
"Sayang, kamu cepat cepat bersiap nya. Kita pasti sudah di tunggu yang lainnya di bawah. Nggak mungkin kan kita membiarkan Nana, Daddy dan bontot nunggu kita lama lama untuk sarapan" ujar Frenya yang sedang sibuk melipat badcover yang mereka pakai semalam.
"Siap sayang. Kasih aku waktu sepuluh menit. Aku pasti akan siap dalam waktu sepuluh menit saja" jawab Juan.
Juan berlari masuk ke dalam ruang ganti. Dia tidak mungkin membuat mertuanya dan juga adik iparnya menunggu mereka terlalu lama untuk sarapan.
Sedangkan Frenya memilih untuk merapikan tempat tidur mereka, sambil menunggu Juan selesai merapikan penampilannya. Frenya juga sudah berhasil membuat Juan kehilangan rasa kantuk nya, sehingga mereka bisa langsung memasak cake selepas sarapan dengan keluarga.
"Pria kalau sudah merapikan penampilan katanya sepuluh menit udah lumayan lewat lama" kata Frenya saat melihat waktu yang dikatakan oleh Juan sepuluh menit sudah melewati batas.
"Sayang masih la" belum sampai Frenya bertanya kepada Juan.
"Aku telah siap sayang. Mari kita sarapan" sambar Juan yang sudah keluar dari dalam kamar ganti mereka dengan penampilan yang luar biasa keren.
Juan yang telah selesai bersiap siap terlihat sangat tampan dengan balutan baju kaos warna putih dan celana levis hitam. Apa lagi dengan wangi parfum yang merupakan wangi favorit Frenya.
Frenya menatap ke arah Juan. Frenya terlihat baru saja mengenal Juan dengan tatapannya yang tidak berkedip tersebut. Juan hanya bisa geleng geleng kepala saja melihat kelakuan istri cantiknya itu.
"Sayang, kamu tampan sekali"
"Aku makin cinta berkali kali lipat kepada kamu"
Frenya sengaja menggoda Juan. Juan memang terlihat sangat tampan pagi ini di mata Frenya. Padahal selama ini suaminya itu memang sudah tampan, ntah kenapa Frenya tiba tiba memuji Juan seperti itu.
"Hem ada maunya ini" goda Juan.
"Tanpa kamu ngomong aku tampan, aku akan tetap membuatkan cake untuk kamu sayang" lanjut Juan sambil tersenyum kepada Frenya.
"Haha haha haha. Ayuk kita turun"
Frenya menggamit tangan suaminya. Mereka berdua bergandengan tangan dengan mesra berjalan menuju ruang makan.
"Op tunggu sebentar, apa kamu baru menyadari sekarang kalau suami kamu ini beneran tampan?" tanya Juan kepada Frenya sambil mencubit sedikit pinggang istrinya itu.
__ADS_1
"Wow sakit sayang" protes Frenya.
"Aku sudah sangat lama menyadari kalau suami aku ini beneran tampan. Tetapi hari ini kamu sangat tampan sekali" lanjut Frenya sambil tersenyum bangga.
"Aku seperti melihat dewa turun dari langit" gombal Frenya.
"Haha haha haha dewa dua puluh kali sayang" jawab Juan
"Sudah sudah, kalau diteruskan nggak akan kelar. Mari turun" ujar Frenya.
Frenya kembali menggamit lengan suaminya itu. Mereka berdua kemudian berjalan turun menuju ruang makan dengan mesranya.
"Suit suit suit, huhu huhuy" terdengar suara Argha mulai mengganggu Frenya.
"cihuy ada yang sangat mesra sekali itu. sepertinya ada maunya" komen Argha saat melihat Frenya menggandeng erat tangan Juan turun dari lantai tiga mansion.
"Uni uni, Bang Juan nggak akan pergi kemana mana itu. Kenapa harus di pegang seerat itu. Kenapa nggak uni kasih tali aja sekalian biar nggak kemana mana" komen lanjutan dari Argha.
"Sengaja biar nggak lari" jawab Frenya sekena hatinya saja.
"Argha, uni sedang tidak sehat" bisik Ghina di telinga Argha tanpa diketahui oleh Frenya. Kebetulan saat Ghina berbisik kepada Argha, Frenya sedang berjalan menuju dapur untuk membuatkan minuman Juan.
"Sakit?" tanya Argha dengan pelan. Argha terpaksa mengikuti Ghina yang berbisik, padahal jarak dapur dan ruang makan lumayan jauh.
Ghina menggeleng, tetapi memperagakan perut yang membuncit ke arah Argha.
"Apa sudah diperiksa?" tanya Argha sok tahu.
"Belum" jawab Ghina.
"Teruk kok yakin?" lanjutan pertanyaan dari Argha.
"Karena Uni sangat berubah. kamu perhatikan saja sendiri nanti" ujar Ghina
__ADS_1
"Wow mantaplah itu" jawab Argha sambil mengacungkan dua jempolnya kepada Ghina.
"Apa yang mantap?" tanya Frenya saat dirinya baru kembali dari arah dapur mengambilkan Juan segelas teh hijau panas.
"Ini Nana yang mantap." jawab Argha dengan santai.
"Maksudnya?"
"Ya, uni sayang. Nana rencananya mau membuka toko kue" jawab Argha ngasal memberikan jawaban kepada Frenya. Argha berharap dengan jawaban ngasal yang diberikannya kepada Frenya bisa membuat Frenya tidak melanjutkan pertanyaannya lagi.
"Serius Nana mau buka toko kue? Dimana Nana? Kok nggak pernah cerita?" ujar Frenya yang ternyata luar biasa semangat mendengar dan mengomentari apa yang dikatakan oleh Argha tadi.
Ghina menatap Argha dengan tatapan protes. Argha telah memberikan cobaan yang lainnya kepada dia.
"Belum tentu sayang. Rencana itu masih baru sekedar rencana belum di eksekusi" jawab Ghina mencoba untuk memberikan jawaban yang rasional kepada Frenya.
"Oh kirain" komentar Frenya dengan datar saat mendengar jawaban dari Ghina.
"Sudah sudah mari kita sarapan dulu. Nanti baru bahas tentang bisnis cake atau toko kue atau cafe, terserah lah namanya. Sepertinya itu bisnis yang menarik juga" Aries mendadak menjadi setuju dan sangat tertarik dengan ide yang dikatakan oleh Argha.
"Sayang, kita aja yang bikin kafe yuk." ujar Frenya kepada Juan.
"Nanti kita bahas ya. Sekarang aku bener bener laper. Apa lagi Daddy"
Juan tidak bisa membayangkan mereka akan membangun kafe dan memikirkan menu apa yang akan mereka buat dan belum lagi mencari koki dan sebagainya. Benar benar sebuah bisnis baru yang akan menguras pikiran Juan. Makanya tadi Juan tidak langsung menyetujui apa yang dikatakan oleh Frenya kepada dirinya, bisnis baru itu membutuhkan riset yang luar biasa. Apalagi selama ini keluarga mereka belum ada yang membuka bisnis kafe, tapi kalau restoran sudah. Restoran bintang lima milik GA Grub bertebaran dimana mana, tetapi untuk kafe masih belum ada satupun.
Mereka semua kemudian sarapan. Menu sarapan kali ini dimasak oleh Ghina dibantu beberapa orang pelayan. Mereka semua menikmati nasi goreng kampung di tambah dengan pelengkap pelengkap yang lainnya. Tetapi kali ini Frenya sedang tidak mau makan nasi goreng, dia memilih makan roti dengan selai kacang. Suatu hal yang tidak pernah dimakannya.
Argha melihat heran ke arah Frenya. Selai kacang itu biasanya khusus untuk Argha saja. Tidak ada anggota keluarga yang lain yang menyukai selai kacang itu.
'Sepertinya memang bener apa yang dikatakan sama Nana. Uni sedang isi' ujar Argha dalam hatinya.
"Bik tolong buka pintu Bik" ujar Nana meminta bibik untuk membukakan pintu mansion karena bel rumah berbunyi.
__ADS_1
Salah seorang palayan berjalan membukakan pintu mansion. Betapa kagetnya pelayanan saat membuka pintu mansion. Di depan pintu mansion berdiri sepasang suami istri yang sudah beberapa minggu ini tidak berada di mansion mewah tersebut