Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Lamaran Bram


__ADS_3

Tiba tiba,


"Aw" ujar Sari.


"Ada apa sayang?" tanya Bram yang kaget.


Sari mengeluarkan sesuatu dari dalam mulutnya. Sari memegang sebuah cincin berlian yang sangat indah di jari jarinya.


"Sayang ini?" tanya Sari sambil menutup mulutnya tidak menyangka Bram akan melakukan hal yang seperti itu.


Bram mengambil buket bunga yang diberikan oleh seorang pelayan kepada dirinya. Bram berjongkok di depan Sari.


"Apakah kamu mau menjadi istriku?" tanya Bram sambil menatap Sari dengan penuh harap.


Sari mengangguk. Dia sangat bahagia di lamar oleh Bram di depan seluruh keluarga besar Soepomo.


"Sar jawab dengan kata kata jangan kayak burung perkutut aja." ujar Ghina kepada Sari.


"Iya sayang, aku bersedia menjadi istri kamu." jawab Sari.


"Walaupun aku bukan anak kandung Papi?" tanya Bram menggoda Papi dan Aris.


Papi dan Aris langsung memukul kepala Bram dengan sendok yang mereka pakai untuk makan tadi.


"Dasar anak durhaka, bisa bisanya ngomong kayak gitu." kata Papi menatap kesal Bram.


"Sayang, aku nggak mau nikah sama kamu kalau kamu menganggap kamu bukan bagian dari Papi." ujar Sari.


"Hahahahaha. Menantu sama mertua sama aja." jawab Bram.


Bram memasangkan cincin bertahtahkan berlian dari negara U ke jari manis Sari. Bram mencium jari dan cincin tersebut. Sari menatap Bram dengan tatapan penuh cinta dan kebahagiaan.


"Aku mencintai kamu selalu dan selamanya." ungkapan cinta yang diberikan Sari untuk Bram.


"Aku juga mencintaimu selalu dan untuk selamanya." balas Bram tak kalah mesranya.


"Akhirnya loe laku juga Bray." ujar Aris dan Bayu bersamaan sambil memeluk Bram.


Pria satu satunya di antara mereka bertiga yang sama sekali tidak playboy. Bram hanya pacaran dengan Sari dan Bram juga menikah dengan Sari. Sedangkan Aris dan Bayu, siapa yang tidak kenal mereka casanova yang tidak perlu diragukan lagi kekasihnya.


"Jadi lamaran ke Padang kapan?" tanya Bayu.


"Kapan sayang?" tanya Bram.


"Terserah kamu maunya kapan." jawab Sari.


"Sip. Nanti aku akan kabari." jawab Bram.


Bram tidak ingin keluarga Sari repot di Padang karena lamarannya. Bram ingin lamaran yang sederhana saja mengingat keluarga mereka sedang dalam masalah.


Tiba tiba dari arah pintu lift terdengar teriakan cempreng anak kecil yang sedang kesal.

__ADS_1


"Atuk, Argha marah" teriak Argha anak kecil yang tidak diikutkan dalam acara keluarganya kali ini.


Atuk Papi berjalan menuju cucu kesayangannya itu yang ternyata memiliki harta dan jabatan yang sangat sangat luar biasa dan bisa membuat orang takut berada di dekat dirinya.


Papi jongkok di depan Argha agar posisi kepala mereka berdua menjadi sama.


"Atuk Papi sedang membahas masalah orang dewasa makanua Atuk Papi nggak ajak Argha kesayangan Atuk Papi ini." ujar Papi berusaha membujuk Argha supaya tidak marah lagi dengan semua orang.


"Apakah benar?" tanya Argha yang sudah mulai melunak kembali.


"Ya benar. Kapan Atuk Papi bisa boong ke cucu kesayangannya ini." ujar Papi sambil menggandeng tangan Argha menuju keluarga besar mereka.


Argha menatap tajam satu persatu keluarganya. Dia melihat keluarga besarnya makin harmonis aja. Apalagi melihat Papi Bram dan Tante Sari yang dari tadi genggaman tangan terus.


Argha duduk di sebelah Papi. Dua orang yang sama sama memiliki kharisma yang luar biasa. Mereka melanjutkan makan siangnya yang sempat terganggu oleh kedatangan bocah kecil yang selalu membuat orang lain kaget dengan tingkahnya.


"Papi Bram mau nyebrang?" tanya Argha dengan polosnya sambil menyeruput spageti yang tadi di bawanya.


"Nyebrang kemana jalan aja nggak ada. Kita kan di atap perusahaan. Kamu ngadi ngadi aja Gha." jawab Bram.


"Tu pegangan terus. Argha tengok nenek nenek nyebrang ya pegangan tangan." jawab Argha sambil tersenyum mengejek Bram dan Sari.


Bayu yang memang jail mengambil bola tanggung yang di lempar Argha tanpa di sadari Argha.


"Gha tau nggak ada loh orang yang baru aja melepas prediket presiden jomblonya" ujar Bayu menatap Bram.


"Selius Papi, emang laku?"


"Bener juga Papi. Sepertinya Mami Mira harus siapkan psikiater handal di rumah sakit." jawab Argha sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


"Untuk apa psikiater Gha?" tanya Aris yang mulai paham dengan alur ceritanya.


"Daddy, psikiater itu penting, Daddy tau kan gimana rasanya kehilangan?" tanya Argha yang juga sedikit mengenai Daddynya tanpa disadari Argha.


Bayu yang menyimak perkataan Argha langsung keselek karena air minum yang belum sempat di telannya. Untung saja air minum itu tidak kesembur dari mulut Bayu.


"Mami Mira siapin psikiater ya. Argha takut nanti Papi Bram depresi. Maklum belum pernah pacaran jadi saat ditolak ow sakit." ujar Argha begitu bahagianya mengerjai Papinya.


"Argha jangan banyak omong. Papi akan buktikan kalau keluarga calon istri Papi ini akan nerima Papi." jawab Bram sambil mencium tangan Sari.


"Oh ya? Papi percaya diri banget ya Pi. Belajar dari mana?" tanya Argha yang nggak mau kalah.


"Dari orang sebelah kamu." jawab Bram.


"Bram, Argha, Bayu diam. Kalian pantang dapat bola tanggung, heran Papi." ujar Papi menenangkan kembali anggota keluarganya yang ribut hanya gara gara cerita nggak penting.


Acara tersebut dilanjutkan dengan obrolan ringan khas keluarga Soepomo. Argha yang pagi tadi bangun kecepetan sudah tertidur di pangkuan Aris. Argha menjadikan paha Aris sebagai bantal untuk tidur.


"Ne bocah kalau tidur damai banget tu muka. Coba bangun ada ada aja tingkahnya. Heran gue ntah dari mana dapat ide semua yang diomonginnya." ujar Bram menatap wajah teduh Argha.


"Dari mana belajar. Dari kalian bertiga tepatnya. Siapa lagi. Daddy dan dua Papinya jahil ya nurunlah ke Argha." jawab Papi menyambar perkataan Bram.

__ADS_1


Ketiga pria tampan itu menunduk. Mereka sama sekali tidak menyalahkan Papi. Memang kenyataannya seperti itu. Memang secara langsung mereka tidak mengajari Argha untuk jahil. Tetapi Argha melihat dan mendengar. Argha belajar dari dua hal itu


Hari beranjak makin sore. Saatnya jam pulang kantor. Mereka semua kembali keruangan Papi untuk mengambil semua barang barang yang dibawa.


Argha yang masih tertidur berada dalam gendongan Aris. Dia sama sekali tidak mau bangun saat Ghina mencoba membangunkan Argha.


Mereka semua turun dengan lift khusus direksi. Semua tatapan mata karyawan dan karyawati melihat ke keluarga Soepomo yang turun dari ruangan Papi.


"Mereka sangat tampan dan cantik cantik. Sungguh pasangan yang luar biasa serasi." ujar salah satu karyawan.


"Gue dapat satu aja udah bersyukur banget." ujar yang satu lagi.


"Gue mau dapatin Tuan Bram aja. Dia kan masih jomblo. Sedangkan Tuan Aris dan Tuan Bayu udah laku total." ujar seorang karyawati yang berusaha menarik perhatian Bram.


Sari yang mendengar ucapan karyawati tersebut berjalan menuju karyawati yang berniat menjadi pelakor di dalam hubungannya dengan Bram.


"Hay Nona muda. Kamu udah bosan kerja di sini?" tanya Sari.


"Siapa Loe yang berani ngancem gue. Gue ini calon istri Tuan Bram. Tau loe siapa Tuan Bram?" ujar wanita itu sambil mendorong sedikit bahu Sari.


Sari menepis bajunya yang tadi sempat di sentuh wanita itu.


"Loe pengen tau gue siapa?" tanya Sari sambil memasang tampang dinginnya.


"Peduli amat gue dengan loe" ujar wanita itu.


"Gue calon istri Bram Soepomo" ujar Sari.


"Hahahahahaha. Ngimpi jangan sore Nona. Makanya bangun sadar." ujar wanita tersebut.


Wanita itu berniat mau mendorong Sari lagi.


"Stop. Sekali lagi anda nyentuh calon istri saya. Anda saya pastikan merangkak keluar dari perusahaan ini." ujar Bram dengan nada dingin.


"Ada apa Bram?" tanya Asisten Hendri yang baru sampai di lobby dengan Papi.


"Dia berusaha mendorong dan menyakiti Sari, Paman Hendri" ujar Bram.


"Apa? Menyakiti calon menantu saya? Pintar sekali Anda. Hendri, kamu tau apa yang harus dilakukan." ujar Papi dengan dinginnya.


"Baik Tuan." jawab Hendri.


Semua keluarga Soepomo pergi meninggalkan lobby perusahaan. Kecuali Asisten Hendri yang akan menyelesaikan masalah tadi.


"Anda berakhir hari ini. Silahkan kemasi barang barang anda dan temui bagian keuangan untuk mengambil pesangon Anda." ujar Hendri.


"Satu lagi. Anda telah salah memilih lawan. Nona Sari bukan orang sembarangan. Dia pemilik perusahaan yang juga ternama di kota ini. Jadi saya katakan selamat menjadi pengangguran." ujar Asisten Hendri.


"Saya akan melamar ke GA Grub. Mereka tidak akan menolak mantan karyawan Jaya Grub." ujar wanita itu kepalang tanggung.


"Hahahahaha. GA Grub? Itu punya Nyonya Ghina." jawab Asisten Hendri.

__ADS_1


Asisten Hendri berjalan pergi meninggalkan lobby. Dia melihat wanita tadi menatap tidak menyangka. Hidupnya hancur seketika karena keegoannya sendiri yang tidak bisa menjaga mulutnya.


__ADS_2