
"Sayang kamu nggak usah ikut ikutan pakai henna itu ya sayang. Aku nggak mau melihat kamu menghias jari jari kamu itu." kata Aris melarang Gina untuk menghias jarinya.
"Nggak akan sayang. Aku nggak akan menghias jari jari aku. Aku tau kamu nggak akan pernah mengizinkannya." ucap Gina sambil tersenyum.
"Gin, loe beneran nggak akan menghias jari jari loe dengan henna?" tanya Sari kepada Gina.
"Yup. Gue nggak mau singa gue nanti ngambek." ucap Gina sambil melirik ke arah Aris yang sedang duduk di kursi dekat jendela.
Sebenarnya ini adalah acara untuk perempuan. Tetapi Aris tetap keras kepala ingin ikut. Dia tidak ingin membiarkan Gina pergi sendirian ke rumah utama Eijaya tempat acara malam bainay khas adat Sumatera Barat dilakukan. Untung saja keluarga Mira memahami sifat Aris yang sangat posesif kepada Gina itu.
Gina hanya menggambar jari jari tangan Mira dengan henna. Sedangkan Sari yang memang suka memakai henna sudah menggambar tangannya sendiri dengan henna.
"Sari udah bisa itu. Tunggu apa lagi." kata Nana sambil mengorek informasi dari Sari.
"Tunggu tanggal mainnya Na. Kalau sekali dua Nana juga yang repot nantikan ya." ujar Sari mengelak dari apa yang dikatakan Nana.
"Ngelak terus" ucap Gina sambil menyenggol tangan Sari.
Acara malam bainay itu berjalan dengan lancar. Sebelum acara selesai Gina sudah minta pamit dengan orang tuanya dan juga Mira dan keluarga. Dia tidak mungkin pulang terlalu larut malam. Apalagi besok adalah hari terpenting bagi Bayu dan Mira. Dia tidak ingin sesuatu terjadi pada dirinya saat acara baru dimulai. Makanya Gina ingin cepat pulang agar bisa cepat beristirahat dan memulihkan kembali staminanya yang hilang.
"Sayang, ayuk kita pulang. Aku mau cepat istirahat." ujar Gina kepada Aris yang sedang menatap ke taman bunga.
"Apa acaranya udah siap?" tanya Aris sambil memeluk Gina.
"Belum. Tapi aku udah pengen istirahat aja. Besok adalah acara puncaknya. Aku nggak mau tertinggal sedikitpun moment itu."
"Ayuk pulang" ajak Aris.
Aris memeluk pinggang Gina.
__ADS_1
"Sayang selfi yuk. Udah lama ndak." ajak Gina kepada Aris.
Aris mengeluarkan ponselnya. Dia langsung mengambil fhoto selfi dirinya dan Gina. Aris mengambil beberapa fhoto dari beberapa gaya dirinya dan Gina.
"Udah yuk jalan." ajak Gina.
Mereka menuju mobil yang sudah di parkir di teras rumah keluarga Wijaya. Tidak beberapa lama mengemudi, mobil Aris berbelok masuk ke dalam gerbang rumah keluarga Soepomo. Gina yang lelah sudah tertidur dari tadi.
"Yah dia tidur. Angkat beban lagi kayaknya ne." ujar Aris sambil tersenyum menatap Gina yang terlelap tidur.
Aris menggendong tubuh Gina. Dia membaringkan Gina ke atas ranjang kamar mereka. Aris kembali membersihkan sisa sisa makeup dari muka Gina. Gina yang biasanya tidur tiduran, kiranya sekarang Sari benar benar tertidur.
...****************...
Pagi harinya. Rumah utama keluarga Soepomo sudah heboh semenjak dari shubuh. Apalagi Mami, dia sibuk menghubungi semua orang yang bertanggung jawab terhadap acara pernikahan sekaligus resepsi itu. Seorang penata rias terlihat sibuk merias Sari yang baru datang dari apartemennya subuh tadi. Sedangkan Mami sudah siap di rias. Sekarang Mami sedang memakai baju bundo kanduang. Pakaian yang dikehendaki oleh Bayu.
Sari yang telah dirias, memakai pakaiannya yang dibantu oleh seorang desaigner. Dia tidak memakai baju bundo kanduang, karena dia masih gadis. Tetapi warna baju dan bawahannya sama dengan pakaian Mami dan Gina.
Tibalah sekarang giliran Gina untuk dirias. Gina sudah berpesan kepada penata rias untuk membuat riasan natural sajam Dia tidak ingin Aris nanti cemberut lagi sepanjang hari. Akhirnya setelah dirias, Gina memakai pakaiannya. Tiga wanita utama rumah utama Soepomo sudah selesai berdandan, mereka bertiga terlihat sangat sangat cantik. Apalagi Gina luar biasa cantik, kalau dia yang memakai baju anak daro maka otomatis orang akan mengatakan kalau dialah anak daronya.
Para lelaki keluarga Soepomo juga sudah memakai pakaian mereka masing masing. Bayu memakai baju adat minang. Sedangkan Papi, Aris, Bram dan Daniel memakai baju taluak balango. Baju adat minang juag. Hal ini juga berlaku untuk keluarga Mira dan keluarga Wijaya. Mereka semua juga memakai baju adat minang.
Mami, Gina dan Sari keluar dari kamar tamu tempat mereka di rias tadi. Para lelaki keluarga Soepomo terkejut melihat tiga wanita itu.
"Mami cantik kali." kata Papi dan menggandeng tangan Mami untuk menuju mobil yang sudah siap.
"Sayang kamu cantik kali. Aku jadi pangling." ujar Aris kepada Gina. Aris memeluk Gina.
"Yang wow. Kamu cantik" ujar Bram yang sangat jarang melihat Sari bergaya.
__ADS_1
"Kalau cantik halalin dong. Jangan dianggurin." ujar Daniel.
" Sari, Gina. Kalian semobil dengan Mami dan Papi." kata Mami.
"Biar Aris, Bram dan Daniel semobil dengan Bayu." lanjut Mami.
Mereka semua keluar menuju mobil yang sudah menunggu. Betapa terkejutnya Bayu saat melihat sebuah mobil mahal yang sudah terparkir di halaman rumah. Mobil yang sudaj dihias dengan pita dan bunga bunga. Nampak sekali kalau mobil itu adalah mobil pengantin.
"Bay, itu adalah hadiah pernikahan dari Mami dan Papi." kata Papi sambil menatap Bayu.
Bayu kemudian memeluk Papi. " Makasi Pi. Bayu nggak butuh hadiah. Bayu udah senang dengan keadaan kita seperti ini Pi." ucap Bayu.
Bayu kemudian ke arah Mami. " Mi makasih banyak. Makasi udah mengurus Bayu selama ini." ucap Bayu.
"Jangan bikin nangis ya nak. Mami udah berhias. Nanti rusak riasan Mami sayang." kata Mami.
Bayu melepaskan pelukannya dari Papi dan Mami.
"Udah nanti aja tangis tangisannya. Papi Bayu mau tangis tangisan atau mau menikah?" tanya Daniel yang mendadak sekarang menjadi anak yang cerewet.
Gina memandang Aris. Aris tersenyum.
"Efek bully para papinya." ucap Aris.
Papi, Mami, Gina dan Sari naik ke mobil yang disopiri oleh Paman Hendri. Paman Hendri juga memakai baju yang sama dengan keluarga Soepomo. Sedangkan Aris, Bram, dan Bayu naik ke atas mobil baru hadiah pernikahan Bayu. Sopirnya siapa lagi kalau bukan Daniel.
Iring iringan mobil mewah milik keluarga Soepomo mulai meninggalkan rumah utama menuju jalan utama ibu kota. Keluarga Soepomo mengeluarkan mobil mereka yang jarang terlihat oleh orang ramai. Pengawal juga memakai mobil yang berbeda hari ini. Papi dan Mami tidak ingin memakai benda yang sehari hari mereka pakai pada acara istimewa. Makanya mereka mengeluarkan mobil yang jarang dibawa untuk beraktifitas.
Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh lima menit. Iring iringan mobil pengantin telah sampai di hotel tempat akan diadakannya acara pernikahan. Semua keluarga Soepomo turun dari mobil, mereka kemudian masuk ke dalam ballroom hotel tempat akan diadakan acara akad nikah. Terlihat disana semua keluarga Wijaya dan keluarga Mira sudah menunggu. Ayah Mira sudah duduk di depan penghulu. Keluarga Soepomo masuk. Semua orang menatap kagum kepada kecantikan dan ketampanan keluarga nomor satu di ibu kota itu. Bayu dan Papi duduk di depan kursi mereka. Papi akan menjadi saksi dari pihak Bayu. Sedangkan dari pihak Mira yang akan menjadi saksi adalah Ayah Wijaya.
__ADS_1