
Semua anggota keluarga Soepomo sudah berada di rofttop. Ghina yang tadinya memasak sop daging dan menu lainnya memberikan menu makan malam itu kepada seluruh maid yang ada di rumah utama. Menu makan keluarga malam ini di ganti dengan rendang dan juga kerupuk serta lalapan. Ini semua karena permintaan Aris yang sedang ingin makan rendang.
"Wah Bunda kapan datangnya rendangnya?" ujar Rani yang kaget ada masakan rendang yang sudah lama diinginkannya.
"Tadi sore yang buka paketnya Daddy. Nah berhubung Daddy lagi pengen makan pakai rendang belut ya udah Bunda bilang aja enak makannya di rofttop. Jadilah makan malam kita beratapkan langit bertabur bintang." ujar Ghina sok menjadi sastrawan.
Argha yang mendengar apa yang diucapkan oleh Bundanya memukul kepalanya dengan telapak tangan.
"Bun Bun ternyata lebay Bunda memang sudah mendarah daging." ujar Argha sambil tersenyum kepada Ghina.
"Udahlah jangan ribut lagi. Itu belut udah manggil manggil untuk dimakan." Aris menengahi keributan antara Bunda dan Anak.
"Sudah, kita makan dulu. Nanti Argha dan Frenya harus menceritakan apa yang terjadi di markas tadi." kata Papi sambil mengambil nasi.
Keluarga besar Soepomo makan dengan tenang. Mereka sama sekali tidak ada yang mengobrol. Saat keluarga ini makan jarum jatuh saja bosa terdengar. Bener bener hening. Sendok garpu saja bisa tidak berbunyi saat beradu dengan piring.
"Yang" panggil Rani kepada Daniel.
"Apa?" jawab Daniel yang sudah tau maksud istrinya itu.
Rani mengangkat piringnya ke depan wajahnya sendiri. Dia tersenyum manis ke arah Daniel.
"Oke" jawab Daniel yang paham dengan maksud Rani.
Daniel menyendokkan nasi dan rendang kembali untuk Rani. Istrinya itu makan dengan sangat lahapnya. Sudah lama Rani tidak makan dengan selahap itu.
Ghina dan yang lain sangat senang melihat Rani yang makan banyak kali ini.
"Besok Bunda suruh kirim lagi ke Mak Itam Ran. Sekalian untuk rendang acara pernikahan Papi Bram. Jadi kamu bisa makan dengan lahap seterusnya." kata Ghina sambil tersenyum bahagia.
"Serius Bun. Berarti rendang yang ada ini boleh Rani makan dengan roti?" tanya Rani yang melupakan kebiasaan keluarga mereka untuk saat ini.
"Boleh. Rani boleh makan semua rendang. Termasuk rendang belut Daddy. Belut itu kan bisa buat cerdas anak Ran." ujar Ghina membuka peluang untuk Rani boleh memakan rendang belut Aris.
"Boleh Dad?" tanha Rani langsung kepada Aris.
"Boleh" jawab Aris dengan mantap. Dia memang membolehkan siapapun untuk memakan rendang belut miliknya itu.
"Aris, apa Bram tidak pulang?" tanya Papi saat melihat salah satu anak laki lakinya tidak berada di tengah tengah mereka.
"Kayaknya masih di rumah sakit Pi. Tadi Bram ngirim pesan, kalau Ibu Sari besok baru boleh pulang. Makanya sekarang Bram tidur di rumah sakit." Aris memberitahukan kepada Papinya dimana keberadaan adiknya itu.
"Oke. Ghina, Frenya, Rani, kapan kalian akan mulai melakukan persiapan acara pernikahan Bram dan Sari?" Papi mulai membuka diskusi tentang acara pernikahan Bram.
"Rencananya mulai besok Pi. Kita masih ada waktu sekitar delapan hari lagi. Kisaran berapa ya Pi undangan mau kita sebar?" tanya Ghina ke Papi.
"Tanya Bram aja. Apa dia mau pesta mewah atau pesta keluarga saja. Sekalian Papi juga mau mengumumkan pernikahan Daniel dan Rani. Kalau perlu mereka berdua kita ulang pestanya." kata Papi sambil melirik ke Daniel dan Rani.
"Gimana Ran? Masih sanggup dalam keadaan hamil muda untuk berdiri di pelaminan?" tanya Ghina kepada Rani.
"Atuk sebelumnya Rani ngucapin terima kasih banget sama Atuk yang udah mau ngadain perayaan pernikahan kami berdua. Tapi melihat kondisi Rani yang kayak gini, Rani nggak sanggup untuk berdiri lama Atuk. Atuk umumin ajalah ya tapi tidak ada pesta." ujar Rani yang merasa tidak enak membuat perhatian undangan terbagi antara mereka dengan Bram dan Sari. Makanya Rani menjadikan kehamilannya sebagai bahan pertimbangan.
"Oke kalau begitu, Tapi saat tujuh bulan tidak ada lagi penolakan kita akan mengadakan syukuran besar besaran. Itu cicit pertama Atuk." ujar Papi yang sudah tidak sabar menunggu tujuh bulananan kandungan Rani.
"Oke Tuk." Rani setuju dengan tawaran Atuknya, tawaran yang tidak mungkin di tolaknya.
Semua peralatan makan dan menu makanan yang berlebih sudah di rapikan oleh para maid. Sekarang berganti dengan puding buah yang dibuat oleh Rani tadi siang.
"Jadi gimana Gha keadaan di markas tadi???" tanya Papi yang penasaran dengan keadaan di markas.
"Argha dan Uni Frenya tidak bisa melakukan apa apa terhadap nenek lampir itu Atuk. Papi Bram dan Tante Sari yang melakukan." ujar Argha.
"Kamu nggak tau apa yang mereka lakukan?" tanya Papi lagi
"Nggak. Mereka menutup pintu dengan rapat Tuk. Nggak satupun yang bisa melihat apa yang dilakukan oleh Papi dan Tante Sari." jawab Argha dengan kesal.
__ADS_1
"Padahal ya Tuk. Argha pengen sekali memberikan sedikit salam kenal dari anak autis ini." ujar Argha masih dengan kekesalannya
"Besok masih bisa kok Gha. Besok Papi Bram dan Tante Sari tidak akan ke sana." kata Ghina yang tau anaknya sedang sangat kesal.
"Serius Bun?" tanya Argha dengan semangat
"Serius." jawab Ghina.
"Akhirnya berkat sabar, bisa juga aku membalaskan apa yang aku rasa." Argha terlihat sangat senang karena akhirnya bisa juga membalaskan perbuatan nenek lampir kepada dirinya dan juga Bundanya.
Mereka bercakap cakap dengan santai. Mereka sama sekali tidak membahas tentang masalah itu dan juga tidak membahas masalah bisnis. Mereka membicarakan seputar acara pernikahan Bram dan Sari.
"Udah malam lebih baik kita istirahat terlebih dahulu." ujar Papi yang melihat jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Mereka semua bergerak meninggalkan rofftop. Aris dan Ghina masuk ke dalam kamar mereka.
"Sayang, aku pengen." ujar Aris sambil memeluk istrinya.
"Hahahaha. Sayang bukan nggak mau tapi landasan pacunya sedang kebanjiran." ujar Sari.
"Ya elah. Padahal pengen banget sayang." ujar Aris sambil menyenderkan kepalanya ke bahu Ghina. Dia melangkah dengan gontai.
Frenya dan Argha yang melihat memiliki niat jahil tersendiri. Mereka berdua saling pandang pandangan.
"Eksekusi Gha." kata Frenya.
Argha berjalan cepat ke arah Bunda dan Daddynya yang berjalan dengan lambat karena Daddy sedang tidak mood. Argha langsung menerobos jalan bergandengan Daddy dan Bundanya.
"Wow, main terobos aja." ujar Aris yang kaget Argha berada di tengah tengah mereka berdua.
"Daddy, Bunda." ujar Argha melihat kedua orang tuanya itu.
"Apa?" tanya Aris menatap bocah kecilnya itu.
"Argha sama Frenya bobok di kamar Daddy ya." ujar Argha menatap dengan penuh harap.
"Huft. Uni batal Uni. Daddy dan Bunda nggak akan ngapa ngapain. Argha tidur dengan Uni aja lah ya Uni." kata Argha kepada Frenya.
Aris dan Ghina menatap ke arah Frenya. Frenya hanya bisa tertawa dengan canggung saja. Adeknya bener bener lah ya.
"Frenya, ide kamu mantap." ujar Ghina menatap tajam Frenya.
"Bunda Daddy berhenti. Dengarkan Argha dulu." ujar Argha sambil berdiri tegak pinggang.
"Apa?" ujar Aris dan Ghina serempak. Mereka berdua tidak habis pikir dengan ide ide jahil ke dua anaknya itu.
"Kalau bisa ya Argha jadi anak terakhir aja. Jangan ada adek baru lagi. Makanya Argha suka gangguin Bunda dan Daddy." ujar Argha mencurahkan isi hatinya. Isi hatinya yang selalu ingin mengganggu Aris dan Ghina saat tidur.
"Gha, apa Argha nggak pengen punya adik?" tanya Ghina sambil menatap anak bungsunya itu.
"Nggak. Argha bentar lagi akan jadi Papi kecil, ngapain masih punya adek bayi. Biar anak Uda Daniel aja jadi adik Argha." ujar Argha mencurahkan isi hatinya.
Aris mendekati anaknya itu. Dia sengaja berjongkok supaya sama tinggi dengan Argha.
"Kalau seandainya sekarang ada adik di perut Bunda bagaimana?" tanya Aris yang masih berharap Argha memberikan dia izin untuk memiliki anak bayi lagi.
"Nggak mau Daddy. Argha nggak mau ada adik lagi. Cukup Uni Rani yang ngeluarin adik. Sebentar lagi Frenya juga bisa ngeluarin adik. Jadi kan sama aja. Sama sama bayi juga." jawab Argha dengan gigihnya menolak kehadiran bayi dari rahim Ghina.
"Argha, kalau Allah memberi kita nggak boleh nolak kan ya. Itu namanya berdosa. Apa Argha mau berdosa?" tanya Ghina kembali. Ghina sangat tau keinginan dari suaminya itu.
Argha terlihat berpikir dia lama terdiam memikirkan ucapan dari Bundanya tadi. Argha sangat takut dengan yang namanya berdosa.
"Gimana Gha? Argha kan fmtau setiap yang dikasi Allah ke kita wajib kita syukuri dan kita jaga. Nah Allah ngasih ke kita seorang Adik, apa Argha mau tidak menjaganya, sedangkan Allah aja nyuruh Argha untuk menjaga dia." tanya Ghina lagi.
Argha terlihat menimbang nimbang setiap perkataan Ghina kepada dirinya. Argha sangat paham dan tau akan ajaran Agamanya.
__ADS_1
"Oke lah Bunda Daddy. Argha sepakat kalau Allah yang ngasih maka Argha tidak akan menolak. Tapi kalau Bunda dan Daddy sengaja untuk Allah ngasih maka Argha akan marah. Marah luar biasa marah." ujar Argha sambil membudut.
"Jadi boleh nih kalau Allah ngasih?" tanya Aris kepada Argha. Aris ingin mendengar sekali lagi jawaban dari Argha.
"Iya beneran boleh kalau Allah ngasih." jawab Argha kembali.
Aris dan Ghina tersenyum bahagia. Mereka masih memiliki peluang untuk memberikan Argha adik. Frenya hanya bisa menggeleng saja melihat bagaimana begitu gigihnya kedua orang tuanya membujuk Argha untuk bisa memiliki adik baru.
"Uni, Argha bobok sama Uni aja ya." ujar Argha yang beralih berjalan ke arah Frenya.
"Oke sip. Tapi besok harus bangun pagi ya. Kamu maren nggak sholat loh." ujar Frenya berbisik pelan ke telinga adeknya itu.
"Oke. Bangunin ya." ujar Argha lagi.
"Katanya takut dosa tapi sholat nggak juga. Argha mau kasih dosa sama Bunda dan Daddy ya?" tanya Aris yang mendengar bisikan Frenya tadi.
"Nggak Daddy. Argha nggak akan ngasih dosa lagi ke Bunda dan Daddy mending ngasih pahala jadikan bisa masuk sorga." jawab Argha dengan penuh tekad.
"Gitu dong baru namanya Argha Wijaya Soepomo." jawab Aris dengan nada bangga.
"Bun besok kita ke rumah Atuk Wijaya ya" ujar Argha.
"Ngapain?" tanya Ghina yang penasaran tiba tiba Argha mengajak ke rumah utama Wijaya.
"Ada deh. Bunda nanti akan tau juga pas kita sampai sana besok." jawab Argha dengan penuh misteri.
"Tapi besok kamu mau ke markas lagi. Mau ngasih pelajaran ke Nenek lampir lagi." ujar Ghina mengingatkan Argha.
"Nggak penting Bun. Argha kasih maaf dia dengan gratis. Argha mau ngasih pahala ke Daddy, kan Daddy marah ke dia tu." ujar Argha dengan sombongnya.
"Nah Daddy, anak kamu saja masih kecil udah ngasih maaf. Kamu gimana Daddy??" tanya Ghina berbicara dengan nada mengejek Aris.
Aris menatap Ghina dengan tatapan penuh makna. Ghina mengangguk meyakinkan Aris.
"Oke Daddy memaafkan dia. Tapi Daddy harus bertemu dengan dia terlebih dahulu." ujar Aris dengan mantap.
"Ha oke, besok kita ke sana Daddy. Daddy kan nggak tau markas dimana." ujar Argha dengan semangat.
"Argha rencana kamu terlalu banyak sayang." ujar Ghina yang heran anaknya mengokekan semuanya.
"Bunda, Bunda besok lebih baik bawa tante Sari ke butik untuk ukur baju pengantin. Harinya nggak kama lagi Bun. Mana mungkin penjahitnya bisa nyelesaikan dalam waktu singkat." kata Argha yang nggak mau disalahkan.
"Gha dari markas aja kita ke rumah Atuk Wijaya. Sama Daddy aja. Biarin aja Bunda ngurus pernikahan Papi Bram. Kita jalan berdua aja. Argha maukan ya?" Aris menawarkan suatu hal yang nggak pernah dilakukannya dengan Argha selama ini.
"Oke Daddy, Argha setuju. Kita besok seharian main berdua aja. Tapi apa Daddy nggak keperusahaan?" tanya Argha yang ingat Daddynya udah beberapa hari ini nggak ke kantor.
"Kantor pagi. Kamu apa nggak sekolah juga?" tanya Aris.
"Sekolah pagi. Jam sepuluh pulang kan cuma antar tugas doang. Nanti Argha langsung ke kantor Daddy ya. Dari kantor Daddy, kita beli es krim dulu baru ke markas. Dari markas makan siang di kafe Papi Bayu siap itu baru ke rumah Atuk Wijaya. Dari rumah Atuk Wijaya kita beli mainan baru kita pulang." kata Argha yang tidak berhenti berbicara memaparkan kemana saja rute mereka untuk esok harinya.
"Argha Argha pergi aja belum tapi udah tau mau kemananya." ujar Ghina sambil mengacak rambut anak bontotnya itu.
"Itu namanya perencanaan Bunda. Udah Bunda sama Daddy sana masuk kamar tidur lagi. Gangguin anaknya mau istirahat aja." ujar Argha menyalahkan Aris dan Ghina.
"Ye, kamu yang ganggu malah sekarang ngomong kami yang ganggu. Bener bener lah ya." kata Ghina yang tidak menyangka Argha akan ngomong seperti itu.
Aris dan Ghina sengaja berjalan bergandengan tangan di depan mata Argha. Mereka sengaja menggoda Argha. Argha yang tau kedua orang tuanya sedang menjahili dirinya bersikap santai saja. Argha tidak terbawa emosi.
Aris dan Ghina masuk ke dalam kamar mereka. Mereka berdua menukar pakaian dan membersihkan wajah masing masing.
"Sayang anak kamu itu." ujar Aris kepada Ghina saat mereka berdua sudah rebahan di ranjang.
"Anak kamu sayang" jawab Ghina.
"Hem pas yang jahil anak aku. Pas yang baik anak kamu." lanjut Ghina.
__ADS_1
"Hahahahahaha. Sini bobok. Aku lagi pengen meluk kamu." ujar Aris sambil membawa Ghina kedalam pelukannya.
Semua penghuni rumah utama itu masuk ke alam mimpi mereka masing masing. Mereka tidur dengan nyenyak karena masalah yang berat sudah terlewat.