
Setelah mengantarkan Sari ke apartemennya, Bram kembali melajukan mobilnya menuju rumah utama. Bram melajukan mobil dalam kecepatan agak tinggi, hal ini sudah biasa dirasakan oleh Aris. Setelah berkendara selama empat puluh lima menit, mobil yang dikendarai oleh Bram berbelok masuk kedalam gerbang utama. Bram memarkir mobilnta tepat di sebelah mobil Papi. Mereka berdua turun dari mobil dan melangkahkan kakinya menuju rumah utama.
"Bram, apa kita harus menceritakan semua ini kepada Papi? Otak gue idah buntu aja terasa Bram dengan masalah investor itu. Tapi Gue ada rasa takutnya Bram. Rasa takutnya kalau Papi tau penyebabnya maka Papi akan kembali marah kepada Mami. Gue kasian sama Mami, Bram. Ini aja Mami masih tidur di kamar tamu. Ditambah dengan masalah perusahaan takutnya mami di usir dari rumah." ujar Aris yang masih memikirkan keadaan Mami dan juga resiko yang akan diterima Mami nantinya kalau sampai Papi tau perusahaan sedang bermasalah gara gara ulah Mami yang mengatakan hal yang tidak tidak tentang Arga kepada seluruh investor di perusahaan Soepomo Grub.
"Menurut Gue lebih baik kita usahakan terlebih dahulu sendiri dari pada meminta tolong kepada Papi. Bukan kenapa kenapa Gue juga kasian kepada Mami. Gie menakutkan hal yang sama dengan yang loe takutkan." jawab Bram yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Aris.
Mereka kemudian melanjutkan melangkahkan kaki dan mengayunkan tangan untuk masuk ke dalam rumah utama. Mereka berdua benar benar lelah. Tidak hanya lelah fisik tetapi juga lelah pikiran dan perasaan. Semua masalah datang secara bersamaan. Semua ini membuat Aris merasa sangat kelelahan. Membuat Aris harus memutar otaknya dan membagi waktunya antara melakukan pencarian terhadap istri dan anaknya serta mengerjakan tugas perusahaan. Ingin rasanya Aris memberikan urusan perusahaan kepada Bram, dia ingin fokus melakukan pencarian terhadap keluarganya. Tetapi sampai saat ini, Aris belum berani mengutarakan maksudnya itu kepada Papi dan Bram. Tetapi sampai saat itu tiba Gina dan Arga belum juga ditemukan, maka mau tidak mau, suka tidak suka, Aris akan mundur sementara dari perusahaan.
Aris masuk ke dalam kamarnya. Dia menatap sofa yang biasanya ada Gina di sana sedang bermain dengan Arga. Aris selalu melihat semua bayangan bayangan istri dan anaknya di kamar. Semua kengangan selalu berputar setiap hari di pikirannya, satu satunya hiburan bagi Aris. Makanya Aris sangat suka pulang ke rumah, karena dia bisa memutar ulang koment moment bahagia antara dirinya dengan Gina dan Arga.
"Sayang, kalian berdua di mana. Anak buah Daddy sudah mencari kalian berdua kemana mana, tetapi sama sekali tidak menemukan keberadaan kalian. Apa kalian tidak sayang sama Daddy lagi? Apa kalian suka melihat Daddy seperti ini? Daddy benar benar lelah sayang, pulanglah sayang" ujar Aris sambil mengusap mukanya.
Aris lebih memilih masuk ke dalam kamar mandi dsri pada berbaring di ranjang seperti kebiasaannya selama ini. Dia akan membersihkan dirinya dan setelah itu barulah mereka semua akan makan malam bersama. Aris yang main nyelonong ke dalam kamar mandi lupa membawa handuk yang selalu diletakan oleh Gina di almari dekat pintu masuk kamar mandi.
"Sayang tolong handuknya. Aku lupa bawa ke dalam sayang." teriak Aris yang mukanya dipenuhi oleh busa sabun.
Karena tidak ada sahutan dari Gina. Aris kembali berteriak memanggil Gina.
"Sayang, mata aku udah perih sayang. Tolong handuknya." ujar Aris kembali.
Keadaan masih sama. Tidak ada jawaban atau tanggapan dari Gina. Aris membasuh mukanya dengan air di wastefel. Setelah itu dia keluar kamar. Dia sama sekali tidak melihat Gina.
"Apa yang aku lakukan. Istriku sudah lama pergi dari rumah ini." ujar Aris sambil menatap dirinya di depan cermin wastafel.
Tak terasa air mata Aris sudah jatuh dengan sendirinya. Kesedihan yang tidak bisa lagi di terima oleh akal sehat Aris. Aris benar benar merasa sendirian sekarang ini.
Aris masuk ke dalam ruangan khusus baju mereka. Aris memilih baju yang sering di pilihkan oleh Gina untuk beristirahat.
"Sayang, kamu lihatkan. Aku selalu memakai baju ini. Aku sangat tau kamu paling suka melihat aku memakai baju ini. Sayang kembalilah, aku rindu." ucap Aris sambil memandang fhoto mereka bertiga yang tergantung di dinding kamar. Fhoto yang diambil Aris dari dalam kamar Arga.
Tok tok tok, terdengar bunyi pintu kamar yang diketuk dari luar melalui intecom kamar Aris. Aris berjalan ke depan pintu untuk melihat siapa yang datang.
"Ada apa maid?" tanya Aris yang melihat seorang maid berdiri di depan pintu kamarnya.
"Tuan di tunggu Tuan dan Nyonya di bawah." jawab Maid memberitahukan pesan yang dibawanya dari ruang makan.
"Baiklah saya akan turun." jawab Aris sambil masuk ke dalam kamarnya mengambil ponsel. Setelah itu Aris berjalan menuju ruang makan.
Aris duduk di kursi sebelah Bram. Bram menatap Aris dengan tajam.
"Lagi kangen duduk dekat loe" jawab Aris sambil tersenyum ke arah Bram.
__ADS_1
"Serah loe." jawab Bram yang males ribut dengan Aris di meja makan.
Papi hanya bisa geleng geleng kepala saja melihat tingkah kedua anak laki lakinya itu. Mami memerhatikan Aris dengan sangat cermat. Dia melihat ada sesuatu yang aneh dengan Aris.
"Ris bukannya itu baju yang baru kamu pakai makan malam kemaren kan ya?" tanya Mami menyuarakan isi hatinya.
Aris mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Mami.
"Emang nggak ada baju lain. Kenapa cuci kering pakai?" lanjut Mami yang heran dengan pilihan baju Aris.
"Gina sangat suka melihat aku memakai baju ini Mi. Jadi walaupun dia nggak ada di sini, aku akan tetap memakai baju ini. Anggap aja Gina selalu melihatnya. Walaupun ntah dimana dia berada." ujar Aris dengan nada sedih.
Mami hanya bisa merasakan kepedihan hati anaknya akibat keegoisan dirinya selama ini. Mereka akhirnya selesai menikmati makan malamnya. Papi mengajak semuanya menuju ruang keluarga. Mereka sudah lama tidak duduk duduk bersama sambil menonton dan merilexkan otak yang sudah penat bekerja setiap hari.
"Jadi, anak buah kamu atau anak buah Hendri belum bisa juga menemukan Gina dan Arga Ris?" tanya Papi.
"Belum Pi. Ntah kemana Gina dan Arga perginya." ujar Aris dengan pandangan kosong dan penuh dilema.
"Atau mereka keluar negeri Ris. Makanya nggak ada di negara kita." ujar Bram mengutarakan pikirannya.
"Saat mereka pergi hari itu, bandara, pelabuhan, loket bus sudah dilacak semuanya, hasilnya tidak ada nama Gina dan Arga tercatat sebagai penumpang."
Mereka semua kembali terdiam.
Mereka kemudian melanjutkan obrolan obrolan ringan tentang berbagai hal yang menarik bagi mereka bertiga.
Sedangkan di negara U. Perusahaan yang dipimpin oleh Gina semakin berkembang. Perusahaan itu sudah termasuk kedalam jajaran perusahaan perusahaan ternama dan diperhitungkan di negara U.
Seperti hari ini, Gina kembali memenangkan tender pembangunan sebuah mall di ibu kota negara U. Gina sangat sangat mengeluarkan semua kemampuannya untuk membangun dan mengembangkan perusahaan GA Grub.
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, Gina merapikan semua berkas berkasnya. Setelah meja kerjanya terlihat rapi, Gina mengambil tas kerja dan kunci mobilnya. Dia akan langsung pulang ke mansion. Gina sangat kangen dan merindui Arga. Gina tadi pagi pergi sebelum Arga bangun karena ada meeting penting. Makanya sekarang Gina ingin cepat sampai di rumah. Dia sudah sangat ingin bermain dengan Arga.
Mobil Gina berbelok masuk ke dalam perkarangan mansion. Dia melihat sudah ada mobil Daniel yang parkir. Gina melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion.
"Arga" teriak Gina saat melihat Arga sedang asik bermain dengan Rani.
"Bunda pulang" teriak Arga.
Arga berlari dan memeluk Gina. Dia sangat merindui Bundanya itu. Seharian ini dia sama sekali tidak melihat Bunda.
"Bunda pergi pagi tadi?"
__ADS_1
"Iya sayang. Bunda ada meeting pagi." jawab Gina sambil menggendong Arga masuk ke dalam rumah.
"Terus ada sukses?" tanya Arga dengan nada penasaran.
"Menurut Arga? Apakah Arga meragukan kemampuan Bunda Arga ini?" tanya Gina sambil menatap mata Arga.
"Nggak. Arga sangat tau kalau Bunda Arga adalah Bunda terhebat yang ada di dunia." ucap Arga sambil memberikan kecupan kecupan diseluruh muka Gina.
"Arga sama Neil dulu ya. Biar Bunda mandi dulu." ujar Daniel yang terlihat sudah segar sehabis mandi.
Arga berlari ke arah Daniel. Sedangkan Gina naik ke lantai dua. Dia akan membersihkan badannya terlebih dahulu.
Sesampainya di kamar, Gina memandang lama fhoto Aris, Arga dan dirinya yang dipajang di dinding kamar.
"Sayang, kamu lagi ngapain. Aku kangen dan rindu kamu sayang. Semoga saja kamu di sana tidak mendua lagi. Maafkan atas kepergian kami sayang. Kami di sini akan selalu mengingat dan mencintaimu." ujar Gina berbicara kepada fhoto Aris.
"Oh ya sayang, tadi aku kembali membuktikan kepada semua orang kalau Aku bisa memenangkan tender besar. Aku sangat bahagia sayang." lanjut Gina.
"Sayang tunggu kepulangan kami ke tanah air. Setelah itu, kita berdua akan duduk duduk saja di rumah, biar Arga yang mengurus perusahaan. Aku ingin menua berdua dengan kamu sayang." ujar Gina.
Gina kemudian mengambil handuknya. Dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya. Dia benar benar lelah hari ini. Tetapi lelah diluar habis bekerja langsung hilang saat menatap Arga. Anak yang akan meneruskan semua hasil kerja keras Gina selama ini.
Gina yang sudah rapi kembali turun ke lantai bawah, mereka akan makan bersama. Makan bersama bagi Gina dan keluarganya di negara U hanya bisa dilakukan bersama saat makan malam, sedangkan sarapan biasanya tidak kumpul karena kesibukan masing masing yang berbeda. Hal ini sangat berbeda dengan di rumah utama Soepomo, sarapan dan makan malam akan selalu mereka lakukan bersama sama.
"Bunda, duduk sini" ujar Arga kepada Gina.
Gina duduk di kursi yang dipilihkan oleh Arga.
"Bunda, ada cerita baru. Bunda mau dengar nggak?" tanya Arga kepada Gina.
Daniel langsung menatap Arga dengan tatapan yang berbicara jangan katakan.
"Nantilah Bunda. Arga nggak mood" ujar Arga yang sadar kalau masalah yang ini Daniel yang lebih berhak.
"Baiklah anak tampan Bunda. Sekarang mari kita makan malam. Arga pimpin doa ya." perintah Gina kepada Arga.
Arga mulai memimpin doa. Setelah selesai berdoa, mereka makan malam dengan ceria. Banyak cerita cerita menarik yang disampaikan oleh Arga. Cerita seputar yang dilakukannya di sekolah dan saat bermain dengan dokter Rani.
Dokter Rani yang semula hanya menjaga Arga saja dan menterapi Arga, sejak beberapa bulan yang lewat, Rani sudah mulai bekerja di rumah sakit. Hal ini disebabkan karena Arga yang sudah menjadi anak normal kembali. Arga sudah tidak butuh terapis lagi. Makanya Rani menerima tawaran untuk bekerja di rumah sakit Daniel. Hal ini juga tujuannya agar Daniel lebih dekat dengan Rani.
Setelah selesai makan malam, Daniel tiba tiba memanggil Gina. Sepertinya ada sesuatu yang akan dibicarakan oleh Daniel kepada Gina.
__ADS_1
Apakah yang akan dibicarakan oleh Daniel kepada Gina? Pastinya hal itu akan membuat hati Gina dan Arga menjadi gembira