
"Bun, ada yang mau aku bicarakan sama Bunda" ujar Daniel kepada Gina yang sedang bermain dengan Arga.
"Ya ngomong ajalah Niel. Ada apa?" jawab Gina.
"Bun jangan dekat Arga. Arga nggak bisa jaga rahasia." ujar Daniel sengaja mengejek Arga yang hampir keceplosan tadi kepada Gina.
"Ais Arga sudah tau juga kali Niel. Nggak perlu pake rahasia rahasia sama Arga." ujar Arga sambil memandang dengan mengejek Daniel.
Arga menatap lama Daniel. Daniel membalas menatap Arga sama tajamnya dengan tatapan Arga. Gina hanya bisa memandang kedua anaknya itu sambil tersenyum simpul. Ntah apa yanh mereka berdua lakukan Gina juga sampai tidak mengerti.
"Kalian berdua mau pandang pandangan terus?" ujar Gina yang sudah lelah menunggu kakak beradik itu untuk salah satunya mengalah.
"Arga tu Bun yang nggak mau mengalah." ujar Daniel.
"Yeeee mana ada anak kecil yang ngalah. Dimana mana ya yang besar ngalah. Dasar bujang lapuk." uiar Arga mengejek Daniel.
Gina yang mendengar Arga mengatakan bujang lapuk langsung melongo tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh anaknya itu. Ntah dari mana pula Arga belajar kosa kata itu.
"Bun" panggil Daniel berusaha meraih perhatian Gina lagi.
"Apa Neil ngomong aja susah banget." ujar Gina kepada Daniel yang dari tadi sibuk manggil Bun Buk Bun tetapi tetap juga nggak berhasil berbicara.
"Bunda mau tolongin Daniel kan ya?" ujar Daniel yang manja sambil memegang lengan Bunda.
"Maulah tapi apa dulu yang mau ditolong." ujar Gina kembali. Gina bener bener nggak habis pikir dengan sikap Daniel kali ini.
"Tolong lamarin Rani, Bun" ujar Arga main serobot saja.
"Itu aja lama. Gimana pas nikah." ujar Arga sambil melongos pergi meninggalkan Bunda dan Daniel.
"Dasar tu bocah." ujar Daniel yang didahului oleh Arga berbicara kepada Gina.
"Bener apa yang dikatakan oleh Arga. Kamu jadi orang harus berani mengatakan apa yang akan kamu katakan. Ke Bunda aja kamu seperti ini, apalagi ke orang lain." ujar Gina menasehati Daniel.
"Bun. Inikan masalah nikah layak la aku takut dan grogi. Kalau masalah lain aku mah main hajar aja." Daniel membela dirinya.
"Baiklah Bunda akan melamar Rani untuk dirimu. Tetapi, Bunda nggak tau orang tuanya dimana." ujar Gina yang terlihat berpikir setelah mengatakan hal itu.
"Bun, Rani kan udah nggak ada saudaranya" ujar Daniel memberitahukan kepada Gina.
"Maksud kamu?" ujar Gina yang memang tidak tau dengan keadaan keluarga Rani.
Gina selama ini memang tidak pernah bertanya kepada Rani tentang keadaan keluarganya.
"Jadi Bunda nggak tau apa apa?" tanya Daniel dengan tatapan tidak percaya kepada Gina yang tidak mengetahui tentang keadaan keluarga Rani.
"Beneran Bunda nggak tau, lagian Bunda juga nggak kepo denhan urusan keluarga orang. Sedangkan keluarga kita aja Bunda gagal paham Niel." jawab Gina sambil berusaha tersenyum memikirkan nasib keluarganya sekarang.
"Janhan cerita sekarang Bun takutnya nanti pas aki sedang cerita Rani datang. Berabe jadinya. Kita cerita besok aja ya Bun, aku akan datang ke perusahaan." ujar Daniel.
"Sip."
"Tapi Bunda tetap harus melamarkan Rani untuk aku. Apapin yang akan aku ceritakan." ujar Daniel.
"Iya iya bawel. Bunda istirahat dulu. Besok datang ke perusahaan saat jam makan siang. Sekalian belikan Bunda makan siangnya." ujar Gina memerintah Daniel.
Gina masuk ke dalam kamarnya. Ternyata di atas ranjangnya sudah terbaring sambil tertidur indah Arga yang memeluk pakaian Aris. Arga selalu melakukan hal itu saat ini. Saat Gina bertanya kenapa Arga melakukan hal itu, jawabannya sangat menyentuh hati, biar Daddynya selalu ingat akan dirinya dan Bunda.
Sedangkan di negara I, Aris ternyata tertidur di kamar Arga. Ntah kenapa dia bisa masuk ke dalam kamar Arga. Mungkin karena saking merindunya dengan anak semata wayangnya itu membuat Aris tidur di atas ranjang Arga. Aris kembali ke kamarnya untuk bersiap siap pergi ke kantor.
"Pagi Pi, Mi" sapa Aris di pagi hari.
__ADS_1
"Pagi Ris." jawab Mami.
Mereka berempat kemudian sarapan sebelum memulai aktifitas. Hari ini Aris berencana mau ke kantor Papi mengatakan semua kemauannya.
Selesai sarapan ketiga pria tampan yang sudah memakai jas itu berjalan menuju mobil mereka menuju perusahaan masing masing.
Bram melajukan mobil dalam kecepatan sedang. Hari ini Bram berencana akan bertemu dengan salah satu pimpinan sebuah perusahaan yang sedang naik daun. Brak berharap perusahaan itu mau bekerjasama dengan perusahaan Soepomo.
Mobil bmw mewah itu berbelok masuk ke dalam area perusahaan Soepomo. Bram memarkir mobilnya di basement yang ada di lantai bawah perusahaan.
"Bram nanti loe ke ruangan gue ya. Ada yang mau gue bicarakan dengan loe." ujar Aris kepada Bram.
"Oke sip" jawab Bram kemudian.
Mereka kemudian masuk ke dalam lift yang langsung menuju lantai ruangan Aris.
"Pagi Tuan" sapa sekretaris yang bernama Juan tersebut.
"Pagi Juan" jawab Bram.
Bram berhenti di meja Juan terlebih dahulu. Sedangkan Aris langsung masuk kedalam ruang kerjanya.
"Banyak meeting Juan?"
"Nggak Tuan Bram. Hanya ada satu meeting dengan perusahaan GA grub. Meeting dijadwalkan pada jam makan siang di Perusahaan GA Grub." Juan menjelaskan agenda meeting hari itu.
"Oh baiklah kalau begitu. Saya masuk ke ruangan Tuan Aris dulu." ujar Bram.
Bram masuk ke dalam ruangan Aris. Aris sepertinya akan membicarakan sesuatu yang sangat penting dengan dirinya.
"Ris, ada apa? Sepertinya ada yang penting." ujar Bram kepada Aris yang sudah duduk di sofa ruangannya.
"Duduk dulu Bram." perintah Aris.
"Bram, gue bener bener minta tolong sama loe. Gue udah nggak tau lagi harus minta tolong sama siapa lagi kalau bukan ke elo." ujar Aris.
Bram hanya bisa mendengarkan saja apa yang dikatakan oleh Aris. Aris masih belum masuk ke inti perkataannya.
"Bram, apakah gue bisa minta tolong sama loe?" tanya Aris sambil menatap Bram.
"Apa perlu gue jawab Ris?" tanya Bram.
"Tentu tidak Bram. Gue udah tau jawaban loe."
"Jadi apa yang harus gue tolong?" tanya balik Bram kepada Aris yang belum juga mengatakan apa yang mau dikatakannya.
"Gue minta tolong sama loe untuk mengurus perusahaan selama gue mencari keberadaan Gina dan Arga. Gue sangat yakin mereka masih berada di negara ini." ujar Aris dengan penuh keyakinan.
Bram mendengar saja semua yang dikatakan oleh Aris. Bram sendiri sudah meminta para anak buahnya yang terkenal bisa mencari orang untuk mencari Gina dan Arga di negara ini. Hasilnya nihil, Arga dan Gina tidak lagi berada di negara ini. Ingin rasanya Bram menyampaikan keadaan sebenarnya kepada Aris. Tetapi, Bram tidak mungkin mematahkan semangat Aris untuk melakukan sendiri pencarian terhadap Gina dan Arga.
"Gue rasa, sudah cukup gue mengandalkan orang lain untuk mencari anak dan istri gue." kembali Aris meyakinkan Bram untuk mau menggantikan dirinya memimpin perusahaan.
"Apakah kamu mau menggantikan gue Bram?" tanya Aris dengan tatapan memohon kepada Bram.
"Untuk loe apa yang nggak Ris. Gue bersedia. Sekarang kita harus ke kantor Papi guna menyampaikan hal ini." ujar Bram mengajak Aris untuk menyampaikan semua cerita tadi kepada Papi.
Kedua pria tampan itu meninggalkan perusahaan Soepomo. Mereka berdua akan ke perusahaan Jaya. Bram melajukan mobilnya dengan kencang. Dia memiliki dua agenda hari ini. Pertama ke kantor Papi menyampaikan kehendak Aris. Sedangkan yang kedua meeting dengan perusahaan GA Grub.
Mereka berdua akhirnya sampai juga di perusahaan Jaya. Aris dan Bram berjalan masuk ke dalam perusahaan tempat mereka bekerja beberapa tahun yang lalu. Semua karyawan membungkuk memberikan hormat kepada pewaris utama Jaya Grub. Aris dan Bram sama sekali tidak menghiraukan para karyawan itu. Mereka sudah terbiasa dengan perlakuan seperti itu.
Tok tok tok tok. Bunyi pintu ruangan yang di ketuk dari luar. Asisten Hendri yang sedang duduk dengan Papi langsung berdiri untuk membukakan pintu ruangan.
__ADS_1
"Loh kalian berdua ada apa kemari?" tanya Asisten Hendri yang terkejut dengan kedatangan kedua tuan muda itu.
"Ada perlu dengan Papi dan Paman Hendri." jawab Aris.
Hendri mempersilahkan mereka berdua untuk masuk ke dalam menemui Papi. Papi yang sudah tau siapa yang datang dari suaranya sudah duduk di sofa ruangan menunggu Aris dan Bram.
"Duduk Ris, Bram" ujar Papi.
"Kamu juga duduk Hen. Bukannya tadi kata Aris dia ada perlu dengan kita berdua." ujar Papi melarang Asisten Hendri untuk meninggalkan ruangan.
Aisten Hendri duduk di sofa yang berhadapan dengan Bram. Bram terlihat sangat dingin, sedangkan Aris dari tadi terlihat sangat gelisah untuk memulai apa yang akan dikatakannya kepada Papi dan Asisten Hendri.
"Ris, apa perusahaan sedang goyah?" tanya Papi kepada Aris.
"Nggak juga Pi."
"Jadi kamu mau ngomong apa, dari tadi diem aja. Katanya tadi ada yang penting. Sekarang malah mingkem" ujar Papi yang mulai kesal dengan gaya Aris.
"Tapi Papi janji untuk mengizinkan ya." ujar Aris memberikan kepastian yang tidak bisa di tolak oleh Papi.
Papi menatap asisten Hendri. Asisten Hendro mengangguk tanda setuju. Papi tersenyum senang.
"Baiklah Papi setuju. Ada apa ceritakan." perintah Papi
Aris kemudian menceritakan semua maksud dan rencana rencananya kepada Papi. Papi dan Asisten Hendri sangat senang mendengar apa yang dikatakan oleh Aris barusan.
"Baiklah pada dasarnya Papi sangat setuju dengan keinginan kamu untuk mencari Gina dan Arga."
"Serius Pi. Makasi banyak Pi. Aku sungguh senang. Perusahaan akan aman di tangan Bram Pi." potong Aris.
"Papi belum selesai bicara Aris. Papi membolehkan kamu untuk pergi mencari Gina. Tetapi Bram harus ikut dengan kamu." ujar Papi dengan nada yang nggak mungkin dibantah atau dipertanyakan keputusan yang diambil Papi
"Terus perusahaan siapa yang jaga Pi kalau kami keduanya pergi dari sana." ujar Aris yabg gagal paham dengan maksud Papi.
"Yang akan ngurus Soepomo adalah Paman Hendri. Jadi kalian berdua silahkan fokus mencari Gina dan Arga. Sedangkan urusan perusahaan serahkan kepada Hendri." ujar Papi.
"Mulai kapan kami bisa cuti Pi?" tanya Aris yang sudah tidak sabaran lagi untuk mencari Gina.
"Mulai besok. Hari ini kerjakan dulu semua tugas kalian. Nanti malam paman Hendri akan datang ke rumah. Kalian jelaskan kepada Paman Hendri semua pekerjaan yang harus sedang dilakukan di Soepomo." jawab Papi.
Hal ini sontak membuat Aris bahagia. Aris membayangkan Papi akan memberi izin sebulan lagi atau saat kerjasama dengan GA Grub selesai. Ternyata apa yang ditakutkan Aris tidak terjadi.
"Terimakasih Pi. Aris sangat senang" ujar Aris kemudian.
"Bram apa loe mau menemani gue untuk mencari istri dan anak gue?"
"Oke Ris. Gue akan temani loe. Kita mulai dari besok. Sekarang gue ada meeting dengan perusahaan GA Grub." ujar Bram yang tiba tiba ingat dengan mertingnya bersama GA Grub.
"Gue ikut." ujar Aris.
Bram mengangguk tanda setuju.
"Pi makasi atas izinnya Pi. Kami meeting dulu." ujar Aris.
......................................................
Aris dan Bram pergi menuju perusahaan GA Grub. Mereka akan bertemu dengan direktur sari cabang GA Grub yang ada di dalam negeri.
Pertemuan antara Aris dengan direktur dari GA Grub akan membuat Aris terkejut karena kedatangan direktur tersebut.
Akankah kedatangan direktur tersebut membuat Aris nyaman dalam berpikir atau malah sebaliknya.
__ADS_1
Nantikan ya kakak kakak bab berikutnya.
Kakak kakak maunya yang datang itu berguna untuk Aris dalam melakukan pencarian terhadap istri dan anaknya atau tidak sama sekali.