
"Lebih baik aku menghubungi Nyonya Wijaya, membicarakan masalah Daniel. Sekarang juga aku harus pergi, sebelum menantu tidak berguna itu pergi mengadu kepada orang tuanya." ujar Mami langsung mengambil tas dan ponselnya. Dia sangat tidak ingin didahului oleh Gina. Ntah setan apa yang bergelantungan di hati Mami saat ini.
"Maid nanti kalau Tuan besar pulang tolong katakan saya ada keperluan ke luar." ujar Mami kepada seorang maid.
Mami mengambil kunci mobilnya, Mami benar benar tidak ingin ditemani oleh siapapun. Mami mengambil ponselnya, dia langsung menghubungi Nana.
[Hallo Nana] ujar Mami saat Nana mengangkat panggilan telpon dari Mami.
[Hallo Mami. Ada apa?] tanya Nana yang penasaran kenapa Mami menghubungi siang siang begini.
[Apa Nana sedang sibuk? Kalau tidak bisakah kita bertemj di kafe Blueocean?] tanya Mami kepada Nana, Mami berharap Nana menyetujui pertemuan mereka berdua.
[Baiklah Mami, saya akan ke sana. Saya ambil tas dulu] ujar Nana.
[Sampai bertemu di kafe Nana] ujar Mami.
Mami memutuskan panggilan telponnya. Dia melajukan mobil dengan tenang menuju Blueocean tempat dia janjian dengan Nana.
"Aku harus menggunakan kesempatan ini dengan baik. Aku tidak akan membiarkan menantu dengan anak sialan itu bisa hidup tenang di rumah Wijaya." ujar Mami.
Mami benar benar telah berubah. Dia tidak lagi menjadi seorang ibu mertua yang baik seperti sebelum kehadiran Arga. Kehadiran Arga yang memiliki kekurangan menjadi alasan Mami untuk membenci Gina dan ketiga anaknya. Padahal kekurangan dan kelebihan seseorang adalah karunia yang harus disyukuri.
Mami sampai lebih cepat dibandingkan yang dirinya perkirakan. Dia betul betul bersemangat sehingga tidak menyangka akan melajukan mobil dalam kecepatan tinggi. Mami langsung masuk ke dalam kafe, dia duduk di ruangan VIP yang sudah dipesannya tadi. Mami tinggal menunggu Nana datang.
Tidak beberapa lama Nana datang dengan gaya elegannya. Dia langsung duduk di depan Mami.
"Ada apa Mami, tumben mengajak siang siang seperti ini bertemu dengan saya." ujar Nana dengan nada penasarannya.
"Santai dan minum dulu Nana. Nanti akan saya ceritakan semuanya." ujar Mami sambil tersenyum.
Nana menyeruput jus jeruk yang sudah dipesankan oleh Mami sebelum Nana datang. Di atas meja mereka sudah banyak makanab yang dihidangkan atas pesanan Mami. Nana mengambil kentang goreng dan mencocolnya dengan cabe.
"Saya sudah minum Mami, jadi sekarang ada apa?" tanya Nana dengan nada penasaran.
"Jadi begini Nana, sebelumnya saya atas nama keluarga Soepomo meminta maaf yang sebesar besarnya dengan keluarga Wijaya." ujar Mami dengan raut wajah yang dibuat sesedih sedihnya. Mami bener bener bisa dijadikan aktor sinetron bagian mertua jahat dan bermuka banyak.
"Kenapa harua minta maaf? Emang ada salah apa?" tanya balik Nana yang semakin penasaran dengan tujuan Mami membawa dirinya bertemu siang hari di kafe tanpa ada obrolan sebelum sebelumnya.
"Jadi begini Nana. Beberapa hari yang lewat saya kehilangan perhiasan yang baru saya beli." ujar Mami.
"Perhiasan?" tanya Nana dengan nada tidak percaya, rumah megah semewah itu masak bisa kemasukan maling. Sesuatu hal yang tidak mungkin bisa terjadi.
"Nana ingat tidak perhiasan yang kita beli di mall bulan kemaren?" tanya Mami berusaha meyakinkan Nana tentang perhiasan mana milik Mami yang hilang itu.
Nana mengangguk, dia ingat bentuk perhiasan dan harga dari perhiasan tersebut. Suatu perhiasan dengan harga yang wow dan fantastis.
"Kok bisa ilang Mi. Bukannya rumah utama itu aman dari maling?" tanya Nana dengan nada khawatirnya.
"Itu dia Nana. Makanya saya tadi meminta maaf sebelum pembicaraan ini kita mulai." ujar Mami dengan menunduk.
"Maksud Mami?" tanya Nana dengan nada penasarannya.
Mami terdiam sesaat. Mami sengaja mengulur ngulur waktu agar Nana semakin penasaran dan membuat hati Nana menjadi tidak tenang.
"Rasain kamu Gina. Aku akan buat kamu dicampakan keluarga kamu sendiri. Jadi gembel lu dengan anak sialan itu." ujar Mami dalam hatinya.
"Mi" panggil Nana dengan nada pelan sambil mengguncang tangan Mami.
"Maaf Nana, saya tidak tau mau mulai dari mana bercerita tentang kemalingan itu." ujar Mami pura pura tidak tau mau dari mananya. Mami bener bener mempermainkan hati Nana.
"Mulai dari mana Mami nyaman saja. Saya akan mendengarkan semuanya." jawab Nana meyakinkan Mami agar Mami bisa mulai bercerita.
" Jadi ceritanya begini Nana. Hari itu perhiasan saya hilang satu set. Kami sudah mencari ke semua penjuru rumah. Kami juga sudah mencari celah kalau ada maling masuk." Mami terdiam sesaat. Mami ingin melihat reaksi dari Nana.
"Kami sudah mencari ke setiap sudut rumah, sampai semua orang merasa kelelahan tetapi kami tidak menemukan perhiasan itu. Kami menggeledah semua kamar. Sampai akhirnya satu kamar yang belum kami geledah." ujar Mami bercerita dengan nada yang dibuat buat.
"Kamar siapa? Kamar Aris dan Gina?" tanya Nana yang makin penasaran.
"Bukan, kamar mereka kami geledah juga. Kami tidak menemukan perhiasan itu di sana." ujar Mami yang sengaja tidak langsung menyebutkan kamar siapanya.
"Terus kamar siapa?" tanya Nana yang sudah tidak sabaran.
"Daniel" ujar Mami dengan melemahkan suaranya dan menundukkan wajahnya ke bawah.
"Apa? Tidak mungkin Daniel akan berbuat seperti itu. Saya tidak percaya." ujar Nana dengan penuh emosi. Dia tidak percaya dengan yang diucapkan oleh Mami.
"Kami pertamanya juga tidak percaya dengan apa yang kami saksikan, tapi semua bukti mengarah kepada Daniel. Kotak perhiasan itu bertemu di dalam laci kamar Daniel." ujar Mami dengan nada penuh penyesalan.
"Aku sungguh tidak percaya dengan semua ini." ujar Nana sambil menunduk.
Mami tersenyum melihat Nana yang terpukul mendengar berita itu. Hal yang diharapkan Mami sebentar lagi akan tercapai. Mami akan menambah nambahkan ceritanya.
"Terus dimana anak itu sekarang?" tanya Nana dengan nada marah dan kecewa.
__ADS_1
"Itulah tadi saya meminta maaf terlebih dahulu. Dia sudah diusir oleh Aris dari rumah utama. Sekarang kami tidak tau dimana dia tinggal." ujar Mami menambah nambahkan cerita. Serta mengubah siapa yang mengusir Daniel.
"Aris mengusir Daniel? Terus Gina?" tanya Nana yang sudah mulai masuk ke dalam perangkap Mami.
"Pertanyaan ini yang ditunggu tunggu." ujar Mami dalam hati. Mami tersenyum sekilas yang tidak disadari oleh Nana.
Mami terdiam cukup lama. Dia seperti tidak ingin mengatakan sesuatu. Mami layak diberi hadiah pemenang aktris terbaik.
"Mami gimana dengan Gina?" ulang Nana bertanya kepada Mami.
"Gina terlibat cekcok dengan Aris. Gina memaki maki Aris. Gina mengatakan kalau Daniel bukan anak seperti itu." ucap Mami mengarang cerita.
"Apa? Gina memaki Aris?" tanya Nana terkejut mendengar cerita Mami yang mengatakan kalau Gina ribut dengan Aris gara gara Daniel.
"Betul Nana. Gina sampai menampar Aris karena membela Daniel." ucap Mami tambah menyiram minyak tanah ke amarah Nana.
"Baiklah terimakasih atas infonya. Saya permisi dulu." ujar Nana yang sudah menahan marahnya. Dia ingin menyelesaikan ini dengan cepat bersama Gina dan Ayah.
Mami yang ditinggalkan oleh Nana dengan mendadak langsung bersorak.
"Hore, mampus kamu Gina. Ibu kandung kamu saja sudah tidak percaya dengan kamu. Mari kita saksikan cerita selanjutnya." ujar Mami.
Mami mengambil tasnya dari meja. Dia melangkah keluar dari ruangan VIP menuju kasir. Mami membayar semuanya dengan memakai black kard kartu tanpa limit miliknya. Setelah selesai membayar tagihan, Mami langsung menuju rumah. Dia ingin melihat Gina yang pergi dengan tergesa gesa menuju rumah Wijaya Grub.
.
.
.
Nana yang baru sampai di kantor Ayah langsung masuk tanpa menyapa resepsionis. Resepsionis merasa heran dengan tingkah Nyonya besar mereka siang menjelang sore ini. Tidak biasanya Nyonya Besar datang ke kantor tidak menyapa siapa saja. Nana langsung memencet lift menuju ruangan Ayah yang berada di lantai paling atas.
"Kenapa ruangan presiden direktur harus di lantai atas. Di bawah saja kan gampang." ujar Nana yang menyalahkan letak ruangan Ayah.
Ting. Bunyi lift sampai. Sekretaris Ayah langsung berdiri menyambut siapa yang datang.
"Apa suami saya ada di dalam?" tanya Nana kepada sekretaris.
"Ada Nyonya. Silahkan masuk." ujar sekretaris sambil membukakan Nana pintu.
Nana langsung masuk tanpa mengucapkan terimakasih. Nana hanya berlalu saja.
"Tumben Nyonya tidak sopan." ujar sekretaris yang heran melihat tingkah Nyonya besar itu hari ini.
"Ayah" panggil Nana yang langsung duduk di kursi depan Ayah.
"Nana sedang tidak mau becanda Ayah." ujar Nana dengan menatap tajam ke arah Ayah.
"Ow ada masalah apa? Sepertinya serius." ujar Ayah yang mulai fokus dengan Nana.
"Ayah telpon Gina sekarang. Suruh anak itu ke sini. Nana kesel dengan dia." ujar Nana dengan nada ketus dan tidak bisa di bantah.
"Oke oke Ayah akan telpon Gina. Tapi ada masalah apa Na?" kata Ayah yang mulai penasaran dengan cerita yang dibawa Nana.
"Ayah telpon dia dulu. Nanti Nana akan cerita."
Ayah mengambil ponselnya. Dia langsung menghubungi Gina.
"Katakan kepada Gina jangan bawa Arga." ucap Nana.
Ayah mengangguk, Ayah mulai paham, ada sesuatu yang penting di bawa Nana dari luar menyangkut Gina.
[Hallo Ayah] ujar Gina saat menerima telpon dari Ayahnya.
[Gin, Ayah minta kamu ke kantor Ayah sekarang. Ayah butuh bantuan kamu, tapi jangan bawa Arga.] ujar Ayah kepada Gina.
[Nggak bisa Ayah. Gina harus bawa Arga, kalau tidak boleh maka Gina tidak akan ke sana.] ujar Gina menjawab. Gina sangat takut untuk meninggalkan Arga di rumah sendirian apalagi dengan kondisi Mami yang membenci Arga.
Nana mengangguk tanda setuju tapi Nana meminta Gina membawa suster Arga.
[Kamu bawa suster Gin.] ujar Ayah sambil mengakhiri panggilan telponnya.
Ayah menatap Nana meminta penjelasan kepada Nana.
"Apa yang terjadi Na?" tanya Ayah kemudian.
"Tadi Nana bertemu dengan Mami. Mami menceritakan kalau sekotak perhiasannya yang baru di beli telah hilang dicuri." ujar Nana memulai pembicaraan.
"Lalu?" ujar Ayah.
"Singkat cerita ternyata perhiasan ditumakan di kamar Daniel. Nah Daniel diusir oleh Aris. Gina memaki Aris karena Aris mengusir Daniel. Selain memaki Aris, Gina juga menampar Aris." kata Nana mempersingkat jalan cerita yang diceritakan oleh Mami.
"Daniel mencuri?? Ayah ragu." ujar Ayah.
__ADS_1
"Nana juga ragu. Nana semakin tidak yakin dengan kata kata Nyonya Soepomo mengatakan kalau Gina memaki dan menampar Aris." ujar Nana kepada Ayah.
"Ayah juga tidak yakin. Gina tidak akan mau menampar Aris." ujar Ayah setuju dengan pendapat Nana.
"Makanya kita tunggu Gina datang. Nana mau tau cerita sebenarnya. Apakah sesuai dengan yang dikatakan Mami atau hanya fitnah saja." ujar Nana yang tidak sabaran menunggu anaknya datang.
.
.
Tidak lama Gina sampai juga di ruangan Ayahnya. Dia masuk dengan langkah pasti.
"Gina duduk." ujar Nana dengan nada tinggi dan tidak suka.
Gina duduk di sofa. Nana dan Ayah juga duduk di sofa menghadap ke arah Gina.
"Gina jawab pertanyaan Nana tanpa memakai pembelaan." ujar Nana.
"Apakah benar Daniel diusir dari rumah mertua kamu?" tanya Mami.
"Benar Mi." ujar Gina dengan cepat.
"Apakah benar kalau Daniel mencuri perhiasan Mami?" tanya Nana selanjutnya.
"Fitnah Nana." jawab Gina dengan pasti.
"Fitnah kata kamu? Jelas jelas barang itu di temukan di kamar Daniel, masih kamu katakan fitnah. Perlu bukti apa lagi Gina? Kamu masih mau membela pencuri itu. Sekali pencuri tetap pencuri." ujar Nana menghakimi Gina.
"Kalau seperti ini Ayah, berarti Gina betul telah memaki dan menampar Aris seperti yang dikatakan Nyonya Soepomo. Nyesal Nana sempat meragukan ucapan Nyonya Soepomo tadi." ujar Nana dengan nada emosi dan penekanan setiap kata katanya.
"Maaf Nana, semua yang dikatakan Mami adalah fitnah. Terserah Nana dan Ayah mau percaya Mami atau sama anak kandung Nana dan Ayah sendiri. Gina tidak akan memaksa untuk orang percaya dengan Gina. Gina hanya menjawab sesuatu dengan fakta yang sebenarnya." ujar Gina tanpa memberikan bukti bukti kepada Nana dan Ayah.
Plak. Satu tamparan dari Nana mendarat di pipi mulus Gina. Gina hanya berdiam diri. Dia tidak menatap atau melihat ke arah Nana. Dia tau orang tuanya sedang marah mendengar semua cerita dari Mami.
"Terimakasih Nana. Hanya karena tidak mempercayai anak sendiri Nana menampar Gina. Gina tidak marah Nana. Tapi saat Nana melihat semua bukti ini maka Nana telah menyesal menampar Gina." ujar Gina sambil meletakan sebuah flasdisk di meja.
"Ayah terimakasih telah membesarkan Gina selama ini. Gina telah membuat malu keluarga Wijaya karena sudah menampar, memaki suami sendiri dan sudah membela seorang pencuri. Gina permisi Ayah." ujar Gina yang keluar dari ruangan kerja Ayahnya.
.
.
Sepeninggal Gina. Nana tambah emosi.
"Aku tidak menyangka, anak yang selalu aku banggakan karena kebaikan hatinya ternyata musang berbulu domba." ujar Nana memaki anaknya sendiri.
"Sayang ini ada flashdis yang ditinggalkan oleh Gina. Apakah kamu mau melihat isinya?" ujar Ayah kepada Nana.
"Tidak perlu. Sekarang juga aku minta kepada Ayah untuk mencoret Gina dari ahli waris. Aku tidak sudi punya anak yang tidak bermoral itu." kata Nana dengan sangat ketusnya.
Ayah terdiam mendengar ucapan Nana. Ayah tidak tau harus berbuat apa. Ayah tidak yakin Gina bisa berbuat seperti itu. Tapi apalah daya Ayah saat Gina tidak menceritakan semua kebenarannya.
"Sayang, aku pulang duluan. Aku pusing." ujar Nana kepada Ayah.
"Baiklah hati hati di jalan." kata Ayah memperbolehkan Nana untuk pulang.
"Flas itu biar Nana yang simpan. Nana tau itu isinya semua kebohongan. Nana takut ayah terkontaminasi nantinya." ujar Nana sambil mengambil flasdis di atas meja kerja Ayah.
Ayah hanya bisa geleng geleng kepala. Sebenarnya dia penasaran dengan isi flasdis itu. Tetapi karena Nana yang sedang marah, Ayah tidak mau meminta flasdis tersebut.
Saat di mobil Nana teringat akan Mami. Dia mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Mami. Mami yang melihat nama pemanggil adalah Nana langsung mengangkat telpon tersebut.
"Berita gembira" ujar Mami.
"Hallo Nana. Ada apa?" tanya Mami kepada Nana pura pura tidak tahu akan apa yabg sudah terjadi.
"Mami, sebelumnya saya mengucapkan maaf karena sempat tidak percaya dengan berita yang mami bawa. Ternyata memang benar semuanya. Saya malu kepada Mami karena ulah anak tidak tau diri itu." ujar Nana yang memaki Gina di ujung kalimatnya.
"Tidak apa apa Nana. Sekarang Nana kan sudah tau yang sebenarnya." jawab Mami dengan tersenyum bahagia.
"Oh ya Nana udah dulu telponnya ya. Sepertinya suami saya pulang" ujar Mami menghentikan telpon dari Nana.
Nana memutuskan panggilan telponnya.
Mami menunggu siapa yang datang. Ternyata pas.
"Hahahaha. Anak yang terbuang. Sebentar lagi istri yang terbuang." ujar Mami sambil tertawa dengan bahagia kepada Gina.
"Selamat Nyonya. Anda sudah menabuh genderang perang melawan saya." ujar Gina.
"Saya akan pastikan Anda menyesal Nyonya." ujar Gina sambil berlalu dari hadapan ibu mertuanya yang sudah berubah menjadi jahat. Serta membawa orang tua kandung Gina menjadi membenci Gina
...****************...
__ADS_1
...****************...
...*...