
Seorang pengawal terlihat berlari dengan sangat kencang menuju Ghina dan Mira yang sedang ngobrol dan sedikit terlihat panik. Mereka berdua terus saja melihat jam tangan mewah yang ada dipergelangan tangan mereka. Mereka berdua saling menatap. Mereka sudah mendengar berita itu, tetapi untuk sebuah kepastian masih belum ada.
"Nyonya." ujar pengawal yang berlari tadi. Pengawal ini membawa berita yang dari tadi ditunggu oleh Ghina dan Mira.
Ghina dan Mira yang melihat pengawal itu ngosngosan menatap pengawal dengan tatapan tajam. Mereka sudah bisa membayangkan berita apa yang akan diberikan pengawal tersebut.
"Ada apa?" tanya Ghina dengan cepat.
"Maaf sebelumnya Nyonya. Tadi pengawal Nona Sari menghubungi saya mengatakan kalau mobil yang membawa Nona Sari mengalami kecelakaan di jalan Nona." ujar pengawal sambil menunduk memberikan kabar yang diperolehnya.
"Apa kamu bilang? Kamu jangan ngasal ya kalau ngomong." ujar Ghina dengan nada tinggi. Ghina tidak ingin mendengar berita itu. Berita yang ternyata benar itu.
"Siap Nona, saya tidak asal bicara Nona. Berita yang saya sampaikan ini sesuai dengan apa yang dikatakan pengawal Nona Sari." ujar pengawal sambil menatap Ghina.
"Dimana kejadiannya?" tanya Ghina yang mulai kacau. Ghina sudah tidak bisa lagi berkonsentrasi.
Mira terlihat menghubungi seseorang dengan nada tenang. Mira selalu bisa mengendalikan situasi disaat Ghina sama sekali tidak bisa diajak kompromi.
Aris dan Bayu serta Afdhal dan Frenya terlihat berjalan keluar dengan cepat. Ternyata yang dihubungi oleh Mira tadi adalah Bayu suaminya. Mereka saat ini perlu berpikir jernih dan memastikan semuanya.
"Ada apa sayang?" tanya Bayu kepada Mira.
"Sari kecelakaan Sayang." ujar Mira sambil memeluk Bayu.
"Kecelakaan?" ujar Aris.
"Sayang apa ini benar?" tanya Aris mengguncang bahu Ghina yang dari tadi menatap kosong ke ujung jalan. Ghina masih berharap berita itu tidak benar. Ghina masih memiliki harapan sedikit di hatinya kalau mobil Sari akan masuk ke dalam gerbang utama. Ghina masih berharap Sari turun dengan pakaian pengantin putih yang dipilihnya di detik detik terakhir hari pernikahannya dengan Bram.
Ghina menatap Aris dengan lekat. Kemudian Ghina menganggukkan kepalanya dengan lemah. Aris membawa istrinya kedalam pelukan. Dia sangat tau Ghina membutuhkan pelukannya saat ini. Aris memeluk Ghina dengan sangat erat. Dia tidak ingin Ghina merasa terbebani dengan kejadian ini.
"Apa kamu sudah pastikan kalau mobil itu adalah mobil Sari, Sayang?" tanya Aris.
__ADS_1
"Sudah sayang. Semua pengawal aku sudah ke sana." ujar Ghina.
"Kenapa harus sekarang sayang? Kenapa saat dia akan menikah dengan Kak Bram. Ini semua tidak adil sayang." ujar Ghina di dalam pelukan Aris.
Aris dan Bayu menenangkan istri mereka masing masing. Mereka sangat tau kalau Ghina dan Mira tidak bisa kehilangan Sari. Bagi mereka kehilangan salah satu dari mereka bertiga sama dengan kehilangan sepertiga dari nyawa mereka.
Saat mereka panik di luar, Papi berusaha membuat Bram untuk tidak panik. Papi sudah tau hal yang menimpa Sari. Tetapi Bram masih belum. Makanya Papi ditugaskan untuk menenangkan Bram, serta membuat suasana seperti tidak terjadi apa apa.
Frenya terlihat berjalan menjauh dari keluarganya. Dia menerima telepon dari seseorang yang sekarang sedang berada di tempat kejadian. Setelah memastikan semuanya, Frenya kemudian berjalan ke arah keluarga yang sedang berdiri dengan wajah panik.
"Bunda, kak Steven nelpon." ujar Frenya sambil menyerahkan telpon genggamnya ke Ghina.
Ghina meraih ponsel milik Frenya. Dia melihat Stefen yang sedang melakukan panggilan dengan Frenya.
"Hallo Steven gimana?" tanya Ghina dengan cepat.
"Memang benar itu Nona Sari, Nyonya. Sekarang semua korban sudah dipindahkan ke rumah sakit dengan heli milik GA Grub." ujar Steven.
"Nona Sari dan keluarga yang lain jadi korban sudah kami pindahkan ke rumah sakit harapan kita. Semua dokter sudah menunggu di rumah sakit Nona." ujar Steven.
"Steven, apa Ayah Wijaya juga ada di mobil itu?" tanya Ghina yang baru ingat kalau Ayahnya juga belum hadir di sini.
"Maafkan saya Nyonya. Tuan Wijaya juga berada di dalam mobil naas itu. Sekarang Tuan Wijaya sudah diterbangkan ke rumah sakit." ujar Steven dengan nada lemah.
"Baiklah Steven, terimakasih atas infonya. Kami akan bergerak sekarang juga ke rumah sakit." ujar Ghina.
Saat Ghina mengatakan akan ke rumah sakit. Bram berdiri di belakangnya.
"Siapa yang sakit Ghin?" tanya Bram.
"Kak kita harus ke rumah sakit sekarang. Kita tidak bisa menunda lagi." ujar Ghina kepada Bram.
__ADS_1
"Siapa yang sakit Ghin?" ulang Bram sekali lagi dengan mengguncang bahu Ghina sedikit keras.
Ghina terlihat meringis karena guncangan yang dilakukan Bram. Aris terlihat ingin menghentikan Bram, tetapi Ghina terlebih dahulu memberikan kode kepada Aris untuk diam saja. Ghina tidak mau terjadi keributan di sini, karena para tamu sudah ada yang datang.
"Kakak nanti aja tanyanya. Sekarang kita harus ke rumah sakit terlebih dahulu." ujar Ghina.
Ghina berjalan ke dalam tenda. Dia harus memberikan beberapa instruksi kepada Alex dan Juan.
"Alex, Nona Sari dan keluarga serta Ayah Wijaya positif kecelakaan. Saya minta kalian berdua memberikan pengumuman kepada semua orang. Tolong jangan membuat panik dan berakibat saham wijaya grub turun drastis. Saya yakin kalian paham dengan langkah kerjanya." ujar Ghina memberikan pesan kepada Alex dan Juan.
"Siap Nyonya, serahkan ke kami berdua. Nanti setelah semua urusan di sini siap kami akan pergi ke rumah sakit." ujar Alex menjawab perintah Ghina.
"Kalian tidak perlu ke rumah sakit. Tolong lacak siapa yang telah berbuat ini kepada Sari dan Ayah. Saya mau kalian berdua menemukan siapa dalang di balik semua ini." ujar Ghina.
"Siap Nyonya." jawab Alex.
Ghina kemudian kembali ke luar. Beberapa mobil mewah milik keluarga Soepomo sudah terparkir di jalan utama. Mereka semua masuk ke dalam mobil tersebut. Mobil bergerak dengan cepat meninggalkan komplek perumahan menuju rumah sakit harapan kita.
Di depan berhubung hari sudah siang dan jalanan akan ramai dan padat, Ghina sudah meminta kepada patwal untuk membuka jalan mereka.
"Ghina apa yang terjadi Ghin?" ujar Bram kembali.
"Apa ini ada kaitannya dengan Sari yang tidak datang juga ke pernikahan kami?" tanya Bram yang sudah bisa mengaitkan permasalahan.
Ghina hanya diam saja. Dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Bram. Ghina takut kalau dia menjawab Bram akan histeris.
"Aris. Kenapa kalian diam saja. Jawab aku." ujar Bram.
Aris pun mengambil sikap yang sama dengan Bram. Dia juga lebih memilih untuk diam.
"Bram. Tenang. Kita semua sama sama tidak tau kenapa anak buah Ghina meminta kita untuk ke rumah sakit. Kamu bisa tenang kan Bram?" tanya Papi dengan menatap tajam ke arah Bram.
__ADS_1
Bram yang mendengar nada Papi sudah berubah dingin. Hanya bisa mengambil sikap tutup mulut. Dia tidak akan bertanya lagi. Dia akan melihat sendiri apa yang membawa mereka harus ke rumah sakit.