Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kelahiran Baby A


__ADS_3

"Yah masih panjang dah tu penderitaan." ujar Bayu dan Aris bersamaan.


Mendengar jawaban suami suami mereka, Ghina dan Mira memberikan tatapan tajam nan dingin. Aris dan Bayu kembali terdiam. Mereka yakin kalau mereka melanjutkan terus menjahili Afdhal, maka alamat mereka berdua tidak akan dapat jatah apapun dalam tujuh hari ke depan.


Mereka kembali mengobrol ringan. Tidak ada pembahasan masalah bisnis yang mereka bicarakan.


"Papi, gimana besok kalau Saei udah sembuh kita jalan jalan sekeluarga besar ke cappadokia?" ujar Ghina.


"Its my dream." ujar Mira.


"Korban olang olang putui." ujar Aris dan Bayu kompak.


Papi dan Ayah saling memandang. Mereka tidak paham apa yang dikatakan sepasang suami istri itu.


"Apa hubungan antara capadokia dengan olang olang putui dan its my dream?" ujar Papi yang akhirnya memutuskan untuk bertanya kepada Aris dan Bayu.


"Is Papi dan Ayah makanya tengok dan baca berita. Masak ftv yang sedang booming itu nggak tau. Papi sama Ayah payah" ujar Aris.


"Udah jangan keseringan ngeledek orang. Nanti pas giliran Anda berdua diledek, Anda langsung sensi." ujar Ghina menatap dingin kepada suaminya yang berani beraninya ngomong seperti itu kepada Papi dan Ayah.


"Jadi gimana Pi, Papi setuju nggak nanti saat Sari udah sembuh kita akan pergi jalan jalan sekeluarga besar." ujar Ghina.


"Mana muat pesawat sayang." ujar Aris yang mengingat keluarga besarnya luar biasa ramai.


"Boing baru GA Grub muatlah sayang. Kan besar itu. Lagian kursinya nggak di modif. Masih kayak pesawat komersil. Cuma bedanya semuanya skursi VIP." ujar Ghina.


"Sejak kapan kamu beli pesawat baru lagi?" tanya Aris penasaran.


Ghina sama sekali tidak pernah bercerita kalau dia akan membeli pesawat baru lagi.


"Bukan aku yang beli sayang. Tetapi Frenya." jawab Ghina.


Ghina sudah tau Aris akan murka kepada dirinya karena membeli sesuatu tidak berdiskusi terlebih dahulu.


"Kok Frenya nambah pesawat lagi?" tanya Papi yang juga heran.


"Frenya berencana akan merambah dunia penerbangan Pi. Dia ingin ikut dalam dunia sewa menyewa privet jet dan helikopter." ujar Ghina mengatakan apa yang dikatakan Frenya saat itu.


"Wow keren itu. Ayah setuju. Bisa Ayah nitip satu heli punya Ayah di perusahaan itu?" uajr Ayah yang ingat helicopternya sudah sangat jarang dipergunakan.


"Ayah tanya Frenya aja. Nanti dia juga akan ke sini." ujar Ghina yang ingat anaknya akan datang selepas perjalanan dari negara E.


Pintu ruangan Anggel kembali terbuka. Dokter Anya keluar dengan wajah yang penuh dengan keringat. Begitu juga dengan Afdhal yang tadi kembali masuk ke dalam. Dia juga terlihat sangat kalut.


"Ada apa dokter, Afdhal?" ujar Ayah yang mulai cemas melihat kondisi kedua orang itu.

__ADS_1


"Ayah, Anggel harus dioperasi. Dia udah nggak kuat untuk melahirkan secara normal." ujar Afdhal dengan nada sedikit ada rasa kesal tmyang terselip di sana.


"Apa kamu sudah tanda tangani?" ujar Ayah lagi.


"Sudah. Sekarang Anggel sedang dipersiapkan untuk menuju ruang operasi." jawab Afdhal yang langsung memilih duduk di kursi ruang tunggu.


"Gue menang." ujar Bayu berbisik ditelinga Aris.


"Besok ambil kunci ke rumah." ujar Aris.


Ghina dan Mira yang melihat kedua suami mereka berbisik bisik, langsung paham denhan apa yang mereka bicarakan itu.


Ghina dan Mira kemudian mejewer telinga suami mereka.


"Au sayang sakit." ujar Aris protes telinganya di jewer Ghina.


"Itu tau sakit. Tapi ada ada aja. Masih ingat juga dengan taruhannya." ujar Ghina yang marah.


"Iya sama aja berdua. Makanya klop. Untung Bram sedang sibuk dengan Sari, kalau ndak ketiga tiganya perangai sama." lanjut Mira manambah ucapan dari Ghina.


Aris dan Bayu hanya bisa diam saja mendengar apa yang dikatakan oleh istri istri mereka. Ghina dan Mira sama sama bener. Mereka berdualah yang salah karena sudah melakukan taruhan di saat yang tidak tepat.


Pintu ruangan rawat Anggel terbuka lebar. Terlihat suster dan dokter Anya mendorong brangkar menuju ruang operasi. Afdhal, Aris dan Bayu membantu mereka mendorong brangkar tersebut.


Pintu ruangan operasi terbuka lebar.


Afdhal mengecup kening istrinya yang akan berjuang di dalam untuk melahirkan buah cinta mereka berdua.


"Sayang yang kuat ya di dalam." ujar Afdhal.


Anggel mengangguk. Anggel memberikan senyum terbaiknya kepada Afdhal. Brangkar kemudian di dorong oleh suster untuk masuk ke dalam ruangan operasi. Semua dokter terbaik rumah sakit harapan kita udah berada di sana. Mereka siap memberikan pelayanan terbaik untuk keluarga Ghina pemilik rumah sakit.


Semua anggota keluarga termasuk Argha dan Frenya yang baru datang, menunggu di depan ruangan operasi. Mereka menunggu dengan cemas penerus kekuarga Wijaya berikutnya.


Setelah selama setengah jam, akhirnya suara bayi terdengar dari dalam ruangan operasi. Bayi mungil berjenis kelamin laki laki itu dibersihkan oleh suster.


"Tuan Afdhal bisa masuk ke ruangan steril. Tetapi pakai pakaian yang tergantung di dinding Tuan." ujar dokter Anya memberitahukan kepada Afdhal untuk masuk ke dalam ruangan steril.


Afdhal dan Ayah berjalan berdua menuju ruangan steril. Mereka akan melihat untuk pertama kalinya penerus keluarga Wijaya.


"Bunda dedeknya laki laki ya?" ujar Argha.


"Sepertinya begitu. Nanti kita tanya pastinya kepada Papi Afdhal, apakah dedeknya laki laki atau perempuan." ujar Ghina.


"Kalau laki laki berarti udah dua teman main Argha." ujar Argha dengan semangat.

__ADS_1


"Mereka besar kamu udah dewasa Gha." ujar Frenya.


"Biarin aja Uni. Terpentingkan Argha punya dua adik laki laki." jawab Argha.


"Satu adik laki laki. Satu anak laki laki." ujar Ghina.


"Hehehe. Lupa Argha." jawab Argha sambil menggaruk kepalanya.


Afdhal dan Ayah yang sudah sampai di ruangan steril memekai pakaian steril yang tergantung di dinding ruangan.


Afdhal kemudian menerima bayinya yang berjenis kelamin laki laki itu dari tangan dokter Anya.


"Bayi Tuan laki laki, panjang empat puluh enam centi dan berat empay setengah kilo. Dalam keadaan sehat. Semua alat vital berjalan sempurna." ujar dokter Anya menjelaskan kondisi bayi Afdhal.


"Makasi dokter." ujar Afdhal.


"Azankan Uda." ujar Ayah mengingatkan Afdhal.


Afdhal kemudian mengazankan bayinya itu. Dia mengumandangkan azand di telinga bayi dengan suara bergetar. Afdhal benar benar terharu melihat bayi mungilnya itu.


Setelah selesai mengazani bayinya. Afdhal mengembalikan bayi tersebut kepada dokter Anya.


"Tuan semua silahkan menunggu di kamar rawat. Dokter Anggel sedang kami bersihkan, nanti akan kami antarkan ke ruangan sebentar lagi. Sekaligus dengan baby." ujar dokter Anya.


Afdhal dan Ayah kembali keruang tunggu. Mereka akan bersama sama dengan anggota keluarga yang lain menuju ruang rawat Anggel.


"Kita langsung ke ruangan rawat aja Papi. Anggel akan di pindahkan ke sana nanti langsung dengan Baby." ujar Ayah memberitahukan kepada semua orang.


Mereka semua kemudian berjalan menuju ruangan rawat Anggel. Mereka akan menunggu Anggel di sana sesuai dengan apa yang dikatakan oleh dokter Anya.


"Daddy, akhirnya Argha akan punya dua teman untuk main." ujar Argha.


"Tapi apa nggak mungkin ya Dad. Kita semua tinggal dalam satu rumah besar saja. Jadikan Argha nggak susah. Kalau pengen ketemu Bree, Argha nggak perlu pergi kemana mana. Apalagi nanti mau ketemu baby A. Tentu akan lebih jauh lagi." ujar Argha.


"Kamu ngasih nama Babynya apa tadi Gha?" ujar Papi yang mendengar Argha memberi nama untuk baby Afdhal dan Anggel.


"Baby A atuk Papi." ujar Argha.


"Kenapa harus Baby A?" tanya Papi penasaran dengan analisa Argha.


"Biar nanti saat Papi Afdhal bikin chanel youtube nama chanelnya TRIA atau 3A." ujar Argha.


"Biar kayak artis artis gitu ya Gha?" ujar Bayu dari belakang.


"Iya Pi. Biar keren." jawab Argha.

__ADS_1


Mereka yang mendengar hasil analisa Argha cuma bisa tertawa dan tersenyum saja. Kejeniusan Argha jauh di atas anak seumuran dirinya.


__ADS_2