
Sari yang penasaran apakah benar apa yang dikatakan oleh Gina kalau orang yang berada di belakangnya adalah Bram langsung berdiri dan berbalik, ternyata apa yang dikatakan oleh Gina memang Benar. Tepat di belakang Sari, Bram berdiri dengan gagahnya. Sosok pria yang sudah lama dirinduinya.
"Sayang?" kata Sari sambil langsung memeluk Bram. Sari tidak peduli dengan orang di sekitar mereka. Sari hanya peduli kepada satu makhluk yaitu Bram. Pria yang sekarang berada di dalam pelukannya.
"Gue ke kamar dulu ya. Gue tunggu di kamar aja" kata Gina kepada sepasang kekasih yang sedang melepas kangen itu.
Gina kemudian berjalan menuju kamar tempat mereka menginap. Dia tidak mau mengganggu dua sejoli yang sedang melepas rindu itu. Dia juga merindukan kekasihnya,
"Gue udah putuskan, gue akan pulang. Gue nggak mau hanya gara gara keegoisan gue sahabat sahabat gue menjadi menderita" kata Gina yang sudah mengambil keputusan akan pulang dan mengakhiri semua pelarian ini.
"Sayang, ada yang mau dijelasin?" kata Bram kepada Sari. Mereka berdua duduk berdampingan. Mereka saling bergenggaman tangan. Mereka sudah sangat lama tidak bertemu. Mereka saling meluapkan perasaan melalui genggaman tangan yang begitu eratnya.
"Sayang, maafkan aku karena sudah tidak jujur sama kamu. Aku sangat menyesal dan sangat takut kamu marah kepadaku sayang. Aku nggak bermaksud untuk membohongimu" tangis Sari akhirnya pecah.
Bram yang melihat Sari menangis dengan penuh penyesalan langsung membawa Sari ke dalam pelukannya. Dia nggak mau Sari merasa sendirian. Dia akan selalu ada untuk Sari.
"Sayang" panggil Bram.
"Nggak sayang, aku salah. Aku sudah bohong sama kamu sayang. Aku salah" kata Sari masih menangis dalam pelukan Bram.
"Aku takut kamu marah sama aku sayang. Aku beneran takut sayang. Aku salah sayang" kata Sari kembali. Sari terus terusan mengulang kata aku salah kepada Bram.
"Sayang. Oke kamu salah karena bohong. Tapi aku nggak ada ngomong kalau aku marah sama kamu sayang" Bram sudah hilang akal dengan tangisan Sari. Bram tidak ingin orang di kafe itu salah sangka kepada mereka berdua.
"Sayang coba lihat aku. Apa aku ada wajah marah sama kamu?" kata Bram kepada Sari.
"Nggak malez aku takut. Kamu pasti marah" lanjut Sari dengan penuh keyakinan kalau Bram marah kepada dirinya.
"Sayang. Aku nggak marah sayang." Akhirnya Bram yang sudah ilang akal mengangkat wajah Sari untuk menatap langsung mara Bram.
Bram ternyata tersenyum kepada Sari. Sari semakin dalam memeluk Bram. Sari susah meyakinkan dirinya kalau dia memiliki kekasih yang hatinya begitu baik. Kekasih yang selama ini sangat memuja dirinya. Kekasih yang selalu menerima Sari apa adanya.
"Kamu nggak marah sayang?" kata Sari sambil melihat ramah kepada Bram.
"Nggak sayang. Kenapa harus marah?"
__ADS_1
"Ya karena aku bohongin kamu" kata Sari menatap tajam mata Bram.
"Nggak kok. Aku tau kamu bohong karena kamu melindungi dan menemani kakak ipar aku. Serta sahabat kamu"
"Makasi sayang. Kamu mau mengerti aku" kata Sari.
"Kita ke kamar Gina yuk. Aku mau mendengar penjelasan Gina. Aku nggak punya waktu lama. Takut nanti Aris juriga kenapa aku belum balik balik ke hotel." kata Bram sambil menggandeng tangan Sari untuk pergi menuju kamar Gina.
"Asiap pak bos"
Bram dan Sari bergandengan tangan menuju kamar Gina. Mereka begitu bahagia, kemesraan mereka sangat terlihat, apalagi mereka sudah lama tidak bertemu. Sepanjang jalan menuju kamar Gina yang tidak terlalu lama Sari bersandar terus di dada bidang Bram.
"Hay, kamu manja kali. Kenapa?" tanya Bram yang keheranan dengan sikap kekasihnya itu.
"Nggak ada kenapa kenapa. Aku lagi pengen manja aja sama kamu." jawab Sari.
Tak terasa mereka sudah sampai di depan pintu kamar Gina. Sari mengetuk pintu kamar dengan perlahan. Gina yang sudah tau siapa yang akan datang langsung saja membuka pintu kamar itu.
"Masuk kak. Maaf kamarnya nggak sebagus hotel depan" kata Gina sambil duduk di kasur. Sedangkan Bram dan Sari duduk di kursi yang ada di kamar tempat mereka menginap.
"Jadi kenapa kakak bisa tau kami ada di sini?" tanya Gina yang menatap curiga kepada Sari.
"Gue nggak ngasih tau ya" kata Sari sambil ngelempar Gina dengan bantalan kursi.
"Yang nuduh loe emangnya siapa? Gue nggak ada nuduh loe kak ya"
"Noh dari tatapan usil loe" jawab Sari kepada Gina
"Jadi kak, kakak darimana tau kami nginap di hotel ini?"
Bram kemudian menatap Gina dengan tatapan menyelidik. Bram ingin mencari di mata Gina kemarahan yang sempat ada beberapa hari yang telah berlalu. Tetapi kemarahan itu tidak lagi di dapati Bram di mata indah Gina.
"Aku udah melupakan semuanya kak. Aku udah berusaha berdamai dengan keadaan. Jadi kakak nggak perlu lagi mencari kemarahan di mata aku. Sekarang kakak jelasin aja semuanya kepada aku. Aku akan dengan sabar bersedia mendengarkan semuanya kak" kata Gina meyakinkan Bram kalau dia sudah baik baik saja.
"Baiklah Gin, kakak akan menceritakan semua kejadian yang terjadi selama kamu tidak ada di rumah. Tapi kakak mohon kamu tidak menyelanya."
__ADS_1
"Aman kak, aku tidak akan menyela cerita kakak sedikitpun." kata Gina meyakinkan Aris.
"Kakak akan mulai dari mami dan papi yang benar benar sangat terpukul saat kamu pergi dari rumah. Mereka berdua begitu sedih, sehingga apapun yang mereka lakukan mereka selalu mengingat kamu." kata Bram.
"Mereka sungguh menyesal dengan semua yang dilakukan oleh Aris. Mami sampai sekarang masih terus menangis saat mengingat kamu Gin. Kadang Mami memasak semua makanan kesukaan kamu" lanjut Bram.
"Sedangkan Papi, sering termenung sendiri. Papi sama kita tau bukan tipe orang yang bisa meluapkan emosinya. Papi sering terlihat duduk di ruang kerjanya. Dia menatap foto pernikahan kamu dengan Aris."
"Gin, kalau masalah Aris. Kakak tau kamu pasti mengetahui bagaimana reaksi Aris. Kakak minta sama kamu pertimbangkanlah keputusan kamu. Pertimbangkanlah calon anak kamu dan Aris. Dia butuh kasih sayang orang tuanya. Kakak cuma bisa meminta, pulanglah. Tidak demi hubungan kamu dengan Aris, setidaknya kamu pulang demi calon anak kamu." kata Bram sambil memegang pundak Gina.
"Tapi kak" Gina ingin membantah.
"Gin. Kakak di sini hanya ingin memberikan gambaran yang terbaik untuk kamu. Kakak tidak memaksa kamu untuk melakukannya."
"Satu hal yang harus kakak beritahukan, Keluarga Wijaya sudah mengetahui permasalahan ini. Ayah dan Afdhal sudah datang ke rumah, dan sudah memberikan suatu ultimatum kepada kami untuk menyelesaikan masalah ini."
"Kak" sela Gina.
"Gin, kakak tau, kamu tersinggung. Kakak yakin kamu tau maksud kakak seperti apa. Kakak tidak marah atau sikap negatif kepada keluarga kamu. Tapi apa salahnya demi kebaikan dua keluarga kita, kamu dan Aris menahan ego." lanjut Bram.
"Gin, kakak tau kamu kecewa. Kamu marah, benci, kesal. Tapi kakak minta marahlah kepada Aris. Luapkan semua kekesalan kamu kepada dia."
"Kakak, aku mau ngomong kalau aku tidak marah dengan keluarga Soepomo. Aku juga yakinkan keluargaku tidak akan berbuat macam macam. Aku sama sekali belum minta tolong mereka. Ayah dan Uda tau sifat aku bagaimana kak. Jadi kakak tenang saja ya. Keluarga Wijaya aman" kata Gina.
"Untuk masalah pulang. Aku sudah memutuskan aku akan pulang. Aku sedih melihat orang orang di sekitar aku tersiksa karena keegoisan aku yang pergi" lanjut Gina. Sari yang mendengar Gina bersedia untuk pulang langsung memeluk Gina dengan erat.
"Gin bener kamu mau pulang?" tanya Sari dengan nada tidak percayanya.
"Ya. Aku akan pulang. Aku tidak ingin melihat kamu, Mira dan keluarga ku bersedih. Maafkan aku ya, karena keegoisan aku, kamu terpisah dengan kak Bram" lanjut Gina.
"Nggak masalah. Kapan kita akan pulang?"
"Aku mau muncul di depan Aris dulu. Aku mau lihat reaksinya seperti apa" kata Gina.
"Nggak seru Gin. Lebih baik kamu pulang sekarang dengan Sari. Nanti mami pasti akan nelpon dia, mengatakan kalau kamu udah pulang. Pasti Aris akan langsung pulang. Gimana?" Bram memberikan ide kepada Gina.
__ADS_1
Gina memikirkan ide dari Bram. " Keren kakak. Aku setuju dengan ide dari kakak. Ya gitu yang paling keren" lanjut Gina