Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Keluguan Aris


__ADS_3

"Sayang bangun sayang. Udah jam sepuluh. Tapi mau pergi kontrol." Aris mambangunkan Gina.


Gina masih tertidur lelap.


"Gina Gina kapan bisa berubah ini Gina." kata Aris sambil geleng geleng kepala.


Aris mengambil keputusan.


"Gina bangun sayang. Tapi mau kontrol" kata Aris sambil mengguncang bagu Gina.


Gina yang merasakan bahunya di guncang dan perutnya yang mulai melilit dan merasakn mual. Langsung berdiri dan berlari menuju closet. Gina memuntahkan kembali isi perutnya. Aris membantu dengan memberikan handuk panas ke Gina. Aris tidak mau saat dia menyentuh Gina, Gina akan muntah muntah lagi.


"Sayang, maafin aku ya. Aku terpaksa harus menyentuh kamu lagi dan berakibat seperti ini." kata Aris dengan nada menyesal.


"Nggak apa apa sayang. Tetapi kenapa nggak minta tolong Mami?" jawab Gina sambil membersihkan mulutnya.


"Mami pergi ke mall janjian dengan Nana." jawab Aris.


"Oh. Aku mandi dulu sayang. Kamu udah rapi nampaknya." kata Gina sambil masuk ke kamar mandi.


Aris memilihkan baju untuk Gina. Aris menyerasikan warna baju mereka. Hari ini Aris memilihkan dress selutut, dengan kancing depan berwarna putih tulang untuk Gina. Aris mengambil kemeja yang warnanya sama untuk dirinya pakai.


Gina yanh selesai membersihkan dirinya, melihat baju yang akan dia pakai sudah di atas kasur dan semua pakaian dalamnya, tanpa berpikir panjang melepas handuk yang melilit badannya di depan Aris. Gina memakai semua bajunya di depan mata Aris.


Aris yang berusaha terlihat santai saja akhirnya menyerah. Aris lebih memilih membelakangi Gina.


"Hahahaha. Kamu nggak kuat sayang?" tanya Gina kepada Aris.


"Jangan tanya sayang. Udah lama nggak ini." jawab Aris sambil mengusap mukanya.


"Sabar sayang. Kamu bujuk Blip aja supaya membolehkan kamu megang aku lagi." jawab Gina.


Gina kemudian menggenggam dua bukit kembarnya di depan Aris.


"Sayang, sepertinya tempat favorit kamu ini udah makin membesar sayang dari ukuran semula." kata Gina sambil memperlihatkan kepada Aris.


"Sayang aku mohon." kata Aris dengan nada memelas.


"Mohon apa sayang. Mohon mau nyentuh atau mohon cepat pasang baju?" tanya Gina dengan menggoda Aris.


"Mohon pasang bajunya sayang. Dalam hitungan detik aku udah nggak kuat lagi ini." jawab Aris kepada Gina.


Gina melihat kebagian favoritnya. Ternyata memang benar. Ada alarm siaga satu yang harus dihindari Gina. Gina dengan gerakan cepat memakai bajunya. Ritual memakai lotion dipakai Gina setelah memakai bajunya.


"Sayang, kamu." kata Aris sambil masuk ke dalam kamar mandi.


"Maafin aku sayang. Aku kira dia bukan pegangan hidup lagi." teriak Gina dari depan kaca riasnya.


"Sekarang bukan pegangan hidup lagi sayang. Tapi penglihatan hidup." jawab Aris, sambil memainkan kartunya.


Gina selesai berhias dengan riasan andalannya. Saat itu juga Aris selesai dengan kerja lemburnya.


"Hahahaha, muka mupeng kamu lucu sayang." kata Gina sambil menyentuh yang dikerjain Aris di dalam kamar mandi tadi.


"Sayang jangan mulai lagi. Capek main solo sayang." jawab Aris memelas.


"Sip. Aku nggak ganggu lagi." jawab Gina.


Aris dan Gina turun ke lantai dasar rumah. Mereka akan pergi konsul ke dokter kandungan Gina. Kali ini adalah jadwal kesekian kali mereka akan melihat Blip. Aris mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Ini kemajuan berikutnya dari Gina. Gina pengen mecoba naik mobil hanya berdua dengan Aris saja. Gina ingin tau apakah Blip menolak atau tidak.


"Sayang aku mau es krim itu sayang." kata Gina sambil menunjuk tukang jual es krim di depan mobil mereka.


"Seriusan??" tanya Aris tidak percaya dengan keinginan Gina.


"Serius." jawab Gina yakin.


Aris yang sebenarnya tidak ingin Gina memakan jajanan pinggir jalan, terpaksa menghentikan mobilnya. Aris kemudian turun dari mobil untuk membelikan es krim.


"Sayang, kamu yang ngambilin es krimnya. Bukan mamangnya." teriak Gina dari dalam mobil.


Aris kemudian mengambilkan es krim untuk Gina. Para ibu ibu dan gadis memfhoto Aris yang sibuk dengan es krim.


"Sayang ini."


Aris memberikan es krim yang diminta oleh Gina tadi

__ADS_1


"Makasi sayang." jawab Gina.


Gina memakan es krim itu dengan sangat lahap Gina sama sekali tidak berminat untuk membagi es krimnya dengan Aris. Aris hanya pasrah dengan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan istrinya itu.


"Enak sayang?" tanya Aris yang melihat es krim Gina sudah habis.


"Tandas sayang." jawab Gina.


Aris kemudian melajukan mobilnya agak sedikit cepat. Tadi selama Gina makan es krim, mobil dilajukan Aris dengan pelan. Aris takut Gina tersedak saat makan es krimnya. Gina yang memang dasarnya suka tidur semenjak hamil, tertidur sepanjang sisa perjalanan menuju rumah sakit. Aris yang baru sadar kalau Gina tertidur saat sudah sampai di lobby rumah sakit merasa pasrah dengan kelakuan Gina.


"Sayang, kamu pake tidur lagi. Gimana cara aku mau bangunkan." kata Aris.


Aris melihat ke dalam rumah sakit, Aris berharap ada seseorang yang bisa dia mintai tolong untuk membangunkan Gina. Ternyata dewa penolong Aris masih ada. Aris melihat Mira dan Bayu berjalan keluar dari dalam rumah sakit.


"Mir, Bay" teriak Aris.


Bayu dan Mira yang merasa nama mereka dipanggil melihat ke sumber datangnya suara. Mereka berdua melihat Aris yang melambai. Mira dan Bayu mendekati Aris.


"Sendirian kak?" tanya Mira yang tidak melihat Gina di sebelah Aris.


"Sama Gina. Tapi dia tertidur di mobil. Rencananya kami akan konsul hari ini." jawab Aris kepada Gina.


"Kenapa nggak dibangunin?" tanya Mira.


"Nah itu masalahnya. Asal aku menyentuh badannya, dia akan langsung muntah muntah. Sepertinya calon anak kami masih marah." kata Aris sambil menatap nanar ke arah mobilnya.


"Ayuk, biar aku bangunin. Sekalian aku mau lihat calon keponakan lucu itu." jawab Mira.


Mira dan dua pria tampan itu menuju mobil. Mira geleng geleng kepala melihat sahabatnya yang semakin cantik semenjak hamil itu.


"Gin. Oi Gina ada maling." teriak Mira.


Gina yang mendengar dab anti dengan kata maling labgsung bangun dan keluar dari mobil. Aris yang melihat kelakuan absurd Gina langsung merasa heran. Hanya dengan kata maling Gina langsung bangun.


"Gue harus tanya. Ada apa dengan kata maling." kata Aris yang hanya di dengar oleh Bayu.


"Setuju. Kata loe tadi Gina susah bangun kalau nggak di goyang badannya. Ternyata hanya dengan kata maling saja Gina bisa bangun." jawab Bayu.


"Gila loe Mir. Bangunin gue dengan kata kata itu. Malukan gue" kata Gina sambil menggamit lengan Aris.


"Ayok jalan." perintah Gina kepada mereka semua.


Mereka berempat berjalan menuju tempat dokter yang biasa Gina temui.


"Gin, tadi kak Aris minta tolong gue bangunin elu, katanya kalau kak Aris megang loe. Loe akan mual mual. Nah sekarang kok nggak mual loenya?" tanya Mira yang heran dengan semuanya.


"Kalau kak Aris nyentuh gue duluan, gua muntah. Tapi kalau gue megang duluan maka nggak akan muntah." jawab Gina sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Oh jadi enak di elu nggak di kak Aris dobg ya." kata Mira kemudian.


"Bener" jawab Aris langsung.


"Malahan ada yang lebih parah lagi. Tapi itu rahasia perusahaan. Nggak boleh diceritain." balas Gina.


"Gue tau. Apa yang nggak tau kelakuan loe oleh gue." balas Mira.


"Hahahaha" Gina tertawa.


Tak terasa mereka sampai di depan ruangan dokter kandungan.


"Udah janjian?" tanya Mira.


"Belum. Lupa." jawab Gina.


Mira melangkahkan kakinya ke arah yang lumayan jauh dari pendengaran Aris.


[Hallo dokter Ranti. Ini saya Mira.] kata Mira saat panggilan mereka terhubung.


[Ya direktur. Ada yang bisa saya bantu?] kata dokter.


[Nona Gina sudah depan pintu Anda. Terimakasih.] kata mira memberitahukan tujuannya menghubungi dokter Ranti.


dokter Ranti membuka pintu ruangannya. Dia melihat Gina, Mira dan dua pria tampan yang satu Ranti sudah kenal sudah duduk di kursi tunggu.


"Masuk Nyonya." kata dokter Ranti.

__ADS_1


Dokter Ranti menundukkan sedikit kepalanya kepada Gina dan Mira. Hal yang membuat Bayu menjadi kagum kepada calon istrinya itu. Sedangkan Aris menyangka kalau dokter Ranti menundukkan kepalanya sedikit karena dia adalah Tuan Muda Soepomo.


Gina dan yang lain masuk ke dalam ruangbpraktek dokter Ranti.


"Silahkan duduk Tuan dan Nyonya." kata dokter Ranti.


Aris dan Gina duduk di kursi depan meja praktek Ranti.


"Mari Nyonya kita periksa ke ruangan dulu. Nyonya silahkan berbaring dulu. Tolong kancing bajunya yang dibagian perut Nyonya buka ya." kata dokter Ranti.


Gina membuka kancing baju di bagian perutnya. Mira menerobos masuk. Dia penasaran ingin melihat calon keponakannya.


"Mau ngapain?" tanya Aris yang melihat Mira sudah di posisi seberangnya.


"Mau lihat calon keponakan. Nggak ada yang bisa larang." jawab Gina kepada Mira sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Dasar." jawab Aris sambil tersenyum.


dokter mengoleskan gel ke perut Gina. Kemudian mengambil alat ultrasondnya. Dokter menggerak gerakan alat tersebut di perut Gina.


"Nah Nyonya, Tuan dan Nona, ini dia calon buah hati Nyonya dan Tuan." kata dokter sambil memperbesar janin yang sudah terlihat itu.


"Dokter apakah Blip sehat?" tanya Aris.


"Melihat dari semua ukuran dan usia kandungannya. Blip bisa dikatakan sehat." jawab dokter Ranti.


"Maksudnya bisa dikatakan sehat ini gimana dokter?" tanya Aris yang tidak suka mendengar kata bisa dikatakan sehat.


"Maksud saya gini Tuan. Blip sehat. Semuanya sesuai dengan usia kandungan Nyonya Gina. Tapi kalau saya boleh saran kepada Nyonya. Nyonya perbanyak makan pokat dan esk crim yang mengandung susu." kata dokter.


"Untuk apa itu dok?" tanya Aris.


Gina dan Mira geleng geleng kepala saja. Semua pertanyaan ditanyakan Aris seorang.


"Biar blip makin oke Tuan." jawab dokter.


"Selesai Nyonya. Silahkan pakai lagi kancing bajunya." kata dokter.


Mira memasangkan kembali kancing baju Gina. Gina kemudian turun dari kasur periksa. Mereka berjalan menuju ruangan kontrol kembali. Aris dan Gina duduk di kyrsi tadi. Sedangkan Mira dan Bayu duduk di sofa. Mira memelihatkan foto usg calon anak Aris dan Gina kepada Bayu.


"Kenapa pengen?" tanya Bayu kepada Mira.


Mira mengangguk dengan mantap.


"Sip. Aku minggu depan ke rumah orang tua mu." jawab Bayu.


"Serius?" tanya Mira yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Bayu.


"Serius. Ngapain boong." jawab Bayu.


"Makasi sayang." kata Mira yang langsung memeluk Bayu.


Aris dan Gina melihat Mira dan Bayu berpelukan saling pandang pandangan. Gina mengangkat bahunya tanda tidak tau apa yang sedang dibicarakan dua makhluk tersebut.


"Nyonya vitamin yang anda konsumsi masih ada atau udah habis?" tanya dokter Ranti.


"Masih ada dokter. Apakah saya perlu nambah vitamin lagi?" tanya Gina.


"Sepertinya tidak Nyonya. Kalau kurang Nyonya hubungi saya, nanti akan saya antar ke rumah." kata dokter.


"Baiklah. Kami permisi dulu." kata Gina.


"Bentar. Dokter, ada obat kalau saya nyentuh istri saya, dia menjadi tidak mual lagi?" tanya Aris kepada dokter.


"Wah kalau itu nggak ada Tuan. Sepertinya itu bawaan hamil Tuan. Jadi maaf Tuan hanya bisa pasrah saja" jawab Ranti sambil tersenyum penuh makna.


"Berapa lama?" tanya Aris.


"Nggak ada batas waktunya Tuan." jawab dokter Ranti.


"Oke makasih." Aris berkata dengan nada lemas.


Gina dan Mira yang mendengar nada suara Aris langsung tertawa terbahak bahak. Mereka tidak menyangka seorang Aris akan menanyakan hal itu kepada dokter.


"Kita ke mall yuk" ajak Gina.

__ADS_1


Bayu dan Mira menagguk setuju.


__ADS_2