
Frenya, denger bunyinya kamu akan merambah bisnis keangkutan umum ya?" ujar Ayah kepada Frenya yang sedang asik bercerita dengan Ghina tentang masalah perusahaan dan target baru dari Frenya di dunia bisnis sewa menyewa privat jet dan helicopter.
"Angkutan umum?" Frenya menatap atuknya dengan tatapan tidak percaya Atuknya menanyakan hal itu.
"Iya angkutan umum yang lebih keren. Sewa menyewa privat jet dan helicopter. Kan kamu jadikan angkutan umum itu. Namanya aja yang keren." ujar Atuk.
Aris dan Bayu yang mendengar langsung tertawa ngakak saat akhirnya Ayah menerangkan apa yang dimaksud angkutan umum tadi.
"Ngapain kalian tertawa?" ujar Ayah.
"Gimana nggak tertawa Yah. Orang keren keren ngomong privat jet. Eeee Ayah ngomong angkutan umum." ujar Aris.
"Apa namanya coba barang yang nggak kita punya tetapi kita bisa numpang. Kalau nggak angkutan umu. Salah Ayah dimana?" kata Ayah sambil menatap Aris dan Bayu.
Aris dan Bayu hanya bisa geleng geleng kepala saja. Mereka tidak mau lagi melawan Ayah. Melawan Ayah sama saja melawan Papi. Tidak akan pernah mengaku kalah.
"Frenya, boleh Atuk ikut? Atuk juga punya satu helicopter yang jarang Atuk pakai. Kalau bisa Atuk akan minta Steven melihat apakah dia masih dalam kondisi baik atau harus mendapatkan perbaikan." ujar Ayah.
"Atuk serius?" tanya Frenya menanyakan keseriusan Ayah untuk ikut gabung dalam proyek pelebaran bisnis Frenya dalam bidang transportasi.
"Serius. Besok Atuk akan pergi dengan Stefen ke hanggar." jawab Atuk.
"Baiklah." Frenya setuju dengan apa yang dikehendaki Atuknya.
Saat mereka semua asik berdiskusi. Argha sudah tertidur di sofa dengan beralaskan kaki Ivan pengawal pribadinya. Tiba tiba pintu ruangan terbuka dengan lebar. Terlihat beberapa orang suster mendorong brangkar rumah sakit yang di atasnya ada Anggel yang sudah kembali terlihat lebih segar.
Afdhal dibantu Ghina, Mira dan Frenya memindahkan Anggel ke atas ranjang rumah sakit.
"Dokter mana anak kami?" tanya Ghina yang tidak melihat baby sama sekali.
"Sebentar lagi Nyonya. Baby sedang di periksa dokter anak untuk memastikan kalau dia sehat seperti yang saya katakan." ujar dokter Anya.
"Nyonya Anggel selamat beristirahat. Saya permisi dahulu Tuan, Nyonya." ujar dokter Anya berpamitan.
"Dokter tunggu." ujar Ayah.
Ayah mengeluarkan selembar kertas dari dalam saku jasnya. Dia memberikan selembar kertas itu kepada dokter Anya.
"Jangan Tuan. Ini sudah tugas saya." ujar dokter Anya menolak pemberian Ayah.
__ADS_1
"Dokter terima. Ini adalah ucapan terimakasih saya." ujar Ayah.
Dokter Anya melihat ke arah Ghina. Ghina mengangguk mengizinkan.
Dokter Anya mengambil kertas yang diberikan oleh Ayah.
"Terimakasih Tuan." ujar dokter Anya.
Dokter Anya meninggalkan ruangan tempat dokter Anggel menginap. Dokter Anya akan mencairkan uangnya esok hari dan akan berbagi dengan semua rekan rekannya yang membantu dia selama prosea persalinan menantu orang kaya di negara ini.
"Wah dipikir pikir banyak banyak lah anggota dua keluarga itu yang akan melahirkan." ujar dokter Anya sambil tersenyum senyum memikirkan ide gilanya tadi.
Setelah dokter Anya pergi. Seorang suster masuk sambil mendorong box kaca yang di dalamnya ada Baby A yang sedang tertidur.
"Baby A." ujar Ghina dan Mira bersamaan.
Ghina dan Mira berebutan untuk menggendong anak Afdhal yang baru lahir itu. Mereka sama sama ingin menggendong.
"Udah jangan rebutan. Kalau mau bikin lagi yang seperti Baby A. Kamu kan belum tua sayang. Kamu juga Mira masih bisa." ujar Aris yang melihat tingkah aneh dua sahabat itu.
"Mana ada kuat juga nggak. CEO gempor aj bangga." balas Mira.
"Jadi udah nggak melawan lagi. Lemah bos." ujar Aris sambil menepuk pelan bahu Bayu.
"Sayang, jangan ngadi ngadi gitu. Kan kata mereka jadi beneran aku nggak mampu. Aku masih mampu sayang." ujar Bayu.
"Hahahahaha. Becanda sayang. Kamu luar biasa waw di sana. Untuk urusan apapun kamu sangat wow." lanjut Mira.
Argha yang tiba tiba bangun langsung duduk.
"Daddy jangan bikin dedek lagi. Argha udah ada dua dedek no nambah lagi." ujar Argha dengan mata yang masih tertutup. Setelah mengatakan hal itu, Argha kembali tidur.
"Yah sedang tidur aja masih ngelarang punya anak lagi. Apalagi dalam keadaan sadar" ujar Aris.
Eak eak eak. Tangis Baby A yang luar biasa keras memecahkan gendang telinga mereka yang ada di sana.
"Wah gue yakin ini memang anak Afdhal." ujar Aris.
"Lah jadi loe kira gue main di belakang Afdhal. Awas loe ya Ris." ujar Anggel menyela jawaban Aris.
__ADS_1
"Ye dia sensi. Bukan gitu maksudnya. Maksud gue tu, teriakan dia nangis bener bener kayak Afdhal saat emosi. Menggelegar membelah angkasa." ujar Aris.
"Lebay loe. Mana ada teriakan gue kayak gitu. Gue ini lembut." ujar Afdhal.
Baby A yang mendengar semua orang masih ribut. Semakin membuat teriakannya menjadi lebih besar.
"Wah turunan Wijaya banget. Makin keras saat diomongin." ujar Aris kembali.
Ghina menimpuk kepala Aris dengan bantalan sofa. Dia benar benar nggak habis pikir kenapa suaminya sehari ini sangat gesrek nggak bertepi.
"Udah sana yang merasa laki laki keluar dulu. Istri gue mau nyusuin Baby A." ujar Afdhal mengusir seluruh laki laki.
"Sayang, ngapain diusir. Biar ajalah di dalam. Ngak apa apa. Aku kan pakai kain menutupinya." ujar Anggel melarang Afdhal mengusir laki laki karena ada Papi dan Ayah di sana.
"Loe kira kami nggak pernah nengok itu. Ya pernahlah." ujar Bayu yang ketularan gesreknya Aris.
Ghina memandang Mira. Mira menggeleng tak percaya dengan apa yang didengarnya. Kedua sahabat baik itu mendadak sehari ini menjadi gesrek bareng bareng.
Afdhal memberikan baby A kepada Anggel. Anggel kemudian menyusui Baby A yang ternyata saat lapar itu. Baby A menyusu dengan sangat kuat. Hal itu membuat Anggel sangat senang. Dia akan memastikan kalau Baby A akan mendapatkan Asi yang melebihi dari kata cukup.
Saat mereka sedang bercerita cerita. Pintu ruangan Anggel terbuka dari luar. Semua orang menatap ke arah pintu ruangan. Ternyata di sana berdiri Daniel dan Rani serta anak semata wayang mereka yang berada di dalam gendongan Daniel. Bayi yang baru berumur satu bulan.
"Wow Baby R datang jenguk Baby A." ujar Argha.
"Argha senang punya dua dedek laki laki?" tanya Rani sambil memberikan pesanan Argha.
"Senang. Ada kawan main kalau udah besar." jawab Argha.
"Jadi Argha harus ngapain kepada kedua Baby?"
"Argha harus sayang dan mencintai dan menjaga mereka dengan baik. Argha nggak boleh membiarkan mereka diganggu siapapun." ujar Argha dengan semangat.
"Argha keren." ujar Rani.
"Selalu keren dan tampan serta baik hati dan tidak gampang jatuh cinta." jawab Argha.
"Anak Aris banget." ujar Anggel membalas perkataan Aris tadi.
"Lah jelaslah anak gue. Gantengnya sama." jawab Aris dengan percaya diri yang tinggi.
__ADS_1
"Mulai."