Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kesetiaan Seorang Istri + 36


__ADS_3

Rani sudah menunggu keluarga besarnya itu di ruangannya. Rani juga sudah membawa dokter Ana bersama dengan dirinya sekarang. Sebelum pemeriksaan dan pertanyaan yang luar biasa akan diberikan oleh keluarga besarnya kepada dokter Ana, maka Rani memutuskan untuk mengenalkan dokter Ana kepada keluarganya terlebih dahulu.


"Jadi Ana, mereka akan banyak bertanya nanti. Sebelumnya aku minta maaf ke kamu ya, karena sudah menjadikan kamu sebagai dokter kandungan Frenya." kata Rani meminta maaf kepada Ana. Rani sewaktu mengajak dokter Ana menjadi dokter kandungan untuk Frenya, Rani tidak mengatakan apa apa tentang keluarga besarnya itu.


"Tidak apa apa Rani, malahan aku luar biasa bersyukur karena kamu mempercayakan kehamilan adik kamu kepada aku. Ini suatu prestasi yang luar biasa bagi karier aku" jawab Ana sambil tersenyum.


Ana memang sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari kehamilan Frenya. Untuk menjadi dokter dari keluarga Soepomo sangatlah susah, sedangkan Ana langsung ditunjuk oleh Rani yang tidak lain tidak bukan adalah keluarga inti Soepomo sehingga Ana menjadi tersanjung dengan penunjukan dari Rani untuk menjadi dokter kandungan Frenya.


"Oh baiklah terimakasih kalau begitu" jawab Rani.


"aku kira kamu menerima tawaran dari aku kemaren karena terpaksa" lanjut Rani.


"sama sekali tidak Ran. kita sebagai seorang dokter tidak boleh merasa terpaksa saat akan menolong seorang pasien. Mau pasien itu dari kalangan mana saja" kata dokter Ana menjawab keraguan dari Rani.


Tiba tiba pintu ruang kerja Rani terbuka. Semua anggota keluarga Soepomo berjalan masuk ke dalam ruang kerja Rani yang besar tersebut. Mereka semua masuk ke dalam ruang kerja Rani tanpa menunggu persetujuan dari Rani.


"Itu mereka datang" ujar Rani kepada dokter Ana.


Rani dan dokter Ana berjalan ke depan untuk menyambut keluarga besar Rani.


"Hay sayang"


Cup. Sebuah kecupan mendarat di bibir Rani.


Argha yang akan protes langsung saja mulutnya di bekap Juan dari belakang. Ghina dan Frenya hanya bisa menatap sambil geleng geleng kepala melihat kelakuan Juan dan Argha. Mereka semua kalau sudah bertemu tidak akan ingat diri mereka siapa.


"Daddy, Nana, ini adalah dokter Ana. Dokter yang akan memeriksa kehamilab Frenya" ujar Rani mengenalkan seorang dokter yang berdiri tidak terlalu jauh dari dirinya.


"Salam kenal Tuan dan Nyonya, nama saya adalah Ana, saya salah satu dokter spesialis kandungan yang ada di rumah sakit ini. Suatu kebanggaan bagi saya bisa menjadi bagian dari kehamilan Nona Frenya" kata Ana memperkenalkan dirinya


"Jangan terlalu formal dokter Ana. Santai saja" kata Ghina yang tidak ingin dokter Ana terlalu formal bersikap dengan mereka .


"Jadi, apa bisa kita mulai pemeriksaannya dokter?" tanya Juan yang sudah tidak sabaran lagi ingin melihat langsung janin yang ada di dalam kandungan Frenya.


"Yah ada yang nggak sabaran" ledek Aries.


"Kayak kamu yang nggak aja sayang waktu aku hamil Argha" jawab Ghina sambil mencubit perut Aries.


"Wow sepertinya ada yang harus olahraga dan diet" lanjut Ghina menyindir Aries.


"Nanti malam olahraga. Oke sayang. Kamu harus siap siap" ujar Aries sambil menatap mesum ke arah Ghina.


"Dilarang mesum sayang" ujar Ghina.

__ADS_1


Dokter Ana melihat semua itu dengan pandangan tidak percaya. Keluarga yang dikatakan oleh seluruh orang di luar sana sebagai keluarga yang dingin dan kejam, tetapi dokter Ana sama sekali tidak menemukan hal seperti itu di keluarga ini.


"Dokter Ana santai saja. Kami bisa seperti ini ya karena hanya kami kami aja. Tapi kalau di luar maka apa yang dikatakan oleh orang orang itu memang benar" ujar Argha yang bisa membaca apa yang ada di dalam otak dokter Ana sekarang.


Dokter Ana tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Argha kepada dirinya. Dokter Ana terlihat sangat bahagia saat Argha berbicara dengan dirinya.


"Hay dokter jangan terhasut oleh pesona bontot kami itu. Dia sudah ada calon istri. Kami nggak mau dokter patah arang nanti" kata Frenya mengingatkan dokter Ana untuk tidak termakan rayuan dari Argha.


Dokter Ana tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Frenya kepada dirinya. "Tenang saja Nona, saya tidak akan terpesona oleh Tuan Muda Argha" jawab dokter Ana.


"Akhirnya ada yang bisa menolak pesona kau bontot" ujar Frenya sambil tersenyum mengejek Argha.


"Nana, ini harus dihentikan, kalau tidak maka akan berlanjut terus" Rani berbisik kepada Ghina.


Ghina mengangguk setuju, benar yang dikatakan oleh Rani kepada dirinya. Kalau ini terus dibiarkan maka tidak akan ada ujungnya.


"Baiklah dokter Ana, apa kita bisa ke ruangan dokter sekarang?" tanya Ghina kepada dokter Ana.


"Bisa Nyonya" jawab Ana.


"Mari ikut dengan saya Nyonya, Tuan" lanjut Ana menjadi penunjuk arah untuk menuju ruangannya.


Dokter Ana berjalan paling depan, sedangkan semua anggota keluarga Soepomo berjalan mengikuti dokter Ana.


"Nona Frenya silahkan berbaring di kasur" kata dokter Ana mempersilahkan Frenya untuk berbaring di atas ranjang periksa.


Frenya ditemani Ghina dan Rani masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Keluarga anggota Soepomo yang lain ikut ikutan untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


"Hay Daddy, Sayang, Argha mau kemana?" teriak Rani saat melihat ketiga pria tampan keluarga Soepomo ikut berjalan menuju ruang pemeriksaan.


"Kami juga mau lihat pemeriksaannya" jawab Aries dengan santai.


"Mana boleh Daddy, yang boleh masuk ke dalam ruang pemeriksaan adalah Suami dari pasien, Bunda dari pasien" kata Rani menjelaskan prosedur rumah sakit.


"Itu untuk pasien lain Rani, tidak untuk kami" jawab Aries tetap memaksa untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


"Ya lah. Terserah, kalau Nana marah aku nggak mau tau ya, kan udah aku larang tadi" kata Rani sambil berjalan masuk kembali ke dalam ruang pemeriksaan.


"Loh Bapak bapak kenapa masuk?" tanya dokter Ana saat melihat Aries, Daniel dan Argha juga berada di dalam ruang pemeriksaan.


"Kenapa kami tidak boleh berada di sini?" lanjut Daniel kembali bertanya kepada dokter Ana.


"Ya karena anda bertiga laki laki Tuan" jawab Ana dengan santai.

__ADS_1


"Oh biarkan saja, saya cuma mau lihat ke layar monitor, tidak ke yang lain" kata Aries dengan tegas.


"Tapi Tuan" ujar dokter Ana.


"Frenya, Juan, apa kalian berdua keberatan kalau Daddy, Uda dan Argha berada dalam ruang pemeriksaan ini?" tanya Aries kepada Frenya dan Juan.


Frenya menatap ke arah Juan. Frenya mengangguk mempersilahkan Daddy dan juga kedua saudaranya bisa melihat ke arah monitor.


"Daddy, Uda, Argha, boleh untuk melihat ke layar monitor, tapi tidak boleh lihat ke arah Frenya. Oke?" ujar Juan memberikan pilihan kepada Aries, Daniel dan Argha.


"Sip suami posesif" jawab Aries.


Juan mendorong tirai pembatas ruangan. Hal itu membuat Aries, Daniel dan Argha menatap heran ke arah Juan. Mereka tidak mengerti apa tujuan Juan melakukan hal tersebut.


"Kenapa tarik tirai Juan?" tanya Aries saat melihat apa yang dilakukan oleh Juan.


"Ya, jadi Daddy, Uda dan Argha boleh melihat Frenya dari balik layar ini saja" kata Juan memberitahukan fungsi dari tirai yang ditariknya.


"Caranya?" tanya Argha.


"Perhatikan" kata Juan.


Juan memperagakan apa yang harus dilakukan oleh Aries, Daniel dan Argha. Mereka bertiga kaget melihat apa yang dilakukan oleh Juan. Mereka tidak menyangka kalau mereka harus melakukan itu.


"Oke paham bukan apa yang harus dilakukan?" kata Juan kepada ketiga pria itu.


"Yup kami paham" jawab Aries dengan nada kesal.


Aries tidak menyangka kalau Juan akan meminta mereka melihat layar monitor dengan cara seperti itu.


"Oke dokter AnaAna, nggak usah pikirin makhluk aneh tiga itu. Kita lanjutkan saja pemeriksaan Frenya" kata Ghina meminta dokter Ana untuk memeriksa kehamilan Frenya.


Dokter Ana mulai melakukan pemeriksaan seperti hari kemarin. Dokter Ana melakukan dengan sangat teliti. Dokter Ana tidak ingin terjadi kesalahan saat memeriksa Frenya.


Dokter Ana mulai menjelaskan tentang kehamilan Frenya kepada semua orang. Para laki laki yang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh dokter Ana hanya melihat ke arah layar monitor. Mereka melihat janin Frenya yang ada di dalam rahim itu.


"Dokter apa itu anak saya?" tanya Juan dengan ogeb nya.


"Nggak anak orang lain. Ogeb banget" jawab Argha dari balik tirai.


Aries, Daniel dan Argha yang sudah melihat janin dari layar monitor perlahan berjalan keluar. Mereka akan menunggu di ruangan dokter Ana.


Frenya yang mendengar pertanyaan dari Juan hanya bisa geleng geleng kepala saja. Begitu juga dengan Ghina dan Rani.

__ADS_1


"Oke Tuan Juan. Anak kalian dalam kondisi sehat, tetapi sesuai dengan yang saya sampaikan kepada Nona Frenya kemaren, Nona Frenya tidak boleh terlalu lelah" kata dokter Ana menjelaskan kepada Juan tentang kondisi kehamilan Frenya.


__ADS_2