Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
EKSTRA 12


__ADS_3

Setengah jam sebelum pesawat mendarat pilot sudah memberikan pengumuman supaya semua penumpang bersiap siap untuk melakukan pendaratan. Argha dan yang lainnya mempersiapkan diri mereka untuk melakukan pendaratan.


"Sayang, kamu siapa yang jemput?" tanya Bree kepada Argha.


"Adalah, kamu akan tau nanti siapa yang jemput. Kita naik mobil dia aja" ujar Argha memberitahukan kepada Bree.


"Sip" jawab Bree.


Pilot kemudian melakukan pendaratan pesawat dengan sangat mulus. Semua penumpang kemudian bersiap siap untuk turun dari dalam pesawat.


"Terimakasih bro. Dua minggu lagi kita bertemu" ujar Argha sambil menepuk pundak pilot yang telah mengantarkan mereka ke negara I.


"Sama sama tuan muda. Selamat liburan" ujar pilot kepada Argha.


Mereka berenam berjalan keluar dari dalam pesawat.


"Argha siapa yang jemput kita?" tanya Frenya yang memang lupa menghubungi orang perusahaan untuk minta mereka menjemput dia dan keluarganya ke bandara.


"Ada. Uni tenang saja, Argha sudah meminta dua mobil untuk datang menjemput kita" ujar Argha menjawab pertanyaan dari Frenya.


"Syukurlah Argha, kamu masih ingat untuk menghubungi orang lain untuk menjemput kita ke bandara" ujar Frenya yang sudah bisa bernafas lega karena Argha sudah menghubungi orang perusahaan untuk menjemput mereka ke bandara.


Empat buah mobil sudah terparkir di depan pintu pesawat.


"Uni di belakang sama Bree ya. Biar Argha yang di depan" ujar Argha sambil melihat ke arah Frenya dan Bree.


"Sip" ujar Bree dan Frenya kompak.


Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam mobil yang nomor dua dari depan. Sedangkan ketiga orang asisten masuk ke dalam mobil nomor tiga, atau tepat di belakang mobil yang ditumpabgi Argha dan yang lainnya.


Argha terlihat sedikit tersenyum kepada sopir yang akan mengantarkan mereka ke mansion utama keluarga Soepomo.


'Tumben Argha senyum ke sopir' ujar Frenya dalam hatinya yang penasaran dengan perubahan sikap Argha.


Biasanya Argha akan acuh saja dia masuk ke dalam mobil. Argha sama sekali tidak akan menyapa atau tersenyum kepada sopir kantor. Tapi kali ini sangat berbeda dari pada biasanya.


'Mungkin Argha kenal' ujar Frenya yang menyimpulkan sendiri hasil dari pikirannya.

__ADS_1


"Ada apa uni? Kok terlihat melamun?" ujar Bree bertanya kepada Frenya karena melihat Frenya yang berpikir keras itu.


"Itu kekasih kamu kok tiba tiba bisa senyum sama sopir coba, nggak biasanya dia kayak gitu" ujar Frenya menatap curiga ke arah Argha.


"Mungkin kenal uni" jawab Bree yang nggak mau Frenya curiga terus kepada Argha.


Sopir mulai bergerak mengemudikan mobil menuju mansion setelah mobil yang paling depan selesai memuat koper dan barang barang yang dibawa oleh rombongan Argha.


Frenya mengambil posisi untuk tidur di mobil. Sopir melihat ke arah Frenya. Bree saat itu tanpa sengaja melihat wajah pria tersebut.


"Oooo ooo pantesan Argha senyum sama dia." ujar Bree yang sekarang jadi paham siapa yang membawa mobil dan membuat Argha tersenyum ke arah mereka.


Juan yang melihat Bree mengangguk kepada dirinya membalas anggukan dari Bree.


Juan mengemudikan mobil menuju mansion keluarga Soepomo. Juan mengemudikan mobil dalam kecepatan sedang.


Tidak berapa lama mereka telah sampai di pintu gerbang utama mansion Soepomo grub.


"Kita antar Bree dulu ke mansion nya" ujar Argha yang terpaksa berbicara dengan suara pelan karena tidak mungkin menyebut nama Juan karena bisa terdengar oleh Frenya.


Juan mengarahkan mobil menuju ke mansion utama keluarga Bayu.


"Apa sudah ngomong sama Papi kalau kamu pulang hari ini?" tanya Frenya kepada Bree yang terlihat sudah merapikan kembali barang barang miliknya.


"Udah. Papi pasti udah menunggu di teras. Sama tau ajalah Uni. Nggak pun aku ngelapor ke Papi kalau aku pulang sekarang, Papi akan tetap mengetahuinya Uni" ujar Bree menatap Frenya.


"Kebiasaan Papi dan Daddy kita sama" ujar Frenya.


Aris dan Bayu sama sama memasang pelacak dan mata mata terselubung di sekitar keluarga mereka.


Juan memasukkan mobil ke dalam perkarangan mansion milik Bayu Atmajaya.


"Benerkan Uni, tu Papi sudah duduk di depan pintu mansion. Uni nggak percaya, tu dia udah duduk di sana" ujar Bree menunjuk ke arah Papinya yang sedang duduk di sana.


"Sayang hati hati ya. Aku nggak turun" ujar Argha.


"Boleh nggak turun, asalkan jemput aku besok ya" ujar Bree yang setuju membolehkan Argha tidak turun tetapi besok Argha harus menjemlut dirinya.

__ADS_1


"oke sip. Besok pas mau acara akan aku jemput" jawab Argha setuju dengan permintaan dari Bree.


"Makasi sayang. Aku tunggu ya" ujar Bree dengan sangat bahagia karena Argha mau menjemput dirinya saat mereka akan pergi ke acara ulang tahun perkawinan kedua orang tua Argha.


Papi Bayu berjalan mendekat ke arah mobil. Argha yang berada di pintu depan terpaksa turun dari dalam mobil karena Papi Bayu sudah berada di dekat mobil.


"Hay Paman Bayu" sapa Argha kepada Bayu.


"Paman kira kalian berdua tidak akan pulang" ujar Bayu saat melihat Argha dan Frenya yang ada di kursi bagian belakang.


"Wah bisa dicoret dari ahli waris kami kalau tidak pulang Paman. Nggak kuat kami" ujar Argha menjawab perkataan dari Bayu.


"Haha haha. Ancaman ke kalian sama dengan ancaman ke Paman. Kalau ke kami kolega bisnis Aris, dia mengancam akan memutuskan kerjasama dengan perusahaan kami" ujar Bayu berbagi cerita dengan Argha.


"Mau bagaimana lagi Paman. Kita yang kecil ini terpaksa harus ikut saja. Mau bagaimana lagi, dari pada semua fasilitas di stop" ujar Argha kepada Bayu.


"Baiklah Paman, kami jalan dulu. Sudah terlalu malam Paman" ujar Argha verpanjtan kepada Bayu untuk pulang ke mansion utama keluarga Soepomo.


"Terimakasih karena sudah mengantarkan Bree dalam keadaan selamat" ujar Bayu.


"Oke Paman. Sudah tanggung jawab Argha" jawab Argha.


Argha kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya.


"kami pulang dulu Paman" ujar Frenya kepada Bayu.


Frenya dan Argha melambaikan tangannya ke arah Bayu dan Bree.


"Kenapa nggak manggil Papi mertua saja tadi Gha." ujar Frenya menggoda Argha yang sudah duduk dengan nyaman di kursinya.


"Yah kaget lah Paman Bayu, Uni, kalau aku tiba tiba manggil Paman dengan sebutan Papi mertua. Uni mau bawa Paman langsung ke rumah sakit hanya karena mendengar panggilan aku kepada dirinya?" ujar Argha sambil melihat ke arah Frenya melalui kaca spion mobil mereka.


"Ya nggak lah. Jadi, kapan kamu mau ngomong dengan mereka kalau kamu ada hubungan dengan Bree?" tanya Frenya penasaran dengan rencana Argha.


"Rahasia" jawab Argha yang sudah menyusun rencana untuk dirinya sendiri.


Juan yang bersandiwara sebagai sopir. Tetap melakukan tugasnya dengan sempurna. Dia tetap mengemudikan mobil dalam kecepatan biasa saja, karena jarak mansion mereka yang sangat dekat sekali.

__ADS_1


__ADS_2