Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Hadiah dari Arga


__ADS_3

Keesokan harinya acara pernikahan antara dr Daniel dengan dr Rani akan diadakan. Semua keluarga telah berkumpul di mansion. Dokter Rani yang hanya memiliki adik dari ayahnya bertindak sebagai wali nikah. Sedangkan saksi dari pihak dokter Rani adalah salah satu dari sahabat ayahnya yang dari dulu membantu biaya kuliah dokter Rani.


Sedangkan dari pihak dokter Daniel yang bertindak menjadi saksi adalah Afdhal. Daniel sengaja meminta Afdhal menjadi saksi karena Afdhal merupakan orang yang paling dihormati Daniel setelah Gina dan Aris.


Acara pernikahan itu berlangsung dengan khidmat dan tertutup. Tidak ada satu wartawanpun yang bisa meliput acara sakral tersebut. Para tamu yang diundangpun terbatas hanya berkisar lima puluh orang saja. Makanya pas acara akad nikah tidak terlihat begitu kesibukan yang terjadi di hotel.


"Ris, ternyata yang nikah itu tamunya sedikit. Nggak rame. Tu buktinya parkiran aja nggak penuh. Berarti mereka bukan dari kalangan pengusaha ternama." ujar Bram yang sedang duduk duduk di balkon kamar.


"Bisa jadi Bram." jawab Aris.


Setelah acara akad nikah selesai. Semua anggota keluarga naik ke lantai paling atas hotel dengan lift khusus yang bisa mengantarkan mereka ke sana. Lift tersebut sudah dimodifikasi hanya bisa dipakai untuk menuju lantai teratas bangunan hotel.


"Bun, Arga boleh main di bawah?" tanya Arga kepada Gina.


"No. Sekarang istirahat. Nanti sore akan ada pesta Niel. Apa kamu mau mengacau pesta Niel?"


"Tidak Bun. Arga akan istirahat." ujar Arga.


Arga melepas semua pakaiannya. Dia hanya meninggalkan singlet dan kolor saja untuk menutupi badannya itu. Gina hanya bisa geleng geleng kepala melihat tingkah putra bungsunya.


Sore harinya semua keluarga sudah bersiap siap untuk acara Daniel dan Rani. Arga dan yang lain sudah memakai pakaian keluarga mereka.


"Hay cowok tampan. Kenapa dari tadi senyam senyum terus aja?" tanya Frenya kepada Arga.


"Kejutan untuk semuanya." jawab Arga sambil kembali menahan senyumnya.


"Mulai" ujar Frenya.


Setelah semua selesai bersiap siap. Gina dan semua keluarganya turun menuju tempat acara resepsi diadakan.


Sedangkan di kamarnya Aris dan Bram sedang duduk duduk santai di sofa sambil membicarakan tentang bisnis mereka.


Tiba tiba dari luar terdengar bunyi pintu kamar yang di ketuk dari luar. Bram berjalan dan membuka pintu kamar.


"Maaf Tuan. Ini ada titipan baju dari seseorang untuk Tuan pakai di acara yang diadakan di taman bawah tuan." ujar Pelayan.


"Tapi ini baju dari siapa?" tanya Bram menatap sambil mengintimidasi pelayan.

__ADS_1


"Maaf Tuan. Saya tidak bisa memberitahukan kepada Tuan ini dari siapa. Tapi satu hal yang pasti Tuan diminta cepat memakainya dan pergi ke acara di taman." jawab Pelayan.


"Saya permisi dulu Tuan." ujar pelayan sambil membalik badannya.


Bram membawa pakaian yang dititip oleh pelayan tadi ke dalam kamar.


"Ris." ujar Bram sambil mengangkat baju tersebut ke muka Aris.


"Dari siapa?"


Bram kemudian menceritakan apa yang diceritakan oleh pelayan tadi. Aris terdiam sesaat.


"Ya udahlah Bram pakai aja lagi. Mana tau ini memang khusus untuk kita." ujar Aris.


Aris mengambil pakaian yang ada namanya. Bram juga memakai pakaian yang ada namanya juga. Mereka memakai pakaian itu, semua pakaian terpasang pas di badan mereka.


"Ris sepertinya orang yang memesan ini tau dengan ukuran bodi kita Ris. Ne buktinya mereka bisa memesan baju yang pas untuk kita berdua." ujar Bram sambil terheran heran.


"Udah nggak usah pikirin. Ayok turun." ajak Aris


Mereka berdua turun untuk menuju tempat pesta. Arga yang sedang duduk di luar dengan Stefen celengak celenguk melihat dua orang yang sedang ditunggunya.


"Sabar Ga. Kanu kira orang nggak syok tiba tina dapat baju dan disuruh turun ke acara pesta yang mereka nggak tau pesta siapa." ujar Stefen yang dari tadi susah untuk menahan mulutnya. Dia sudah rusuh melihat Arga yang dari tadi mondar mandir.


"Nah itu dia." ujar Arga.


"Daddy" teriak Arga.


Aris dan Bram yang melihat Arga memakai baju yang sama dengan mereka berdua saling pandang pandangan.


"Jangan jangan Arga yang?" tanya Bram kepada Aris.


Aris mengangguk mengiyakan pertanyaan Bram yang tak selesai itu. Aris paham dengan semua kejadian. Cuma yang Aris belum paham sekarang, acara apa yang sedang mereka hadiri.


"Arga ini acara apa?" tanya Aris.


"Nanti Daddy juga akan tau." ujar Arga.

__ADS_1


Arga menggandeng tangan Daddynya untuk masuk ke tempat acara. Acara memang belum di mulai. Sehingga belum ada tamu yang datang.


Dari jauh Frenya bisa melihat siapa yang sedang berjalan dengan Arga. Sedangkan Bram menganga melihat Sari yang berada di negara U.


"Pantesan nggak bisa di telpon maren. Ternyata dia sedang di pesawat." ujar Bram.


Sari yang melihat Bram memberikan senyuman tercantiknya. Dia tau Bram pasti rusuh seharian kemaren karena tidak bisa menghubunginya.


Aris yang tau Arga membawanya kemana mendadak menjadi grogi. Dia sudah tau Arga pasti akan menemukan dirinya dengan Gina sang istri yang sudah sangat lama dirinduinya.


Afdhal yang melihat Aris datang langsung berjalan menemui Aris. Afdhal memeluk Aris. Afdhal sudah tau semua cerita kenapa Aris bisa sampai di negara U dari Arga.


"Loe sampai nggak ngasih tau gue." ujar Aris.


"Hahaha. Ulah itu tu." tunjuk Afdhal kepada Arga.


Aris tetap mencari sesosok perempuan yang bener bener sudah dirinduinya. Tapi sayangnya wajah perempuan itu belum juga bisa dilihatnya.


"Dia belum turun. Palingan sejam lagi baru turun." ujar Afdhal yang tau siapa yang dicari oleh Aris.


Bayu, Mira dan Sari pergi mendekati Aris. Sedangkan Frenya ke kamar Daniel untuk meminta Daniel menemui Daddy mereka. Setelah itu Frenya bertugas untuk mengalihkan keinginan Gina untuk turun ke tempat pesta.


"Pantesan Bram uring uringan, kiranya loe di pesawat makanya ponsel mati" ujar Aris kepada Sari.


Sari mengangguk. Dia berjalan mendekati Bram. Sari yang tau Bram sedang dalam mode marah memeluk Bram dan memberikan kecupan singkat di bibir Bram. Bram yang masih marah menjadi menelan kembali marahnya.


"Daddy." panggil Arga.


Aris menatap anaknya itu. "Apa?" tanya Aris.


Arga mengangkat kedua tangannya ke arah Aris.


"Gendong Daddy?"


Arga mengangguk.


Aris kemudian menggendong Arga. Setiap orang yang melihat Arga mereka pasti yakin kalau Arga adalah Aris waktu kecil.

__ADS_1


Mereka kemudian bercerita banyak hal. Aris sangat senang karena bisa hadir di pernikahan Daniel. Walaupun tadi saat akad nikah Aris tidak bisa menyaksikan secara langsung. Tetapi Aris bersyukur karena Daniel mendapatkan istri yang baik dan pintar.


__ADS_2