
Malam harinya Aris dan Gina turun untuk ikut makan malam dengan keluarga. Mereka bersua tadi tidak ikut sholat berjamaah. Mereka berdua ketiduran cukup lama. Rasa letih habis resepsi pernikahan masih terasa di badan mereka. Aria turun dengan menggandeng tangan Gina. Gina langsung melihat Afdhal yang siap dengan ejekannya.
"Mau nyebrang jalan kemana dek?" kata Afdhal dari kursinya.
Nana yang meluhat Afdhal sudah mulai memancing keributan menatap ayah dengan tajam untuk emminta Afdhal tidak memulai keributan lagi. Tapi semuanya udah terlambat.
"Alah, mau ngebully aku? Yakin nggak bakalan nyesel?"
"Nyesal kenap?" jawab Afdhal.
"Sayang, uni Anggel kita kasih beasiswa untuk kuliah di luar negeri yuk. Bilang aja reward dari rumah sakit." kata Gina menatap Aris. Aris yang paham dengan maksud Gina langsung menyambar umpan yang diberikan istrinya.
"Ide bagus sayang. Bolehlah, nanti kamu ingatin lagi ya. Biar aku telpon direktur rumah sakit"
"Makasih sayang. Kamu suami paling pengertian dan sangat tau mau istrinya apa" kata Gina sambil memanas manasi Afdhal.
"Ooooo mulai memakai pengaruh ya. Bermain itu adil adiak. Nggak boleh curang pakai kekuatan suami"
"Op Uda yang salah. Aku nggak make kekuatan suami aku. Aku hanya meminta. Apa salahnya istri minta sama suami sendiri, yang salah kalau minta ke suami orang lain." jawab Gina yang menang telak sekali ini melawan Afdhal.
"Sudah hentikan. Kalian berdua kalau ketemu susah untuk bersikap dewasa. Coba kalau nggak ketemu cariin kayak tikus cari keju. Pusing Nana punyak anak kayak kalian."
"Wow. Nana pusing punya kami? Itu boong Nana." ucap Gina.
"Serahlah. Sekarang makan. Tidak ada yang bersuara." kata Nana dengan emosi.
Afdhal dan Gina sudah tau bagaimana Nana kalau udah marah, langsung saja diam. Suara di ruang makan dalam sekejap langsung menghilang. Suara yang terdengar tinggal gesekan antara piring dengan sendok. Selain itu tidak ada sama sekali yang terdengar. Aris menjadi kagum dengan Nana. Hanya dengan satu kali peringatan Afdhal dan Gina langsung kooperatif. Aris harus berpikir ulang kalau akan buat masalah dengan Nana. Gina yang paham dengan pikiran Aris langsung berbisik ke telinga Aris.
"Jangan pancing marah Nana. Mengerikan kayak petasan acara tahun baru. Tak akan berenti sampe habis stok" ucap Gina.
Aris menatap Gina lama. Gina kemudian menggangguk. Arispun menggeleng tidak percaya. Gina hanya meremas tangan Aris. Aris membalas remasan tangan Gina.
Mereka selesai makan malam, ayah membawa mereka untuk duduk di ruang keluarga. Kumpul ramai seperti ini akan sangat jarang terjadi ke depannya, karena Gina sudah pindah ke rumah mertuanya.
"Jadi udah Ris?" tanya Afdhal.
"Udah apanya Dal?" kata Aris tidak paham.
"Alah sok ndak paham pula dengan pertanyaan Gue."
Aris kemudian berpikir keras. Afdhal memberikan simbol kepada Aris. Aris yang melihat simbol yang diperagakan oleh jari menjadi paham apa yang ditanyakan oleh Afdhal.
__ADS_1
Aris menatap Gina. Gina terlihat menatap Afdhal dengan penuh emosi. Aris kemudian membisikan sesuatu kepada Gina. Gina langsung tersenyum dan mengecup sekilas pipi Aris. Ayah dan Nana yang melihat hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Gina yang berubah menjadi agresif.
"Kalau mau tau rasanya gimana, sana nikahi anggel" ujap Gina dengan tersenyum mengejek Afdhal.
"Kalau nggak mampu nikahin Anggel, jangan tanya tanya yang aneh aneh. Sakitnya tuh disini." lanjut Gina.
Afdhal terlihat ingin membalas Gina lagi.
"Afdhal sudah." giliran Ayah yang memperingatkan kedua anaknya yang sudah dewasa itu.
"Yang satu udah nikah kelakuan sama aja dengan waktu belum nikah. Ya satu belum nikah masak mau ngurusin yang udah nikah. Ya nggak bisa lah uda" lanjut Nana sambil meletakkan puding buah di atas meja.
Nana kemudian duduk di dekat Ayah.
"Aris karena orang tua Aris udah memberikan rumah untuk tempat tinggal kalian berdua. Malam ini ayah akan memberikan kunci dan sertifikat sebuah bungalaw kecil di daerah Ubud." kata ayah sambil memberikam kunci dan sertifikat kepada Aris.
"Apa ini ayah?" ucap Aris.
"Kado pernikahan untuk kalian berdua." lanjut Ayah.
"Terimakasih ayah. Kado yang wah" ucap Gina sambil memeluk ayahnya dengan erat.
"Sama sama sayang" ucap ayah dan nana.
Gina menatap Adfhal dengan tatapan menantang dengan makna "Dari loe mana hadiah. Kaya tapi pelit"
"Gin, ini dari uda" ucap Afdhal memberikan sebuah amlop
"Akhirnya. Gina kira uda akan ngomong, uda nebeng sama ayah dan nana" Jawab Gina.
"Gue nggak miskin kali Gin." ucap Afdhal kesal, sambutan Gina tidak seperti yang diharapkannya.
"Hahahahahaha. Maafkan aku uda sayang. Hadiah dari uda sangat wah. Makasi ya" kata Gina sambil memeluk Afdhal. Aris yang melihat Gina memeluk Afdhal langsung berubah warna mukanya.
"Diak ada yang cemburu tuh" kata Afdhal sambil menunjuk Aris dengan lirikan matanya.
Gina kembali duduk sebelah Aris. "Jangan cemburu gitu. Dia uda aku satu satunya sayang" ucap Gina sambil meremas tangan Aris.
"Maaf Ris, gitulah Afdhal dengan Gina, selalu ribut tidak jelas. Ada ada saja yang akan mereka ributkan" ucap ayah meminta Aris untuk mengerti dengan kelakuan Afdhal dan Gina.
"Tidak apa apa ayah. Aku dan Bram juga seperti itu dulunya. Sering ribut juga. Bahkan sampai sekarang masih suka ribut karena hal sepele." ucap Aris.
__ADS_1
Mereka teru saja berbincang tentang hal apapun itu. Aris yang mulanya merasa canggung dengan keluarga Wijaya menjadi biasa saja setelah tau bagaimana keluarga Wijaya dalam kesehariannya.
"Udah malam Yah. Lebih baik kita beristirahat." ucap Nana.
"Setuju Na. Apalagi ada pengantin baru" ucap Afdhal yang akan menyindir Gina lagi.
"Sirik" ucap Gina sambil menjulurkan lidahnya.
"Sayang" tegur Aris kepada Gina yang sikapnya mulai keterlaluan.
"Maaf sayang" ucap Gina kepada Aris. Gina tau Aris tidak suka dengan sikapnya yang menjulurkan lidah kepada Afdhal. Mulai hari ini Gina harus bisa mengubah sikapnya kepada Afdhal sedikit demi sedikit. Dia tidak.mau membuat Aris cemburu setiap sebentar. Walaupun mereka kakak beradik tetapi Gina harus menenggang perasaab Aris sebagai suaminya.
Mereka berdua pergu ke kamar untuk beristirahat. Aris memerhatikan kamar Gina dengan sangat teliti sekali. Aris melihat sekeliling kamar Gina.
"Sayang apa yang diperhatikan sampai sebegitunya?" kata Gina yang jeran dengan tingkah Aris.
"Kenapa nggak ada sisi perempuannya sayang" ucap Aris sambil duduk di kasur Gina.
"Hahahahaha, aku kira kenapa. Tuh ada satu" tunjuk Gina kepada boneka singa besar di atas kasurnya. Singa yang selalu menemaninya tidur.
Aris yang melihat apa yang ditunjuk Gina tersenyum bahagia. Ya boneka itu adalah pemberian Aris saat Gina mengatakan dia tidak punya teman untuk ngobrol malam hari.
"Jadi dia nemani kamu selama ini? Kamu peluk, kamu cium?"
"Yup. Kenapa cemburu sama babang singa?" tanya Gina dengan manja.
"Babang singa?"
"Ya babang singa" jawab Gina dengan penekanan.
Aris mengambil babang singa Gina dan meletakkannya di bawah kasur.
"Maaf babang singa, mulai hari ini ada Uda singa yang menggantikan posisi babang" kata Aris sambil menatap tajam ke arah babang singa.
Gina yang melihat tingkah Aris hanya bisa tertawa saja.
Aris kemudian membaringkan badannya di atas kasur "Sayang sini tidur" kata Aris sambil menepuk nepuk tangannya.
Gina kemudian naik dan tidur di atas tangan Aris yang kekar itu. "Oke Uda singa" kata Gina.
Aris mengecup kening Gina dengan sayang. Dia memeluk Gina dengan sangat posesif. Gina sangat merasa nyaman dalam pelukan Aris.
__ADS_1