Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Penculikan Sari


__ADS_3

"Bunda, Argha boleh pinjam laptop Bunda kan ya?" tanya Argha meminta izin untuk menggunakan laptop milik Bundanya itu.


"Boleh sayang, ambil di dalam laci meja Bunda ya." jawab Ghina yang sudah tau anaknya akan melakukan apa dengan laptop miliknya.


"Uni tolong Argha Uni, Argha butuh bantuan Uni." ujar Argha mengajak Frenya untuk menolong dirinya.


Frenya berdiri dari tempat duduknya, Dia dan Argha kemudian berjalan menuju kamar Bunda.


Aris melihat Arga dan Frenya berjalan menuju kamar mereka.


"Sayang, apa yang akan mereka lakukan dengan laptop kamu Sayang?" tanya Aris yang penasaran denga apa yang akan dilakukan oleh Argha dan Frenya.


"Kamu tenang aja sayang, sebentar lagi kita akan mendapatkan apa yang mereka cari. Doakan saja mereka berdua berhasil melakukan apa yang sedang mereka cari. Ini untuk kebaikan Sari, sayang." ujar Ghina menjawab pertanyaan Aris.


"Semoga saja sayang. Semoga Argha dan Frenya bisa memberikan kita angin segar tentang keberadaan Sari." jawab Aris sambil melihat Argha dan Frenya yang sudah masuk ke dalam kamar mereka berdua.


"Ghin" ujar Mira memanggil Ghina.


Mira memberi kode kepada Ghina untuk mengikuti dia ke bagian belakang rumah. Mereka berdua harus membahas tentang masalah ini.


"Sayang, sepertinya Mira ada perlu dengan aku sayang, aku ke dia sebentar ya." Ghina meminta izin kepada Aris untuk berbicara dengan Mira.


Aris yang paham dengan kepanikan Ghina dan Mira, memberikan izin kepada Ghina untuk berbicara dengan Mira.


"Makasi sayang." jawab Ghina.


Ghina kemudian berjalan dengan Mira menuju belakang rumah, tapi sebelum mereka ke sana, Ghina singgah dahulu dia mencari Bik Imah dan Suster Rina.


"Bik Imah, tolong buatkan minuman untuk semua keluarga yang di ruang tamu ya. Tanyakan dahulu mereka mau apa, kemudian bawa puding yang saya buat pagi tadi." ujar Ghina kepada Bik Imah dan Rina yang sedang duduk di dapur kotor. Mereka sedang menyiapkan bahan - bahan untuk memasak menu makan malam.


"Baik Nyonya muda." jawab Bik Imah.


Bik Imah kemudian berjalan menuju ruang tamu, dia akan menanyakan apa minuman yang diinginkan oleh semua anggota keluarga yang sedang berkumpul di ruang tamu.


"Nyonya, maaf apakah saya boleh bertanya?" tanya suster Rina.


"Boleh sus, mau tanya apa?" tanya Ghina sambil tetap memotong pudih buah yang dibuatnya tadi pagi.


"Apakah benar Nona Sari diculik Nyonya besar?" tanya Rina dengan nada sedikit takut.


"Benar Rina, kita sekarang berdoa saja semoga Nona Sari cepat bertemu." jawab Ghina sambil menyalin puding buah yang sudah siap di potong potongnya tadi.


"Kasian Tuan Bram Nyonya. Semoga Nona Sari cepat bertemu Nyonya." Rina ikut mendoakan kebaikan untuk Sari.


"Aamiin Rina. Makasi kamu sudah perhatian dengan sahabar saya." jawab Ghina menatap tulus ke Rina.


"Nyonya, Nona Sari adalah sahabat Nyonya, sekarang akan menjadi istri Tuan Bram. Kami di sini sangat cemas mendengar selentingan berita yang dibawa oleh Tuan Muda dan Tuan Bram." jawab Rina menceritakan darimana dia tau tentang permasalahan itu.


"Rina hidangkan ini ya ke ruang tamu." ujar Ghina memerintahkan Rina untuk mengantarkan puding buah yang sudah dipotong potong, Ghina juga meletakkan buah potong di atas piring. Rina membawa semua menu hidangan yang sudah disiapkan oleh Ghina ke ruang tamu.


Ghina yang telah selesai menyiapkan semua hidangan, berjalan menuju Mira yang sudah duduk di tepi kolam renang. Ghina tau Mira akan selalu panik saat ada masalah yang menimpa salah satu dari mereka bertiga. Ghina duduk di sebelah Mira. Mira langsung memeluk Ghina, dia menangis terisak isak.


"Ghin, siapa yang tega berbuat seperti ini dengan sahabat kita. Apa salah Sari dengan mereka. Kita tau Sari tidak pernah punya musuh. Kenapa orang itu sangat tega dengan Sari. Apa salah Sari kepada mereka." ujar Mira sambil menangis terisak isak dan memeluk Ghina dengan kuat.


Ghina mengusap punggung Mira. Dia berusaha menyabarkan Mira dan menenangkan tangis Mira kembali.


"Mir, kita harus tenang, kalalu kita seperti ini takutnya nanti kita tidak menemukan jalan terbaik untuk pencarian Sari. Jadi tenangkan hatimu dulu Mir." kata Ghina membujuk Mira supaya kembali tenang.


"Tapi Ghin, gue nggak bisa tenang sebelum gue tau dia dimana." kata Mira masih dengan tangisnya.


"Mir, kalau kamu seperti ini terus, mending kamu pulang dan beristirahat, kalau tidak kamu istirahat di kamar tamu. Aku nggak mau nanti kamu yang masuk rumah sakit lagi. Kamu mau membuat aku makin panik???" ujar Ghina kepada Mira yang berusaha menghentikan tangisnya.


"Ghina, gimana gue bisa beristirahat, sahabat gue dimana, dia sedang ngapain, apakah dia diperlakukan orang dengan baik atau tidak, gue sama sekali tidak tau.. Gimana caranya gue bisa istirahat." ujar Mira dengan berapi api.


Ghina sama sekali tidak menjawab perkataan yang diucapkan oleh Mira tadi. Ghina hanya menunggu sampai Mira benar benar dalam keadaan tenang kembali. Ghina tidak mau memaksa Mira, dia membiarkan Mira menenangkan dirinya sendiri. Ghina dengan sabar mendampingi dan menunggui Mira sampai Mira merasa tenang kembali.


Ghina memainkan ponsel miliknya. Dia sedang memantau pekerjaan Argha dan Frenya yang sekarang sudah pindah ke rooftop rumah. Ingin sekali rasanya Ghina menurut mereka ke rooftop, tetapi apalah daya Ghina yang harus menunggui Mira. Ghina tidak mungkin meninggalkan Mira yang masih terguncang karena peristiwa yang sedang menimpa Sari


.


"Ghin, gue udah tenang. Apakah kita perlu menghubungi Alex untuk mengurus masalah ini?" ujar Mira yang sudah berhasil menenangkan kembali dirinya.


"Nah ghitu dong. Kamu harus bisa mengontrol dirimu. Aku selama ini mengenal kamu yang paling sabar diantara kita bertiga, eeeee sekarang malahan kamu yang tidak sabar." ujar Ghina sambil tersenyum ke arah Mira.


Mira tersenyum mendengar perkataan Ghina. Dia sangat memaklumi kenapa Ghina sempat marah tadi, dia memang salah karena sudah terlalu panik menghadapi perkara ini.


"Jadi apa kamu sudah menghubungi Alex Ghin?" tanya Ghina yang penasaran apakah kelompok mereka sudah melakukan pergerakan.


"Sudah, loe tenang aja, sekarang kita berdua juga akan bergerak setelah Argha mendapatkan dimana posisi Sari sekarang, jadi kita sekarang tinggal menunggu perintah dari Argha, setalah Argha dapat informasinya, mari kita bergerak. Sekarang loe harus berhemat tenaga aja, kita akan menari indah." ujar Ghina sambil tersenyum dengan senyum mematikan.


Mira sangat tau arti dari senyum itu, senyum yang akan membuat semua orang menjadi takut dan lari terbirit birit saat Ghina sudah memberikan senyum mautnya. Senyuman yang sama dengan yang diberikan Ghina kepada selingkungan Aris beberapa tahun yang lewat.


"Wow senyum itu kembali muncul lagi, gue rindu senyuman itu, apakah levelnya masih sama antara sebelum Argha lahir dengan sesudah kelahiran Argha." ujar Mira sambil menggoda Ghina.


"Hahahaha. Sama sama kita buktikan. Sepertinya nyali orang itu luar biasa juga melawan kita bertiga." jawab Ghina yang kembali senang  sahabatnya sudah kembali bisa mengendalikan dirinya kembali.


"Udah Mir, kita kembali kepada pria pria yang udah panik itu, sepertinya mereka tidak bisa berpikir dengan sehat sekarang. Kita harus membantu mereka, tapi tetap dengan cara kita." ujar Ghina.


"Sampai kapan loe akan menutupi semua ini dari Aris??? Sampai ubanan??" ujar Mira menggoda Sari yang masih tidak mau memberitahukan siapa dia sebenarnya kepada Aris.


" Loe kayak nggak tau Aris aja, sedangkan tau gue yang punya GA Grub aja dia udah syok, apalagi kalau dia tau gue mantan ketua kelompok yang sebenarnya mirip dengan blak jak tapi kita ganti nama. Nah apa yang terjadi coba. Mau loe gur jadi janda muda???" ujar Ghina menatap Mira.


"Hahahahahaha, kalau loe jadi janda sekarang, gue jamin banyak orang yang mau sama loe, nggak butuh waktu lama pasti loe udah sold out. Ibaratnya ne ya, habis masa idah maka loe akan langsung nikah" ujar Mira menggoda Ghina.


"Udah udah, kapan sampenya kita di ruang tamu kalau ribut terus." ujar Ghina menghentikan obrolan nggak mutunya dengan Mira.


Mereka berdua kembali masuk ke dalam rumah, Ghina berharap semua keluarganya sudah bersih bersih atau minimal beranjak dari ruang tamu. Tapi saat Ghina dan Mira sudah berada di dapur bersih, ternyata keluarga mereka masih setia dengan pakaian yang sama dan diposisi yang sama seperti yang mereka tinggalkan tadi.


"Ghin, bukannya kita pergi udah ada dua jam kan ya??" tanya Mira sambil menatap keluarganya yang sangat betah duduk dengan posisi yang sama.


"Gimana lagi Mir. Mereka tidak bisa mengendalikan kepanikan mereka, makanya jadi seperti itu. Nah kalau loe ikutan panik kayak tadi, apa nggak makin stress gue. Gue hanya tinggal punya loe, Argha dan Frenya. Daniel nggak bisa diharapin lagi. Rani sedang gila gilanya ngidam." ujar Ghina sambil menatap ke arah keluarganya.


Mereka berdua kemudian menuju keluarga besarnya kembali.


"Apa udah ada kabar sayang?" tanya Ghina kepada Aris.


"Belum sayang, penculik itu sangat rapi bekerja. Sepertinya mereka kelompok mafia yang lain." ujar Aris.


"Kelompok mafia?" tanya Mira dengan keras.


"Yap, kami menganalisa ini semua bisa jadi pekerjaan kelompok mafia yang punya dendam dengan kelompok black jack." jawab Aris.


"Dendam??? Apakah pernah kelompok black jack bermasalah dengan kelompok mafia yang lain??" tanya Ghina menatap Papi, Aris dan Bram.


"Setau Papi sampai sekarang belum ada bermasalah dengan mereka. Ntah mereka yang merasa bermasalah dengan black jack." jawab Papi.


"Sayang, apa resiko terberatnya kalau bermasalah dengan mafia??" tanya Ghina.


"Kamu tau kok sayang apa yang terjadi kalau kita telat menyelamatkan Sari. Jadi sekarang kelompok black jack sedang berusaha sekuat tenaga untuk mencari keberadaan Sari." jawab Aris.


Mira menyimak semua kalimat kalimat yang dikeluarkan oleh Aris. Mira kemudian beranjak pergi menuju roft top rumah utama. Dia pergi mencari Argha dan Frenya yang sedang mencari dan melacak keberadaan Sari sekarang.

__ADS_1


Setelah menemukan Argha dan Frenya yang sedang duduk dan sibuk dengan laptop mereka masing masing, Mira duduk di sebelah Argha. Argha yang melihat Mira duduk di dekat dirinya menghentikan pekerjaannya sebentar.


"Ada apa Mi?" tanya Argha yang sangat yakin Mira pasti ada keperluan dengan dirinya.


"Gha apa kamu dengan Frenya sudah menemukan dimana posisi Sari sekarang?" tanya Mira sambil melihat laptop Argha yang masih sibuk menganalisis data yang ada.


"Belum Mi. Sepertinya mereka benar benar rapi melakukan penculikan ini, kayaknya mereka orang orang pilihan Mi." jawab Argha sambil melihat olahan data yang sedang dilakukan oleh laptopnya.


"Gha, tadi Daddy ngomong kalau yang melakukan penculikan adalah kelompok mafia yang memiliki dendam dengan gank Black jack." Mira memberitahukan kepada Argha tentang analisa Aris dan Bram.


"Gank mafia" gumam Argha yang langsung terdiam saat mendengar siapa yang telah menculik Sari.


"Uni kita harus bergerak cepat. Nggak mungkin lama lama Uni, ini masalah luar biasa, kita sama taulah gimana kalau berurusan dengan gank mafia" ujar Argha sambil menatap Frenya.


"Siap Gha. Kita akan langsung eksekusi" jawab Frenya.


 


SARI


Keadaan Sari sangat memprihatinkan tangannya diikat ke belakang badan dengan cukup kuat, mulutnya di sumpal memakai sapu tangan, matanya di tutup dengan dasi ntah punya siapa. Para penculik meletakkan dia di dalam bagasi mobil yang sangat sempit itu.Sari baru tersadar dari pengaruh bius yang tidak sengaja terhirup oleh dirinya saat di toilet mall. Sari berusaha melepaskan tali yang mengikat tangannya.Tapi usahanya hanya sia sia saja, jangankan untuk terlepas bergeser sedikit aja tidak ikatan itu.


"Kurang ajar, siapa yang sudah berani menculik gue. Mereka kira gue binatang apa, di tarok di bagasi, mana diikat lagi." ujar Sari ngedumel dalam hati.


Sari kembali berusaha melepaskan ikatan tangannya, tetapi hasilnya tetap sama, tidak terjadi perubahan apapun.


"Mending gue hemat tenaga aja, ini bener bener luar biasa susahnya. Mereka bener bener terniat untuk mengikat gue." ujar Sari dalam hati.


Sari kemudian berdiam diri, dia mencoba fokus dengan permasalahan yang sedang menimpa dirinya.


"Huf, siapa coba yang berani beraninya bermain api dengan gue." kata Sari.


"Mereka memiliki nyawa lebih kayaknya ini, apa mereka tidak tau kalau gue bisa lebih kejam dari Ghina saat gue marah." ujar Sari lagi.


Sari yang sudah mulai lelah memilih untuk tidur dia tidak mungkin menyia nyiakan oksigen yang hanya terbatas di dalam bagasi mobil.


Mobil yang membawa Sari berbelok masuk ke dalam gudang lama yang terletak di tepi laut. Tempat yang sangat sepi dan jauh dari peradaban, untuk masuk ke sana saja harus melalui hutan pinus yang sangat rapat dan lembab. Mobil yang dikendarai penculik Sari parkir di depan sebuah gudang, empat orang pria berbadan besar berdiri di depan bagasi mobil, mereka akan membawa Sari ke dalam gudang. Tempat yang akan ditinggali Sari mulai dari hari ini sampai sisa akhir hidupnya.


Seorang pria membuka pintu garasi, dia membuka ikat tutup mata Sari dengan kasar. Sari menatap pria itu dengan tatapan tajam.


"Hahahahaha, ini ternyata salah satu pimpinan kelompok yang katanya tidak mafia tapi sama dengan mafia, kayak gini ternyata rupanya, baru tau gue." ujar pria yang membuka ikat mata Sari.


Sari kemudian mereka seret untuk masuk ke dalam gudang. Sari meronta ronta di sepanjang jalan. Semakin kuat Sari meronta ronta semakin kuat para penculik menarik dirinya untuk berjalan. Sari terseret seret di jalan yang berbatu, Sari yang hari itu memakai dress membuat kaki kaki putih mulusnya tergores oleh batu batu di sepanjang jalan menuju gudang. Sari menahan rasa perih itu, dia tidak mau terlihat seperti orang kesakitan, Sari berusaha mati matian menahan rasa perih di kakinya.


Saat sampai di depan ruangan dari salah satu gudang, salah seorang penculik membuka pintu gudang dan mendorong Sari dengan kuat untuk masuk ke dalam gudang. Sari terlempar ke sudut ruangan gudang, kepalanya kembali terbentur ke dinding gudang.


"Aduh" ujar Sari merasakan sakit di kepalanya.


"Kenapa sakit Nona?" kata salah seorang pengawal yang tadi menyeret Sari ke gudang.


Sari pengen menjawab, tapi mulutnya di sumpal dengan sapu tangan, hal ini membuat Sari tidak bisa membalas ucapan pengawal tersebut.


"Uuuuuu aaaa" ujar Sari yang berhasil keluar dari mulutnya.


"Apa??? Ooooo, karena mulut Nona di sumpal makanya Nona tidak bisa berbicara dengan benar??? Oke akan saya lepaskan." ujar pengawal tersebut.


Pengawal itu melepaskan sumpal mulut Sari. Salah seorang pengawal yang berada di dalam ruangan itu, maju menghampiri Sari, dia melihat dengan dekat wajah Sari. Pengawal itu berniat membelai wajah Sari dengan punggung jarinya. Tapi sebelum sempat jari jari pengawal menyentuh wajahnya,


"Cuih" Sari meludahi wajah pengawal itu dengan salivanya.


Pengawal yang tidak menyangka Sari akan berbuat seperti itu mengelap mukanya, dia benar benar marah kepada Sari. Pengawal tersebut maju dan memegang rahang Sari dengan sangat kuat.


"Berani beraninya loe meludahi muka gue???? Bosan hidup loe ha." ujar pengawal itu.


"Hahahahahahaha, ternyata loe kuat juga ya. Gue mau lihat sampai mana kuat loe menerima siksaan dari kami semua." ujar pengawal itu.


Buk, sebuah tinju mendarat di perut Sari. Sari yang tidak siap menerima tinju tersebut terhuyung kebelakang.


'Wow ternyata mereka tidak main main, sepertinya ini serius.' ujar Sari dalam hatinya.


Pengawal yang tadi meninju perut Sari kembali mengangkat tangannya, tiba tiba salah satu kawannya menahan tangan yang menggantung di udara itu.


"Sudahlah kawan, kita tidak boleh membunuh dia. Kita tinggal tunggu saja Nyonya besar" ujar pengawal yang lainnya.


Kedua pengawal itu meninggalkan Sari sendirian di dalam gudang. Saat merasakan dirinya sudah aman, Sari duduk di sudut gudang. Dia memikirkan bagaimana caranya memberitahukan posisinya kepada para pengawal pribadinya. Sari memfokuskan pikirannya kepada cara memberikan informasi keberadaannya kepada semua orang. Sari terlihat berpikir keras.


"Huf capek mikir." ujar Sari sambil menghembuskan nafasnya dengan keras.


"Ngomong ngomong gue di sekap dimana ya" ujar Sari yang penasaran dia sedang berada dimana.


Sepanjang perjalanan tadi Sari sangat penasaran dia mau dibawa kemana. Sari merasakan sangat lama perjalanan yang dilalui semenjak dia sadar dari pengaruh obat bius itu. Sari melangkah mendekati sebuah dinding yang ada lobangnya sedikit. Sari penasaran saat ini dia dimana.


Sari berusaha melihat ke luar ruangan dari celah sempit itu, tapi hasil yang dilihat Sari hanyalah pemandangan gelap gulita. Benar benar gelap tidak ada cahaya sedikitpun di sana.


Bur bur bur. Saat Sari mendengar suara suara itu, Sari bisa menyimpulkan kalau dia sekarang berada di tepi laut.


"Hem di tepi laut ternyata. Mereka salah mencari tempat kalau begitu." ujar Sari dengan tersenyum.


Sari kemudian kembali duduk, dia menyandarkan punggungnya ke dinding gudang. Sari kembali terdiam dan berpikir.


"Kenapa gue bisa lupa ya." ujar Sari yang mengingat kalau dia pernah diberi oleh Argha sebuah alat untuk memberitahukan posisi saat keadaan darurat terjadi menimpa dirinya, Ghina, dan Mira.


 


RUMAH UTAMA SOEPOMO


Argha termenung dia benar benar tidak habis pikir kenapa Sari sampai saat ini belum menekan alat yang diberikan oleh dirinya kepada Sari. Argha sudah menunggu nunggu moment itu. Moment dimana Sari menekan tombol sinyal bahaya itu.


"Ah Tante Sari kemana coba, kenapa dia tidak menekan tombol itu. Ahhhhhhh kesal" teriak Argha yang membuat Mira dan Frenya menatap Argha dengan tajam.


"Kenapa?" tanya Mira yang penasaran dengan Argha.


"Mami, Mami ingatkan ya, Argha pernah menanam sebuah chip untuk pelacak di bandul kalung Mami?" tanya Argha kepada Mira.


"Ya, yang ini kan?" ujar Mira lagi.


"Bener, coba pencet sekarang" ujar Argha.


Mira memencet tombol tersebut, saat itu juga tombol hijau berkedip di jam milik Argha dan menampilkan posisi Mira berada. Argha kemudian menstransfer data dari jam miliknya ke laptop, pada layar laptop terpampang posisi Mira sekarang.


"Gha bukannya ini juga kamu berikan ke Sari dan Ghina ya?" tanya Mira yang teringat saat itu, Argha memberikan mereka bandul kalung yang sudah berisi chip.


"Bener Mami, ini Argha dari tadi menunggu nunggu Tante Sari memencet bandul kalungnya, tapi sampai sekarang masih belum." ujar Argha menahan emosinya karena Sari yang masih belum menekan bandul miliknya.


"Mungkin tangan Tante Sari diikat Gha, makanya tante Sari tidak bisa menekan kalung miliknya." ujar Mira.


"Bisa jadi Mi, tapi apa tante Sari nggak bisa berusaha ya Mi membuka tangannya?"


"Susahlah Gha, kalau mereka mafia, mereka pasti tau bagaimana cara mengikat dengan kuat dan susah untuk dibuka orang." jawab Mira.


"Huft, tipis banget peluangnya." ujar Argha.

__ADS_1


Sedangkan di ruang tamu, semua laki laki terlihat masih memikirkan berbagai cara untuk mencari Sari yang sudah dari pagi hilang.


"Pi lebih baik mandi dulu Pi, setelah itu kita makan malam. Kalau kita sakit siapa yang akan mencari Sari." ujar Ghina.


"Ghina benar, mari kita mandi, setelah itu kita akan menghubungi anggota black jack yang sudah melaukan pencarian, semoga salah satu dari mereka mendapatkan informasi dimana keberadaan Sari." ujar Papi.


Semua orang bergerak menuju kamar mereka, sedangkan Bram tetap di posisi duduknya, Papi melihat Aris hendak menuju Bram.


"Ris, kamu mandi sana, biar Bram sama Papi." ujar Papi menghentikan langkah Aris yang ingin menemui Bram.


Aris dan Ghina kemudian menuju kamar mereka, Aris akan membersihkan dirinya terlebih dahulu, Dia terlihat benar benar lelah.


"Sayang Argha dan Frenya apa sudah balik dari roft top?" tanya Aris yang sama sekali tidak melihat keberadaan Argha dan Frenya di kamar.


"Sepertinya udah sayang, mungkin dia di kamar Frenya." jawab Ghina asal comot jawaban.


"Kamu cari dia sana, ntah udah mandi ntah belum tu anak." ujar Aris menyuruh Ghina mencari Argha.


Aris merasa sangat bersalah, karena sibuk memikirkan peculikan Sari, mereka sampai tidak memperhatikan Argha udah mandi atau belum.


Ghina kemudian berjalan keluar dari kamar menuju kamar Frenya. Dia mengetuk pintu kamar anak perempuannya itu, Frenya yang memang berada di kamar dengan Argha membukakan pintu kamarnya.


"Nya, adek kamu udah mandi atau belum?' tanya Ghina yang melihat Argha masih sibuk dengan laptopnya.


"Udah Bun. Tapi dia masih sibuk dengan laptopnya dari tadi." jawab Frenya sambil masuk ke dalam kamar.


"Sayang udah dulu, kita makan malam dulu, nanti lanjutkan lagi." kata Ghina sambil mencium puncak kepala Argha.


"Bunda kenapa Tante Sari nggak juga memencet bandul kalungnya Bun." ujar Argha mengatakan hal yang sama dengan yang ditanyakannya kepada Mira.


"Bandul kalung??? Maksud Argha seperti bandul kalung yang Argha kasih ke Bunda???" tanya Ghina sambil mengangkat bandul kalungnya.


"Iya sama kayak gitu." ujar Argha lagi.


"Gha, apa kamu ingat setingan kalung milik Tante Sari?" tanya Ghina yang mendadak antusias dengan berita dari Argha.


"Ingat lah Bun, tapi setingannya ada di markas." jawab Argha lagi.


"Apa kamu bisa percaya dengan Om Juan dan Om Alex untuk membiarkan mereka melacak benda itu dengan memakai setingan dari kalung milik kamu???" tanya Ghina lagi.


"Iya ya Bun, kenapa nggak kepikir sampe sana sama Argha dari tadi." ujar Argha yang kembali bersemangat untuk membuka laptop Bundanya.


"Argha stop. Sekarang kita makan malam. Nanti baru mulai lagi. Serahkan hal itu kepada om Juan dan Om Alex." ujar Ghina dengan nada dingin dan menatap tajam Argha.


"Baik Bun." jawab Argha dengan lesu.


"Sayang Bunda tidak melarang Argha untuk menemukan dimana Tante Sari, tapi Arhga juga harus memikirkan kesehatan Argha. Argha masih kecil, Argha masih harus banyak belajar. Kalau Argha memaksakan semuanya harus selesai sekarang, Bunda yakin hasilnya tidak akan maksimal." ujar Ghina memberikan nasehat kepada anak bungsunya yang sedang semangat semangatnya untuk melacak keberadaan Sari.


"Argha harus ingat sayang, kerja terburu buru maka hasilnya juga akan terburu buru." lanjut Ghina.


" Iya Bun, maafkan Argha." ujar Argha kepada Ghina.


"Ghina marah dengan Bunda?" tanya Ghina kepada anak bontotnya itu.


"Nggak, Argha sangat sayang sama Bunda, Argha tidak marah Bunda nasehati. Argha sangat senang Bunda nasehati. Itu tanda Bunda sayang dengan Argha." ujar Argha memeluk Bundanya.


"Daddy juga sayang Argha dan Uni" ujar Aris di depan pintu.


Mereka berempat berpelukan erat.


"Uda ikut" teriak Daniel.


Daniel dan Rani masuk ke dalam kamar Frenya mereka berenam berpelukan erat.


"Bun, Uda ada perlu" ujar Daniel kepada Ghina saat pelukan mereka urai.


"Ada apa?" tanya Ghina penasaran.


"Apakah ada masalah baru lagi?" tanya Ghina yang sudah lelah dengan masalah masalah yang silih berganti datang menimpa keluarga mereka.


"Rani pengen rendang padang Bun" ujar Daniel memberitahukan ngidam Rani.


"Mau sekarang atau bisa besok Ran?" tanya Ghina kepada Rani


"Kapan aja Bun, Rani mau yang langsung dari Padang." ujar Rani kemudian.


"Oke Sip. Bunda akan menelpon Mak Itam, minta tolong etek untuk membuatkan rendang." jawab Ghina tersenyum kepada menantu pertamanya itu.


"Sayang lebihkan rendang belut sayang. Aku juga pengen rendang belut." kata Aris yang tiba tiba saja menginginkan rendang belut.


"Oke sip. Sekarang kita turun dulu, makan malam bentar lagi." ujar Ghina.


Mereka berenam turun menuju ruang makan, ternyata semua orang sudah berada di ruang makan. Mereka hanya tinggal menunggu Aris dan keluarganya.


Mereka semua makan dalam diam, mereka sampai sekarang masih belum menemukan titik terang keberadaan Sari.


Saat mereka makan malam, ponsel Afdhal berdering, ternyata Anggel yang menghubunginya.


"Hallo Sayang, ada apa?" tanya Afdhal


"Sayang, Ibu pingsan sayang, kami sekarang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit." ujar Anggel memberikan kabar sedih lagi kepada keluarga Soepomo.


Semua orang mendengar berita yang disampaikan oleh Anggel, Afdhal sengaja memakai loadspeakernya.


"Apa Ibu pingsan?" tanya Afdhal meyakinkan pendengarannya.


"Iya sayang Ibu pingsan. Ini kami sedang menuju rumah sakit harapan kita." kata Anggel memberitahukan tujuan rumah sakitnya.


"Oke sayang, kamu hati hati ya, ingat kamu sedang hamil. Kami akan ke sana sekarang." ujar Afdhal.


Afdhal memutuskan sambungan telpon dirinya dan Anggel.


"Gimana Yah?" tanya Afdhal.


"Kamu, Ayah dan Bram serta Papi akan menuju rumah sakit harapan kita." ujar Papi memberikan instruksi.


"Sedangkan yang lain tetap di sini memonitoring dan selalu hubungi semua anggota black jack. Tanyakan kepada mereka informasi yang mereka dapatkan tentang keberadaan Sari." ujar Papi.


"Oke Pi."


Makan malam itu harus selesai dengan cepat dari biasanya, semua orang bergerak menuju tujuan mereka masing masing. Papi dan yang lain menuju rumah sakit harapan kita untuk melihat keadaan Ibu Sari. Sedangkan Aris, Bayu dan Daniel masuk keruang kerja Papi. Mereka akan menghubungi semua anggota Black Jack dari sana.


Ghina, Mira, Frenya dan Argha masuk kedalam ruang kerja Ghina. Rani sudah diminta Daniel untuk beristirahat, dia tadi sempat merasakan kram di perutnya akibat syok mendengar penculikan Sari.


"Bun, apa kita tidak bisa ke markas malam ini?" tanya Argha yang kembali sifat tidak sabarnya muncul kembali.


"Argha tapi udah Bunda katakan" ujar Ghina.


"Maaf Bun terlalu bersemangat" ujar Argha.


Ghina kemudian menghubungi Alex, sedangkan Mira menghubungi Juan.

__ADS_1


"Au" teriak Sari dengan keras.


__ADS_2