
Tak terasa hari ini adalah hari terakhir Aris di negara F. Hari ini juga Aris akan pulang kenegara I walaupun harus melakukan terbang di malam hari. Aris tidak mau menunda kepulangannya menjadi besok. Pekerjaan kantor yang berakhir pada pukul sembilan malam di negara I tidak membuat Aris membatalkan kepulangannya. Aris tetap pulang kenegara I. Bram yang sebenarnya keberatan karena lelah tidak bisa berbuat apa apa. Bram terpaksa menyetujui keputusan yang diambil Aris. Bram tidak mau ada keributan sebelum penerbangan. Bram pun juga paham kenapa Aris ingin cepat cepat pulang. Sudah seminggu lebih Gina tidak mau membalas chat maupun mengangkat telpon dari Aris.
Supir langsung saja melajukan mobilnya menuju bandara. Sebelumnya Bram sudah menghubungi pilot untuk menyiapkan pesawat, karena mereka akan melakukan penerbangan jam berapapun. Pilot sudah stanbay di ujung jenjang pesawat. Mereka sudah menunggu saat Bram mengatakan akan terbang pukul sepuluh malam. Bram dan Aris langsung naik kedalam pesawat. Dipesawat ada kamar yang bisa dipakai untuk tidur, karena ada kasur. Aris langsung masuk kedalam kamar. Sedangkan Bram duduk dikursk yang bisa distel menjadi kasur. Mereka akan istirahat, pesawat akan mengisi bahan bakar di negara T, setelah itu akan langsung terbang kembali ke negara I.
Setelah Aris dan Bram naik ke dalam pesawat, pilit langsung lepas landas. Perjalanan ke negara T memakan waktu selama tujuh jam mengudara. Aris dan Bram memutuskan untuk tidur. Tak terasa pernerbangan selama tujuh jam berjalan dengan mulus tanpa kendala. Aris dan Bram.memutuskan untuk istirahat sejenak. Pesawat mengisi bahan bakar, sedangkan Aris dan Bram pergi untuk makan siang. Aris memutuskan untuk istirahat selama tiga jam.
Setelah tiga jam, pesawat kembali mengudara menuju negara I. Perjalanan juga sama, menghabiskan waktu selama tujuh jam. Aris dan Bram yang sudah tidak mengantuk lagi, melakukan pembicaraan ringan yang tidak menuntut pemikiran yang lebih dalam. Perjalanan tujuh jam dirasa Aris sangat sebentar. Pesawat sudah landing dibandara khusus privat jet. Sampai di negara I jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aris dan Bram kemudian turun dari pesawat. Mereka sudah ditunggu oleh jemputan. Aris dan Bram memutuskan pulang ke rumah utama. Perjalanan dari bandara ke rumah utama memakan waktu selama dua jam perjalanan. Akhirnya setelah melakukan perjalanan yang memakan waktu hampir 17jam itu berakhir sudah. Aris dan Bram langsung masuk ke kamar masing-masing. Mereka langsung terlelap.
...----------------...
Pagi harinya, Aris sudah kembali segar. Aris berencana akan berangkat ke kantor utama yang sudah ditinggalinya selama dua puluh hari. Aris turun dari kamarnya menuju meja makan yang terlihat sepi. Hanya ada kepala pelayan yang sedang menyiapkan sarapan. Tapi yang anehnya, sarapan yang disediakan dalam porsi kecil.
"Lho kok sedikit sarapannya?" Aris menatap heran ke meja sarapan.
"Maaf Tuan. Tadi Tuan dan Nyonya besar sudah berangkat subuh subuh untuk ke negara A. Mereka akan berada di sana selama seminggu." kata kepala pelayan sambil menunduk.
"Bram?"
"Tuan Bram tidak keluar kamar dari tadi Tuan Muda. Sudah saya ketok tetapi tidak ada jawaban dari dalam.kamar Tuan Bram." kepala pelayan menjelaskan kepada Aris.
Aris kemudian berjalan ke kamar Bram. Dia langsung mengetuk pintu Bram. Tetapi tetap sama tidak ada sahutan dari dalam.
Aris mulai panik, "Bram. Bram" tetap tidak ada jawaban.
"Ambil kunci cadangan kamar." teriak Aris.
Kepala Pelayan langsung lari tergopoh gopoh ke tempat penyimpanan kunci cadangan seluruh pintu di rumah utama. Setelah yakin mendapatkan kunci yang benar, ketua pelayan langsung memberikan kunci kepada Aris. Aris membuka kamar Bram.
"Bram" teriak Aris saat Aris melihat Bram terbujur di atas kasur.
Aris kemudian merasakan detak jantung Bram. Masih ada tetapi jauh.
"Sediakan mobil" teriak Aris.
Membuat semua penghuni rumah berlarian keluar. Mereka melihat Aris yang menggendong Bram berlari menuju mobil yang telah terparkir.
"Sentosa pak" perintah Aris.
Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Sopir yang sudah tau jalan tikus menuju rumah sakit, melalui jalan itu. Tidak berapa lama sampailah mereka di rumah sakit.
"Suster" teriak Aris.
Suster dan dokter igd yang mendengar teriakan dari arah luar, langsung berlari. Mereka melihat Aris yang susah payah menggedong Bram. Suster langsung memindahkan Bram keatas brangkar rumah sakit. Bram diperiksa oleh dokter IGD.
Selama Bram diobservasi, Aris menghubungi orang tuanya. Mengatakan bahwasanya Bram sakit. Bram yang notabene adalah anak kesayangan Mami, membuat Papi harus menyetujui pulang besok ke negara I. Mami takut Bram kenapa napa.
__ADS_1
✉️ Aris.
Gin. Bram masuk rumah sakit sentosa. Kamu bisa kesini dengan Sari?
✉️ Gina
Baiklah nanti Sari akan kesana selepas kuliah.
✉️ Aris
Kamu haru ikut tidak bisa menolak. Kamu bukannya telah menganggap kalau kalian berdua bersaudara.
✉️ Gina
Baiklah aku akan nemani Sari.
Selepas kuliah Gina dan Sari langsung meluncur ke rumah sakit sentosa. Mereka akan melihat Bram yang sedang dirawat di rumah sakit itu. Perjalanan di tempuh Gina selama satu setengah jam dari kampus menuju rumah sakit.
"Maaf sus, ruangan pasien atas nama Bram di kamar berapa ya?" Sari menanyakan ruangan Bram kepada resepsionis rumah sakit.
"Bentar Nona." Resepsionis melihat data pasien rumah sakit. Hanya ada satu nama Bram yang tertera sebagai pasien rumah sakit, yaitu Bram asisten dari direktur rumah sakit.
"Apakah yang Nona maksud Tuan Bram asisten Tuan Aris?" tanya resepsionis.
Sari dan Gina pun mengangguk.
"Baiklah sus. Saya akan mencoba menghubungi Tuan Aris dahulu." Gina mengeluarkan ponselnya.
"Maaf Nona, yang akan mengkonfirmasi kehadiran Nona berdua adalah ketua bagian kami Nona." jelas Suster.
Kemudian salah satu yang mereka anggap sebagai ketua langsung menghubungi Tuan Aris. Betapa terkejutnya ketua yang menelpon itu setelah menerima penjelasan dari Aris.
"Maafkan kami Nona. Kami tidak tahu kalau Nona sudah ditunggu tuan Aris di ruangan tuan Bram. Maafkan lagi kesalahan kami Nona. Nona jangan marah kepada kami" kata Ketua bagian.
"Kalau saya marah bagaimana?" tanya Gina.
"Tamatlah riwayat kami bekerja di rumah sakit manapun Nona." jelas kerua bagian.
"Hm baiklah saya tidak marag."
"Mari Nona akan saya antarkan ke ruangan Tuan Bram."
Ketua bagian berjalan terlebih dahulu, diikuti oleh Gina dan Sari dari belakang.
"Kok bisa mereka di pecat Gin?"
__ADS_1
"Mana gue tau. Kita sama disana tadi Sar. Nikmati aja pelayanan VVIP ini." terang Gina.
Gina dan Sari langsung tersenyum, karena inilah baru orang yang mau menjenguk langsung diantarkan oleh ketua bagian resepsionis. Tak berapa lama mereka sampai di depan pintu kamar ruangan rawat Bram.
"Nona, ini kamarnya, saya permisi dulu. Sekali lagi maafkan saya Nona." kata ketua bagian resepsionis sambil menundukkan badannya.
"Bapak sudah saya maafkan kok. Tidak usah lebay begini pak." kata Gina.
Setelah mendapatkan maaf dari Gina, ketua bagian resepsionis kembali bekerja ketempatnya. Gina dan Sari masuk kedalam ruangan Bram.
Tok tok tok
"Assalamualaikum" kata Gina dari luar ruangan.
"Waalaikumsalam masuk, pintu tidak dikunci"
Gina kemudian membuka pintu kamar Bram. Dia dan Sari langsung masuk. Mereka kaget melihat Bram yang lemas di atas kasur. Gina dan Sari berjalan mendekat ke ranjang tempat Bram terbaring lemas.
"Kenapa bisa begini kak?" tanya Gina.
Sedangkan Sari hanya bisa menatap nanar ke arah Bram. Sari merasa harus merawat Bram. Tapi Sari bukan siapa siapanya Bram. Sari hanya mampu berdoa semoga Tuhan cepat mengangkat penyakit dari dalam diri Bram.
"Jadi selama kami di negara F. Kami kerja lembur setiap hari supaya bisa secepatnya kembali ke sini. Ternyata Bram tidak memperhatikan pola makannya selama di sana. Pola makan yang tidak dijaga ini yang memicu asam lambung Bram kembali naik."
Gina merasa bersalah mendengar penjelasan dari Aris. Dia tidak menyangka dengan cara tidak membalas pesan dari Aris, akan membuat Aris memaksa dirinya dan Bram untuk secepatnya menyelesaikan pekerjaan mereka di negara F.
"Maafkan aku kak." kata Gina sambil menyeka ujung matanya.
"Kamu tidak salah. Bram aja yang tidak hati hati dengan pola makannya." kata Aris.
Mereka kemudian berbincang bincang selama kurang lebih dua jam. Karena hari sudah sore Gina harus mengantarkan Sari ke kos. Mereka berdua pun pamit kepada Aris.
"Kami pamit pulang dulu kak. Sudah terlalu sore. Titip pesan kepada kak Bram, semoga lekas sembuh." kata Gina.
"Terimakasih sudah mau datang." jawab Aris.
Gina dan Sari beranjak keluar dari ruangan Bram. Tiba tiba terdengar panggilan.
"Gina tunggu." kata Aris.
Gina pun berhenti sedangkan Sari berjalan terus dan menutup pintu kamar Bram. Sari tidak mau mengganggu kedua temannya itu.
"Aku kangen kamu Gin." kata Aris sambil langsung memeluk tubuh Gina. Gina yang mulanya ragu akan memeluk Aris, akhirnya dengan menguatkan tekadnya Gina membalas pelukan itu.
"Aku juga kangen kakak. Maafkan sikap kekanak kanakan aku kak." kata Gina.
__ADS_1
"Sip. Besok tunggu kakak di kampus ya. Jangan bawa mobil."
Gina pu. mengangguk. Aris kemudian melepaskan pelukannya dari Gina. Gina kemudian berjalan kembali menyusul Sari. Sedangkan Aris langsung tidur di sofa ruang rawat Bram. Dia sangat lelah fisik, tetapi bathinnya sudah kembali tenang, sehabis bertemu dengan Gina.