
Dokter Rani terus memerhatikan Arga, dia sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari Arga. Tiba tiba mainan yang dipegang oleh Arga tidak bisa dibuat seperti maunya Arga.
Arga langsung marah dan melempar semua mainannya. Dia langsung memukul mukul badannya. Dokter Rani memeluk Arga dengan kuat. Dia menenangkan Arga dengan bacaan bacaan Al Quran. Rani membaca zikir di puncak ubun ubun Arga.
Arga masih mengamuk dia masih marah karena mainannya tidak bisa mengikuti keinginannya. Rani berusaha kuat memegang Arga. Daniel ingin menolong tetapi Rani menggeleng dengan cepat.
"Arga sayang, ini tante Rani. Arga nggak boleh kayak gini. Nanti badan Arga jadi sakit semua. Apa Arga mau sakit nantinya?" ujar Rani sambil masih memeluk Arga.
Daniel terus memperhatikan Rani yang membujuk Arga agar mau kembali tenang. Rani membujuk Arga dengan kata kata lemah lembut yang membuat perasaan siapapun yang mendengar menjadi tenang. Setelah lebih kurang setengah jam, Arga kembali stabil emosinya. Dia sudah kembali bermain.
"Daneil, kamu kan cuti. Bagaimana kalau setiap hari kamu bawa Arga ke rumah sakit. Aku akan terapis dia." ujar Rani yang yakin Arga bisa sembuh.
"Apakah tidak mengganggu kamu?" ujar Daniel kepada Rani yang terlihat serius akan menterapi Arga.
"Nggak akan. Malahan aku senang ada Arga. Pasien sekarang tidak serame biasanya." ujar Rani sambil tersenyum.
"Oh baiklah. Akan aku bawa dia tiap hari ke rumah sakit." jawab Daniel yang setuju dengan usul Rani.
Mereka kemudian melanjutkan obrolan sambil terus memerhatikan Arga.
"Boleh aku tes konsentrasinya Arga?" tanya Rani yang sangat berharap Daniel mengizinkannya.
"Silahkan aja. Aku nggak akan marah. Malahan sangat suka. Jadi aku tau harus bagaimana menghadapi Arga kedepan." ujar Daniel.
Rani mengambil kertas origami. Dia meminta Arga untuk meremasnya. Tetapi Arga sama sekali tidak mau melakukan.
Rani memegang muka Arga. Dia meminta Arga untuk menatap mata Rani. Arga terus mengelak, Arga tidak mau menatap mata Rani. Arga selalu mengalihkan matanya ke arah yang berbeda.
"Ran, apakah menurut kamu Arga?" Daniel sengaja tidak meneruskan ucapannya.
Rani mengangguk. Selama aku perhatikan memang mengarah ke situ. Tapi aku tidak bisa langsung memvonis memang benar menderita itu. Aku akan lakukan pengamatan terlebih dahulu." ujar Rani yang tidak ingin mengambil kesimpulan langsung terhadap Arga.
Arga yang telah bosan bermain menuju arah Daniel. Terlebih dahulu Dia mengambil kunci mobil dan ponsel milik Daniel yang berada di atas meja. Arga memberikan kunci dan ponsel.
"Arga mau pulang?" tanya Rani.
Arga mengangguk.
"Arga boleh pulang tapi harus salam dulu dengan tante." ujar Rani sambil mengangkat tangannya ke arah Arga.
Arga melihat tangan Rani dengan lama. Arga sangat ragu untuk menerima salam dari Rani. Arga melihat ke arah Daniel. Rani melarang Daniel untuk memberi keputusan. Sejenak Arga terdiam tidak tau mau mengambil keputusan apa. Akhirnya walau dengan berat hati Arga menerima salaman dari Rani. Rani tersenyum senang.
"Makasi tampan. Hati hati pulangnya ya." ujar Rani sambil mencubit pipi gembul Arga.
Arga tidak mengacuhkan Rani. Dia hanya menatap keluar saja.
__ADS_1
"Kami pulang dulu Ran. Besok aku ke rumah sakit lagi." ujar Daniel.
Arga dan Daniel naik ke atas mobil. Daniel keluar menuju jalan besar. Rumah Rani terletak di dalam komplek perumahan.
"Sekarang kita kemana boy?" tanya Daniel.
Arga langsung menunjuk dengan tangannya. Daniel terus mengikuti arah yang ditunjuk Arga. Sampai pada suatu daerah pinggiran ibu kota, Arga meminta untuk berhenti. Arga melihat di sana ada sebuah permainan rakyat yang sedang ramai. Arga menunjuk dan minta supaya berhenti.
"Kamu mau main itu boy?" tanya Daniel.
Arga mengangguk dengan semangat. Arga bisa dikatakan tidak pernah bermain hal hal seperti itu.
"Oke kita main di situ." ujar Daniel yang langsung memberhentikan mobilnya di tempat parkir. Begitu juga dengan para pengawal yang juga memarkir mobilnya di tempat parkir. Mereka turun untuj membawa Arga bermain di taman bermain.
Arga meminta kepada Daniel untuk main odong odong. Daniel membiarkan Arga bermain sepuas hatinya dengan permainan yang ada di sana. Arga menaiki seluruh wahana bermain anak. Dia tertawa gembira, semua itu terlihat dari wajah Arga yang sangat sangat tertawa lepas.
"Maaf Tuan Muda, sepertinya Tuan Arga sangat menikmati waktu bermainnya di sini." ujar salah seorang pengawal kepercayaan Daniel.
"Dari mana kamu tau?" ujar Daniel yang penasaran.
"Lihat saja dari raut wajah Tuan Arga. Sangat terlihat kalau Tuan Arga begitu menikmatinya. Jarang jarang Tuan Arga yang tertawa bahagia seperti ini." jawab pengawal.
"Tuan Arga di rumah juga tertawa, tetapi pasti karena ulah dia terhadap orang lain. Sedangkan sekarang Tuan Arga tertawa karena memang hatinya sedang bergembira." lanjut Pengawal menjelaskan kepada Daniel
"Kami sangat setuju Tuan Muda. Kami sangat bahagia melihat Tuan Arga juga bahagia. Kami selalu kasihan kalau Tuan Arga hanya di rumah terus. Apalagi kalau Tuan Arga sudah mengamuk. Kami sangat takut. Ingin rasanya kami menyediakan tubuh kami untuk di pukulnya." ujar pengawal yang juga tau bagaimana kalau Arga sedang mengamuk.
"Baiklah kalau begitu mulai besok kita akan bawa Arga kemari setiap hari. Sampai Arga merasa bosan. Jadi Arga tidak perlu marah marah tidak jelas lagi." ujar Daniel.
Arga yang bosan main odong odong, menarik tangan Daniel untuk main mobil mobilan. Karena Arga tidak bisa menyupiri mobilnya sendiri akhirnya Arga meminta tolong kepada Daniel untuk mengendalikan mobilnya.
Daniel mengendalikan mobil Arga dengan remot yang berada di tangannya. Arga sangat senang, padahal mobil mobilan seerti itu ada di rumah utama.
Setelah puas naik mobil mobilan Arga menaiki kereta api, Arga yang menunggu kereta api untuk penuh mulai mengamuk karena kereta apinya belum juga jalan. Daniel kemudian meminta kepada pemilik kereta api untuk menjalankan kereta apinya. Daniel memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu kepada pemilik. Arga sangat senang berada di atas kereta apinya. Dia menggoyang goyangkan kepalanya. Arga juga bertepuk tangan. Daniel merekam semua tingkah laku Arga. Dia mengirimkan hasil rekaman kepada Frenya.
"Hallo uda dimana? Sharelock. Aku mau ke sana juga." ujar Frenya kepada Daniel saat Daniel baru mengangkat panggilan telponnya.
Daniel mensharelock lokasinya yang berada dimana kepada Frenya. Arga pasti bertembah bahagia karena kehadiran Frenya.
Frenya yang sudah berada di dalam mobil saat menerima notif sharelock dari Daniel langsung melajukan mobilnya ke tempat Daniel dan Arga berada. Frenya berkendara selama empat puluh lima menit menuju daerah pinggiran ibu kota.
Sesampainya di tempat tersebut Frenya memarkirkan mobilnya di samping mobil Daniel. Frenya melihat salah seorang pengawal Daniel yang menjemput dirinya di pintu masuk pasar malam itu.
"Dimana mereka pak?" tanya Frenya yang memang selalu sopan kepada siapapun.
"Kedua Tuan Muda ada di dalam Nona. Mari ikuti saya, saya akan mengantar Nona untuk menemui Tuan Muda." ujar pengawal yang memang disuruh Daniel untuk menjemput Frenya.
__ADS_1
"Uda" kata Frenya sambil berdiri di sebelah Daniel.
"Tuh tengok dia sangat bahagia sekali terlihat." ujar Daniel sambil menunjuk Arga.
Frenya melihat Arga yang selalu tertawa.
"Dari mana aja dengan Arga tadi uda?" tanya Frenya yang mataymnya tidak lepas dari melihat Arga.
"Kami tadi main ke rumah dokter Rani." ujar Daniel.
"Terus apa dokter Rani beranggapan seperti uda tentang Arga?" tanya Frenya yang penasaran.
"Yup. Tapi dokter Rani mau menterapis Arga. Aku akan bawa Arga terus ke rumah sakit, biar dokter Rani bisa menterapi Arga setiap hari." kata Daniel memberitahukan hasil pertemuan dia dengan dokter Rani.
"Aku setuju. Kalau Uda sibuk aku yang akan mengantarkan Arga ke rumah sakit." jawab Frenya.
"Bunda gimana?" tanya Daniel.
"Kita harus beritahu Bunda. Bagaimanapun itu." ujar Frenya.
"Tapi." jawab Daniel yang ragu.
"Bukan kita yabg kasih tau Bunda. Tapi dokter Rani." ujar Frenya yang paham akan ketakutan Daniel.
Setelah puas bermain Arga mengajak Daniel dan Frenya untuk pulang. Arga sudah merasakan lapar di perutnya.
.
.
.
.
"Hay anak Bunda, udah puas main seharian dengan Neil?" tanya Gina sambil memeluk Arga
Arga mengangguk.
"Ayuk mandi." ajak Gina sambil menggandeng tangan Arga.
Arga menepis tangan Gina. Dia langsung berlari ke arah Daniel. Dia memegang tangan Daniel.
"Ya udah mandi sama Neil aja. Siap mandi makan ya. Bunda udah masak sup kesukaan Arga." ujar Gina yang geleng geleng kepala melihat Arga yang sangat fanatik dengan satu orang dalam satu hari.
Gina kembali menunggu Aris yang pulang dari kerja. Itu merupakan rutinitas wajib Gina. Aris akan mengambek kalau dia tidak melihat muka Gina untuk pertama kali saat sampai di rumah habis bekerja seharian diluar. Makanya sebegitu sibuk Gina, dia sudah harus stay di teras rumah saat Bram mengatakan kalau mereka sudah dalam perjalanan pulang.
__ADS_1