
pagi hari dengan suasana yang cerah Aris berangkat menuju kantornya dengan berpakaian kantor warna navy. Aris terlihat biasa saja tidak senang dan juga tidak sedih. Hari ini Aris mempunyai rencana sendiri. Dia tidak mau gagal lagi bertemu dengan Gina. Aris melajukan mobilnya dengan kecepatan biasa saja. Tidak berapa lama Aris sudah sampai di kantor, Aris memarkirkan mobil di tempat dia biasa parkir. Dilihatnya mobil Bram sudah parkir. Aris turun dari mobilnya dan langsung melangkahkan kaki ke kantor.
"Pagi Tuan Aris" sapa Satpam.
"Pagi Pak. Apa Pak Bram udah datang?"
"Sudah dari tadi Pak." jawab Satpam.
"Tumben." kata Aris sambil melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya.
"Bram. Loe tidur sini?" kata Aris sambil melongokkan kepalanya ke dalam ruangan Bram.
"Mana ada." jawab Bram.
"Terus kenapa pagian?"
"Kita ada meeting pagi dengan anak cabang Wijaya Grup. Loe nggak mau ikut?" tanya Bram.
"Nggak lah kalau dengan anak cabang. Loe aja yang pergi." jawab Aris sambil meminum kopi yang ada di meja Bram.
"Ndak nyesel lagi?" Bram menatap Aris.
"Nggak lah."
"Pasti udah ada rencana kan?" Bram menatap penuh selidik ke arah Aris. Aris hanya tersenyum saja.
"Nggak bakalan. Gue akan di kantor aja. Gue kurang enak badan" jawab Aris. Bram langsung berdiri dan memegang kening Aris.
"Boong loe. Bilang aja malez." ketus Bram.
"Hahahahaha. Gue balik ruangan ya. Selamat meeting." Aris menutup pintu ruangan Bram.
"Dasar bos nggak ada akhlak loe." teriak Bram yang masih di dengar Aris. Aris hanya tersenyum mendengar teriakan Bram.
...----------------...
Gina pagi ini akan berangkat kuliah. Dia sudah rapi dengan memakai baju kemeja dan celana joger dilengkapi dengan sepatu kets keluaran terbaru sebuah produk ternama. Gina turun menuju meja makan dengan hati tersenyum bahagia.
"Tumben nak pagi udah senyam senyum?" tanya Nana
"Biasa Na. Sedang bahagia. Kemaren meeting dengan Soepomo grub. Jadi ketemu pujaan hati." jawab Afdhal.
"Mana ada, yang datang Bram kok" jawab Gina.
"Lho kok bisa?" Ayah tercengah.
"Bisalah Yah. Dia bosnya." jawab asal Gina.
"Sudah-sudah kita sarapan dulu. Ributnya lanjut pas makan malam aja." kata Nana.
__ADS_1
"Ada pula ya Na ribut pake pending dan bisa disambung lagi" jawab asal Ayah.
"Uda, Gina ikut ke kantor ya?" Gina menampilkan lesung pipinya dan tersenyum manis.
"Tumben? Nggak ada jadwal kuliah?" tanya Afdhal penuh selidik ke Gina.
"Harusnya ada. Tapi sebentar ne ada notif masuk, dosennya berhalangan."
"Ikut Nana aja Gin."
"Nggak malez. Kalai ikut Nana nanti Gina harus nengok Nana marah marah ke karyawan." Gerutu Gina. Nana hanya menggelengkan kepala.
"Ya udah ikut Ayah aja. Ayah mau nengok proyek di kota B." kata Ayah.
"Emang kenapa kalau ikut Uda?" Gina menatap penuh selidik ke arag Afdhal.
"Uda ada meeting dengan Soepomo grub. Kamu mau ketemu Aris di kantor Uda?"
"Wah mending nggak deh da. Gina ikut Ayah ke kota B aja."
"Ya udah kita berangkat Gin. Ayah harus cepat sampai di kota B." Ayah berdiri diikuti Nana dan Gina. Sedangkan Afdhal melanjutkan sarapannya selesai dia bersalaman dengan Ayah.
"Hati-hati dijalan ya Yah. Kamu juga Gin jangan ngerepotin Ayah." pesan Nana.
"Nana kira aku anak sd gitu, yang akan ngerepotin ortunya kalau ikut ke kantor." Gina manyun mendengar pesan Nana. Nana dan Ayah tertawa melihat tingkah manja Gina.
Sopir kemudian melajukan mobil ayah ke kota B. Gina tidak tau kalau proyek Ayah dikota B adalah kerjasama dengan perusahaan Soepomo. Orang yang biasanya dia hindari akan ditemui Gina disana.
...----------------...
"Loe mau kemana Ris? Tapi demam?" selidik Bram.
"Gue mau ke kota B ninjau proyel yang disana."
"Bukannya itu udah loe serahkan ke Defan dan kawan kawan?" tanya Bram yang tidak menyangka Aris akan berangkat ke kota B.
"Memang, tapi kemudian gue berpikir gue aja yang pergi." kata Aris.
"Loe sendiri? Kalau gitu gue ikut elo. Pertemuan dengan kantor cabang Wijaya gue wakilkan aja ke Defan."
"Nggak usah. Gue berangkat dengan Bayu."
Tak lama kemudian Bayu nampak keluar dari lift.
"Berangkat langsung Rif?" tanya Bayu.
"Yuk. Semamin cepat lebih baik. Jadi kita ada waktu untuk nongkrong di kota B." jawab Aris sambil menatap Bram.
"Hebat ya loe berdua, nongkrong tanpa gue." ketus Bram.
__ADS_1
"Sekali sekali Bram." jawab Bayu.
"Serahlah. Tapi nanti kalau Gina yang datang rapat loe jangan nyesel ya Ris. Atau gini aja gue yang ke kota B. Loe yang rapat dengan anak cabang Wijaya grub?" Bram masih berusaha bernegosiasi dengan Aris.
"Gini aja Bram. Bonus loe gue tambah kalau loe mau meeting. Tapi kalau loe mau ke kota B maka binus nggak gue tambah. Pilih mana loe?" Aris menatap Bram.
Bram terlihat berpikir keras. Kedua duanya tawaran menarik.
"Cepat mikir Bram. Loe kira kota B dekat." tegur Bayu.
"Oke gue meeting, loe berangkat." jawab Bram.
"Dasar matre loe" teriak Bayu ditelinga Bram.
"Biarin. Selamat capek nyetir Bay. Gue jalan duluan mau meeting." Bram langsung masuk lift dan menutupnya tanpa menunggu Aris dan Bayu masuk.
"Wah kebangetan tu makhluk. Bos ditinggalin." jawab Bayu.
"Biarin aja. Jalan Bay." Aris langsung jalan keluar kantor.
Bayu mengemudikan mobilnya menuju kota B. Aris menatap beberapa dokumennya.
"Ris, menurut loe kalau gue bangun restoran di daerah puncak gimana Ris?" tanya Bayu memecah kesunyian.
"Kalau menurut gue mending cafe bernuansa anak muda loe bangun Bay. Gur yakin lebih banyak peminatnya."
"Tapi masalah konsepnya gimana Ris?"
"Loe kerjasama aja sama salah seorang arsitektur. Atau loe mau pajai jasa arsitek yang biasa mengurus hotel atau restoran gue?" Aris menawarkan solusi kepada Bayu.
"Gue setuju. Kapan loe mau nemenin gue ketemu sama arsitek tu?"
"Gue kontak dia dulu. Setelah itu gue buat janji. Loe tinggal oke aja. Pokoknya pas gue ngomong harinya makanloe harus siap."
"Oke bos Gue percaya sama rekomendasian elo. Setuju banget."
"Sip. Gue urus saat kita sampai di ibu kota lagi."
Tak terasa perjalanan yang memakan waktu tiga jam itu telah dilalui Aris dan Bayu. Aris kemudian memberitahukan kepada Bayu lokasi yang harus mereka tuju. Aris merasakan ada sesuatu yang membuat dia ingin cepat-cepat sampai ke lokasi kerjasama dengan perusahaan Wijaya.
Tak lama kemudian mobil Bayu parkir di tempat parkir mobil. Aris dan Bayu turun, bertepatan dengan parkirnya sebuah mobil mewah. Aris mengenali mobil itu adalah mobil tuan Wijaya. Aris dan Bayu terdiam saat melihat tuan Wijaya turun bersama seorang wanita cantik yang memakai dress warna navy dan memakai kacamata hitam.
Aris tersenyum melihat siapa yang turun itu. Aris merasa sangat bahagia, perjalanan jauhnyandari ibu kota ke kota Benjadi tidak sia sia. Kelelahan akibat perjalanan jauh dalam seketika langsung lenyap hilang tak berbekas.
...****************...
Bagaimanakah reaksi Gina bertemu dengan Aris. Kemudian bagaimana reaksi Aris saat bertemu dengan Gina.
Nantikan kelanjutannya ya kak.
__ADS_1
Maaf karena sudah terlalu lama tidak update.