
Keesokan harinya, Aris dan Bram menuju bandara. Mereka akan berangkat menuju negara B. Sedangkan ketiga anggota sudah duluan ke bandara untuk menyiapkan pesawat.
Aris mengambil ponsel miliknya. Dia akan menghubungi Carlo sahabatnya.
"Hallo Carlo" ujar Aris dari seberang telpon.
"Ya Aris. Ada apa? Kenapa pagi pagi sudah menghubungi gue? Apa loe mendapat masalah di negara gue?" tanya Carlo dengan sangat banyak mengeluarkan pertanyaan.
"Sama sekali tidak ada. Gue berencana akan terbang ke negara B pagi ini. Gue mau mengucapkan terimakasih atas bantuan loe." ujar Aris.
"Jangan sungkan sobat. Gue sangat senang bisa membantu loe. Negara B masih bisa gue menyusup masuk. Nanti akan gue pastikan apakah istri dan anak loe ke sana atau tidak. Hati hati dalam perjalanan sobat. Semoga berhasil." jawab Carlo memberikn semangat kepada Aris untuk melakukan pencarian terhadap Gina dan Arga.
"Terimkasih sobat." jawab Aris.
Aris kemudian mematikan panggilan telpon mereka. Aris dan Bram telah sampai di bandara. Mereka langsung masuk ke dalam pesawat yang sudah terparkir di landasan pacu. Juan dan Teguh sudah berdiri di tangga pesawat. Mereka menunggu dua Tuan Muda yang akan mereka antarkan ke negara B.
"Gimana Juan ready?" tanya Aris.
"Oke Tuan Muda. Kita siap untuk berangkat." ujar Juan.
Aris dan Bram duduk di kursi mereka. Juan dan Teguh bersiap siap untuk menerbangkan burung besi itu menuju negara B. Terdengar Juan melakukan percakapan dengan petugas lalu lintas udara. Mereka mempersilahkan Juan untuk menerbangkan burung besinya. Juan selalu berhasil take off dengan mulus begitu juga dengan leanding. Makanya Juan menjadi pilot yang bertahan lama di keluarga Soepomo.
Pernebangan dari Negara J ke Negara B memakan waktu selama lima jam saja. Makanya Aris dan Bram beristirahat di pesawat. Mereka tidur di kursi masing masing. Aris sama sekali tidak mau memakai kamar dalam pesawat. Dia akan selalu mengingat Gina, mengingat apa yang dilakukan dirinya dan Gina di dalam sana.
Tak terasa penerbangan itu akhirnya selesai sudah. Pesawat yang dipiloti Juan telah mendarat dengan sempurna. Setelah pesawat diparkir di hanggar Aris dan yang lain beramgkat menuju hotel yang telah di pesan tadi.
Sesampainya di hotel, mereka berlima menuju restoran hotel untuk mengisi perut terlebih dahulu. Rasa lapar sudah menjangkiti perut mereka. Masing masing dari mereka sudah memesan pilihan menu sendiri sendiri.
Mereka menikmati makan siangnya. Setelah makan siang selesai Aris dan yang lain menuju kamar yang akan ditempati Aris dan Bram. Mereka akan berdiskusi tentang tempat tempat yang akan mereka geledah untuk mencari Gina dan Arga.
Saat mereka sibuk berdiskusi menentukan tempatnya. Ponsel Aris berbunyi. Aris membiarkan panggilan tersebut tanpa melihat nama pemanggil. Ternyaya penelpon tersebut masih terus menghubungi Aris.
"Ngeyel ni orang." ujar Aris sambil mengeluarkan ponselnya. Betapa terkejutnya Aris saat membaca nama di layar ponsel miliknya.
"Hallo Carlo."
"Wah susah kali menghubungi elo Ris. Apa loe belum mendarat? Loe ke negara B atau kembali pulang ke rumah?" ujar Carlo dengan nada mengejek.
"Gue udah dari tadi mendarat. Maaf tadi ponsel tinggal di kamar. Gue ke kamar mandi." ujar Aris berbohong.
Mereka yang mendengar kobohongan Aris hanya bisa senyum senyum saja. Padahal tadi Aris sengaja dan pakai marah saat ada yang menghubunginya.
"Ada apa Carl?" tanya Aris yang penasaran kenapa Carlo menghubunginya.
"Ris. Orang kepercayaan gue sudah mencari jejak istri dan anak loe di beberapa negara. Hasilnya sama sekali istri dan anak loe tidak ada masuk ke negara itu." ujar Carlo yang perkataannya belum selesai sudah di potong oleh Aris.
"Termasuk negara B ini?" tanya Aris cepat.
"Yup termasuk negara B. Istri dan anak kamu tidak pernah ke sana. Kecuali istri kamu pernah ke sana tetapi sudah beberapa tahun yang lewat untuk perjalanan bisnis." ujar Carlo.
Aris yang mendengar istri dan anaknya tidak ada di negara B langsung lemah seketika. Dia sudah tidak tau lagi mau kemana mencari Gina.
"Carlo tolong sebutkan ke negara mana gue harus pergi mencari mereka berdua." ujar Aris yang sudah pasrah saja lagi. Dia memang butuh bantuan dari Carlo.
"Maaf sebelumnya Ris. Kemampuan orang kepercayaan gue juga terbatas. Kami tidak bisa melacak beberapa negara. Seperti negara A, U, E, R, dan C. Kamu cari saja ke negara negara tersebut." ujar Carlo.
"Lima negara besar yang terletak di benua yang berbeda. Baiklah Carlo terimakasih atas infonya. Sepertinya Gina dan Arga tidak akan kenegara C dan R." ujar Aris.
"Baiklah gue sudah memberikan informasi yang di dapat orang kepercayaan gue. Gue mendoakan semoga loe berhasil. Saran Gue sehari ini istirahatlah dulu di hotel. Besok baru terbang. Cuaca sedang tidak bagus sekarang di negara B. Beberapa jadwal penerbangan sudah di tunda dan malahan ada yang dibatalkan." ujar Carlo memberikan nasehat kepada Aris.
"Kami akan berangkat beso. Tidak mungkin sekarang, cuaca benar benar tidak bagus. Kami akan berangkat pagi besok." ujar Aris yang setuju dengan pendapat Carlo.
"Rencana kamu mau kemana Ris?" ujar Carlo.
__ADS_1
"Ke negara A setelah di sana tidak menemukan baru beranjak ke negara E. Terakhir baru negara U." ujar Aris memberikan gambaran kemana mereka akan mencari Gina terlebih dahulu.
"Sekali lagi maaf Ris. Orang gue nggak bisa masuk ke database negara A, U dan E." ujar Carlo dengan nada menyesal.
"Carl dengan memberikan info negara yang bisa loe sudah banyak membantu gue. Mending menggeledah tiga negara dari pada ratusan negara." ujar Aris dengan nada yang sangat sangat menunjukan rasa terimakasihnya kepada Carlo.
"Baiklah Ris semoga kamu berhasil menemukan mereka kembali. Kalau perlu bantuan hubungi saja gue Ris. Gue siap membantu loe." ujar Carlo.
"Oke Carl. Gue pasti akan langsung hubungi loe saat gue butuh bantuan dari loe."
Carlo kemudian memutus panggilannya dengan Aris.
"Gimana Ris?" tanya Bram.
"Nihil Bram. Tadi Carlo mengatakan ada lima negara yang tidak bisa mereka melacak keberadaan Gina dan Arga. Gue pastikan mereka berada di sana." ujar Aris.
"Negara mana aja?"
"A, E, U, R dan C." jawab Aris.
"R dan C, gue yakin Gina tidak akan kesana."
"Sama Bram. Gue juga berpendapat seperti itu." jawab Aris.
"Jadi akan cari kemana terlebih dahulu Tuan Muda?" tanya Juan.
"Kita besok pagi siap sarapan berangkat ke negara A." ujar Aris.
"Ris. Itu belahan bumi yang berbeda dengan kita sekarang. Saran gue kita ke negara E terlebih duhulu. Setelah itu negara U dan terakhir negara A." ujar Bram yang memandang sesuatu dari keefesienan berkendara dan jarak tempuh.
"Bagaimana Juan?" tanya Aris kepada pilot mereka.
"Setuju dengan Bram. Melihat cuaca negara B seperti ini, mending ke E dulu." jawab Juan.
Sedangkan di Negara U, orang yang dicari cari keberadaannya oleh Aris dan yang lain sedang asik bermain di mall.
Gina, Arga, Daniel dan Rani sedang menikmati hari libur mereka di sebuah mall pusat kota yang ramai pengunjung walau masih dibatasi setengah dari kapasitas biasanya.
Mereka ke sana atas pemintaan Arga yang ingin menikmati beberapa permainan di arena bermain anak.
"Bun, kalau di negara I aku main nggak bayar kan Bun karena mall punya Daddy." ujar Arga kepada Gina.
Gina membalas dengan senyuman. Dia tau Arga pasti rindu dengan Aris. Walau bagaimanapun Arga menutupinya Gina sangat bisa mengetahui perasaan seorang anak kepada Daddynya. Apalagi Arga sangat manja dengan Daddy nya.
Mereka bermain dengan gembira. Sangat terlihat bahwasanya mereka melepas sejenak permasalahn hidup yang sedang ditanggung. Baik permasalahan rumah tangga maupun permasalahan pekerjaan. Apalagi bagi Gina, perusahaan GA Grub sedang maju pesat di beberapa negara. Hal ini membuat dirinya menjadi semakin sibuk setiap harinya.
"Bun lapar." kata Arga sambil memegang perutnya.
"Ayok makan. Kita kerestoran yang ada di depan mall ini saja. Makanan di situ enak enak." ujar Gina yang selalu makan siang dengan makanan dari restoran tersebut.
Mereka berempat masuk ke dalam mobil dan menuju restoran yang berada di seberang jalan. Sebenarnya mereka bisa berjalan kaki saja, tetapi cuaca di negara U sedang tidak bersahabat dengan masyarakat yang biasa tinggal di negara tropis semlperti mereka berempat.
Mereka akhirnya sampai di restoran. Gina memesan semua menu utama dan spesial dari restoran tersebut. Gina juga memilih sebuah ruangan VIP untuk tempat mereka menikmati makan siang.
"Oh ya Niel. Kapan kalian berdua akan melangsungkan pernikahan?" tanya Gina yang sampai saat ini belum juga mendapatkan kapan tanggal pasti pasangan sejoli itu akan menikah.
"Rencana kami satu bulan dari sekarang Bun. Aku dan Rani sedang memilih milih konsep dan gedungnya." ujar Daniel.
" Kenapa nggak pake hotel kita aja Niel??? Kenapa harus cari gedung???" ujar Gina kepada Daniel.
"Sebenarnya mau ngomong sama Bunda untuk minjam hotel. Tapi waktunya belum ada Bun." ujar Daniel yang sadar kalau dia sudah salah.
"Hem ngeles terus." ujar Arga yang tau kelakuan udanya itu.
__ADS_1
Seorang pelayan masuk dan menghidangkan pesanan Gina. Mereka berempat kemudian makan dengan lahap dan baru akan membicarakan masalah pernikahan Daniel dan Rani habis menyantap menu makan siang yang luar biasa menggugah selera itu.
"Jadi gimana dengan konsepnya?" ujar Gina.
"Rencana pesta kebun aja Bun." jawab Daniel.
"Yakin pesta kebun dengan cuaca seperti ini?" tanya balik Gina.
"Kan nikahnya menjelang maghrib Bun. Langsung pesta. Jado tidak menghabiskan banyak waktu." jawab Daniel mengatakan kapan waktu dia akan melakukan ijab qobul.
"Baiklah Bunda setuju. Bunda akan urus semuanya. Kamu dan Rani fokus mengurus pakaian kalian berdua. Sekarang kita harus menghubungi Frenya dan meminta dirinya untuk segera ke sini."
"Yey Frenya datang. Aku suka, aku suka." ujar Arga.
Arga mengambil ponsel miliknya. Dia langsung melakukan video call dengan Frenya. Frenya yang sedang memeriksa laporan melihat Arga melakukan video call langsung mengangkat panggilan itu.
"Hay cowok tembem tampan. Ada apa?" ujar Frenya dari sana sambil bergaya mencubit pipi Arga.
"Lagi kangen Frenya." jawab Arga.
"Frenya kata Bunda, Frenya harus ke sini sekarang. Karena Niel akan menikah dengan Rani. Jadi Frenya harus menyiapkan pesta mewahnya." ujar Arga yang mengambil alih kerja Bundanya.
"Mana Bunda?" tanya Frenya.
"Frenya nggak percaya sama Arga?" tanya Arga sambil menatap tajam Frenya.
"Percaya. Cuma Frenya ada perlu dengan Bunda."
"Oke"
Arga menghadapkan kamera ponselnya kepada Gina.
"Bun, kapan aku harus ke sana?" tanya Frenya dengan semangat.
"Sekarang juga boleh. Telpon Stepen agar mengantarkan kamu ke sini sekarang." ujar Gina.
"Yey. Arga tunggu Frenya di mansion. Frenya pulang sekarang juga." ujar Frenya yang menyambar tas tangan dan ponselnya. Dia sangat bersemangat untuk pulang.
"Dasar anak kecil." ujar Arga mematikan panggilan videonya
"Emang kamu udah besar?" tanya Daniel.
"Udah dari pada Frenya." jawab Arga dengan acuhnya.
"Arga masih mau main atau kita akan pulang? Bunda capek." jawab Gina.
"Pulang Bun. Arga ngantuk" jawab Arga.
Mereka akhirnya memilih untuk menghabiskan hari di rumah saja. Mereka lelah karena cuaca cukup terik siang ini.
"Bun sampe rumah masak puding ya Bun. Panas." ucap Arga di dalam mobil.
"Siap komanda." jawab Gina.
"Tuan Muda Bun." ralat Arga sambil mengedipkan matanya.
"Yayayaya Tuan Muda Soepomo." ujar Gina menggoda Arga.
"Betul. Arga akan bikin nenek peyot itu menyesal karena meremehkan Arga." ujar Arga yang masih dendam dengan omanya.
"Silahkan aja." jawab Gina.
Mobil yang dikendarai Daniel masuk ke dalam mansion. Mereka berempat turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah yang acnya sudah diatur ke suhu paling dingin. Gina yang menerima pesanan dari Arga langsung mengeksekusi permintaan putranya itu. Gina akan membuat puding buah hari ini. Sedangkan Arga sudah berlari masuk ke dalam kamarnya. Dia mengantuk berat. Daniel dan Rani juga langsung masuk ke dalam kamar mereka masing masing.
__ADS_1