Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Murka Keluarga Wijaya


__ADS_3

Aris dan Bram yang berjalan cepat ke ruang bawah terkejut melihat Tuan Wijaya dan Afdhal sudah berdiri dengan raut wajah yang menahan amarah. Aris melihat ke Bram. Bram mengangkat kedua pundaknya, tanda tidak tahu ada keperluan apa Tuan Wijaya dan Afdhal datang ke rumah mereka tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Maid langsung memanggil Papi dan Mami kedalam kamar pribadi mereka. Mami yang mendengar pintu di ketuk dari luar langsung membuka pintu kamarnya.


"Ada apa maid?" tanya Mami kepada maid yang mengetuk pintu kamar.


"Ada Tuan Wijaya dan Tuan Afdhal nyonya di ruang tamu" jawab Maid


Papi yang sedang duduk di sofa langsung berdiri saat mendengar siapa yang datang ke rumah mereka. Papi dan Mami langsung berjalan ke ruang tamu. Betapa kagetnya mereka berdua saat melihat Tuan Wijaya dan Afdhal sudah menahan amarah mereka. Semua terlihat jelas dari raut wajah ayah dan anak itu.


"Papi, apa mereka sudah tau kalau Gina tidak ada di rumah kita?" tanya Mami.


"Papi juga tidak tau Mi. Kita harus bertanya kepada Tuan Wijaya" jawab Papi.


Papi dan Mami serta Aris dan Bram langsung menuju ruang tamu. Mereka tidak mau Tuan Wijaya dan Afdhal terlalu lama menunggu di ruang tamu.


"Selamat sore Tuan Wijaya" sapa Papi.


"Tidak perlu berbasa basi Tuan Soepomo. Kalian semua pasti sudah tau kedatangan kami kemari untuk apa. Jangan pura pura tidak tau. Kalian semua jangan menganggap kami orang bodoh. Keujung dunia masalah ini kalian simpan pasti tetap akan kami ketahui kebenarannya." kata Ayah dengan raut wajah yang sudah sangat tidak bersahabat lagi. Ayah benar benar murka. Afdhal saja baru tau kalau Ayah marah akan seperti ini. Selama ini ayah tidak pernah marah. Ayah terkenal sebagai orang yang sabar dan sangat tenang, apapun masalah yang sedang dihadapi oleh Ayah.


Ayah kemudian melangkah maju menuju Aris. Tanpa di duga oleh Aris, Ayah langsung menampar pipi Aris dengan sangat kuatnya. Aris yang tidak siap menerima tamparan dari Ayah, langsung terhoyong ke belakang. Semua yang melihat langsung terhenyak, mereka tidak menyangka Ayah akan tega menampar pipi Aris.


"Saya Tuan Wijaya, memberikan kesempatan kepada Anda Tuan Muda Soepomo untuk menemukan putri saya yaitu Gina dalam waktu satu kali dua puluh empat jam. Kalau tidak maka siang siap saja kamu akan menerima semua konsekuensinya." kata Ayah sambil menunjuk Aris dengan tangan kirinya. Ayah sudah tidak lagi memerhatikan tatakrama. Ayah sudah sangat kesal dengan semua kejadian yang terjadi.


"Tuan Wijaya, mari kita duduk terlebih dahulu. Kita bisa mendiskusikan semua ini dengan cara yang terbaik" kata Papi yang sangat tau kalau Tuan Wijaya sudah sangat emosi.


"Mendiskusikan semua untuk mencari jalan yang terbaik. Anda jangan bercanda Tuan Soepomo. Anak saya sudah kabur lebih dari sepuluh hari. Anda masih meminta saya untuk tenang. Saya tau, anak saya tidak akan pernah lari dari kenyataan kalau permasalahannya masih di batas normal." kata Ayah dengan penuh amarah.


"Saya akan menceritakan semua kejadiannya kepada anda Tuan. Tapi anda harus tenang dulu, ayo duduk" kata Papi masih berusaha menyabarkan ayah.


"Tenang Anda katakan Tuan Soepomo. Anda tidak merasakan rasanya ditinggal putri kandung Anda dalam keadaan hamil muda ditambah lagi penyebab dia kabur adalah perselingkuhan dari suaminya sendiri yang langsung dilihat dengan mata kepalanya sendiri" teriak Afdhal yang sudah tidak bisa menahan amarahnya.


"Afdhal" kata Ayah menghentikan perkataan yang akan dikeluarkan oleh Afdhal selanjutnya.

__ADS_1


"Tidak ayah. Cukup penghinaan yang mereka berikan kepada keluarga kita. Aku sudah muak dengan semua ini. Mereka menyimpan rapat dari kita tentang Gina yang pergi dari rumah. Mereka hanya memikirkan reputasi keluarga mereka agar tidak hancur dimata masyarakat." Lanjut Afdhal masih dengan berapi api.


" Mereka sengaja menyembunyikan semua kejadian ini dari kita Ayah. Sekarang adik ku di luar sana sedang hamil muda. Tidak satupun sanak saudara yang menemaninya. Sedangkan mereka yang katanya kaya raya, perusahaan nomor satu di negara ini. Hanya bisa diam saja. Oh maaf mereka melakukan pencarian, tetapi karena takut menghabiskan banyak uang mereka, mereka akhirnya hanya mengerahkan segelintir orang saja" kata Afdhal. Afdhal mengeluarkan semua uneg unegnya.


"Maaf tuan muda. Saya setiap hari melakukan pencarian, tetapi Gina memang tidak bisa saya temukan." kata Aris.


"Hay, Semua ini terjadi karena keegoisan anda yang tidak puas terhadap satu wanita saja. Masih lumayan kalau selingkuhan anda adalah selevel dengan adik saya. Ternyata anda lebih menyukai batu kali dari pada berlian. Sekarang saya Afdhal Putra Wijaya, mengatakan kepada Anda Aris Soepomo, anda tidak perlu lagi mencari adik saya. Saya yang akan membawa dia kembali pulang." kata Afdhal langsung keluar dari rumah utama keluarga Soepomo. Dia sangat marah dan kesal. Afdhal langsung masuk ke dalam mobilnya, dia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Dia sangat kesal dengan dirinya yang tidak bisa menjaga adik satu satunya. Afdhal tidak tau apa yang akan dikatakannya kepada Nana. Wanita yang sangat mencintai Gina.


" Tuan Soepomo, maaf kalau saya sudah membuat keributan di rumah mewah anda ini. Sekali lagi saya minta maaf, Gina akan kembali ke rumah kami lagi. Kami tidak akan membiarkan putri kami disakiti untuk kesekian kalinya. Saya permisi dahulu Tuan Soepomo." kata Tuan Wijaya.


Aris yang melihat Tuan Wijaya sudah beranjak mau meninggalkan rumah, langsung mengejar Tuan Wijaya. Aris memegang kaki mertuanya itu.


"Apa yang Anda lakukan Tuan Muda. Anda tidak layak melakukan ini" kata Tuan Wijaya tanpa memandang Aris. Tuan Wijaya menarik kakinya. Dia tidak mau Aris memohon seperti ini.


"Ayah aku mohon Ayah, biarkan Gina kembali ke sisiku ayah. Aku tidak bisa hidup tanpa Gina" kata Aris memohon kepada Tuan Wijaya.


"Maaf Tuan Muda. Saya tidak bisa mengabulkan permintaan Anda. Saya sebagai orang tua, mengembalikan semuanya kepada anak saya, karena dialah yang sudah anda sakiti dengan sangat luar biasa. Satu hal, saya kecewa dengan Anda. Anda manusia berpendidikan tetapi moral anda melebihi manusia yang tidak berpendidikan." kata Ayah dengan menahan emosinya.


"Anda tidak perlu meyakinkan kepada saya. Cukup kepada anak saya saja. Saya permisi dahulu. Saya masih harus mencari keberadaan putri tercinta saya." kata Ayah sambil melangkahkan kakinya meninggalkan rumah utama keluarga Soepomo.


Aris terduduk di lantai. Dia tidak menyangka Tuan Wijaya dan Afdhal akan semurka itu. Mami yang melihat Aris terduduk lesu, langsung menemui Aris.


"Sekarang kamu carilah istri dan anak kamu. Mereka membutuhkan kamu. Kamu harus tau, Tuan Wijaya sudah sangat emosi" kata Mami.


Aris langsung berdiri dari lantai. Dia langsung memanggil Bram. Bram yang dimerasa namanya di panggil Aris langsung menuju Aris.


"Kita jalan sekarang Bram. Gue nggak mau kalau Tuan Wijaya atau Afdhal yang lebih dahulu menemukan Gina." kata Aris.


Bram dan Aris langsung masuk kedalam mobil. Mereka akan menuju tempat dimana ponsel Gina terkahir aktif. Sedangkan Gina dan Sari sudah terlebih dahulu meninggalkan tempat itu. Mereka tidak ingin, Aris menemukan Gina dengan cepat. Aris masih harus menerima semua konsekuensinya.


Dalam perjalanan, ponsel Gina berdering, ternyata Alex menghubungi dirinya. Gina langsung mengangkat panggilan itu.

__ADS_1


"Hallo Alex, ada berita apa?" tanya Gina yang sudah tau kalau Alex menghubunginya, pasti ada berita yang akan diberitahukan oleh Alex.


"Tadi Tuan Wijaya dan Tuan Afdhal mendatangi rumah keluarga Soepomo. Mereka berdua marah besar kepada keluarga itu. Mereka ternyata sudah mengetahui semua permasalahannya nona." kata Alex


"Baiklah. Saya akan memainkan rencana B. Ternyata Ayah dan Uda bergerak cepat juga" kata Gina sambil menggelengkan kepalanya.


"Baiklah Nona. Saya akan mengikuti kembali mobil Tuan Aris yang sepertinya menuju ke tempat nona berada tadi. Apakah nona sudah bergerak jauh?"


"Sudah Alex. Kamu ikuti mobil itu terus. Saya menunggu informasi dari kamu."


"Siap nona" jawab Alex.


"Oh ya Alex. Apakah kamu sudah meletakkan pengawal untuk mengiringi Ayah dan Uda?" tanya Gina selanjutnya kepada Alex.


"Sudah nona. Saya sudah menempatkan anggota kita untuk mengikuti pergerakan Ayah dan Tuan Afdhal" kata Alex menjawab pertanyaan Gina.


"Oke Alex. Kerjakan dengan rapi"


"Siap"


Gina kemudian memutuskan panggilannya dengan Alex. Gina akan menuju kedarah lainnya. Dia akan menjauh dari tempat tadi. Gina ingin melihat langsung perjuangan Aris untuk mencari dirinya.


"Sari, kita putar balik. Gue mau melihat langsung perjuangan Aris mencari gue"


"Siap bos" kata Sari yang memang sudah paham dengan maksud Gina meminta putar balik ke tempat tadi.


Sedangkan Aris melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju daerah dimana ponsel Gina terakhir aktif. Aris melaju dengan kecepatan tinggi. Membuat Bram menjadi takut dengan cara Aris membawa mobil.


"Ris pelankan dikit kenapa laju monilnya?" kata Bram.


"Jangan Bram. Nanti kita akan ketinggalan Gina. Gue tau Gina akan langsung pergi saat dia memutuskan panggilan telponnya tadi" kata Aris.

__ADS_1


Aris tetap tidak memelankan laju mobilnya. Dia tetap melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi.


__ADS_2