Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Mainkan kartumu


__ADS_3

Keesokan harinya Gina sudah diizinkan pulang oleh dokter. Gina pulang dijemput oleh Aris. Aris sengaja tidak ke perusahaan hari ini. Aris yang semalem mendengar cerita dari Gina langsung merasa syok. Makanya dia membatalkan tanpa memberitahukan kepada Vina kalau dia tidak jadi menjemput Vina untuk ke kantor hari ini.


Aris merapikan semua pakaian Gina. Aris juga sudah menerima obat yang harus diminun Gina setiap harinya. Aris benar benar menjadi suami siaga hari ini. Setelah yakin semua barang Gina sudah masuk ke dalam tas, Aris dan Gina pergi menuju mobil mereka yang diparkir di depan lobby rumah sakit.


Pasangan suami istri itu menjadi perhatian pengunjung rumah sakit. Mereka memandang dengan kekaguman.


"Beruntung sekali Tuan Aris ya dapat istri secantik dan sepintar itu. Semoga tidak ada niat selingkuh ya" kata seorang ibu ibu.


"Semoga aja bu, sekarang banyak kayaknya setia tetapi di belakang istri main perempuan. Apalagi kalau pengusaha, kadang mainnya dengan sekretarisnya" balas seorang ibu ibu.


"Waduah, semoga Tuan Aris tidak seperti itu ya" kata Ibu ibu yang pertama tadi.


"Ehm, sudah puas ngegosipin suamj saya buk?" tanya Gina langsung kepada dua ibu ibu yang sedang semangat ngegosip itu.


"Maaf Nona. Kami cuma berdoa semoga Tuan Aris setia sama Nona Gina. Melihat trend sekarang CEO selingkuh dengan sekretarisnya" kata Ibu ke dua membela diri mereka.


"Makasi ibu atas perhatiannya. Tapi saya yakin kalau suami saya akan setia dengan saya ibu. Kalau begitu kami duluan ya bu" kata Gina saat lift sudah sampai di lobby.


Aris yang mendengar apa yang dikatakan ibu ibu tadi hanya bisa terdiam. Dia tau dia sudah salah kepada Gina. Tetapi untuk meninggalkan Vina dia juga tidak mampu. Jadi Aris lebih memilih diam.


"Kenapa diam sayang? Kamu merasa apa yang diomongin ibuk dua tadi itu?" tanya Gina yang melihat Aris terdiam setelah mendengar cerita dua ibuk ibuk tadi.


"Nggak sayang. Aku capek aja" kata Aris asal comot alasan.


Mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu di lobby. Mereka berdua diantarkan sopir menuju tumah utama Soepomo. Gina yang setelah minum obat merasa sangat mengantuk. Dia langsung tertidur saat mobil baru meninggalkan pekarangan rumah sakit. Aris yang melihat Gina tidur langsung mengeluarkan ponselnya yang dari tadi bergetar terus.


✉️ Vina


Sayang, pasti istri kamu itu banyak tingkah lagikan, makanya kamu nggak mau jemput aku lagi hari ini.


✉️ Vina


Kenapa diam aja. Balas lah pesan ku


✉️ Vina


Serah kamu lah.


✉️ Vina


Nggak usah aja ngabari aku lagi. Bosan nunggu balasannya. Capek. Makan hati. Bay.


Aris membaca pesan terakhir dari Vina. Vina bener bener marah kepada Aris.


✉️ Aris


Jangan marah sayang. Aku lagi ngantar Gina pulang ke rumah. Dia keluar rumah sakit hari ini. Nanti sore aku antar kamu pulang.


Vina hanya membaca pesan Aris. Kali ini dia mau Aris berusaha untuk mendapatkan hatinya kembali. Vina udah bosan menjadi wanita lemah yang selalu menurut apa yang dikatakan oleh Aris. Kali ini Aris harus berusaha untuk membujuk dia. Jadi Vina membiarkan saja pesan dari Aris.


✉️ Aris


Vina sayang, jangan marah kayak gini. Aku serius, nanti sore akan antar kamu pulang.


Aris menunggu sampai lima belas menit, tetapi pesannya tetap tidak di balas oleh Vina. Aris yang kesal langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya.


"Terserah, marah aja sana" kata Aris dalam hatinya.


Tak terasa mobil sudah memasuki gerbang utama rumah keluarga Soepomo. Mobil di parkir tepat di depan pintu rumah.


"Sayang, bangun" kata Aris membangunkan Gina dari tidurnya.


Gina yang merasa dibangunkan oleh Aris langsung saja membuka matanya. Dia sudah puas untuk tidur.


"Udah sampe sayang?"


"Udah. Kamu mau jalan sendiri atau aku gendong untuk ke kamar?"


"Jalan sendiri aja sayang. Aku masih bisa jalan" kata Gina.


Aris keluar terlebih dahulu dari mobil, setelah itu dia membukakan pintu mobil Gina. Gina kemudian keluar dan langsung berjalan menuju kamarnya.


"Sayang aku istirahat dulu ya." kata Gina.


"Iya sayang. Aku mau ke kantor dulu. Tadi kata Bram ada meeting penting" Aris kembali bohong kepada Gina.


"Oke sayang" jawab Gina.


Gina yang sebenarnya bener bener udah pulih, langsung mengikuti mobil Aris dengan mobilnya yang tidak diketahui oleh Aris. Aris menuju kantor Soepomo.


"Katanya ke Jaya kok ke sini?" kata Gina sambil menunggu Aris untuk turun dari mobilnya.


Tetapi pemandangan yang sangat dinantikan oleh Gina akhirnya hadir. Vina naik ke atas mobil Aris. Gina kemudian menghubungi Sari dan Mira.


"Sar, Mir kalian mau nolong gue?"


"Apaan?" kata Mira dan Sari.


"Gue sedang buntutin Aris. Loe berdua mau nggak ngelabrak tu pelakor"


"Wah mau. Loe share lock. Nanti gue akan berangkat dari kantor" kata Sari.


"Gue juga" jawab Mira.

__ADS_1


"Nanti gue sharelock oke. Gue ikuti dia dulu. Nanti kalau dia berenti di mana gue share lock" jawab Gina.


"Sekarang loe di daerah mana. Jadi kami bisa langsung berangkat menuju daerah itu" kata Sari yang udah nggak sabar.


"Oh, gue di jalan Hamka daerah X." kata Gina yang melihat peta daerah di mobilnya.


"Oke kami ke sana sekarang" kata Mira dan Sari serempak.


"Kami akan ikuti gps ponsel loe Gin" kata Sari dan Mira.


"Siap" kata Gina.


Gina kembali konsentrasi membawa mobilnya. Dia sudah menyiapkan orang orangnya untuk pekerjaan hari ini. Mulai sekarang Gina akan mulai memainkan kartunya.


"Siap siap Aris dan Vina. Kalian akan mulai menerima kejutan dari gue" kata Gina.


Gina mengontak Alex orang kepercayaannya.


"Lex gimana?"


"Kami semua mengikuti unsub Nona. Jadi jangan cemas. Semua mobil di depan dan belakang Nona adalah mobil orang orang kita" kata Alex.


"Oke. Jangan sampai ada kesalahan. Mira dan Sari akan ikut bermain" kata Gina kepada Alex.


"Wow seru itu. Saya sudah lama tidak bermain dengan mereka berdua Nona." kata Alex yang semangat mendengar Sari dan Mira juga akan ikut bermain.


Mobil Aris masuk kedalam kafe yang tidak terkenak di ibu kota.


"Hahahaha, kamu sengaja membawa selingkuhan kamu ke kafe ini sayang. Lebih bagus. Maka kafe ini dijamin akan langsung terkenal" kata Gina yang melihat Aris membelokkan mobilnya ke parkiran kafe itu.


Beberapa mobil yang mengikuti Aris tadi masuk dari pintu yang lain. Aris dan Vina yang tidak tau mobil yang parkur itu adalah dalam metode yang sama dengan mereka. Vina langsung menggandeng tangan Aris.


Seorang ibu ibu berusaha mendahului mereka. Ibu ibu itu tidak sengaja menyenggol Vina. Mengakibatkan ponsel yang dipegang Vina terjatuh.


"Hay buk punya mata nggak, ponsel saya jadi jatuh. itu mahal saya beli" kata Vina dengan kesal.


"Maaf Nona. Saya terburu buru." kata Ibu ibu tersebut.


Ibu ibu kemudian melihat ke Aris.


"Ini Tuan Muda Soepomo kan ya? Boleh minta fotonya Tuan. Saya sangat kagum dengan Tuan. Ini istri Tuan? Kok beda dengan yang waktu diacara nikahan yang disiarkan di tv?" kata Ibu Ibu itu.


"Cantikan saya kan bu, dari pada yang di tv?" kata Vina dengan percaya diri.


"Cantikan yang di tv lah." kata Ibu Ibu itu.


Kemudian ibu ibu itu terlihat berpikir. Dia langsung menuju gerombolan ibu ibu arisannya. Semua ibu ibu arisan langsung menuju Aris dan Vina.


"Tuan Muda, ini selingkuhan atau staf tuan muda?" kata salah seorang dari ibu ibu.


Vina yang mendengar apa yang dikatakan Aris langsung berubah raut muka menjadi sangat marah.


"Saya kira selingkuhan. Kalau macam ini selingkuhan tuan muda. Berarti tuan muda nggak punya mata. Cantikan istri tuan muda dari pada ini perempuan. Betul nggak ibu ibu?" kata ibu ibu yang nabrak Vina tadi.


"Betul. Kalau dia selingkuhan tuan muda. Mending tuan muda ke dokter mata dulu, periksa mata tuan muda" kata Ibu ibu yang lain


Gina dan Alex yang melihat kejadian langsung tertawa terbahak bahak. Mereka menertawakan raut wajah Aris yang berusaha menahan marahnya. Gina yang video call dengan Bram dan Bayu juga nggak tahan menahan ketawa mereka.


"Loe bener bener ya Gin. Dimana dapat ibu ibu serame itu?" kata Bayu


"Alex punya urusan kak" kata Gina dengab santainya.


Aris yang sudah tidak tahan dengan cemohoan ibu ibu arisan itu langsung membawa Vina masuk ke dalam kafe. Mereka memilih duduk di pojokan yang tidak terlihat dari luar.


Aris memesan menu terbaik dari kafe itu. Tidak berapa lama pesanan mereka pun datang. Aris dan Vina makan dengan lahap. Vina selalu menggenggam tangan Aris. Dia tidak mau melepaskannya.


"Sayang, gimana mau makan kalah tangan aku kamu pegang terus?"


"Biarin. Siapa suruh tadi mengatakan aku karyawan kamu." kata Vina


"Jadi aku harus ngomong kalau kamu selingkuhan aku di tengah orang rami?" kata Aris.


"Nggak sayang, maafin aku" kata Vina sambil melepas tangan Aris. Mereka kemudian makan dengan sangat lahapnya.


Mira dan Sari masuk ke mobil Gina yang terparkir di tempat parkir kafe.


"Kami harus ngapain?" kata Sari


"Masakngue harus ngajarin para master sih. Gile aja kali loe berdua" kata Gina.


"Jadi kami bebas ne boleh ngelakuin apa aja?"


"Boleh bebas. Ngejambak dan maki maki Aris juga boleh. Aris kalau udah salah nggak akan berani marah" kata Gina.


"Siap. Tapi pengaruh nggak ke perusahaan Bayu?" kata Mira yang teringat dengan perusahaan Bayu.


"Tenang aja. Perusahaan Bayu kerjasama dengan Soepomo Grub. Bukan dengan Jaya Grub" jelas Gina.


"Berarti aman. Mari bermain" kata Mira.


Mira dan Sari kemudian turun dari mobil. Mereka sudah memasang kamera yang langsung terhubung dengan ponsel Gina. Mira dan Sari berjalan sambil mengobrol masuk ke dalam kafe itu. Mereka memilih duduk jauh dari Aris dan Vina.


Tiba tiba seorang ibu ibu masuk dengan anak perumpuan yang masih kecil. Anak itu berlari menuju meja Aris dan Vina. Anak kecil itu tanpa sengaja menabrak Vina yang sedang kembali dari toilet.

__ADS_1


"Hay anak kecil, kamu sudah mengotori baju mahal ku" teriak Vina sambil menjewer telinga anak kecil itu.


"Hay hentikan." teriak orang tua dari anak yang dijewer telinganya oleh Vina.


"Hentikan kamu bilang. Anak kamu sudah mengotori baju mahal ku. Jadi hukumannya kamu harus ganti baju ini dengan harga yang sama." kata Vina dengan sombongnya, dia tetap menjewer telinga anak kecil itu.


"Mama sakit" kata anak perempuan itu.


"Kamu wanita tetapi kejam dengan anak kecil. Lepaskan telinga anak ku" kata orang tua anak itu.


"Bayar, baru aku lepaskan" kata Vina.


"Berapa harus aku bayar?"


"Tiga juta rupiah" kata Vina.


"Tapi aku nggak ada uang sebanyak itu. Aku mohon lepaskan telinga anak ku" kata Ibu itu menangis.


Aris yang mendengar keributan melihat apa yang terjadi. Dia melihat Vina yang sedang menjewer telinga anak kecil.


"Sayang, apa yang kamu lakukan?" kata Aris kepada Vina.


"Anak ini sudah mengotori bajuku. Aku mintak ganti dengan orang tuanua sebesar tiga juta rupiah. Tapi dia tidak sanggup" kata Vina dengan sombongnya.


"Lepaskan telinga anak itu sayang" kata Aris.


Vina tetap tidak melepaskan telinga anak itu. Aris kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Vina. Vina baru melepaskan telinga anak itu. Anak perempuan itu menangis memeluk Ibunya.


"Makasi tuan atas bantuannya" kata Ibu ibu tersebut.


Mereka berdua langsung keluar dari kafe tidak jadi makan di sana. Ibu ibu itu merasa terhina oleh tindakan Vina.


Vina kemudian duduk kembali dengan Aris di meja tersebut. Mereka berbincang dengan mesra. Aris memegang lembut tangan Vina. Akhirnya mereka selesai makan. Aris merangkul pinggang Vina mereka akan membayar makan dan langsung pulang menuju perusahaan Soepomo.


Sari dan Mira yang melihat Aris dan Vina mau mebayar makanan mereka, langsung juga pergi membayar makanan mereka.


"Hay Kak Aris, sama siapa?" kata Sari yang pura pura tidak sengaja melihat Aris.


"Oh dengan sekretaris nya. Kok mesra banget ya?" kata Sari.


Aris melepaskan tangannya dari pinggang Vina. Tetapi Vina yang gantian memeluk Aris. Vina tidak tau siapa dua wanita itu. Vina menganggap mereka adalah cewek cewek penggoda yang menginginkan Aris.


"Hay perempuan nggak bener. Dia calon suami gue. Jadi jangan pernah ganggu. Kalian bukan level dia" kata Viba.


"Apa loe bilang kami cewek nggak bener. Jadi loe yang bener hah" Sari sengaja berteriak, agar semua orang di kafe mendengar. Sari sengaja melakukan itu.


"Ya, kalian perempuan nggak bener. Yang mau merebut calon suami gue" teriak Vina.


Aris berusaha mencegah Vina mengatakan hal yang lebih. Tetapi Vina tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Aris.


"Jadi loe katakan kami pelakor?" kata Mira.


"Ya. Loe calon pelakor." teriak Vina.


"Oke. Pelakor teriak pelakor." kata Mira.


"Para pengunjung kafe tolong berkumpul." teriak Mira.


Semua pengunjung kafe yang keseluruhan adalah orang suruhan Gina berkumpul mengelilingi Aris dan Vina.


"Kalian tau siapa laki laki ini?" kata Sari menunjuk muka Aris.


"Tau Tuan Aris Soepomo" teriak semua pengunjung.


"Kalian tau siapa nama istrinya?" tanya Sari selanjutnya.


"Tau, anak perempuan dari wijaya grub" teriak semua orang.


"Apakah dia nona muda keluarga Wijaya?" tanya Sari menunjuk muka Vina.


Semua pengunjung diam Mereka tidak mungkin langsung mengatakan tidak. Vina mengambil kesempatan dalam hal diamnya para pengunjung.


"Sayalah Gina Putri Wijaya." kata Vina dengan bangganya.


"Ibuk Ibuk, Bapak Bapak pengunjung kafe punya ponsel pintarkan. Bisa di cek di mbah gogle foto Gina Putri Wijaya yang asli." kata Mira dengan lantang.


Dia menatap tajam ke arah Aris dan Vina. Mira sama sekali tidak takut dengan kekuasaan Aris. Aris sekarang bukan yang dulu lagi. Papi Soepomo berada di pihak Gina.


Semua pengunjung kafe membuka ponsel pintar mereka. Mereka tercengang karena Gina yang asli bukanlah yang berdiri dihadapan mereka saat ini.


"Wah ternyata bukan dia yang Gina itu. Berarti dia pelakor." kata seorang ibu ibu memercikkan api di tengah kerumunan.


Semua pengunjung kafe menyiram air minum dan makanan ke arah Vina. Mereka sama sekali tidak menggubris dan menganggap ada Aris di situ. Vina sudah seperti tempat pembuangan sisa sisa makanan.


Sari dan Mira kemudian pergi tanpa sepengetahuan Aris. Mereka masuk ke dalam mobil Gina. Ternyata di situ udah ada Bram dan Bayu.


"Keren. Kalian hanya memancing sedikit. Vina langsung beraksi dengan frontal. Aku nggak nyangka kalian sepaten ini" kata Bram.


"Gin." kata Mira.


"Jangan kasih tau Mir. Lari mereka dari kita nanti. hahahahahahahah" Gina melarang Mira untuk memberitahukan siapa mereka ke Bram dan Bayu.


Bram dan Bayu saling pandang pandangan. Mereka tidak paham dengan apa yang dibicarakan tiga wanita ini.

__ADS_1


Mereka kemudian melihat Aris dan Vina keluar dari kafe dengan penampilan yang sangat memprihatinkan. Gina yang melihat langsung keluar dari mobilnya.


"Saatnya gue beraksi" kata Gina


__ADS_2