
"Jadi Ris belum pernah buka segel sampe sekarang?" tanya Papi tidak percaya dengan apa yang dikatakan Aris tadi.
"Belum Pi"
"hahahaha. Sabar ya Ria, masih ada sebulan lagi." kata Ayah sambil menepuk pundak Aris.
"Jadi?" tanya Bram dengan muka meledek Aris.
"Jangan mulai loe Bram. Kalau Papi sama Ayah lumayan lah ngeledek gue. Nah loe berdua, tidur sebelahan cewek aja belum pernah, mau ngeledek gue lagi" kata Aris dengan menatap tajam Bram dan Afdhal.
"Udah jangan mulai ribut. Hari udah malam. Kita istrirahat aja lagi." kata Papi menengahi obrolan tak mutu antara Aris dan Bram yang bisa panjang kalau tidak dipisahkan.
"Bentar Pi" kata Aris.
Papi menatap Aris dengan tatapan bertanya.
"Uda ipar, itu buk dokter cantik tadi calon istri atau masih dalam taraf calon pacar?" tanya Aris dengan ekspresi meledeknya.
"Aris jangan mulai" teriak Papi.
"Calon dari segala calon" kata Afdhal menjawab Aris dan melirik Bram.
"Hahahahahahaha. Kejar Bram dari pada tinggal" kata Ayah kepada Bram yang hanya diam saja dari tadi.
"Sabar ayah semua ada waktunya" jawab Bram sambil berdiri dan langsung lari ke kamar untuknya. Dia takut kena bully lanjutan.
Semua yang melihat Bram lari, juga beranjak dari ruang keluarga itu. Mereka menuju kamar masing masing. Gina yang melihat Aris keluar dari ruang keluarga langsung menggamit lengan Aris dengan manja.
"Uda singa sayangku mari kita tidur"
Aris dan Gina berjalan ke kamar mereka di lantai atas. Aris sesekali mengusap lengan Gina. Mereka sampai di kamar, Gina sudah menyiapkan piyama tidur Aris.
"Makasi sayang" kata Aris sambil mengecup puncak kepala Gina.
"Udah seharusnya sayang" jawab Gina.
Gina kemudian membersihkan mukanya di wastefel kamar. Sedangkan Aris memiliki kebiasaan mandi sebelum tidur itu, membersihkan dirinya di kamar mandi. Gina yang telah mengganti baju dengan piyama langsung naik ke atas kasur. Dia membaringkan dirinya di sana. Tanpa disadari Gina dia tertidur lebih dahulu. Aris yang keluar dari kamar mandi tersenyum melihat istrinya yang tertidur. Aris juga naik ke atas kasur dan membaringkan dirinya dibelakang Gina sambil memeluk Gina dan memindahkan kepala Gina ke lengan kekarnya.
Gina yang terbangun karena tangan berat yang menutup hidungnya. Gina mengangkat tangan itu dan langsung beranjak dari kasur untuk mencuci muka. Gina akan membuat sarapan untuk keluarga besarmya. Gina memasak sup ayam serta nasi goreng seafood kesukaan Aris.
Semua kelaurga sudah berkumpul di meja makan. Gina melayani Aris dengan sangat telaten. Mereka semua selesai sarapan dan akan menuju kantor masing masing. Sedangkan Nana dan Mami berencana akan pergi berbelanja untuk persiapan menyambut bulan ramadhan.
Aris mengantarkan Gina ke Bramantya Grub, selesai mengantarkan Gina, Aris barulah menuju kantornya sendiri. Aris hari ini tidak di supiri Bram, karena Bram harus ke Jaya Grub mengurus sebuah kerjasama dengan perusahaan Z.
Aris sampai di perusahaannya dan dia langsung masuk menuju ruangannya. Saat keluar dari lift, Aris dsudah melihat sekretarisnya berdiri di depan pintu ruangan sambil membawa beberapa map ditangannya. Aris langsung saja berjalan ke arah ruangannya.
"Pagi pak" kata sekretaris dengan gayanya.
__ADS_1
"Pagi, apa saja agenda saya hari ini?" tanya Aris sambil menuju meja kantornya.
"Hm Agenda Anda hari ini cukup padat pak. Mulai dari meeting dengan beberapa perusahaan ternama dan acara makan malam dengan perusahaan Bernadi yang akan dihadiri oleh pengusaha pengusaha muda." kata sekretaris sambil membungkung dan memamerkan belahan dua bukit kenbarnya.
"Oh okey" kata Aris sambil mengalihkan matanya.
Sekretaris yang melihat Aris terpancing dengan gambaran di depannya langsung saja makin menundukkan badannya. Maka sempurnalah yang dilihat oleh Aris.
"Kalau sudah tidak ada lagi. Silahkan lanjutkan pekerjaanmu" kata Aris sambil memalingkan mukanya dari sekretaris tersebut.
Sekretaris yang mendapatkan lampu hijau dari Aris tidak merasa berat hati saat di minta Aris keluar ruangannya. Sekretaris langsung keluar dan duduk di kurainya kembali.
"Akhirnya dia tertarik juga dengan dua bukit ini" kata sekretaris yang benama Vina dengan senyum mengembang.
"Apa apaan aku ini. Kenapa bisa bisanya melirik Vina." kata Aris dengan menyesal.
Aris kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia sangat susah untuk berkonsentrasi karena pagi pagi sudah dapat pemandangan indah dari sekretarisnya.
Aris kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi Gina. Dia ingin mengalihkan pikirannya dari Vina sangsekretaris. Aris menghubungi Gina dengan panggilan video call.
Gina yang sedang konsentrasi bekerja, melihat ponselnya berbunyi dan membaca siapa yang menghubunginya, Gina langsung tersenyum.
"Ada apa sayang?" kata Gina sambil memberikan senyum terbaiknya.
"Sayang kamu sedang sibuk kah?" tanya Aris dengan rasa bersalahnya yang berusaha ditutupinya.
"Nggak sayang. Aku lagi tidak ada kerjaan yang harus selesai hari ini. Ada apa sayang?" Gana menatap Aris dengan tajam.
"Harus sekarang sayang? Ada apa?" Gina heran dengan sikap Aris.
"Sayang" kata Aris dengan memohon.
"Oke oke. Aku ke sana sekarang. Aku akan minta Uda Afdhal ngantarin aku ke sana." kata Gina sambil menyusun semua barangnya.
"Sayang" kata Aris lagi.
"Apa lagi sayang, ini sedang siap siap mau berangkat. Aku minta izin manager dulu ya. Aku tutup telponnya boleh?" kata Gina.
"Nggak." ucap Aris tegas.
"Ya udah. Nggak apa apa." kata Gina sambil melangkahkan kakinya menuju ruang manager.
Gina membuka pintu ruang managernya.
"Ada apa Gina?" kata manager.
"Saya mau izin pulang lebih cepat pak." kata Gina tanpa menjelaskan kenapa dia harus pulang cepat.
__ADS_1
"Oke nggak apa apa" kata manager.
Gina kemudian menutup pintu ruangan manager. Gina kemudian menuju ruangan Afdhal. Gina langsung membuka pintu ruangan Afdhal.
"Ada apa?" kata Afdhal yang kaget Gina datang tiba tiba.
"Uda anterin aku ke kantor suami aku uda"
"Sekarang?" tanya Afdhal sambil melihat laptopnya.
"Besok pagi uda" kata Gina dengan kesal.
Afdhal berdiri dan langsung menggandeng Gina untuk turun ke parkiran. Mereka kemudian melaju dengan kencang menuju perusahaan Soepomo.
"Nggak turun Uda?" tanya Gina.
"Nggak usah. Aku mau meeting. Hati hati ya." kata Afdhal.
Gina mencium tangan Afdhal. Setelah Afdhal pergi Gina langsung masuk ke dalam kantor Aris.
"Permisi" kata Gina kepada resepsionis.
"Pagi Nyonya muda. Tuan muda sudah menunggu di atas" kata resepsionis.
Gina kemudian naik ke lantai atas pakai lift khusus presdir. Gina keluar dari lift. Dia melihat sekretaris Aris yang sedang mengerjakan pekerjaannya.
"Sayang" kata Gina sambil melongokkan kepalanya mellaui pintu ke ruangan Aris.
"Masuk sayang" kata Aris.
Gina kemudian masuk dan langsung duduk di atas paha Aris. Gina mencium bibir Aris.
"Ada apa sayang?" kata Gina memegang pipi Aris.
"Nggak ada sayang. Kangen aja" kata Aris sambil mencium pipi Gina kiri dan kanan.
"Sayang" kata Gina.
Gina yakin ada sesuatu, tapi Gina tidak ingin memaksa Aris untuk berbicara kepadanya.
""Boleh peluk sayang" kata Aris.
Gina mengangguk.
Aria memeluk Gina dengan kuat dan lama. Gina semakin yakin kalau ada sesuatu yang ditutupi oleh Aris.
"Sayang" Panggil Gina.
__ADS_1
"Sayang, biarkan gini dulu sayang. Aku nyaman seperti ini sayanh" kata Aris.
Aris tetap memeluk Gina dengan kuat. Gina hanya bisa menenangkan Aris. Gina mengusap usap punggung dan kepala Aris. Gina yakin Aris ada masalah. Gina akan sabar menunggu Aria mau bercerita.