
✉️Aris
Gin, aku tunggu di kantor aja ya, dari kantor baru kita pergi ke tempat penjual perhiasan.
✉️ Gina
Oke sip. Jam setengah duabelas aku jalan ke kantor mu
Gina termenung membaca pesan dari Aris. Gina merasa Aris ada sedikit perubahan dalam gaya berbicaranya.
"Aku merasa Aris sedikit berubah. Apakah hanya perasaan aku saja atau memang berubah?" kata Gina dengan lirih.
Gina kembali berkonsentrasi untuk menyelesaikan semua tugas yang diberikan kepada dirinya. Gina tidak mau karyawan lain beranggapan kalau dia boleh tidak mengerjakan pekerjaannya dengan sempurna. Gina mau karyawan lain mencontoh dirinya, walaupun dia punya segala galanya Gina tetap bekerja dengan keras. Gina ingin mematahkan pameo selama ini berkembang kalau NoNa Muda dari keluarga kaya tidak akan bekerja keras.
Gina selesai mengerjakan pekerjaannya tepat pukul sebelas siang. Gina langsung memberikan pekerjaannya kepada manager bagian.
"Assalamualaikum Pak. Boleh saya masuk?"
"Silahkan masuk Gina. Silahkan duduk."
Gina kemudian masuk dan duduk di depan manager. Gina mengembangkan desain yang sudah dibuatnya di kertas gambar.
"Saya mau menyerahkan kertas desain ini pak."
Manager kemudian melihat desain yang sudah dibuat oleh Gina. Manager puas dengan hasilnya. Desain ini akan dipresentasikan besok siang.
"Maaf pak, apakah saya bisa izin untuk istirahat siang lebih cepat? Saya harus ke perusahaan Soepomo." kata Gina sambil.menatap harap untuk diizinkan manager.
"Karena tigas yang saya berikan sudah selesai. Maka kamu saya izinkan untuk istirahat lebih cepat."
Gina tersenyum sumringah karena dia mendapatkan izin untuk istirahat lebih cepat dari biasanya. "Terimakasih Pak atas izinnya. Saya permisi dahulu." Gina kemudian langsung keluar dari ruangan manager, Gina mengambil tas kecilnya dan ponselnya dari dalam laci meja kerja. Gina akan langsung pergi menuju perusahaan Soepomo.
Gina melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kantor Aris. Sebelum sampai di sana Gina menyempatkan diri untuk singgah di sebuah toko bunga langganannya. Gina rasanya ingin sekali membelikan Aris sebuket bunga tulip pink.
"Permisi kak. Saya mau beli sebuket bunga tulip pink." kata Gina sambil menatap bunga bunga yang ada di sana.
Karyawan toko bunga itu langsung merangkaikan beberapa tangkai bunga tulip pink pesanan Gina. Setelah menunggu selama lima belas menit, rangkaian bunga itu suah jadi. d
Setelah mendapat bunga yang diinginkannya, Gina kemudian langsung melajukan kembali mobinya menuju perusahaan Aris. Setelah berkendara selama lima belas menit, Gina sampai di kantor Aris. Dia langsung memarkirkan mobilnya.
__ADS_1
Gina kemudian masuk kedalam kantor Aris. Gina sebenarnya bisa langsung masuk ke dalam ruangan Aris. Tetapi demi menjaga kesopanan, Gina tetap bertanya kepada bagian resepsionis.
"Permisi apakah Tuan Aris nya ada?" tanya Gina bertanya kepada resepsionis kantor Aris.
"Oh Nona Gina. Tuan Aris ada di ruangannya. Nona silahkan langsung saja ke ruangan Tuan."
Gina kemudian langsung masuk kedalam lift khusus petinggi perusahaan. Gina menekan tombol untuk keruangan Aris.
"Apa Tuan Arisnya ada mbak?" kata Gina kepada sekretaris Aris.
"Ada Nona Gina. Silahkan masuk." kata sekretaris kepada Gina.
Gina kemudian membuka pintu ruangan Aris. Gina melihat Aris sedang sibuk dengan dokumen yang sedang dibacanya. Gina melangkah dengan sangat perlahan ke arah Aris. Gina kemudian memberikan Aris sebuket bunga yang dibelinya tadi.
"Loe bisa nggak masuk dengan baca salam. Masuk kayak maling" kata Aris dengan ketus.
"Maaf kata Gina." Gina yang tidak menyangka Aris akan memarahinya. Setetes air mata lolos dari pertahanan Gina. Gina dengan cepat menghapusnya dan kembali menata hatinya.
"Apakah kita jadi pergi ketoko perhiasan?" Gina berbicara dengan takut takut.
"Jadi tunggu sebentar lagi. Dan tolong bunga ini letakkan di vas kosong itu" kata Aris sambil menunjuk vas yang ksong di atas lemari es.
Gina kemudian memindahkan bunga tersebut ke vas kosong itu. Gina sungguh tidak habis pikir kenapa Aris bisa berubah terhadap dirinya. Setelah satu jam menunggu Aris selesai dengan semua tugasnya. Aris langsung berdiri dan menghampiri Gina.
"Iya sayang, aku paham kamu sedang sibuk dengan kerjaan kamu. Aku tidak apa apa kok" kata Gina mencoba untuk memahami Aris.
"Makasi sayang. Yul jalan."
Aris mengandeng tangan Gina. Mereka berdua berjalan menuju parkiran mobil. Aris sengaja tidak mengajak Bram. Aris hanya ingin berdua saja dengan Gina.
Setelah berkendara selama satu jam. Mereka berdua sampai di sebuah mall besar di pusat ibu kota. Aris memarkir mobilnya diparkiran khusus keluarga Soepomo.
Aris kemudian mengajak Gina untuk ke toko perhiasan langganan keluarga mereka. Aris ingin Gina sendiri yang memilih untuk cincin kawin. Setelah melalui beberapa halangan, karena begitu banyak orang yang menyapa Aris, sepasang calon pengantin baru itu sampai juga di toko langganan keluarga Soepomo.
Karyawan toko yang melihat Aris datang langsung saja memanggil manager mereka. Mereka semua tidak mau membuat Aris kecewa dengan palayanan. Mereka harus melayani Aris dan keluarga Soepomo yang lain dengan pelayanan prima.
"Selamat siang Tuan Muda, ada yang bisa kami bantu Tuan?" kata manager dengan basa basi yang ingin membuat Gina muntah.
"Saya mau memesan cincin untuk pernikahan. Keluarkan koleksi kalian yang terbaru." kata Aris sambil langsung duduk di sofa ruangan itu. Gina yang tidak menyangka Aris bisa seperti itu langsung menggeleng gelengkan kepalanya.
Manager kemudian meminta karyawan untuk mengeluarkan desain cincin pernikahan terbaruilik mereka.
__ADS_1
"Sayang, kamu pilih aja mana menurut kamu yang bagus. Satu pesanku, aku mau yang sederhana untuk diriku. Untuk kamu terserah saja"
Gina kemudian melihat semua koleksi cincin pernikahan yang dijejerkam di depan matanya. Gina bingung mau memilih yang mana. Gina takut untuk salah pilih dan membuat Aris marah marah. Setelah setengah jam Gina masih belum bisa memutuskan yang mana yang mau dipilihnya. Manager pun dibuat panas dingin menunggu.
"Sayang yang mana mau kamu pilih? Ini udah setengah jam." kata Aris menatap Gina.
"Aku ragu antara yang ini dan yang ini" kata Gina menunjuk dua pasang cincin pernikahan yang sederhana tapi elegant itu.
Aris kemudian melihat dua pilihan Gina. Aris kemudian memilih salah satu pasang dari dua pasang cincin itu.
"Aku suka yang ini, kalau kamu tidak suka, kita cari yang lain." kata Aris menatap tajam Gina.
"Aku juga suka yang ini. Ini saja kita ambil." kata Gina.
"Tuan dan Nona, silahkan dicoba terlebih dahulu. Mana tau tidak pas nanti." kata Manager.
Aris dan Gina kemudian mencoba cincin pernikahan mereka. Ternyata cincin tersebut pas dijari Aris dan sedikit lapang di jari Gina.
"Kelihatannya agak longgar di jari Nona. Kami perbaiki dulu Nona." kata manager.
Manager memberikan cincin tersebut kepada karyawannya. Karyawan menyerahkan kepada bagian reparasi untuk mengecilkan cincin Gina.
"Saya tidak akan menunggunya. Kamu antarkan saja cincinnya ke rumah besok" kata Aris.
Aris kemudian membayar cincin yang dibeli tadi. Setelah itu Aris membawa Gina untuk makan di sebuah restoran Jepang. Aris dan Gina makan dengan santai. Mereka berdua sedang tidak dikejar oleh waktu.
"Kamu nanti di antar ke kantor atau ke rumah?"
"Ke kantor aja sayang. Mobil aku tinggal di kantor." kata Gina.
Aris dan Gina telah selesai menikmati makan siangnya. Aris kemudian mengantar Gina ke kantor utama Bramantya. Aris melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Setelah menempuh perjalanan selama satu jam mereka sampai do perusahaan Bramantya.
"Aku tidak turun ya sayang. Aku ada meeting sebentar lagi" kata Aris.
"Nggak apa apa sayang. Terimakasih. Besok jam berapa kita harus fiting baju pengantin?"
"Besok aku kabari lagi. Besok biar aku yang jemput kamu. Kamu tunggu saja di kantor"
"Baiklah. Terimakasih. Aku turun dulu"
Aris kemudian mencium puncak kepala Gina. Gina membalas dengan senyumnya. Gina kemudian turun dan langsung masuk kedalam kantor. Gina akan kembali bekerja dan pulang sesuai jam kantornya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kakak author silahkan mampir ke novel ku yang lain kakak. "Kepahitan sebuah Cinta"