
Papi masuk ke dalam mobil, dia langsung duduk di kursi bagian supir. Sedangkan Asisten Hendri yang melihat Papi duduk di kursi bagian pengemudi hanya bisa melongo saja.
"Kamu ikut atau tidak Hen. Jangan melongo kayak gitu." ujar Papi.
Asisten Hendri masuk ke dalam mobil, dia duduk di sebelah pengemudi. Papi yang melihat Hendri telah duduk di kursinya, Papi langsung tanjap gas. Dia ingin cepat sampai di rumah utama. Papi ingin melihat reaksi Mami atas video yang dikirimkan oleh orang tidak di kenal itu.
Jarak kantor dan rumah utama yang seharusnya jauh dan memakan waktu selama empat puluh lima menit. Oleh Papi hanya butuh tiga puluh menit saja. Asisten Hendri yang berharap dapat duduk santai, terpaksa harus memegang bagian bawah kursi dengan kuat. Hal itu disebabkan oleh Papi yang selalu mengerem mendadak mobilnya.
Papi memarkirkan mobilnya di depan teras rumah tidak di tempat seharunya mobil do parkir. Papi langsung turun tanpa sempat menutup pintu mobil kembali. Paman Hendri yang melihat kelakuan dan amarah Papi, lantas mengirim sebuah pesan dan video Arga tadi kepada Aris.
"Mami Mami Mami" teriak Papi. Suara Papi memenuhi seluruh ruang utama.
Seorang Maid yang sedang berada di dapur berlari keluar saat mendengar Tuan Besar mereka berteriak teriak mencari istrinya.
"Mana Nyonya, maid ?" tanya Papi dengan berusaha menahan emosinya agar tidak berpindah ke seorang maid.
"Maaf Tuan Besar. Nyonya tidak berada di rumah. Tadi siang Nyonya pergi Tuan." jawab Maid dengan gemetar.
"Apa dia tidak ada meninggalkan pesan mengatakan dia mau kemana?" lanjut Papi bertanya kepada Maid.
"Sama sekali tidak ada Tuan. Nyonya main pergi saja tanpa memberitahukan apapun kepada kami Tuan." jawab Maid masih dengan suara yang semakin bergetar karena kecemasan dan ketakutannya.
"Baiklah terimakasih atas infonya." ujar Papi.
Papi masuk ke dalam ruang kerjanya. Sedangkan Asisten Hendri menuju Maid yang tadi menjawab pertanyaan Papi dengan suara yang bergetar. Asisten Hendri curiga dengan jawaban yang diberikan maid tersebut.
"Kamu ke sini." ujar Hendri menunjuk Maid yang menghadap ke Papi tadi.
"Saya mau kamu menjawab jujur. Nyonya besar kemana?" tanya Hendri dengan tatapan tajamnya. Siapapun yang melihat tatapan Hendri saat itu dipastikan tulangnya rontok.
"Keluar Tuan. Saya tidak tau kemana." ujar Maid tersebut masih dengan gemetarnya
Asisten Hendri menatap tajam mata maid tersebut. Asisten Hendri tau kalau maid tersebut berbohong.
"Satu kesempatan lagi." ujar Asisten Hendri.
Maid tersebut akhirnya pasrah saja. Dia memilih untuk memberitahukan kepada asisten Hendri.
"Nyonya Besar tadi menerima telpon dari Nyonya Wijaya. Setelah itu Nyonya Besar pergi ke luar rumah dan mengatakan akan bertemu Nyonya Wijaya di luar." ujar Maid menceritakan semuanya kepada Asisten Hendri.
__ADS_1
"Terimakasih infonya. Kamu silahkan kembali bekerja." ujar Asisten Hendri sambil berlalu dari hadapan Maid menuju ruang kerja Papi.
"Selamet selamet." ujar Maid sambil mengurut dadanya, karena selamat dari tatapan Asisten Hendri.
.
.
.
Sedangkan di perusahaan Soepomo, Aris yang menerima sebuah notifikasi pesan dari Asisten Hendri. Membaca dan melihat video tersebut. Betapa terkejutnya Aris melihat video yang dikirim oleh Asisten Hendri. Aris kemudian membalas pesan dari Asisten Hendri yang berisi dia akan pulang menuju rumah utama sekarang juga.
Aris menyambar jas dan kunci mobilnya. Dia sama sekali tidak berniat untuk melihat ruangan Bram yang selama ini selalu dibukanya saat datang dan pulang untuk memastikan apakah Bram sudah ada di sana atau tidak. Padahal kalau Aris membuka pintu itu seseorang yang sedang dibutuhkannya sedang membaca laporan laporan yang ditinggalkannya beberapa hari ini.
"Aku pulang dulu." ujar Aris kepada sekretarisnya.
"Tuan, Tuan --" Sekretaris akan mengatakan kepada Aris kalau Tuan Bram sudah berada di dalam ruangannya.
"Nanti saja. Saya pulang dulu, ada hal yang lebih penting dari pada kerjaan itu." ujar Aris sambil masuk ke dalam lift.
"Tuan Bram yang sudah datang Tuan." ujar sekretaris sambil mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
Aris melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia akan membuat perhitungan dengan Mami. Aris tidak habis pikir Mami sampai tega terhadap cucu kandungnya sendiri.
Aris sampai dirumah dengan memakan waktu perjalanan selama tiga puluh menit saja. Waktu tercepat bagi seorang Aris untuk sampai di rumah utama. Aris memarkir mobilnya tepat di belakang mobil Papi. Aris turun dan berjalan cepat ke dalam rumah utama.
"Mami, Mami keluar Mami. Aku perlu dengan Mami." ujar Aris berteriak dengan keras.
Papi yang mendengar suara teriakan Aris menatap Asisten Hendri. Asisten Hendri mengangguk menyetujui pertanyaan Papi yang tidak terungkap itu.
Papi dan Asisten Hendri keluar dari ruangan kerja Papi.
"Dia tidak ada di rumah Ris. Sedang bertemu dengan Nyonya Wijaya." ujar Papi memberitahukan kepada Aris keberadaan Nyonya yang mereka cari.
"Ada apa mereka bertemu Pi?" ujar Aris bertanya.
"Papi nggak tau Ris." jawab Papi.
Mereka bertiga duduk di sofa ruang tamu menunggu kedatangan Nyonya besar tersebut. Selama dua jam mereka menunggu akhirnya Nyonya besar itu datang juga dari kegiatannya bertemu dengan Nyonya Wijaya. Mami yang tidak tau dengan sudah terbukanya sedikit kedoknya atas perlakuan dirinya kepada Arga, masuk ke dalam rumah sambil tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Loh tumben Pi udah pulang aja dari kantor. Kamu juga Aris, tidak biasanya pulang jam segini." ujar Mami sambil langsung duduk di sofa yang kosong.
Papi dan Aris tidak menjawab pertanyaan dari Mami. Malahan kedua pria Soepomo itu memberikan Mami tatapan membunuh. Mami yang melihat merasakan ada sesuatu yang mereka berdua ketahui.
Papi memberikan ponselnya kepada Mami. Ponsel Papi menayangkan video Mami yang sedang mendorong Arga serta menyebabkan kepala Arda harus dijahit di rumah sakit.
Mami menatap kedua orang itu dengan tatapan cemas.
"Mami bisa jelaskan. Ini semua tidak sesuai dengan video ini. Video ini pasti video editan. Kita semuakan sudah mendengar sendiri dari Gina kalau Arga terjatuh saat bermain. Jadi ini video sengaja dibuat agar semua orang membenci dan menyalahkan aku." ujar Mami sambil berpura pura mengusap air matanya.
"Hay Nyonya, kamu bisa lihat tidak di video itu ada hari, tanggal, waktu dan tempat kejadiannya. Bagaimana itu bisa di edit. Tolong Nyonya sampaikan." ujar Papi dengan meninggikan suaranya.
Mami terkejut mendengar suara Papi yang bernada tinggi itu kepada dirinya. Dia tidak menyangka Papi akan bersikap seperti ini.
"Itu pekerjaan orang IT nggak mungkin aku tega ke cucu kandungku." ujar Mami sambil berpura pura menangis.
"Maaf sebelumnya Mi. Video ini sudah aku cek keasliannya ke bagian IT dan ternyata semua video ini adalah asli bukan editan." ujar Aris yang memang sudah mencek keaslian video tersebut.
"Aku tidak menyangka Mi. Mami tega dengan melakukan hal itu kepada Arga. Aku mulai yakin sekarang kalau Mami lah yang membuat anak dan istriku pergi." lanjut Aris dengan sangat kesalnya.
"Kalau sempat semua itu terbukti Mi. Maka Aku sendiri yang akan mengusir Mami dari rumah ini. Ingat kata kata Ku Mi. Gara gara Mami keluargaku tercerai berai."
"Aku kecewa dengan sikap Mami." ujar Aris sambil berlalu dari depan kedua orang tuanya. Dia masuk ke dalam kamar.
"Aku tidak menyangka Mami setega itu dengan Arga." ujar Aris sambil berbicara dengan fhoto Gina.
"Maafkan Daddy Arga yang nggak bisa menjaga Arga dengan baik. Daddy salah nak. Daddy janji Daddy akan berubah, tetapi tolong bantu Daddy nak. Pulanglah kembali ke rumah ini nak." ujar Aris yang sudah tidak bisa menahan air matanya yang turun.
Mami hanya bisa menunduk. Dia sudah tidak mungkin lagi membela dirinya. Semua bukti telah menunjukkan kalau dialah pelakunya. Anaknya sudah marah dan meyakini kalau dialah penyebab dari kepergian Gina dan Arga.
"Aku tidak menyangka kelakuan kamu tidak juga berubah. Apa salah Arga? Sampai kamu tega mendorongnya seperti itu. Aku kecewa sama kamu." ujar Papi.
Papi berjalan ke kamar utama. Dia mengeluarkan semua pakaian Mami. Dari kamar utama.
"Kamu silahlan tidur di kamar tamu. Aku tidak sudi melihat muka yang telah menganiaya cucuku. Satu hal lagi, saat semua bukti mengarah kepada kamu yang menjadi dalang kepergian menantu dan cucuku. Silahkan kamu ucapkan selamat tinggal kepada kemewahan. Sekarang silahkan nikmati terlebih dahulu." ujar Papi dengan nada yang sangat luar biasa dinginnya.
Mami mengemasi semua barang barangnya yang di lempar oleh Papi keluar kamar. Mami membawa masuk semua pakaian itu ke dalam kamar tamu. Para Maid hanya bisa menatap saja. Kemaren Gina yang terusir dari kamarnya oleh Mami. Sekarang Mami yang terusir dari kamarnya oleh Papi. Karma itu benar benar cepat datangnya kepada Mami.
...****************...
__ADS_1
MAAF KAKAK TELAT UP NYA.