"Tanya aja sama yang liat! " Mayang mengerutkan keningnya. Elvan menunjuk Lesya dengan dagunya.
Semua pasang mata menatap Lesya. Lesya sendiri gelagapan. Lesya berdiri di pintu masuk.
"A-anu, tadi Lesya salah kamar jadi gitu iyah gitu! " gagap Lesya. Angga menghela nafas bagaimana cara dia paham akan situasi?
Kali ini Mayang yang angkat suara, "Gak usah gagap Sya, ceritain aja"
__ADS_1
"Tadi Lesya salah buka pintu terus ngeliat bang Alam ada di atas tubuh kak Elena" jawab Lesya cepat.
Angga menatap Alam dan Elena tajam. Dia melihat baju Elena yang sedikit lecet. Tanpa arahan, Angga meninju Alam.
bugh...!!!
"Kamu apakan anak saya hah?! " Elena menunduk takut melihat kemarahan sang Ayah. Dia tak pernah melihat Ayahnya semarah ini.
"Maaf om, tapi ini semua salah paham" elak Alam. Angga sedikit mengontrol emosinya dan meminta penjelasan.
"Jadi tadi kita mau ngerjain tugas bareng, tapi waktu saya berdiri saya tak sengaja terjatuh di atas tubuh Elena om. Dan itu bertepatan saat Lesya membuka pintu kamar" jujur Alam.
"Kalian saling mencintai bukan? " Elena dan Alam mengangguk pelan mendengar pertanyaan Angga.
"Pernikahan kalian akan dilaksanakan minggu depan! " tegas Angga tak mau dibantah.
Angga mengajak Mayang dan Elena ke taman belakang. Elvan langsung beranjak dan pergi ke kamarnya. Ditutupnya pintu dengan kasar dan tak lupa dikunci dari dalam.
Kini hanya tersisa keheningan di kamar Elena. Tiba-tiba saja Lesya angkat suara memecahkan keheningan tersebut.
"Gw kecewa sama lo bang, lo punya pacar aja gak ngasih tau gw! " Alam menatap Lesya sendu.
"Gw bukan gak mau kasih tau dek, tapi gw takut buat ungkapin sama lo. Lo sama Luna udah jarang ke basecamp" Lesya mengangguk dan lega mendengar penjelasan Alam.
"Gw paham, gw pikir lo udah lupain gw sebagai adek lo" Alam terkekeh, "Mana mungkin! " Lesya tersenyum mendengar itu.
Namun seketika wajahnya serius, "Lo yakin mau nikah sama kak Elena? Gak trauma kan? "
Alam tersenyum, "Yakin! Gw yakin bisa jagain Elena dengan sepenuh jiwa dan raga gw. Soal trauma, waktu Elena menghiasi kehidupan gw, trauma gw hilang begitu saja! "
Lesya memutar bola matanya jengah, "Bucciiin lo bang! " Alam tertawa.
Lesya memperingati Alam dengan kata-kata seriusnya, " Lo harus bisa jagain kak Elena, karena gw denger dia pernah diputusin mantan karna dia gak mau ngasih tubuhnya. So dia sedikit trauma karena kejadian itu"
Alam mengangguk, dia tahu soal itu. Dan pelakunya? Tentu saja sudah dimasukkan ke dalam ruang penjara gangster milik Lesya oleh Alam.
Lesya berbalik dan melangkah tiga langkah ke depan. Saat ingin membuka knop pintu, dia mendengus kesal karena pintunya dikunci oleh Elvan.
Lesya menggedor-gedor kamar dengan keras supaya dibuka. Alam hanya geleng kepala melihat aksi ketua sekaligus adiknya itu. Walaupun hanya adik angkat!
Elvan membuka pintu dengan kasar mendengar gedoran pintu. Lesya menyelenong masuk ke dalam kamar. Elvan menutup pintu dengan keras hingga jantung Lesya hampir copot.
"Copot copet! Anj*r lo! " Elvan mengabaikan gumaman Lesya dan pergi ke kasur king sizenya sambil bermain laptopnya.
Lesya menggerutu kesal. Dia heran ada apaan sih di laptop hingga Elvan demen membuka laptop? Pikir Lesya.
Lesya mengabaikan keberadaan Elvan dan berjalan masuk ke walk in closed. Dia mengganti bajunya dengan pakaian yang oversize karena dia tak suka dengan pakaian yang ketat.
__ADS_1
Lesya langsung pergi ke balkon kamar yang kebetulan cukup luas untuk di tempatinnya. Tak lupa dengan sebuah laptopnya, dia mencari informasi hubungan mami dengan keluarga Rums dengan laptopnya.
Jangan lupa like, komen, vote, rate, gif🤗