Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
MANJUNTO


__ADS_3

Argha, kamu udah berkemas kemas?" tanya Ghina yang melihat anak laki lakinya masih sibuk bermain ponsel.


"Udah Bun. Udah dalam tas semuanya." jawab Argha sambil meletakkan ponselnya ke atas kasur.


"Bunda udah siap siap?"


"Udah dari tadi sore. Oh ya, Bunda ada hadiah untuk Argha." ujar Ghina sambil memberikan paperbag yang dari tadi di pegang Ghina.


"Apa Bun?" tanya Argha penasaran dengan isi paperbag yang dibawa Bundanya itu.


Ghina memberikan paperbagnya. Argha langsung membuka paperbag tersebut.


"Wow. Keren Bun. Argha suka." ujar Argha dengan semangat saat melihat isi paperbag yang diberikan oleh Ghina.


"Bunda sengaja belikan, tapi Argha nanti mau berenang sama Daddy."


"Wah Argha udah nggak sabar Bun, Argha mau berenang." ujar Argha dengan begitu gembiranya.


"Sabar. Besok kamu akan berenang." ujar Ghina.


"Sekarang kita makan malam dulu."


"Daddy udah pulang Bun?"


"Tadi belum. Palingan sekarang lagi siap siap mau makan malam." jawab Ghina.


Ghina dan Argha menuju kamar sebelah. Mereka ingin memastikan apakah Aris udah pulang atau belum dari kantor.


"Duar" ujar Aris mengagetkan anak dan istrinya saat masuk ke dalam kamar.


"Daddy" pekik Argha yang bener bener kaget karena ulah Aris.


"Hahahahaha. Kaget?" ujar Aris dengan wajah tak bersalahnya.


"Kagetlah. Masak ndak." jawab Argha.


"Ayuk makan."


Mereka bertiga menuju ruangan makan. Ternyata semua anggota keluarga sudah berada di sana. Mereka sudah bersiap siap untuk makan malam.


"Atuk udah siapin pakaian?" tanya Argha kepada kedua atuknya itu.


"Udah." jawab Ayah Hans.


"Kamu udah nggak sabar pasti Gha. Pengen berenang." kata Atuk Papi yang tau Argha pasti sudah nggak tahan lagi mau berenang di laut lepas.


"Bener tuk."


"Asal jangan mimpi berenang ya Gha. Nanti kamu ngompol lagi di kasur." lanjut Ayah Hans.


"Ye mana ada." jawab Argha sambil tersenyum. Dia memang pernah ngompol sekali itupun karena main api tengah malam.


Keesokan harinya keluarga besar Soepomo dan Wijaya sudah menuju bandara. Mereka hari ini akan berangkat menuju daerah yang dikatakan Mira seperti raja ampatnya Pulau S.

__ADS_1


Sebuah pesawat boing dengan merk GA Trans yang dicat warna biru gelap sudah berada di runway. Semua barang barang milik keluarga Soepomo sudah berpindah ke dalam perut pesawat. Setelah memastikan semua barang sudah masuk, barulah seluruh keluarga Soepomo masuk ke dalam pesawat. Mereka akan melakukan penerbangan selama satu setengah jam menuju Pulau S. Pulau terbesar nomor dua di negara I. Argha dan Bree terlihat sangat bersemangat untuk berlibur. Apalagi mendengar tempat liburan mereka adalah pantai.


Rombongan Alex, dan Felix sudah berangkat terlebih dahulu. Mereka memastikan tempat menginap keluarga besar Soepomo dan Wijaya dalam keadaan aman dan tidak ada pengunjung yang akan datang. Mereka sudah memesan tempat itu seluruhnya dalam kurun waktu lima hari ke depan.


Semua keluarga sudah duduk di kursi mereka masing masing. Pramugari datang memberikan potongan buah dan air mineral.


"Hay cewek cantik." sapa Argha dengan manja.


"Hay Tuan Muda. Mau pesan apa?" tanya Pramugari sambil tersenyum.


"Pesan susu coklat" jawab Argha.


Pramugari mengambilkan pesanan Argha yang memang sudab disediakan oleh pramugari.


Ting tong. Bunyi akan ada pemberitahuan melalui cokpit pesawat.


"Selamat pagi selamat beraktifitas bagi para penumpang pesawat GA Trans. Semoga semua penumpang dalam keadaan sehat walafiat. Kali ini penerbangan akan dipiloti oleh Saya Kapten penerbang Steven dan Co Pilot Kapten penerbang Juan Cardovan. Penerbangan akan kita lalui selama satu setengah jam. Diperkirakan akan mendarat di Bandara kota Padang pukul setengah sembilan. Sekian informasi dari kami, silahkan menikmati perjalanan." ujar Steven memberitahukan informasi dan lama pernebamgan mereka.


"Lama juga ya Bree. Satu setengah jam." kata Argha kepada Bree yang duduk di sebelahnya.


"Nggak apa apa Uda. Nikmati aja." jawab Bree sambil memasang handsetnya. Dia mulai mendengar lagu lagu yang berasal dari layar yang ada di depan mereka.


Tak terasa penerbangan satu setengah jam akan berakhir. Pesawat sebentar lagi akan landing.


"Diberitahukan kepada penumpang, kita akan melakukan pendaratan. Jadi diharapkan untuk memakai seltbelt Anda." ujar Juan memberikan informasi kepada semua penumpang untuk memakai sabuk pengaman.


Pesawat GA Trans mendarat dengan mulus. Semua penumpang turun dan langsung masuk ke dalam bandara. Beberapa mobil sudah menunggu mereka di depan bandara. Ivan, Jero, Bimo, Steven serta Juan dan dua orang pramugari membawa semua barang barang milik keluarga Soepomo dan Wijaya. Mereka juga akan ikut berlibur setelah memastikan pesawat aman di apron bandara.


Semua keluarga Soepomo telah naik ke dalam mobil. Barang barang milik mereka juga sudah berpindah ke dalam mobil paling belakang. Enam mobil SUV hitam bergerak meninggalkan bandara menuju kabupaten P tempat rencananya keluarga akan berlibur.


"Tanya om Alex dia yang udah kesana." kata Aris sambil menunjuk Alex yang berada di depan membawa mobil yang ditumpangi keluarga Aris.


"Om Alex berapa lama lagi kesana?" kata Argha mengulang pertanyaan yang sama dengan yang diajukannya kepada Aris.


"Dari bandara sekitar dua setengah jam kurang Tuan Muda." jawab Alex yang agak susah memprediksi berapa lama mereka akan sampai di tempat yang akan dituju.


"Apakah tempatnya bagus?" tanya Argha lagi.


"Om Alex kirim ke ponsel Tuan Muda." ujar Alex menjawab pertanyaan Argha. Argha akan selalu bertanya selagi dia tidak puas dengan jawaban dari Alex.


Argha melihat foto foto yang dikirim Alex. Argha sangat senang melihat apa yang ada di sana.


"Ini wow Om Alex" ujar Argha.


"Bener Tuan Muda. Om Felix aja sampai nggak mau keluar dari air Tuan Muda." kata Alex menceritakan Felix yang nggak mau keluar dari dalam laut saat dia berenang sore hari saat baru sampai di sana.


"Frenya bawa baju berenang?" tanya Argha.


"Nggak." jawab Frenya yang dapat hadiah plototan mata dari Steven.


"Hahahaha. Dimarahin Steven." ujar Argha tertawa melihat Frenya yang diberikan hadiah plototan mata dari Steven.


"Lex, kenapa tidak pakai pariwisata saja?" tanya Aris.

__ADS_1


"Kalau pakai pariwisata kita tidak akan bisa ke sana Tuan Muda. Jalannya lumayan mengerikan. Tapi bagi sopir yang sudah ahli untuk memgemudi di daerah ini mungkin bisa. Sedangkan bagi kami, kami agak cemas. Makanya kami meminta mobil yang seperti ini kepada perusahaan Tuan Bayu." jawab Alex memberitahukan kenapa memakai mobil tiga perempat untuk menjemput keluarga Soepomo dan yang lainnya.


Alex sengaja memilih jalan di tepi laut untuk menghindari kemacetan. Alex menjadi mobil yang pertama jalan. Setelah itu diikuti lima mobil lainnya. Argha menikmati semua pemandangan laut yang disajikan.


"Bunda, kampung Bunda dimana?" ujar Argha masih dengan menatap laut lepas.


"Jauh di kabupaten S." jawab Ghina yang ingat dengan rumah mereka yang masih ada di kabupaten S.


"Ooo. Argha nggak tau."


"Mana bisa tau kan belum pernah kesana lagi." ujar Ghina ngeledek Argha.


Argha kembali fokus menatap laut lepas. Mobil bergerak masuk kedalam jalan yang melewati pelabuhan ternama kota P.


"Daddy itu kapal tengker kan ya?" ujar Argha saat melihat kapal yang sedang membuang sauhnya di pelabuhan.


Aris mengangguk. Dia sebenarnya juga menikmati perjalanan ini. Dia tidak menyangka kalau di daerah ini ada tempat yang keren seperti yang diperlihatkan Alex melalui ponsel milik Argha.


"Argha yang itu." ujar Frenya sambil menunjuk sebuah kapal tengker yang terlihat sangat besar karena merapat hampir denhan dengan pelabuhan.


Alex memelankan laju mobilnya. Dia sengaja membiarkan Argha melihat kapal tengker yang ditunjuk Frenya.


"Yang itu kan Uni. Kapak yang putih besar itu" ujar Argha meyakinkan dirinya kalau kapal yang ditunjuknya adalah benar yang dimaksud oleh Frenya.


Frenya mengangguk. "Benar, tau Argha siapa yang punya?" tanya Frenya lagi.


"Uni ngadi ngadi. Mana Argha tau." jawab Argha sambil menggeleng.


"Punya Argha lah." jawab Frenya dengan santainya.


"Hah? Boong." kata Argha yang tidak percaya dengan ucapan Frenya.


"Suer. Tanya Bunda kalau nggak percaya." ujar Frenya lagi.


Argha menatap Bundanya itu. Ghina mengangguk memastikan apa yang dikatakan oleh Frenya adalah sesuatu yang benar.


"Berarti Argha boleh naik kapal itu." ujar Argha dengan semangat.


"Mana bisa. Kapalnya jarang merapat lama." jawab Frenya yang mengatur semuanya sekarang. Nanti setelah Argha besar, barulah Frenya memberikan kendali kepada Argha.


Perjalanan kembali dilanjutkan, mereka tidak mau kesorean sampai di tempat yang dituju. Alex mulai hati hati melajukan kendaraannya saat sudah masuk ke kawasan jalan baru yang dibangun oleh kementrian PUPR.


Argha menatap sepanjang jalan yang sudah tidak lagi terlihat lautnya.


"Mana lautnya Om Alex." ujar Arga protes.


"Bentar lagi Tuan Argha." jawab Alex.


Argha yang mulai lelah memilih untuk tidur. Dia ingin saat bangun kondisinya sudah kembali fit dan bisa langsung menikmati apa yang disajikan alam untuk dirinya.


Setelah menempuh perjalanan dua setengah jam, mereka sudah sampai di tempat yang dituju. Enam buah mobil masuk kedalam kawasan yang sudah disterilkan itu. Tidak satupun yang bisa masuk kedalam area itu selama lima hari ke depan.


Alex dan yang lainnya memarkir mobil mereka bersisian. Semua anggota keluarga turun dari atas mobil. Mereka luar biasa kaget dan takjub melihat pemandangan yang disajikan oleh kawasan itu.

__ADS_1


"Selamat datang di Manjunto." ujar Mira sambil membentangkan tangannya lebar lebar. Tidak salah dia merekomendasikan tempat ini kepada keluarga besarnya.



__ADS_2