
"Jadi apa yang mau kamu bicarakan dengan aku sayang?" tanya Aris yang ingat Gina ingin membicarakan sesuatu dengan dirinya.
"Oh iya sampe lupa. Padahal itu titik point pentingnya sayang." ujar Gina sambil tersenyum.
Gina kemudian mengambil satu berkas, Aris melihat logo dari berkas itu adalah logo sebuah rumah sakit khusus anak yang terkenal di negara U.
"Apa itu sayang?" tanya Aris kepada Gina.
"Ini adalah dokumen kesehatan Arga baik secara fisik maupun psikologis." ujar Gina sambil menyerahkan dokumen pertama.
Aris membaca dokumen tersebut, ada beberapa hal yang dia pahami dan ada yang tidak. Aris menatap Gina.
"Gini sayang, Argha dinyatakan sembuh tidak, tetapi sudah sembilan puluh persen Argha sudah seperti anak yang lainnya. Tetapi Argha sangat sulit menahan emosinya, itu yang masih harus dijaga oleh kita semua." papar Gina kepada Aris.
"Makanya saat dia emosi, Argha lebih cenderung untuk curhat kepada kita. Dia tidak ingin meluapkan emosinya dengan kemarahan." lanjut Gina.
"Boleh aku bertanya sayang?" tanya Aris.
Gina mengangguk. "Silahkan." jawab Gina kemudian.
"Aku tau saat masih di negara I, Argha masih belum mau berbicara, sejak kapan Argha bisa berbicara seperti ini?" tanya Aris kemudian. Akhirnya pertanyaan itu bisa juga dikeluarkan oleh Aris.
"Pastinya kapan Arga mulai bisa berbicara aku sendiripun tidak tau sayang. Satu hal yang jelas, saat kami turun di Bandara Argha sudah berbicara saja." ujar Gina.
"Apakah karena tekanan di negara I, makanya dia tidak mau berbicara?"
"Aku nggak tau sayang. Lebih baik kamu yang bertanya sama Arga. Setiap kali aku yang bertanya Argha hanya tersenyum saja." jawab Gina
"Bisa kita lanjut sayang?" tanya Gina kembali karena masih ada berkas berkas yang ingin diperlihatkannya kepada Aris.
Aris mengangguk, dia juga penasaran dengan berkas berkas yang ada di atas meja itu. Berkas berkas yang lumayan banyak mapnya.
"Berkas kedua ini adalah berkas kepemilikan rumah sakit GA Hospital." ujar Gina.
"Aku mau minta saran dan pendapat kamu tentang rumah sakit ini. Kita di negara I juga ada punya satu rumah sakit yaitu rumah sakit Harapan Kita." ujar Gina.
__ADS_1
Aris menatap tidak percaya kepada istrinya itu.
"Maafkan aku sayang, aku sengaja tidak memberitahukan kepadamu selama ini." ujar Gina.
"Jelaskan" ujar Aris kemudian.
"Jadi rumah sakit Harapan Kita itu adalah rumah sakit joinan Aku, Sari dan Mira. Nah saham terbesarnya adalah aku empat puluh persen. Selebihnya bagi dua antara Sari dan Mira." ujar Gina menjelaskan.
"Nah, karena aku tidak minat mengurusnya, makanya aku serahkan kepada Mira untuk mengelola" lanjut Gina.
"Sayang kita krmbali fokus dengan GA Hospital ya." ajak Gina agar Aris tidak memperdebatkan masalah Harapan Kita.
"Oke. Biarkan Mira yang mengurusnya. Jadi GA Hospital bagaimana?"
"Aku ingin memberikan GA Hospitak sebagai kado pernikahan untuk Daniel dan Rani. Daniel satu satunya putra kita yang dokter, sedangkan Rani sangat berperan penting dalam kesembuhan Argha. Tapi semua keputusan ada ditangan kamu sayang." ujar Gina yang tetap mengedepankan Aris sebagai pengambil keputusan.
"Sayang kita berdua yang mengambil keputusan. Aku setuju kalau rumah sakit itu diberikan kepada Daniel. Tapi ada satu yang membuat aku sedih." ujar Aris.
"Apa?" tanya Gina yang penasaran.
"Sayang, kita bisa ke sini kapan saja. Terpenting sekarang Daniel harus diberikan sebuah tanggung jawab. Apa kita mampu mengurus semua ini berdua saja?" tanya Gina.
Aris menggeleng, dia sudah tidak akan sanggup membagi otaknya untuk sekian banyak pekerjaan yang ada.
"Oke sudah diputuskan GA Hospital akan diserahkan kepada Daniel sepulang mereka dari bulan madu." ujar Gina sambil memindahkan dokumen GA Hospital ke tempat lain.
Aris kemudian membaca logo berkas yang paling tebal itu.
"GA Grub?" tanya Aris.
"Yup GA Grub." jawab Gina.
"Dalam dikumen ini terdapat semua aset, properti sampai dengan anak cabang dari GA Grub." lanjut Gina.
"Sayang hotel tempat kita menginap ini adalah kepemilikan GA Grub." ujar Gina.
__ADS_1
"Bentar, apakah mall tempat aku pergi kemaren juga milik GA Grub?" tanya Aris.
"Bener, juga punya GA Grub. Saat kamu pergi ke mall itu, aku berharap kamu ingat akan diriku. Kamu ingat sebuah desain mall yang sebenarnya akan aku dirikan di negara I. Tetapi karena permasalahan yang ada mall tersebut aku pindahkan ke negara U." ujar Gina kembali.
"Pantesan saat aku masuk, rasa rasa pernah melihat desainnya. Tapi saat itu aku tidak seratus persen yakin itu adalah mall kamu. Maafkan aku yang tidak peka ini." ujar Aris sambil menggenggam tangan Gina.
"Tidak apa apa sayang. Santai aja." ujar Gina.
"Nah selain hotel dan mall itu apalagi yang akan membuat aku tambah jantungan sayang?" ujar Aris sambil tersenyum
Aris sangat tidak bisa membayangkan sekaya apa istrinya ini dengan semua kepemilikannya itu .
"Terakhir ini, dokumen beberapa anak cabang perusahaan GA Grub di beberapa negara. Aku tidak hafal negaranya. Ini semua adalah urusan Frenya bukan urusan aku." ujar Gina.
"Sayang boleh aku bertanya?"
"Sayang capek jawabnya. Tanya aja apa yang mau ditanya. Nggak usah pake minta ijin dulu." ujar Gina.
"Apakah GA Grub murni milik kamu atau ada joint nya?"
"Murni milik aku. Tetapi yang di negara I gabungan dengan perusahaan milik Frenya." ujar Gina.
"Sayang, aku benar benar tidak bisa membayangkan sekaya apa kamu sayang aku jadi cemas takut kamu tinggalkan." ujar Aris sambil memeluk Gina.
"Sayang, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu. Buktinya saat kamu selingkuh aku tidak punya niat untuk meninggalkan kamu, padahal saat itu aku juga sudah luar biasa kaya." ujar Gina.
"Sayang, aku tidak memandang uang, aku memandang tulusnya cinta seseorang. Uang nggak sampe mana sayang. Tapi cinta akan membawa kenyaman. Uang bisa di cari sampai ujung dunia. Tetapi cinta? Hanya sekian orang yang mendapatkan cinta yang tulus dari pasangannya." ujar Gina sambil mengusap punggung suaminya.
"Sayang, maafkan aku yang sempat menyianyiakan kamu." ujar Aris kembali.
"Sayang, semua itu adalah proses pendewasaan diri kita sayang. Dalam hidup kita perlu ujian. Sekarang yang jadi persoalannya apakah kita lulus atau tidak dalam ujian itu. Buktinya kita luluskan sayang. Sekarang mari kita sama sama memperbaiki diri kita menjadi yang lebih baik lagi." ujar Gina.
Aris meraih muka istrinya itu. Dia menghujani Gina dengan banyak banyak kecupan singkat. Gina hanya pasrah diberlakukan seperti itu oleh Aris. Dia sangat bahagia karena suaminya sangat sangat mencintai dirinya.
"Ayuk tidur ngantuk." ajak Gina.
__ADS_1
Mereka berdua bergandengan tangan masuk ke kamar. Aris berbaring di sebelah kiri Argha. Sedangkan Gina di sebelah kanan Argha.