
Dret dret dret dret
"Sayang ponsel kamu bunyi." ujar Ghina kepada Aris. Mereka sama sama kelelahan habis olahraga malam tiga ronde. Aris sama sekali tidak membiarkan Ghina beristirahat semalaman.
Aris meraih ponselnya di nakas samping tempat tidur. Dia melihat sama sekali tidak ada notifikasi apapun di ponselnya.
"Sayang kelihatannya ponsel kamu. Ponselku hening diam tak ada apa apa sayang." ujar Aris sambil melihatkan ponselnya yang memang tidak ada notifikasi apapun di sana.
Ghina meraih ponselnya di nakas, ternyata memang ponselnya yang dari tadi tidak berhenti berdering.
"Siapa sayang?" tanya Aris yang penasaran siapa pagi pagi gini sudah menghubungi istrinya berkali kali.
Ghina memperlihatkan ponselnya kepada Aris, ternyata di sana ada puluhan chat yang dikirin oleh seseorang dengan bunyi yang berbeda beda.
'Argha lapar Bunda. Ayo bangun'
'Bunda udah nggak sayang anaknya lagi. Bunda hanya sayang dengan Daddy'
'Bunda kalai masih tidak bangun juga Argha akan cari Bunda baru'
'Bunda.............. Argha beneran marah Bunda'
'Bunda, Argha udah mau mati karena lapar'
Serta masih banyak lagi pesan pesan yang masuk. Ghina dan Aris yang membaca semua pesan dari Argha hanya bisa geleng geleng kepala tidak percaya dengan kelakuan anak mereka yang satu itu.
"Sayang, aku buatkan sarapan bontot itu dulu ya. Kasian dia kelaperan." ujar Ghina sambil melangkah turun dari ranjang.
"Kamu sengaja menggoda aku lagi sayang?" ujar Aris sambil memenadang tubuh polos Ghina yang sekarang terpampang indah di depan mata Aris.
"Wow aku lupa sayang" Ghina mengambil pakaian tidurnya. Setelah yakin penampilannya sudah rapi, Ghina turun ke dapur. Dia melihat tidak satupun ada anggota keluarga yang telah bangun.
"Bik Imah kemana semua orang? Pagi baru masak sudah pada pergi." kata Ghina yang tidak melihat sekarang udah jam berapa.
"Argha juga mana dia Bik? Anak itu tadi minta aku bikin sarapan. Eeee ternyata dia masih tidur." lanjut Ghina yang ngomel ngomel nggak jelas.
Bik Imah dan Suster Rina hanya tersenyum senyum saja mendengar ocehan Nyonya muda mereka. Ghina yang melihat kedua maidnya ini tersenyum senyum menatap heran ke arah mereka berdua.
"Kenapa senyum senyum? Apa ada yang salah?" tanya Ghina sambil melihat pakaian yang dipakainya masih rapi dan tidak ada kesalahan sedikitpun.
"Maaf Nyonya, tadi Nyonya bertanya kemana semua orang, jawabannya semua orang udah berangkat kerja. Nyonya juga bertanya kemana Tuan Muda, Tuan Muda juga udah berangkat ke sekolah." jawab Bik Imah sambil tersenyum ke Ghina.
"Kok?" ujar Ghina tidak paham.
Bik Imah menunjuk jam dinding yang ada di dapur. Ghina melihat jam tersebut.
"Waduah udah siang ini mah. Pantesan nggak ada orang lagi di rumah. Ternyata aku yang kesiangan." ujar Ghina.
Ghina melihat ponselnya,
"Pantesan tu anak marah marah, dia ngirim pesan dari jam tujub pagi tadi." ujar Ghina.
__ADS_1
"Ya udah Bik. Aku mandi dulu. Nanti aku akan masak untuk makan siang." kata Ghina yang menahan malu di depan kedua maidnya. Mana dia tadi udah ngomel ngomel karena semua orang terlambat. Eeeeeee kenyataannya bukan orang yang terlambat tetapi dia yanga terlambat bangun.
Ghina kembali menuju kamarnya, dia tidak menyangka bisa terbangun sesiang ini. Saat dia sampai di kamar Aris terlihat sudah memakai pakaian rumahannya.
"Sayang, kita telat bangun. Aku takut Argha akan marah sayang." ujar Ghina terlihat sangat menyesal karena baru ini kejadian Ghina tidak mengurus Argha untuk pergi sekolah.
"Kamu mandi sana. Kita akan berikan Argha kejutan. Jadi dia tidak akan marah sama kita lagi." Aris berusaha menenangkan istrinya.
"Caranya?"
"Kamu mandi dulu aja. Setelah itu pakailah pakaian yang senada dengan yang aku pakai."
Aris yang melihat Ghina masih berdiri diam dengan raut muka sedih menggendong istrinya itu ke dalam kamar mandi.
"Sayang makin lama kamu selesai maka kita tidak akan bisa memberikan Argha kejutan. Ayo cepatlah sayang, dunia tidak akan berakhir karena kamu tidak membuat sarapan untuk Argha tadi pagi." kata Aris sambil menutup pintu kamar mandi.
Aris menuju kamar ganti mereka, dia mengambilkan pakaian yang akan dipakai oleh Ghina. Sebuah kemeja putih dan celana levis serta sepatu kets berwarna putih juga.
"Saatnya pakaian dalam." kata Aris sambil melangkah ke laci lemari pakaian dalam milik Ghina.
Aris mengambil satu set pakaian dalam. Dia melihat pakaian dalam milik istrinya itu. Aris senyum senyum sendiri membayangkan apa yang akan dilakukannya kepada pakaian dalam itu nanti malam.
"Dasar otak gesrek" ujar Aris memukul kepalanya sendiri.
Setelah memilih pakaian dalam yang akan dipakai oleh Ghina. Aris meletakan semua pakaian pilihannya itu di atas ranjang.
Ghina yang selesai membersihkan dirinya keluar dari kamar mandi. Dia tersenyum melihat semua pakaiannya sudah ada di ranjang.
"Selesai" ujar Ghina sambil tersenyum ke arah Aris.
"Wow cantiknya." ujar Aris yang tidak pernah bosan memuji istri tercintanya itu.
"Akan selalu cantik untuk suami keren ku ini." jawab Ghina sambil menggandeng tangan Aris.
Mereka berdua kemudian turun ke ruang utama. Bik Imah telah menyiapkan semua bekal yang diminta oleh Aris.
"Tuan Muda ini semua bekal yang Tuan Muda minta." ujar Bik Imah sambil menyerahkan kotak piknik yang di minta Aris tadi.
Aris mengambil kotak piknik tersebut. Dia membawa kotak piknik di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya tetap menggandeng istrinya.
Semua orang yang kenal dengan Aris sudah maklum dengan tingkah mesra Aris terhadap keluarganya. Apabila ada Argha, maka gandengan tangan Aris akan bertukar. Argha di kanan dan Ghina di kiri Aris. Mereka semua sudah hafal akan hal itu. Jadi jangan heran saat melihat Aris diluar dia akan selalu menggandeng dua orang yang dicintainya itu.
"Sayang, kita mau kemana pake kotak piknik segala." ujar Ghina yang penasaran dengan rencana Aris.
"Nanti akan tau sayang. Sekarang kita jemput anak yang ngambek itu dulu." jawab Aris yang semakin membuat Ghina penasaran.
Aris melajukan mobilnya menuju sekolah Argha. Hanya Aris sendirilah yang tau akan kemana mereka hari ini.
Aris melihat Pak Paijo sudah berdiri di samping mobilnya. Aris kemudian meminta Pak Paijo untuk pulang. Sekarang giliran dia yang berdiri di samping mobil.
Tak lama berdiri menunggu si bontot, akhirnya yang ditunggu datang juga. Argha berdiri mematung, tumben tumbennya Daddynya datang menjemput tanpa memberitahu terlebih dahulu.
__ADS_1
"Loh kok Daddy yang jemput? Pak Paijo mana?" tanya Argha melihat ke sekeliling yang tidak melihat Pak Paijo.
"Udah Daddy suruh pulang. Kita akan keluar." ujar Aris menjawab pertanyaan Argha.
Ghina yang melihat Argha sudah berada di depan mobil langsung keluar menuju Argha dan Aris.
"Sayang, maafin Bunda karena tadi pagi kamu ke sekolah nggak sarapan karena Bunda telat bangun." ujar Ghina sambil memeluk anak kesayangannya itu.
"Bunda, siapa bilang Argha nggak sarapan. Argha sarapan kok Bun." jawab Argha.
Ghina yang mendengar jawaban Argha menjadi heran. Dia melepaskan pelukannya dan menatap Argha.
"Siapa yang masak?" tanya Ghina yang masih penasaran.
"Tu." ujar Argha sambil menunjuk Daddynya.
"Kamu, kenapa nggak ngomong. Aku udah stress Argha ke sekolah tanpa sarapan." ujar Ghina lagi.
"Sayang sayang. Aku tau kamu capek akibat ulah aku. Makanya aku memasak tanpa membangunkan kamu." jawab Aris sambil tersenyum.
"Udah sekarang kita masuk. Kita akan berangkat." ujar Aris yang teringat tujuannya mau kemana hari ini dengan keluarga kecilnya itu.
"Kamu juga yang milihin pakaian Argha hari ini?" tanya Ghina yang melihat mereka bertiga memakai pakaian yang sama.
Aris mengangguk.
"Sayang sayang. Aku semakin mencintaimu" ujar Ghina mencium bibir Aris sekilas.
"Huek. Bunda Daddy jangan pamer kemesraan. Argha masih kecil. Tolong hargai Argha yang masih suci bersih ini Bunda. Jangan kotori mata Argha dengan menampilkan hal hal yang senonoj itu." kata Argha memprotes tingkah laku Daddy dan Bundanya yang tidak tau tempat memamerkan kemesraan mereka.
"Apa Bunda dan Daddy nggak tau ini dimana? Tengok tu banyak yang merhatiin Bunda dan Daddy. Ck ck ck ck. Argha nggak nyangka dua pengusaja sukses bisa seperti ini" lanjut Argha kembali.
"Hahahahahahahahaha. Kamu memang anak yang uwow sayang." ujar Aris dan Ghina serempak.
Argha masuk ke dalam mobil terlebih dahulu, dia tidak mau berlama lama melihat kemesraan yang nggak tau tempat itu. Aris dan Ghina kemudian juga masuk ke dalam mobil. Mereka pura pura terlihat coll saat melihat semua orang menatap ke arah mereka dengan tatapan memuja.
"Tatapan itu lagi. Bosan." ujar Ghina.
"Sama" jawab Argha.
"Nikmati aja sayang sayangku. Selagi mereka masih menganggap kita ada." jawab Aris sambil tersenyum.
Jadilah Manusia yang Ada untuk Semua Orang. Jangan Jadikan Dirimu Manusia Semu Bagi Semua Orang.
...****************...
**kakak kakak terimakasih atas dukungannya selama ini ya. berkat kakak kakak semua aku menjadi semangat untuk melanjutkan setiap karya ku.
mampir juga ke karya ku yang satu lagi kakak kakak. aku butuh dukungan kakak kakak di sana**.
Kepahitan Sebuah Cinta
__ADS_1