
Setelah lima hari akhirnya Gina dan Blip sudah diperbolehkan untuk di bawa pulang. Hari itu Gina dijemput oleh Asris dan Frenya. Sedangkan keluarga yang lain menyiapkan kejutan untuk Gina dan Blip di rumah utama.
Aris menggendong Blip dengan bahagia, semua terpancar jelas dari raut wajahnya. Sedangkan Gina menggandeng mesra tangan Aris. Sedangkan Frenya sibuk menghubungi seseorang yang membuat Gina geleng geleng kepala.
Saat mereka sampai di lobby rumah sakit, terparkirlah sebuah mobil baru lengkap dengan pita pitanya. Mobil yang sudah lama menjadi incaran Gina. Tapi karena mobil lamanya masih baik, Gina mengurungkan niat membeli mobil tersebut. Aris mengetahui Gina pengen mobil itu saat Daniel mengatakan kepada Aris seminggu yang lalu.
"Wow pasti bahagia orang yang dapat kado itu sayang." ujar Gina yang tidak bisa menyembunyikan rasa irinya dengan orang yang menerima kado mobil itu.
"Semoga saja dia bahagia sayang." ujar Aris sambil tersenyum bahagia. Dia sangat tepat memberikan kado ini kepada Gina.
Tiba tiba Daniel dan Bram turun dari mobil tersebut. Mereka berdua berjalan menuju Gina. Bram memberikan kunci mobil kepada Aris.
"Sayang terimakasih udah mau mengandung dan melahirkan anak kita. Hadiah itu tidak sesuai dengan pengorbanan kamu saat melahirkan blip." ujar Aris yang tidak bisa merangkai kata kata romantis.
Gina langsung saja mencium Aris di depan orang rami di lobby rumah sakit.
"Sayang aku mencintaimu terlebih lagi dengan mobil itu." ujar Gina yang tidak bisa lagi menahan kegembiraannya saat menerima kado mobil dari Aris.
Dia memeluk Aris dengan mesranya. Dia sudah tidak perduli lagi dengan orang disekitaran mereka.
"Apa kamu bahagia?" tanya Aris.
"Kamu tau jawabannya." jawab Gina sambil menatap Aris dengan penuh arti.
"Boleh aku coba sayang?" tanya Gina yang sudah tidak sabar untuk mencoba mobil barunya.
"Boleh. Tapi jangan ngebut. Ada Blip." ujar Aris.
"Blip minta tolong Frenya aja dulu sayang. Aku pengen coba mobil itu." ujar Gina yang sudah tidak tahan mau mencoba seberapa kuatnya mobil yang dia impikan itu.
"Baiklah. Tapi nggak lebih dari 100km/jam." ujar Aris yang tau apa maksud Gina yang meminta supaya Blip sama Frenya.
"Asiap komandan." ujar Gina sambil memegang kuat kunci mobil barunya.
Mereka berdua naik ke dalam mobil. Sedangkan Bram, Daniel, Frenya dan Blip berada dalam satu mobil. Mereka akan mengikuti mobil Gina dan Aris.
"Ready sayangku?" tanya Gina.
"Asiap. Ini terakhir kebut kebutan. Besok nggak boleh lagi." ujar Aris kepada Gina.
__ADS_1
"Tenang sayang, masuk daerah padat aku nggak ngebut lagi. Dekat juga cuman jaraknya." ujar Gina kepada Aris.
Gina mulai menghidupkan mesin mobilnya. Setelah dia yakin, Gina menginjak pedal gasnya dengan perlahan. Saat keluar dari gerbang rumah sakit. Gina langsung menginjak pedal gasnya dalam dalam. Aria yang sudah bersiap dari tadi kembali menguatkan pegangan tangannya.
"Hoa sayang, pelankan dikit." teriak Aris yang merasakan Gina membawa mobil terlalu cepat.
Gina tidak mendengarkan perkataan Aris. Dalam waktu singkat mereka sudah sampai di daerah padat ibu kota. Gina menurunkan drastis kecepatannya. Dia tidak ingin menjadi penyebab kecelakaan.
"Wah nggak seru sayang. Bentar kali." ujar Gina sewot karena dia hanya bisa sebentar menggeber laju mobilnya.
"Hahahaha. Besok kita ulang lagi di tempat yang tepat." ujar Aris yang tau Gina kesal.
"Janji sayang" balas Gina sambil menatap Aris dengan tatapan memuja.
"Janji. Kenapa nggak." jawab Aris sambil tersenyum.
Mobil mereka kembali iring iringan dengan mobil yanh dikemudikan Bram. Mereka melaju bersama menuju rumah utama. Aris dan Gina cukup lama menunggu mobil yang dikendarai Bram sampe di tempat mereka menunggu.
Aris dan keluarganya turun dari mobil. Aris menggendong Blip. Sedangkan Gina berjalan disisi Aris.
Gina membuka pintu rumah. Betapa terkejutnya dia saat melihat balon biru bertebaran di lantai rumah.
"Wow. Kapan nyiapinnya Mi?" tanya Gina yang heran kapan keluarganya menyiapkan semua ini.
"Para maid sayang. Kami hanya menerima hasilnya aja." jawab Mami.
Nana mengambil Blip dari gendongan Aris. Nana membawa cucunya ke kursi tamu. Mereka duduk di sana.
"Gimana hadiah barunya Gin?" tanya Ayah yang sudah tau kalau Gina mendapatkan hadiar supercar dari Aris.
"Keren Yah." jawab Gina sambil mengangkat dua jempolnya.
"Udah dibawanya ngebut Yah." jawab Aris yang separo mengadu kepada Ayah.
Gina membesarkan matanya kepada Aris. Dia tidak menyangka Aris akan mengadu seperti anak anak ke Ayah.
"Ye ngadu." kata Gina.
Blip sudah berpindah pindah tangan. Tetapi yang namanya Blip bener bener gen Aris yang turun, akan selalu tenang saat Frenya dan Anggel yang menggendong. Pas giliran yang lain termasuk Sari, Blip akan langsung rewel. Seperti tidak ingin digendong mereka. Seperti sekarang Blip sudah sangat gelisah di dalam gendongan Ayah.
__ADS_1
"Atuk sini Blipnya." ujar Frenya saat melihat betapa susahnya Ayah mendiamkan Blip.
Ayah yang juga udah menyerah memberikan Blip kepada Frenya. Blip langsung terdiam dengan meletakan posisi tangan di gundukan kembar milik Frenya.
"Ampun dah tu tangan." kata Gina yang melihat bagaimana dan dimana letak tangan Blip.
"Hahahahahaha. Bener bener Bapak dan para Atuknya dan semua papinya, habis turun ke Blip." ujar Mami sambil menatap satu persatu laki laki diruangan itu.
Keturunan keluarga Soepomo tertawa mendengar ledekan Mami. Mereka semua memang terkenal sebagai pemuja wanita. Berbeda dengan Ayah dan Afdhal.
"Hay Baby tampan besok besar jangan seperti Daddy ya. Kamu harus meniri Atuk Wijaya. Oke Baby tampan?" ujar Frenya sambil menatap mata Blip. Blip tersenyum kepada Frenya.
"Bun, dia senyum." kata Frenya
"Hahahaha. Sepertinya memang akan turun. Siap siap ajalah kita mulai sekarang sayang." ujar Aris kepada Gina.
"Yeah" jawab Gina sambil memutar matanya.
"Jangan putar matamu." bisik Aris.
"Empat puluh hari sayang." jawab Gina sambil tersenyum mengejek Aris.
Mereka semua berbincang sampai waktu makan malam. Setelah selesai sholat maghrib berjamaah, mereka makan malam bersama.
"Aris bagaimana kalau dua hari lagi kita adakan acara qiqahan?" tanya Ayah kepada Aris.
"Aris setuju aja Yah. Besok aku dan Gina akan melihat kambingnya." ujar Aris. Gina mengangguk mengatkan pernyataan suaminya.
"Baiklah dua hari lagi, sekaligus pemberian nama Blip. Kalian sudah siapkan bukan?" tanya Papi.
"Udah Pi, tenang saja." jawab Aris sambil menatap Gina.
"Boleh kami tau siapa nama yang kalian berikan untuk baby ganteng itu?" tanya Mami yang sudah sangat penasaran dengan nama cucu pertama mereka.
"Rahasia Mi. Taunya pas acara itu aja." jawab Gina sambil tersenyum.
"Nggak asik." jawab Mami dan Nana berbarengan.
Mereka kemudian melanjutkan pembicaraan tentang siapa saja yang akan diundang, dimana diadakan dan acara dibuat seperti apa.
__ADS_1