
Dua mobil terlihat sudah parkir di depan lobby rumah sakit, Ghina dan yang lainnya masuk ke dalam mobil hitam besar yang dikemudikan oleh salah satu pengawal. Sedangkan di mobil paling depan ada empat orang pengawal yang akan menjaga mobil besar itu. Dua mobil hitam itu bergerak meninggalkan rumah sakit, mereka akan menuju markas yang terletak dipinggiran ibu kota. Sepanjang perjalanan Ghina dan Mira memilih untuk beristirahat, sedangkan Aris dan Bayu membahas masalah bisnis mereka yang akan mereka lakukan berdua. Tak terasa perjalanan mereka menuju markas akhirnya selesai sudah, pintu markas terbuka dengan sendirinya saat sopir mobil paling depan menekan beberapa angka untuk membuka pintu gerbang. Kedua mobil hitam itu perlahan masuk ke dalam markas. Sopir memarkirkan mobil tersebut di parkiran khusus petinggi kelompok. Mereka semua turun dari dalam mobil dan berjalan masuk menuju markas. Beberapa pengawal terlihat sedang berlatih untuk menambah kemampuan bela diri mereka. Juga ada beberapa pengawal yang sibuk belajar. Mereka terlihat sangat serius melakukan kegiatan mereka masing-masing.
Mereka berempat kemudian berjalan menuju gedung utama markas yang terlihat berdiri megah tepat di tengah tengah area yang begitu luas, gedung dengan gaya gedung arsitektur eropa. Gedung yang dari tampilan luarnya saja sudah menggambarkan bagaimana dan apa fungsi dari bangunan tersebut.
Jero yang melihat Ghina, Mira, Aris dan Bayu yang datang tanpa memberikan pemberitahuan langsung saja menghentikan pekerjaannya saat itu, padahal pekerjaannya kali ini berhubungan dengan salah satu perusahaan dari keempat orang yang datang itu.
"Apa Tuan Aris sudah tau ya dengan yang terjadi terhadap databasenya?" ujar Jero berbicara sendiri.
"Tetapi itu juga tidak mungkin, karena orang itu baru saja melakukannya." lanjut Jero lagi.
"Lalu apa yang membawa mereka datang ke sini tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu? Apa ada masalah dengan GA Grub?" ujar Jero lagi.
"Tapi rasanya GA Grub juga masih aman aman saja." lanjut Jero masih dengan bermonolog sendirian.
Ghina yang melihat Jero bermonolog sendirian menjadi merasa ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh Jero. Ghina kemudian berjalan ke arah laptop milik Jero, Ghina melihat database sebuah perusahaan yang amat sangat dikenalinya melalui logo dari perusahaan itu.
"Ada apa Jero?" tanya Ghina melihat ke arah Jero.
"Ada kerjaan sedikit Nyonya." jawab Jero dengan santainya.
"Apa parah yang terjadi dengan database perusahaan itu?" tanya Ghina kembali.
Aris yang mendengar masalah data base yang dibicarakan oleh Ghina dan Jero menjadi tertarik untuk menyimak pembicaraan mereka berdua.
"Tidak Nyonya, mereka hanya mencoba keberuntungan mereka saja dengan berani masuk ke dalam database perusahaan itu. Tapi jangankan untuk melihat, untuk masuk saja mereka tidak akan bisa Nyonya." jawab Jero dengan pasti.
"Oke baiklah, saya percaya dengan kemampuan kamu dalam masalah ini Jero." ujar Ghina kembali.
"Sayang, database perusahaan mana yang sedang dicoba ganggu oleh penyusup?" ujar Aris yang sangat penasaran dengan perusahaan yang sedang dibicarakan oleh Ghina dan Jero.
"Perusahaan Soepomo" ujar Ghina dengan santai.
Aris yang mendengar apa yang dikatakan oleh Ghina langsung beralih menatap ke arah Jero.
"Apa benar yang dikatakan oleh Nyonya kamu itu Jero?" tanya Aris sambil menatap tajam Jero.
"Tentu tidak Tuan. Nyonya hanya mencandai Tuan saja itu. Database perusahaan Soepomo, GA Grub, Jaya Grub, Wijaya Grub, Bree Grub semua terjamin keamanannya Tuan, termasuk perusahaan Tuan Bayu." ujar Jero menjawab pertanyaan dari Aris.
"Oh baiklah, semoga yang kamu katakan benar." ujar Aris yang menyimpan keraguan di hatinya.
"Sayang sayang, kalau kamu ragu lihat sendiri aja laptop milik Jero." ujar Ghina lagi sambil mengambilkan laptop milik Jero yang ada di atas meja.
"Nggak usah sayang, aku percaya." jawab Aris yang tidak mau diragukan kepercayaannya oleh Ghina.
__ADS_1
"Sudah kapan jadi selesainya tujuan ke sini kalau masalah laptop Jero masih dibahas. Aneh." ujar Mira dari samping Bayu.
"Oh ya Nyonya, ada tujuan apa Nyonya datang tanpa memberitahukan terlebih dahulu kepada kami yang berada di sini?" tanya Jero yang merasa heran dengan kedatangan Ghina yang mendadak itu.
"Kami mau bertemu dengan Felix, apa dia ada?" tanya Ghina mengungkapkan apa tujuan mereka datang ke markas tanpa pemberitahuan sebelumnya.
"Felix ada Nyonya, dia di kamar." Apa perlu saya panggilkan Nyonya?" tanya Jero kepada Ghina.
Ghina menatap Mira. Mira menggeleng.
"Kami ke kamarnya saja, apa kamu bisa tunjukkan arah kamarnya di mana?" ujar Mira kepada Jero.
"Bisa Nyonya. Mari ikuti saya?" jawab Jero sambil berjalan paling depan.
Ghina dan yang lainnya mengikuti Jero dari belakang, mereka berjalan menuju kamar para pemimpin pengawal. Markas ini memang memisahkan antara kamar pemimpin pengawal dengan para pengawal. Mereka berjalan menuju sayap kanan markas, di sana terlihat sebuah lorong yang kiri kanannya terdapat pintu pintu ruangan yang bermerk masing masingnya. Akhirnya sampailah di kamar paling ujung Jero berhenti, Ghina dan yang lainnya juga ikut berhenti.
"Nyonya ini kamar Felix" ujar Jero memberitahukan kepada Ghina.
Ghina kemudian maju ke depan pintu, dia mengetuk pintu kamar tersebut, tetapi setelah lama menunggu tidak ada sambutan atau sahutan dari dalam kamar. Ghina menatap kearah Jero.
Tok tok tok tok tok, Jero mengetuk pintu tersebut sebanyak lima kali.
"Bentar Jer." jawab Felix dari dalam kamar.
Ghina menatap Jero.
"Oh baiklah." jawab Ghina sok paham dengan apa yang dikatakan oleh Jero.
Pintu kamar milik Felix terbuka dari dalam, saat melihat siapa yang di depan pintu kamar, Felix sontak ingin langsung menutup pintu kamar itu kembali.
"Felix" ujar Ghina dengan dinginnya mencegah apa yang akan dilakukan oleh Felix.
Felix yang mendengar nada Ghina memanggil dirinya mengurungkan niatnya untuk menutup pintu kamar, dia membiarkan saja pintu kamar itu terbuka kembali.
"Apa kami boleh masuk Felix?" tanya Ghina
"Boleh Nyonya, maaf kalau berantakan." ujar Felix sambil mempersilahkan Tuan dan Nyonya masuk ke dalam kamar miliknya itu.
Ghina dan yang lain langsung duduk di atas karpet tebal yang ada di kamar Felix.
"Maaf Nyonya dan Tuan terpaksa duduk di lantai, saya tidak punya sofa di sini." ujar Felix dengan nada bersalahnya.
"Sudahlah Felix tidak masalah kami harus duduk dimananya. Kamu duduk di sini juga sekalian dengan Jero." ujar Ghina memberikan perintah kepada kedua anak buahnya itu.
__ADS_1
Ghina dan yang lainnya cukup lama terdiam, mereka bingung harus memulai dari mana terlebih dahulu percakapan mereka. Mereka sudah melihat bagaimana rapuhnya Felix saat ini, makanya Ghina atau Mira harus memilih kata kata yang tepat yang tidak akan membuat Felix semakin terpuruk nantinya.
"Felix" ujar Ghina memanggil Felix dengan nada bersahabat, tidak dengan nada dingin seperti saat Felix akan menutup pintu kamarnya tadi.
Felix mengangkat kepalanya sedikit. Ghina hanya bisa menggeleng tidak percaya dengan keadaan salah satu anggotanya yang hebat dalam bidang apapun itu.
"Felix bisa kamu mengangkat kepala kamu dan melihat ke arah saya Felix?" ujar Ghina kembali.
Felix mengangkat kepalanya dengan terpaksa, dia tidak mau mengecewakan Ghina, cukup sudah dia mengecewakan Sari, jangan sampai ada lagi orang yang pernah menolongnya, orang yang mengangkat derajatnya dia kecewakan lagi.
"Felix, kamu pasti tau kalau saya tidak suka basa basi selama ini, Saya akan langsung saja keinti pembicaraan kenapa saya datang kesini tanpa memberitahukan kepada kalian." ujar Ghina membuka arah percakapan mereka.
"Felix, saya tau kamu sangat merasa bersalah karena kejadian naas yang menimpi Sari dan Ibu, tapi Felix semua itu bukanlah kesalahan kamu, tapi itu semua kehendak yang di atas. Pertanyaan saya kepada kamu satu, apa kalau kamu di atas mobil itu kecelakaan itu menjadi tidak terjadi?" tanya Ghina kepada Felix.
"Tidak Nyonya, pasti akan terjadi." jawab Felix.
"Nah kamu tau itu Felix, jadi sekarang kenapa kamu meratapinya, hal itu tidak perlu Felix. Apa kamu mau Sari mengetahui keadaan kamu sekarang?" tanya Ghina lagi.
"Kalau kamu mau, saya akan beritahukan hal ini kepada Sari. Biar Sari menjadi semakin sakit. Kamu tau kan Felix, bagaimana sayangnya Sari kepada kamu. Sari sudah menganggap kamu sebagai saudaranya. Jadi Felix, apa pantas seorang saudara meratapi kejadian yang terjadi kepada Saudaranya?" tanya Ghina lagi.
Felix hanya bisa menggeleng, dia sudah tau kesalahannya sekarang.
"Nah Felix, saya dan yang lainnya datang ke sini untuk memohon kepada kamu, kembalilah menjadi Felix yang dahulu. Kamu tau Felix, Juan dan Alex membutuhkan kamu untuk mengusut perihal kecelakaan itu." ujar Ghina.
"Maksud Nyonya, apakah kecelakaan itu merupakan sabotase dari seseorang?" tanya Felix yang matanya kini sudah kembali seperti Felix yang mereka kenal.
"Apa menurut kamu, ada mobil baru yang remnya dinyatakan blong?" tanya Ghina lagi.
"Tidak Nyonya, tidak akan mungkin." jawab Felix lagi dengan mantap.
"Nah Felix, karena itulah, mari kamu bangkit dan tolong Alex serta Juan mengungkap siapa dalang dibalik kecelakaan itu. Kamu harus balaskan dengan hal yang setimpal kepada orang yang telah menyakiti Sari dan Ibu." ujar Ghina memberikan semangat kepada Felix.
Felix terdiam sesaat, dia terlihat sangat menyesali perbuatan bodohnya kemaren kemaren ini. Dia terlalu larut dengan kesedihannya, sehingga tidak memikirkan kenapa kecelakaan itu bisa terjadi. Dia benar benar menyesal.
"Baiklah Nyonya, saya akan membantu Alex dan Juan mengusut semuanya. Saya sangat menyesal telah larut dalam penyesalan itu. Maafkan saya Nyonya Tuan." ujar Felix.
"Baiklah Felix, tujuan kami ke sini sudah selesai. Kamu kami tunggu di rumah sakit. Lihatlah saudara kamu itu. Mana tau dengan kedatangan kamu dia kembali dia akan kembali sadar." ujar Ghina sambil menepuk bahu Felix.
Mereka semua berdiri dari duduknya, mereka tidak menyangka akan semudah itu mengembalikan motivasi Felix kembali.
"Felix dengar pesan saya, larut dalam penyesalan bukanlah suatu jalan, melainkan keluar dari penyesalan dan mencari penyelesaian itu barulah suatu jalan." ujar Ghina memberikan pesan kepada Felix.
"Cayo Felix" ujar Mira yang baru bisa membuka suaranya.
__ADS_1
"Hem baru ngomong, tadi takut." ujar Ghina menggoda Mira.
Setelah kembali bisa membuat Felix sadar dan kembali kepada dirinya, Ghina dan yang lainnya kembali ke rumah sakit. Mereka akan kembali menjaga Sari dan bekerja dari rumah sakit.