
Mobil yang dikemudikan oleh Bayu melaju dengan sangat kencang membelah jalanan ibu kota yang sedang dalam keadaan padat sepadat padatnya. Bayu terpaksa beberapa kali memotong mobil yang berada di depannya melalui jalur kiri, jalur yang apabila ada pak lici, maka akan ditilang dan siap siap aja SIM Bayu diambil pak lici. Beberapa pengendara mengcungkan jari tengahnya kepada Bayu karena kesal, Bayu memotong lewat jalur yang salah. Saat memasuki jalur yang lumayan padat dan susah untuk memotong mobil yang di depannya, Bayu agak melambatkan laju mobilnya. Dia tidak mau mengambil resiko buruk.
"Kasih lampu besar mu Bay." kata Afdhal.
"Tapi itu tidak sopan Dhal." jawab Bayu.
"Maka jadilah untuk tidak sopan, kamu sudah terlanjur tidak sopan dari tadi." jawab Afdhal.
Bayu melihat ke arah Bram. Bram menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan Afdhal.
"Baiklah. Sekali kurang ajar tetap akan menjadi kurang" kata Bayu.
Bayu kemudian menghidupkan lampu besar mobilnya berkali kali. Mobil yang di depan Bayu langsung menyingkir. Bayu langsung menggeber kembali laju mobilnya dengan kecepatan penuh. Mereka kembali mengacungkan jari tengahnya kepada Bayu. Bayu membalas dengan membunyikan kalsonnya mengucapkan terimakasih.
"Mereka nggak tau gue bawa orang sakit apa" kata Bayu dengan kesal.
"Mana dia tau Bay. Mobil loe nggak ada tulisan Ambulance nya." jawab Bram sambil menahan tawanya dengan kalimat yang diucapkan Bayu.
Bram nggak habis pikir bisa bisanya seorang Bayu mengucapkan kalimat seperti tadi.
Mobil anggota Gina yang melihat apa yang dilakukan Bayu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tidak menyangka bahwasanya ketiga CEO di dalam mobil itu bertingkah sangat buruk. Mereka suka melanggar aturan yang ada. Apakah pak lici takut sama CEO?
"Tiga CEO gila ternyata yang kita ikuti" kata salah seorang anggota.
"Bener. Mereka nggak takut mati dan nggak takut sama kehadiran pak lici" jawab rekannya.
"Pak lici teman mereka" jawab yang bertanya tadi
"Hahahahahaha" mereka berdua akhirnya tertawa karena obrolan receh nggak guna itu.
Ketiga CEO itu kemudian kembali fokus dengan jalan dan Gina. Mereka tidak ingin terjadi apa apa terhadap Gina. Tiba tiba ponsel Gina berdering. Bram melihat kalau yang menghubungi Gina tertera namanya di layar ponsel adalah Rudi.
"Hallo" kata Bram.
"Maaf ini bukannya ponsel Nona Gina?" tanya Rudi dari seberang telpon.
"Benar. Gina sedang sakit. Saya Bram adik ipar Gina. Ada apa menghubungi Gina?" tanya Bram dengan nada oenasara. Bram tidak tau kalau Gina punya teman namanya Rudi. Dalam hati Bram bertanya tanya apakah Rudi salah satu dari anggota terlatih Gina?.
Bram kemudian memasang loadspeker ponsel Gina. Bram sangat tau kalau Afdhal dan Bayu pasti penasaran tentang siapa dan ada perlu apa orang tersebut menelpon Gina.
"Maaf Tuan. Saya tidak bisa memberikan infonya kepada Tuan." jawab Rudi.
"Baiklah kalau tidak bisa. Saya tidak akan memaksa Anda. Untuk Anda ketahui saja, Gina sepertinya akan lama baikan" kata Bram berusaha membujuk Rudi.
"Tidak apa Tuan. Saya akan menghubungi Nona Gina saat Nona Gina sudah sembuh nanti." jawab Rudi.
Rudi bukan tipe anggota yang mau dengan seenaknya saja memberikan berita yang penting kepada orang lain. Walaupun orang lain itu sendiri adalah sahabat atau kakak ipar dari Gina. Rudi hanya bisa memberikan informasi kalau Gina tidak bisa dihubungi, maka Rudi akan menginformasikan kepada Sari dan Mira.
"Baiklah Tuan terimakasih atas infonya. Saya akan kembali menghubungi Nona Gina kembali nanti" kata Rudi sambil memutuskan sambungan telponnya dengan Bram.
"Siapa namanya Bram?" tanya Afdhal.
"Rudi. Sepertinya ini berita penting." jawab Bram.
"Sari hubungi Bram. Pasti Sari tau" kata Bayu memberikan solusi.
"Benar. Tapi bentar lagi kita hubungi. Palingan sekarang Rudi sedang menghubungi Sari atau Mira." kata Bram.
Bayu kemudian membelokkan mobilnya dengan kecepatan yang tidak diturunkan. Akibatnya bunyi ban mobil Bayu memecahkan kesunyian di siang hari itu. Serta mengakibatkan orang orang yang sedang duduk duduk di parkiran rumah sakit langsung berdiri dan berlarian. Mereka mengira terjadi sebuah kecelakaan di depan rumah sakit
Para dokter dan perawat yang telah menunggu pemilik rumah sakit (walau mereka tidak tau akan hal itu) langsung saja mendorong ranjang rumah sakit ke pintu mobil Bayu. Afdhal menggendong dan meletakkan Gina di atas ranjang rumah sakit. Dokter dan perawat langsung mendorong ranjang ke dalam ruangan tindakan. Semua dokter ahli kandungan sudah berada di ruangan tersebut. Terdapat tiga orang dokter di dalam sana dengan spesialisasi yang sama.
Beberapa orang dokter melakukan pemeriksaan terhadap kondisi Gina dan juga kondisi kandungnnya. Mereka memeriksa dengan sangat teliti. Mereka takut melakukan kesalahan walau hanya sedikit. Keluarga Gina merupakan keluarga yang sangat disegani dan ditakuti di negara ini. Mereka semua tidak ingin karier dan hiduo mereka menjadi terancam hanya gara gara salah memberikan diagnosa terhadap pasien yang sekarang mereka tangani.
"Gimana dok kondisi pasien" kata seorang dokter.
"Pasien stabil. Cuma sepertinya pasien agak tertekan dalam menghadapi suatu masalah. Kita harus merekomendasikan pasien ke dokter psikologi" jawab seorang dokter kandungan yang diminta untuk memeriksa Gina.
"Waduh. Saya sangat ragu menyampaikan perkara ini kepada keluarga pasien dok. Dokterkan lihat pasien dari keluarga siapa." kata dokter.
"Saya yang akan meberitahukan dokter. Mereka pasti akan berpikir jernih. Mereka tidak akan menyerang kita. Doter tenang saja. Kalau seandainya mereka menyerang kita, maka aku tidak akan melibatkan dokter dan juga perawat." jelas dokter yang merawat Gina.
"Baiklah dok. Kita akan bertanggung jawab bersama" jawab dokter yang satunya lagi yang dari tadi menyimak percakapan dua orang dokter.
"Bagaimana dengan kandungannya dok? Aman?" tanya dokter yang lain.
"Sejauh ini aman. Saya sudah menyuntikkan obat penahan kandungan." jawab sang dokter.
"Pendaharan tadi tidak mempengaruhi kan ya?" lanjut dokter bertanya.
"Tidak ada pengaruhnya. Hanya pendarahan biasa saja" jawab dokter yang menangani kandungan Gina.
"Baiklah. Suster antarkan pasien ke ruangan biasa, ruangan tempat Tuan Aris dirawat kemaren." perintah dokter yang mengepalai tindakan untuk Gina. Dokter kandungan yang kemaren sempat di datangi Gina. Seorang dokter kandungan terbaik di negara I.
Dokter kemudian keluar dari ruangan tindakan. Semua keluarga Gina langsung berdiri. Mereka tidak sabar untuk mendengar hal apa yang terjadi kepada Gina.
"Tuan dan Nyonya, kita keruangan pertemuan saja, karena akan lebih nyaman kita berada di sana. Ruangan itu cukup besar. Nanti saya akan menceritakan detailnya kepada keluarga besar Nyonya Gina, tentang keadaan Nyonya Gina dan bayi dalam kandungan Nyonya Gina." kata salah seorang dokter.
__ADS_1
Seorang dokter pria tampan dan masih sangat muda melihat ke arah Anggel.
"Dokter Anggel?" kata dokter tampan itu.
"Dokter Dion" jawab Anggel yang ingat dengan teman semasa kuliah dulu. Tetapi berpisah saat mengambil spesialis.
Afdhal yang memang tipe pacar protektif langsung maju.
"Perkenalkan calon suami Anggel." kata Afdhal yang langsung dalam mode cemburu buta.
"Hahahahaha. Cemburu dia." teriak Bayu dan Bram berbarengan.
Dion yang sadar Afdhal cemburu kepada dirinya langsung berjalan. Sedangkan Anggel hanya tersenyun dan mencium mesra pipi Afdhal saat keluarga besarnua udah jalan.
"Dihatiku hanya ada kamu" kata Anggel sambil tersenyum kepada Afdhal.
"Sama. Makanya aku nggak suka ada orang senyum ke kamu selain pasien kamu" jawab Afdhal dan langsung merangkul pinggang Anggel.
Semua anggota keluarga Soepomo dan Wijaya masuk kedalam sebuah ruangan yang besar. Mereka duduk di sana untuk mendengar penjelasan dari tim dokter. Suasana cukup mencekam.
"Baiklah Tuan dan Nyonya. Sebenarnya saya cukup berat untuk mengatakan hal ini. Tetapi saya harus mengatakan untuk kebaikan Nyonya Gina dan Bayinya. Saya akan menerima konsekuensi kalau dua Tuan Besar akan marah kepada saya." kata dokter yang merawat Gina.
"Pi. Ada apa dengan menantu dan cucu kita pi" Mami udah mulai takut.
"Tenang Mi. Kita dengar dulu penjelasan dari dokter. Jangan mikir yang aneh aneh terlebih dahulu." kata Mami.
"Jadi, kami tadi telah melakukan pemeriksaan. Nyonya Gina dalam keadaan sehat, masalah pendaharan tadi dipicu oleh tingkat stress dan ketakutan Nyonya Gina yang sudah dibatas kendali pikirannya. Jadi kami dari tim dokter menyarankan untuk Nyonya Gina melakukan terapi konseling dengan dokter psikiater. Kebetulan sekali dokter psikiater terbaik di negara kita ada di tengah tengah kita, siapa lagi kalau bukan dokter Anggel" kata dokter kandungan Gina.
Anggel tersenyum atas pujian yang diberikan dokter terbaik dibidangnya itu. Anggek memang terkenal sebagai seorang dokter psikologi yang sangat bagus. Sudah banyak pasien yang sehat akibat tangan dinginnya itu.
"Jadi saran saya lebih baik Nyonya Gina mengikuti terapi yang akan diberikan dokter Anggel. Sedangkan untuk calon bayi mereka, calon bayi dalam keadaan sehat dan tidak ada kekurangan. Pendarahan hebat tadi Alhamdulillah tidak berpengaruh kepada calon bayi." kata dokter melanjutkan.
"Jadi bisa dikatakan semuanya dalam keadaan stabil" lanjut dokter.
"Dokter, apakah tingkat stress Gina bisa berakibat fatal?" tanya Ayah.
"Benar Tuan. Kami takutnya kalau Nyonya Gina masih menyimpan sendiri dan tidak berbagi akan berakibat buruk untuk Nyonya dan juga calon bayinya. Jadi saya berharap bujuklah Nyonya Gina untuk melakukan terapi" kata dokter.
"Maaf dokter. Saya sudah berencana akan menerapi Gina setelah dia keluar dari rumah sakit ini" kata Anggel.
"Saya sudah melihat tanda tanda dalam diri Gina. Saya sendiri yang akan membujuknya dan saya sendiri juga yang akan menterapi Gina dengan cara saya. Jadi kita berdua berbagi tugas. Saya mengembalikan Gina, sedangkan anda dokter tolong bantu anaknya" kata Anggel.
"Baik dokter, saya setuju dengan pendapat dan program dokter. Kita akan saling membagikan informasi" kata dokter kandungan Gina.
"Apa kami bisa melihat Gina dokter?" kata Aris yang sudah tidak tahan mendengar penderitaan yang harus ditanggung Gina karena kesalahan dirinya.
Aris tidak menyangka semua ini akan berakhir seperti ini. Beban yang ditanggung Aris semakin besar. Gara gara kelakuannya istrinya harus ditolong seorang psikiater untuk kembali bangkit.
Mereka semua keluar dari ruangan menuju ruang rawat Gina. Mereka tidak menyangka Gina akan mengalami hal seburuk ini. Gina yang terlihat tegar ternyata menyembunyikan semuanya dengan rapat. Betul kata Anggel, Gina sangat sangat tertekan dan sangat takut.
Bayu membuka pintu ruang rawat Gina. Mereka melihat Gina yang tertidur dan terpasang infus di tangan sebalah kirinya. Mereka melihat Gina tidur dalam keadaan damai dan tenang. Bagi siapapun yang melihat Gina, mereka tidak menyangka kalau Gina sedang terperosok ke dalam jurang kepercayaan diri. Aris menatap lama sitrinya itu. Istri yang disiasiakannya.
"Sayang cepat sadar ya. Aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi" kata Aris.
Mereka semua kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan Gina. Papi tiba tiba teringat dengan perkataan Bram saat Aris terjun ke dalam jurang.
"Bram, bagaimana dengan pengkhianat itu?? Apa sudah bertemu Bram?" tanya Papi kepada Bram.
"Sedang dilakukan pengejaran Papi oleh anggota kita. Semoga dalam waktu dekat kita akan dapat kabar baiknya." jawab Bram.
Bram memang sudah menyuruh Daniel untuk mengejar pengkhianat itu. Dia tidak mau pengkhianat itu berseliweran di tengah tengah mereka.
"Daniel dan tim sudah melacak Pi." jawab Bram memberikan info siapa yang melakukan oencarian kepada Papi.
Mereka kemudian bercerita tentang bencana yang menimpa Aris. Serta kenapa bisa genk mafia sebesar black jack bisa di masuki penyusup. Mereka berbicara dengan sangat serius.
Tuan Wijaya dan Afdhal yang tidak ikut dalam gank mafia itu lebih memilih menyingkir. Mereka berdua lebih memilih bercerita dengan Anggel tentang bagaimana proses penyembuhan dan membangkitkan kembali rasa percaya diri Gina.
Sedangkan Nana dan Mami dari tadi duduk di kursi samping ranjang rawat Gina. Gina sedang tidur dengan damai dan nyaman.
Saat semuanya sedang serius membicarakan beberapa hal. Tiba tiba ponsel Sari berdering. Sari terkejut melihat siapa yang menghubunginya. Sari menatap Mira, dia memberi kode yang biasa mereka lakukan bertiga. Semua tingkah laku Sari dan Mira tidak luput dari perhatian Bram dan Bayu.
"Pi, Mi, Aku permisi ke kantin bentar ya. Aku lapar Mi." kata Mira yang sudah paham dengan kodean Sari.
Setelah beberapa menit Mira keluar gantian Sari yang izin untuk keluar. Bram dan Bayu mengikuti Sari dan Mira. Mereka berdua sangat yakin kalau yang menghubungi Sari adalah Rudi yang menghubungi Gina tadi siang.
Sari sampai di kantin, dia melihat Mira yang duduk dipojokan kantin. Mira sengaja mencari tempat yang sepi. Mereka berdua tidak mungkin menghubungi Rudi di tengah tengah keramaian. Bram dan Bayu duduk agak jauhan dari Mira dan Sari. Mereka berdua mengamati dari jauh kegiatan Sari dan Mira. Apapun yang dilakukan Sari dan Mira tidak luput sedikitpun dari pengamatan Bram dan Bayu.
Sari kemudian mengeluarkan ponselnya. Sari memasang handset satu ketelinganya yang satu lagi di telinga Mira. Mereka tidak mungkin pake loadspeaker untuk mendengar pembicaraan Rudi.
"Hallo Rud. Aku udah sama Mira. Ada kabar apa ya?" kata Sari.
"Hollo Nona Mira" kata Rudi yang mencek kehadiran Mira.
"Rudi Rudi, kebiasaan kamu tetap nggak berubah ya. Kamu selalu cek siapa yang hadir" kata Mira sambil tertawa.
"Siaga Nona" jawab Rudi.
__ADS_1
"Jadi apa yang mau kamu infokan kepada kami berdua." tanya Mira yang memang sudah tidak sabaran.
"Sebenarnya saya mau lapor ke Nona Gina. Tapi ternyata Nona Gina sedang sakit dan di rawat" jawab Rudi.
"Loh kamu tau dari siapa kalau Nona Gina sedang masuk rumah sakit?" tanya Sari yang langsung loading dan tau jalan ceritanya.
"Cek sekitar" kata Sari kepada Mira sambil menulis di kertas selembar. Sari tidak mau perintahnya kepada Mira di dengar oleh Rudi.
Mira langsung melihat dengan lirikan matanya. Dia melihat ke setiap arah. Ternyata memang benar, dua pria tampan yang mengisi hati mereka berdua ada duduk di dekat jendela besar. Mereka berdua tetangkao tangan sedang memerhatikan Mira dan Sari. Mira langsung tersenyum bahagia. Ternyata memang benar. Mereka berdua ngintilin Sari dan Mira.
"Mereka ada di sana" kata Mira kepada Sari.
Sari langsung melihat ke arah yang ditunjuk oleh Mira. Ternyata memang benar. Bram dan Bayu duduk di sana. Posisi mereka terlihat jelas sedang memperhatikan Sari dan Mira.
"Rud nanti aja kita ulang panggilan telponnya. Pria yang tadi ngangkat telpon kamu saat nelpon Gina sedang memperhatikan kami." kata Sari memberitahukan kepada Rudi keberadaan Bram dan Bayu yang sedang mengamati Sari dan Mira..
"Oke Nona. Nona berdua cari tempat sepi. Saya sangat butuh kehadiran Nona" kata Rudi.
"Siap. Kami akan pindah." kata Sari.
Sari memutuskan panggilan telponnya. Dia langsung menatap ke arah Mira.
"Gimana Mir?" tanya Sari sambil memainkan ponselnya.
"Gue akan mengalihkan perhatian mereka berdua. Loe lari lewat belakang. Ini kunci mobil" Mira memberikan kunci mobilnya kepada Sari. Sari langsung mengambil kunci tersebut.
Mira menabrak seorang pelayan yang sedang membawa makanan dan minuman. Dengan seketika baju yang dipakai Mira kotor. Mira berteriak karena kena tumpahan kuah gulai. Semua oengunjung yang mendengar teriakan Mira langsung berdiri dan melihat ke arah Mira. Bayu dan Bram yang kenal itu suara siapa langsung berlari ke arah Mira. Pada kesempatan itulah Sari langsung lari menuju parkiran. Dia tidak ingin kehilangan moment yang pas untuk kabur.
Setelah tau kalau Sari sudah berada di parkiran. Mira memasang aksi barunya.
"Sayang kayaknya aku harus tukar baju. Aku pulang dulu ya sayang" kata Mira.
"Aku antar ya." kata Bayu.
"Oke" jawab Mira.
Bayu meraba sakunya ternyata kunci mobilnya tidak ada.
"Bram pinjam mobil"
"Kunci gue di kamar Aris" jawab Bram.
"Sayang aku pulang dengan taksi online aja ya. Aku nggak mau berlama lama pake baju ini." kata Mira pura pura susah memake bajunya.
"Ya udah sayang, kamu pulang aja" kata Bayu.
Mira kemudian memesan taksi online melalui aplikasi yang ada di ponselnya. Bayu menemani Mira sampai lobby rumah sakit. Sedangkan Bram ntah kenapa bisa lupa kepada Sari. Hal ini menjadi keberuntungan bagi Sari.
Mira kemudian naik ke taksi yang sudah menunggunya.
✉️ Mira
Tunggu aku di halte pertama dari rumah sakit
✉️ Sari
Siap
Mira menikmati perjalanan di dalam taksinya hanya sepuluh menit. Pas di halte pertama dia sudah melihat mobil miliknya berhenti di halte.
"Pak minggir." kata Mira memberhentikan taksi online nya.
"Belum sampe non." kata supir taksi yang takut dapat bintang satu itu.
"Bapak lanjutin aja ke tujuan. Nanti saya kasih bintang lima. Ini saya bayar tunai." kata Mira yang memberikan uang pembayaran secara tunai dan juga dilebihkan.
Mira memberikan uang pecahan seratus ribu kepada sopir taksi. Sopir taksi menerima dan mengeluarkan kembaliannya.
"Non ini kembaliannya" kata sopir taksi memberikan kembalian.
"Nggak perlu pak. Ambil aja" kata Mira kepada sopir taksi.
"Terimakasih banyak Nona" kata supir taksi saat melihat pecahan seratus ribu satu lembar ditangannya.
"Sama sama pak." kata Mira sambil tersenyum dan langsung turun dari mobil.
Sopir taksi yang pertama takut akan nasipnya menjadi tersenyum karena apa yang ditakutkannya tidak terjadi. Malahan upah yang diterimanya lebih banyak dari pada yang seharusnya.
Mira masuk kedalam mobil Sari.
"Jalan Sar!" perintah Mira kepada Sari.
"Amankan ya Mir?" tanya Sari yang tersenyum melihat baju Mira yang kacau.
"Aman nggak aman ya diamankan" jawab Mira.
Sari memberikan kantong baju yang baru dibelinya tadi.
__ADS_1
"Tukar noh. Kaca kan gelap ini" kata Sari.
Mira menukar bajunya dengan cepat di atas mobil. Mira tidak ingin badannya merah merah karena ulah kuah gulai yang tumpah itu.