Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Terbuka Lagi Keburukan Anda


__ADS_3

"Bud, dengar dengarnya perusahaan Soepomo sedikit terguncang akhir akhir ini karena para insverstor mereka menarik saham mereka dari perusahaan. Apa benar info yang saya peroleh Bud?" tanya Afdhal yang masih ragu dengan berita yang di dapatnya.


"Benar Tuan. Perusahaan Soepomo sedang sedikit terguncang. Apakah Tuan Muda Aris tidak menghubungi Tuan?" tanya balik Budi.


"Sama sekali tidak ada. Kamu tau kenapa para insvestor menarik saham mereka dari perusahaan Soepomo?"


"Saya sama sekali tidak mendapatkan informasi apapun Tuan. Tapi saya akan berusaha mencari tau kalau Tuan benar benar ingin mengetahuinya." ujar Budi kembali.


"Tidak perlu Bud. Biarkan saja itu menjadi urusan mereka. Kalau mereka datang ke sini baru kita akan mengambil keputusan, serta mencari tau apa penyebab para investor mereka mundur dari semua kontrak kerjasama." jawab Afdhal.


"Mari kembali bekerja Bu."


Budi kembali menuju ruangannya sedangkan Afdhal duduk kembali di kursi kebesarannya untuk membaca semua laporan yang masuk. Afdhal harus berjaga jaga dengan keadaan perusahaannya agar tidak terjadi seperti Soepomo Grub.


.


.


.


Sedangkan di Perusahaan Soepomo, Aris dan Bram sudah berkutat dengan semua permasalahan yang terjadi. Mereka tidak menyangka akan terjadinya penarikan kerja sama oleh para investor secara mendadak.


Aris meraih telpon kantor. Dia harus membicarakan semua ini dengan para investor. Dia harus tau apa penyebab investor menarik kerjasama mereka kembali.


"Bram, hubungi semua insvestor yang menarik kerjasamanya dan menarik saham mereka dari perusahaan. Kita harus mendengar langsung dari mereka apa penyebabnya." ujar Aris yang sama sekali tidak tau apa penyebab yang melatar belakangi semua ini bisa terjadi.


"Oke Ris." jawab Bram.


Bram mulai menghubungi satu persatu para insvestor untuk membicarakan kembali perihal pembatalan. Bram meminta para insvestor untuk hadir makan siang di restoran GA pada pukul satu siang.


Saat Aris dan Bram sedang berkutat dengan semua permasalahan perusahaan Soepomo. Pada belahan dunia yang lain, Gina sedang menjalin kerjasama dengan perusahaan telekomunikasi di negara U untuk membuat pembangkit listrik tenaga angin yang terbesar di dunia.


"Terimakasih atas kerjasamanya Tuan Smit" ujar Gina (seharusnya dengan bahasa negara U, cuma author nggak tau bahasanya, jadi pakai bahasa kita aja ya. Maafkin author)


"Sama sama Nyonya Gina." jawab Tuan Smith.


Gina kembali ke kantornya dengan wajah tersenyum. Dia sudah berhasil mendapatkan sebuah tender yang akan menjadi pintu loncatannya untuk masuk ke dalam jajaran perusahaan elit di negara U.


Gina melajukan mobilnya sambil bernyanyi nyanyi kecil. Dia sangat bahagia. Tiba tiba sebuah ide terlintas di kepalanya, dia langsung mengaktifkan ponselnya. Dia menghubungi Rani yang sedang berada di di rumah dengan Arga.


Sambil menunggu panggilan yang terhubung Gina menatap lama walpaper ponselnya, dimana masih terpajang fhoto keluarga kecil mereka.


"Hallo Rani kamu dengan Arga sedang ngapain?" tanya Gina.


"Nggak ada Bun, kami sedang main main aja. Ada apa Bun?" tanya Rani yang sudah mengubah panggilannya untuk Gina.


"Kamu bawa Arga ke kantor ya. Kita akan pergi makan siang bersama. Daniel juga akan pergi bersama kita." ujar Gina.


"Baiklah Bun, kami akan bersiap siap sekarang." jawab Rani.


Rani kemudian menyiapkan semua kebutuhan Arga. Serta memandikan dan memakaikan pakaian Arga yang baru.


Selesai Rani dan Arga selesai berpakaian, mereka kemudian masuk ke dalam mobil untuk menuju kantor Gina. Seorang sopir sudah bersiap siap untuk melayani Arga.


"Kita kemana Tuan Muda?"


"Ke kantor Bunda." jawab Arga dengan dinginnya.


Arga akan selalu berwajah seperti itu apabila keluar dari rumah. Sopir melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kantor Gina. Dia sangat tau kalau Arga tidak suka berlama lama di dalam mobil, apalagi kalau masalah bertemu dengan Bundanya. Sesampainga di parkiran Arga dan Rani turun. Mereka berjalan masuk ke dalam perusahaan. Hari ini adalah hari pertama Arga ke perusahaannya.


Arga berjalan dengan angkuh dan dinginnya. Rani terheran heran dengan sikap dan gaya Arga.


"Dari kecil aja udah nampak aura CEO nya dan kekejamannya." ujar Rani yang geleng geleng kepala.


Resepsionis yang melihat Arga berjalan dengan santainya masuk ke dalam lobby perusahaan memanggil Arga dengan berteriak.


"Hay anak kecil. Anak kecil di larang masuk ke dalam perusahaan ini. Kamu kira ini taman bermain." ujar Resepsionis dengan wajah marahnya.


Arga berjalan dengan langkah tenangnya menuju resepsionis.

__ADS_1


"Hay Nona, apa anda tidak bisa belbicala dengan baik baik. Anda sehalusnya bisa menghalgai orang." ujar Arga dengan dinginnya.


"Kamu memang ya. Sudahlah ngomong masih cadel bisa pula menceramahi orang." ujar Resepsionis sambil menjewer telinga Arga.


Arga tidak terima telinganya di jewer dia menyentakan tangan resepsionis tersebut dengan kuat. Rani yang melihat berusaha untuk mengtakan siapa Arga sebenarnya. Tetapi di tatap Arga dengan tatapan jangan katakan.


"Hay Nona Resepsionis. Perkenalkan nama saya adalah Arga Putra Sris Wijaya Soepomo. Orang tua saya adalah Aris Putra Soepomo dan Gina Wijaya. Sedangkan perusahaan saya adalah GA Grup. Apa kamu sudah kenal dengan saya?" ujar Arga dengan bahasa dan kalimat yang lurus tanpa ada cadel sedikitpun.


Resepsionis terdiam dengan sempurna. Ternyata dia sudah memarahi orang yang salah.


"Kenapa Anda diam?" ujar Arga.


"Saya tunggu Anda di ruangan Bunda saya sekarang juga." ujar Arga.


Arga menarik tangan Rani. Mereka kemudian masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan. Arga benar benar marah dengan semua sikap resepsionis tersebut.


Arga masuk ke dalam ruangan Gina dengan wajah kesal. Gina menatap Rani. Rani menjelaskan semuanya dengan gamplang seperti apa kejadian yang baru saja terjadi.


"Waduah. Bisa dia marah?" tanya Gina.


"Bisa Bun. Sebentar lagi resepsionis tersebut masuk. Kita lihat aja Bun." ujar Rani yang duduk di sofa ruang tamu bersama dengan Gina.


Sedangkan Arga sudah duduk di kursi CEO. Dia memasang wajah terdingin yang dimilikinya.


Tok tok tok. Bunyi pintu di ketuk dari luar. Mita sekretaris Gina mengetuk pintu ruangan.


"Masuk" ujar Gina dari dalam.


Mita membawa masuk resepsionist.


"Maag Nyonya. Resepsionis di minta menghadap Tuan Muda Arga." ujar Mita yang sudah tau siapa pemilik sebenarnya perusahaan ini.


"Bawa masuk dia Mita." jawab Arga dengan aura dingin mencekamnya.


Resepsionis masuk. Sedangkan Mita diminta Gina untuk duduk di dekatnya. Mita yang juga penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Arga akhirnya memilih juga untuk duduk di sofa.


"Kamu sadar apa yang telah kamu lakukan tadi?" tanya Arga dengan aura dingin yang memenuhi ruangan.


"Oh masalahnya bukan di situ saja. Berarti selama ini seperti itu sikap Anda kesemua tamu yang datang ke perusahaan. Harusnya Anda memberikan pelayanan bukan seperti ini." ujar Arga.


Gina dan Rani serta Mita saling berpandang pandangan, mereka tidak menyangka kalau Arga bisa mengatakan hal hal yang demikian. Ternyata benar yang dikatakan oleh Anggel. Arga bisa menjadi sangat dewasa apabila dia merasa harus bersikap dewasa.


"Maafkan Saya Tuan." ujar Resepsionis.


"Maaf bagi saya tidak ada kata maaf untuk siapapun. Silahkan Anda ke bagian keuangan ambil pesangon Anda dan angkat kaki dari perusahaan saya." ujar Arga.


Resepsionis yang tidak terima diusir oleh Arga memberanikan diri untuk melawan Arga.


"Hay anak kecil. Pimpinan di sini adalah Bu Gina bukan Anda." balas Resepsionis dengan lebih galaknya.


"Bun siapa yang punya perusahaan?" tanya Arga kepada Gina.


"Kamu, Bunda hanya menjalankan perusahaan sampai kamu siap untuk memimpin" jawab Gina.


"Jadi berhak tidak aku memecat karyawan yang tidak beretika seperti ini?"


"Berhak. Kamu berhak atas apapun di perusahaan ini." jawab Gina.


Resepsionis yang mendengar semua itu menjadi lebih tertunduk lagi. Dia sudah benar benar tidak ada kesempatan lagi untuk bekerja di perusahaan ini.


Daniel yang tidak tau apa apa hanya melongo saka melihat adiknya yang memecat resepsionis.


Daniel duduk di sebelah Rani calon istrinya.


"Sayang ada apa?" tanya Daniel.


"Nanti diceritakan" jawab Rani yang makin fokus melihat ke arah Arga.


"Silahkan keluar. Mita antarkan dia ke ruangan keuangan. Pastikan dia tidak membawa aset perusahaan." ujar Arga memerintah sekretaris Gina.

__ADS_1


Mita dan Resepsionis keluar dari ruangan Arga.


"Alga kelen kan Bun?" tanya Arga kepada Gina yang kembali menjadi cadel dan imut imut.


"Yah cadel lagi dia." ujar Gina.


"Hahahahahaha" Arga tertawa mendengar keluhan Bundanya.


Rani yang melihat Daniel masih penasaran menjelaskan semuanya kepada calon suaminya itu. Daniel menatap bangga ke Arga.


"Kamu keren adik ku sayang" ujar Daniel.


Mereka semua akhirnya pergi makan siang merayakan hari tanda tangan keberhasilan kerja sama GA grub dan SMITH Grub.


.


.


.


Sedanglan di Negara I semua investor sudah berkumpul di GA Restoran. Aris dan Bram terkagum kagum dengan semua interior yang ada. Aris merasakan aura aura dari istri dan anaknya, tetapi dia nggak mau terlalu merasakan. Cukup dia hanya merasakan keberadaan istri dan anaknya di rumah. Aris sudah tidak sanggup lagi menahan rindu.


"Tuan Tuan semua terimakasih sudah mau berkumpul di restoran ini. Pada dasarnya kami menerima semua keputusan Tuan Tuan untuk menarik kerjasama dengan perusahaan kami. Tapi kami mengumpulkan Tuan Tuan di sini hanya ingin mengetahui apa dasarnya Tuan Tuan melakukan semua itu." ujar Aris sambil menatap mata setiap undangan yang hadir.


Semua investor saling melirik ke arah masing masing. Mereka saling menatap menentukan siapa yang terlebih dahulu untuk berbicara.


Akhirnya salah seroang investor angkat bicara. Mereka harus menyelesaikan semuanya dengan segera agar tidak terjadi keselah pahaman lagi seperti sekarang.


"Maaf Tuan Aris, saya akan mewakili dari kami semua kenapa kami narik semua kerjasama dengan perusahaan Soepomo. Kami menarik semua ini karena permyataan Nyonya Soepomo yang mengatakan kalau penerus dari perusahaan Soepomo adalah anak yang maaf dalam tanda kutip kurang dari anak lain." ujar Investor tersebut sambil menatap wajah Aris. Investor takut Aris akan marah, ternyata sama sekali tidak, wajah Aris tetap tenang seperti biasanya.


Dia kembali melanjutkan semua pembicaraan yang sempat terhenti itu.


"Kami semua takut akan keberlangsungan perusahaan ini kalau besok berada di tangan orang yang tidak berkompeten." ujar Investor.


Aris hanya bisa menahan hatinya, ternyata semua yang mengakibatkan semua ini adalah Mami nya sendiri. Aris merasa bertambah kecewa dengan Mami.


"Baiklah terimakasih atas waktunya. Kita tutup pertemuan ini. Terimakasih atas kerjasama selama ini." ujar Aris menutup pertemuan itu.


Aris melangkah meninggalkan ruangan VIP restoran tanpa makan terlebih dahulu. Bram mengikuti dari belakang. Bram tau betapa hancurnya hati Aris saat mendengar yang menyebabkan kegoyangan perusahaan Soepomo adalah Mami.


Aris sudah masuk ke dalam mobil diikuti oleh Bram.


"Kita kemana Ris?" tanya Bram.


"Ke perusahaan aja. Gue mau duduk dan berdiam diri di sana. Gue malas melakukan hal apapun sekarang." ujar Aris.


Bram melajukan mobilnya menuju perusahaan Soepomo. Sepanjang jalan mereka hanya terdiam. Begitu juga saat perjalanan menuju ruangan. Aris masuk ke dalam ruang kerjanya dan menguncinya dari dalam. Sedangkan Bram yang tau Aris belum makan siang memesan menu makanan favorit Aris dari GA Restoran.


Bram menunggu pesanan di meja sekretaris dia bercerita dengan sekretaris sambil melihat lihat saham Soepomo Grub. Saham mereka masih berada di urutan pertama. Tetapi sudah tidak kuat lagi.


"Bagaiman Tuan dengan pertemuan tadi?"


"Mengejutkan. Itu yang membuat Tuan Muda menutup pintunya sekarang. Nanti saat makanan datang kamu antar satu ke ruangannya, satu lagi keruan saya dan yang satu untuk kamu. Kamu silahkan pulang selepas jam kantor." ujar Bram yang memilih untuk masuk ke dalam ruangan kerjanya. Dia juga lelah. Serta syok saat mendengar apa yang dikatakan para investor tadi.


Makanan yang ditunggu datang juga. Tetapi tidak satupun yang berhasil membujuk Aris untuk makan siang. Walaupun itu Bram.


Bram memantau Aris dari cctv ruangan Aris. Bram masih tenang karena Aris masih sibuk membaca dokumen dan melihat lihat peluang untuk bekerja sama dengan perusahaan lain. Tapi sesekali Aris terlihat memijit kepalanya dan melihat foto keluarga kecilnya.


"Sabar kawan kamu pasti bisa menghadapinya." ujar Bram menatap Aris.


"Seandainya aku tau keluarga kamu dimana pasti aku sudah memberitahukan kepadamu. Tetapi aku sengaja untuk tidak memberitahu kepadamu. Pilihan yang sangat sulit." ujar Bram.


Saat Bram termenung menatap ponselnya. Pintu ruangan Bram di ketuk dari luar. Tetapi Bram sama sekali tidak bersemangat untuk membuka pintu tersebut.


Sampai sebuah pesan masuk ke ponselnya. Bram membaca pesan itu dan langsung berlari membuka pintu ruangannya.


..............................................


Siapakah yang datang????

__ADS_1


Kakak kakak singgah di novelku yang lainnya.


KEPAHITAN SEBUAH CINTA


__ADS_2