Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Persiapan Alek Gadang


__ADS_3

Pagi harinya seperti biasa semua keluarga sarapan bersama di meja makan. Hari ini menu mereka sedikit istimewa, Ghina membuat nasi uduk lengkap dengan isiannya. Semua anggota keluarga makan dengan lahap.


"Bun jangan tiap hari ya Bun. Bisa bisa kadar kegantengan Argha jadi turun karena kegemukan." ujar Argha yang sudah menghabiskan satu porsi nasi uduk.


"Hahahahaha. Mana ada gara gara nasi uduk kadar kegantengan turun. Yang ada kadar lemak bertambah. Kamu ngadi ngadi aja jadi orang." jawab Frenya menimpali pernyataan Argha.


"Ye yang ngomong Argha yang sewot Frenya. Makanya jangan ribut mulu dengan Steven." kata Argha membuka sedikit rahasia Frenya.


Frenya menutup mulut Argha. "Hust. Jangan bocorin. Nanti nggak Frenya temenin nengok Bree baru nyahok." ujar Frenya mengeluarkan ancamannya kepada Argha.


"Oh ya lupa. Maafkan Argha Frenya cantik luar biasa." ujar Argha sambil tersenyum.


"Sama sama Argha ganteng luar biasa." jawab Frenya.


Mereka kembali melanjutkan sarapan. Selesai sarapan Papi berangkat dengan Asisten Hendri. Sedangkan Aris berangkat sendirian.


"Argha ayuk jalan. Daddy ada meeting pagi." ujar Aris sambil mengangkat tas sekolah Argha.


"Daddy, Argha pergi dengan Frenya aja. Teman teman satu sekolah Argha udah bosan lihat wajah Daddy." jawab Argha yang membuat semua orang yang masih berada di sekitaran Argha menahan tawanya.


"Serius Gha, teman sekolah Argha bosan lihat wajah Daddy mu yang tampan itu?" tanya Bram yang berusaha untuk tidak tertawa.


"Wajah tampan ke bule bulean Daddy kalah dengan wajah opa opa korea. Jadi Daddy kalau masih ingin dipuji sama wanita wanita di sekolah Daddy tukar tambah dulu wajah Daddy kayak wajah opa opa." kata Argha selanjutnya.


"Hahahahahahahaha. Argha denger Bunda ya. Bunda lebih suka wajah Daddy kayak gini. Jadi nggak banyak yang pelototin Daddy lagi. Mereka semua sudah tukar aliran." Ghina menjawab sambil menatap jahil ke arah suaminya.


"Bunda bucin." ujar Argha sambil menggandeng lengan Frenya.


"Frenya jalan yuk. Ada orang orang bucin. Capek Argha." kata Argha sambil berlalu dari hadapan kedua orang tuanya.


Ghina mengantarkan suaminya ke mobil. Aris kemudian berangkat menuju kantor. Saat Ghina baru akan masuk ke dalam rumah utama. Mira datang dengan Bree memakai sepeda.


"Hay, cewek cantik Bunda. Kamu udah makan belum?" tanya Ghina kepada Bree.


"Belum. Mi dak masak." jawab Bree sambil menatap Maminya.


"Bener loe nggak masak Mir?" Ghina menatap Mira dengan tatapan menyelidik.


"Masak lah. Dia aja yang katanya tadi mau makan di rumah kekasihnya." ujar Mira menatap Bree.


Bree menjiwit Mira.


"No Mami." ujar Bree protes.


"Sudah sudah hentikan keributan pagi hari. Bree mau makan?" tanya Ghina kembali.


"Iya Nana. Blee mau makan. Blee lapal" ujar Bree dengan gaya khas cadelnya.


Ghina meraih Bree ke dalam gendongannya.


"Oke, Bunda udah masak nasi uduk. Bree pasti suka." ujar Ghina.


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah utama. Ghina mendudukan Bree di kursi khusus bayi yang selalu ada di sudut ruang makan. Bram yang baru saja selesai menikmati kopi paginya dan melihat Bree memiliki ide jahil.


"Bree makan dengan Papi aja ya. Kita makan di kolam ikan sambil ngasih makan ikan koi. Bree suka kan?" kata Bram yang memang sangat suka dengan Bree dan Argha.


"Suka Papi. Papi cuapin Blee ya?" jawab Bree sambil menatap Bram dengan menampilkan puppyice nya.


"Gampang itu. Nanti kita main berdua aja ya. Biarkan Mami dan Bunda sibuk dengan kegiatannya. Bree maukan main dengan Papi seharian ini?" lanjut Bram yang ingin membuat Ghina dan Mira serius dengan pekerjaan mereka.


"Mau asal ada es klim." tawar Bree.


"Sama aja dengan Argha selalu ada upahnya." kata Bram pelan yang hanya bisa di dengar oleh Ghina dan Mira.


"Samalah Blee kan suka Algha." jawab Bree yang membuat semua orang dewasa di sana mendadak membeku mendengar jawaban Bree yang luar biasa itu.


"Kak Bram ini makanan Bree." ujar Ghina memberikan sarapan untuk Bree.


Bram dan Bree berjalan bergandengan tangan menuju taman belakang rumah utama. Mereka akan berada di sana seharian.


"Gue ke atas bentar Mir." kata Ghina yang meninggalkan Mira duduk di kursi bar sambil menikmati buah potong yang disediakan bik Imah.

__ADS_1


Saat Ghina pergi ke kamar, ponsel miliknya berbunyi. Pada layar terpampang manager GA Hotel. Mira mengangkat panggilan itu.


"Hallo Pak. Maaf Ghina sedang ke kamar. Saya Mira, ada apa Pak?" tanya Mira kepada Manager.


"Pagi Nyonya. Kami sudah berada di lokasi. Kami mau menanyakan dimana letak posisi setiap tenda ini." ujar Manager.


"Oh itu sebentar lagi kami akan kesana Pak. Ghina sedang tukar pakaian sepertinya." ujar Mira.


"Baiklah Nyona, kami akan menunggu di sini." jawab Manager.


Ghina yang hanya membutuhkan waktu yang sebentar untuk bertukar pakaian kembali turun ke bawah. Mira yang melihat Ghina sudah turun langsung berdiri dari kursinya.


"Ghin, mereka udah sampai di lokasi. Kita langsung ke sana saja atau gimana?" tanya Mira.


"Langsung ajalah." Ghina mengambil kunci mobil miliknya.


"Ngapain pakai mobil coba. Kita hanya disana seharian. Emang mau kemana?" tanya Mira saat melihat Ghina mengambil kunci mobil.


"Bener juga ya. Kenapa gue mendadak ngehank gini ya?" ujar Ghina yang heran dengan dirinya sendiri.


Mereka kemudian keluar menuju halaman rumah. Ghina dan Mira naik mobil budgy untuk menuju tempar acara.


"Kalau jalan kaki mayan juga jauhnya Mir." ujar Ghina sambil mengemudi.


"Naik sepeda tadi aja gue ngosngosan." jawab Mira.


"Tadi gue bawa mobil loe larang." Ghina menyindir Mira.


"Kalau mobil jelas gue larang lah. Mubazir. Kalau budgy jelas nggak mubazir " Mira ngeles dari tuduhan Ghina.


"Ngeles aja terus." ujar Ghina.


Mereka berdua akhirnya sampai juga di tempat yang akan dijadikan sebagai tempat acara pernikahan dan pesta pernikahan Bram dan Sari. Pesta yang akan dibuat semegah dan semewah serta akan selalu diingat semua orang.


Manager yang melihat Ghina dan Mira sudah berada di sana, pergi melangkahkan kakinya menuju kedua Nyonya besar itu.


"Gimana Pak?" tanya Ghina kepada Manager.


Manager mengeluarkan rancangan yang sudah didesain oleh Ghina jauh jauh hari.


"Untuk meja menu kita sesuaikan saja nanti gimana bagusnya. Sekarang yang terpenting berdirikan saja dulu tenda besarnya. Kita tidak mungkin membuat acara pesta kebun dengan cuaca panas nyelekit kayak sekarang ini." kata Ghina memberikan instruksi pertama.


"Baik Nyonya. Kita akan bangun tenda super besar tenda yang baru saja kita datangkan dari luar. Setelah itu baru kita berdirikan pelaminannya dan semua pernak pernik lain." ujar Manager kepada Ghina.


"Oke sip."


Ghina dan Mira naik kembali ke mobil budgy golf. Mereka akan melihat pemasangan tenda yang dikatakan oleh Manager. Semua pekerja menurunkan peralatan peralatan untuk membangun tenda dari truk conteiner yang bertuliskan GA Grub.


Ghina dan Mira melihat sistem kerja semua pekerja. Mereka salut dengan sistem yang dipakai. Mereka sama sekali tidak membuang buang waktu. Sistem kerja mereka sangat jelas sekali. Tidak ada satupun pekerja yang terlihat santai. Semua bekerja sama untuk mendirikan tenda tersebut.


"Ghina makan mereka dari mana?" tanya Mira saat melihat jam makan siang sebentar lagi akan masuk.


"Iya juga ya. Gue tanya managernya dulu." kata Ghina sambil turun dari mobil.


Ghina berjalan menuju Manager.


"Pak, makan siang mereka bagaimana?" tanya Ghina.


"Mereka bawa bekal sendiri sendiri Nyonya." jawab Manager.


"Hah? Bawa bekal masing masing???? Mulai hari ini tidak ada bawa bekal. Saya yang akan menanggung." ujar Ghina geram mendengar perkataan Manager.


"Siapa yang suruh semua pekerja bawa bekal mereka masing masing saat bekerja di luar perusahaan?"


"Manager HRD dan Manager keuangan Nyonya." jawab Manager tersebut dengan menundukkan kepalanya.


"Sejak kapan keputusan itu berlaku? Bukannya uang makan pegawai cair tiap bulan?" tanya Ghina.


"Iya Nyonya. Ini berlaku sudah dua bulan ke belakang. Saya saja bawa bekal sendiri Nyonya." lanjut Manager menceritakan kepada Ghina.


"Oh. Baiklah. Terimakasih." jawab Ghina

__ADS_1


Ghina kembi ke mobil. Dia benar benar geram dengan sistem kerja kali ini. Raut wajah Ghina menampilkan kemarahan yang sudah tidak bisa di bendung lagi. Dia benar benar marah mendengar semuanya.


"Kenapa?" tanya Mira menatap Ghina.


"Nanti gue cerita." ujar Ghina.


Ghina mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Dia kemudian mencari telpon restoran miliknya. Setelah bertemu Ghina langsung mendial nomor tersebut. Ghina menunggu panggilan itu tersambung.


"Hallo. Selamat siang Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" tanya manager restoran.


"Bisa tolong kirimkan makanan lima puluh porsi ke rumah utama sekarang?" tanya Ghina langsung ke inti permasalahan.


"Bisa Nyonya. Kami akan mengantarkan dan datang satu jam lagi." jawab Manager restoran.


"Baiklah saya tunggu di rumah utama. Saat sampai tolong hubungi saya, karena makanan itu tidak ke rumah utama di antar tetapi setelah rumah utama dekat rumah Nyonya Mira." lanjut Ghina menjelaskan kemana seharusnya makanan itu di antar.


"Baiklah Nyonya, kami tau dimana tempatnya. Pesanan akan kami siapkan terlebih dahulu." ujar Manager.


Ghina memutuskan sambungan telponnya. Dia kembali menuju manager yang menghendle bagian pelaminan.


"Tolong siapkan meja panjang. Saya sudah memesan lima puluh porsi makanan untuk karyawan. Makan malam nanti akan kembali saya pesankan." ujar Ghina memberitahukan kepada Manager.


"Baik Nyonya. Terimakasih karena sudah sangat peduli kepada kami." ujar Manager.


"Sudah kewajiban saya memastikan kesejahteraan karyawan saya. Urusan manager yang dua itu mereka akan mendapatkan ganjaran yang setimpal." ujar Ghina dengan wajah menakutkan.


Ghina kembali dan duduk di mobil golf. Mira menunggu Ghina untuk bercerita sekalian melihat para pekerja mendirikan tenda yang sangat luar biasa besarnya itu.


"Mir. Dua manager di GA Grub sudah mulai bermain api" ujar Ghina membuka percakapan.


"Maksud kamu?" tanya Mira kembali.


"Yup. Mereka sudah berani menggelapkan uang perusahaan." lanjut Ghina kembali bercerita.


"Ghin jangan setengah setengah ceritanya yang jelas napa." kata Mira dengan nada sedikit kesal.


"Jadi tadi gue nanyak ke manager tentang makan siang. Ternyata perintah dari manager HRD dan keuangan, setiap bekerja di luar perusahaan maka karyawan bawa bekal sendiri." ujar Ghina.


"Gila loe. Bukannya itu masih tanggung jawab perusahaan?" tanya Mira


"Iyalah tanggung jawab perusahaan. Parahnya lagi uang makan masih diambilnya juga." kata Ghina melanjutkan ceritanya.


"Wow itu keren. Gimana kalau loe ke perusahaan aja?" Mira memberikan solusi.


"Biar Frenya yang urus. Gue mau fokus dengan acara ini aja." jawab Ghina.


"Oke sip."


Saat mereka berbincang bincang, sebuah mobil mewah berhenti di depan mobil golf mereka. Papi terlihat turun dari dalam mobil di dampingi Asisten Hendri.


"Ghina ini tendanya?" tanya Papi menatap kagum ke tenda yang sufah berhasil didirikan pekerja


"Bener Pi. Nanti di dalamnya baru dibagi bagi sesuai dengan kebutuhan pesta." jawab Ghina lagi.


"Bisa Papi masuk ke dalam?"


"Bisa Pi. Ayuk kami temani." ujar Ghina.


Mereka berempat berjalan menuju tenda yang baru saja selesai diberdirikan. Tenda pernikahan terbesar yang pernah dilihat Papi.


Mereka berempat menatap takjub saat sampai di dalam. Mereka berasa di dalam gedung bukan di dalam tenda.


"Ini setengah hari mereka kerja Ghin?" tanya Papi menatap hasil kerja karyawan Ghina.


"Ia Pi. Mereka sekarang istirahat siang dulu. Sebentar lagi makanan mereka datang." ujar Ghina.


Saat Ghina mengatakan hal itu, karyawan dari restoran datang membawa makanan yang di pesan Ghina. Mereka menata di atas meja yang sudah disediakan oleh manager.


"Papi boleh ikut makan Ghin?"


"Boleh Pi. Kami juga mau makan." ujar Ghina.

__ADS_1


Papi dan Asisten Hendri mengambil makanan mereka masing masing. Ghina dan Mira juga. Selesai empat orang boss itu mengambil makanan barulah manager dan para pekerja mengambil makan siang mereka.


Mereka makan siang bersama sama. Tidak ada perbedaan yang mencolok antara atasan dan bawahan. Mereka sama sama menikmati makan siang itu.


__ADS_2