
Dret dret dret. Bunyi ponsel Ghina yang berdering nyaring di telinganya. Ghina meraih ponsel tersebut. Dia melihat nama Alex yang muncul di layar ponsel miliknya.
"Alex?" ujar Ghina.
Aris yang juga terganggu dengan telpon Ghina, menatap kearah Ghina.
"Siapa sayang?" tanya Aris.
Aris melihat jam tangannya, hari sudah tengah malam kenapa masih ada yang menghubungi istrinya itu.
"Alex sayang. Sepertinya penting." ujar Ghina.
"Kita angkat di luar aja." ujar Aris.
Ponsel milik Ghina berhenti berdering. Dia dan Aris berjalan keluar ruangan rawat Sari. Sampai di luar kepala penjaga sudah menunggu Ghina dan Aris.
"Nyonya, Tuan Alex menghubungi." ujar kepala penjaga sambil memberikan ponselnya ke Ghina.
"Loadspeaker" ujar Aris.
Kepala penjaga mengloadspeaker ponselnya. Mereka bergerak ke arah luar ruang rawat Sari.
"Hallo Alex ada apa?" tanya Ghina.
"Maaf Nyonya. Saya terpaksa menghubungi Nyonya tengah malam ini. Sebelumnya saya mengucapkan selamat atas kembalinya Nyonya Sari." ujar Alex.
"Terimakasih Alex. Informasi apa yang kamu berikan kepada saya tengah malam buta begini Alex." ujar Ghina yang sudah tidak sabaran. Apalagi Aris.
"Nyonya, kami berlima sebelumnya meminta maaf kepada keluarga besar Wijaya kalau berita yang akan kami berikan membuat keluarga Wijaya akan kembali goyah." ujar Alex.
"Tunggu sebentar Alex. Kamu bilang keluarga Wijaya? Apa ada kaitannya dengan tragedi yang menimpa Sari?" tanya Ghina.
"Benar Nyonya." jawab Alex.
"Alex saya minta kamu menghentikan sebentar informasinya. Saya harus memanggil Ayah dan Afdhal terlebih dahulu." ujar Ghina.
Ghina terlihat mau pergi menuju ruangan Sari lagi. Tapi dihentikan oleh Aris.
"Biar aku aja sayang." ujar Aris.
"Makasi sayang." jawab Ghina.
Ghina kembali duduk di kursi tunggu depan pintu ruang masuk ruangan VIP. Beberapa pengawal terlihat menjaga Ghina. Tak lama kemudian Ayah dan Afdhal datang bersama dengan Aris.
"Ada apa Nak?" tanya Ayah.
Ghina menggeleng, dia belum tau informasi apa yang akan diberikan oleh Alex dan yang lain.
__ADS_1
"Hallo Alex, kamu bisa lanjutkan. Saya Tuan Wijaya." ujar Ayah.
"Baiklah Tuan. Tapi saya harus minta maaf kepada Tuan." ujar Alex.
"Tidak masalah Alex. Tidak ada yang harus dimaafkan." ujar Ayah.
"Kami akan menerima apapun informasi yang akan kamu bagi kepada kami Alex." ujar Ayah.
"Jadi begini Tuan dan Nyonya." kata Alex ingin memulai mengatakan apa informasinya.
Ghina paham dan bisa membaca informasi otu. Tidak ingin mendengar melalu sambungan telpon.
"Alex, kalian berada di negara mana sekarang?" tanya Ghina.
"Negara B Nyonya. Kalau kami harus terbang ke sana sekarang. Kami akan terbang saat ini juga." jawab Alex yang sudah paham dengan maksud pertanyaan Ghina.
"Oke Alex terbang sekarang. Pagi pagi sekali kita akan bertemu di markas. Saya dan keluarga Wijaya akan berada di sana pukul enam pagi. Kalian butuh terbang berapa jam?" ujar Ghina.
"Hanya tiga jam perjalanan Nyonya. Juan juga sudah menyiapkan pesawat, kami sekarang tinggal menunggu untuk take off." ujar Alex memberikan informasi.
"Baiklah Alex. Kalian silahkan terbang. Saya dan keluarga akan berangkat sekarang juga ke markas." ujar Ghina.
Sambungan telepon diputus oleh Ghina.
"Ayah, kita ke markas sekarang." ujar Ghina.
Perjalanan menuju markas sangat singkat karena jalanan yang tidak ramai itu. Jalanan sangat sepi sekali. Tidak ada kendaraan yang lalu lalang seperti pagi hari.
Mobil masuk kedalam komplek markas. Tuan Wijaya dan yang lainnya turun dari dalam mobil. Mereka menuju gedung utama markas. Ghina dan yang lain masuk ke dalam kamar pribadi mereka yang sudah disiapkan oleh pengawal. Ghina dan yang lain akan beristirahat terlebih dahulu sambil menunggu Alex dan yang lainnya datang ke markas.
"Sayang istirahat dulu. Jangan berpikir yang aneh aneh terlebih dahulu." ujar Aris.
"Iya sayang. Tapi bobok peluk." ujar Ghina manja.
Sepasabg suami istri itu tidur berpelukan. Mereka melihat kehidupan yang akan tentram ke depannya. Tidak akan ada lagi masalah yang akan muncul di keluarga besar mereka.
Tepat pukul enam pagi, semua anggota keluarga Wijaya dan Alex serta tim yang ikut menangkap pelaku tragedi yang menimpa Sari sudah duduk di ruangan meeting.
"Alex laporkan." ujar Ghina.
"Baik Nyonya." jawab Alex.
"Pencarian pelaku Nyonya Sari kami mulai dengan mendatangi Tante yang dikatakan mengirim hadiah mobil naas itu kepada Nyonya Sari. Ternyata Tante itu sama sekali tidak membeli mobil tersebut. Sehingga si Tante tidak bisa memberikan keterangan apapun kepada Kami." ujar Alex.
Ghina dan yang lain fokus mendengarkan Alex.
"Singkat cerita Felix yang saat itu sudah kembali ke Felix yang dulu masuk kedalam tim kami berdua. Felix membantu kami melacak siapa suara yang telah menelpon Nyonya Sari pada saat itu. Akhirnya berkat Felix kami bertemu dengan wanita yang menyamar jadi Tante Sari." ujar Alex.
__ADS_1
"Wanita itu kami tangkap di negara B. Makanya pada saat itu kami bertiga sepakat menghubungi Jero dan Bimo untuk meminta tolong melakukan penyelidikan." lanjut Alex.
"Saat di Negara B, kami hampir berhasil menangkap pelaku sebanyak dua kali. Akhirnya Bimo yang ahli dalam menyusun siasat untuk menangkap orang datang dan menyusun rencana matang. Akhirnya singkat cerita perempuan itu berhasil kami tangkap. Kami melakukan introgasi dengan dia," lanjut Alex.
"Saat itu kami langsung mengintrogasi dia. Kami menemukan siapa dalang dari kejadian itu." ujar Alex.
"Siapa dalangnya? Jangan kamu katakan kalau dalangnya adalah wanita itu." ujar Ghina.
"Maaf Nyonya. Benar dia dalangnya." ujar Alex.
Ayah, Afdhal dan Ghina melongo tidak percaya. Wanita itulah dalang dari kejadian semuanya.
"Sekarang dimana wanita itu?" ujar Ayah murka.
"Sekali lagi maaf Tuan. Nyonya sudah bunuh diri saat kami kurung di rumah yang kami sewa. Mereka bunuh diri berdua." ujar Alex
"Mayat mereka dimana Alex?" ujar Ayah.
"Sudah kami kubur Tuan." jawab Alex
Mereka semua kemudian termenung. Mereka benar benar tidak menyangka kalau dalang semuanya adalah anggota keluarga mereka sendiri.
"Baiklah. Kami sudah menerima semuanya. Tapi bisakah saya bermohon kepada kalian semua?" ujar Ghina.
"Siap bisa Nyonya." jawab mereka serempak.
"Saya minta kalaian menyimpan rapat masalah ini. Saya tidak ingin ada yang tau siapa dalang dibalik kecelakaan Sari. Apa kalian mengerti?" ujar Ghina.
"Mengerti Nyonya." jawab mereka yang tau siapa dalangnya.
Semua anggota keluarga Wijaya pergi meninggalkan markas. Mereka akan kembali ke rumah sakit dan menyimpan rapat bukti bukti ini.
"Ayah. Ayah baik baik saja?" tanya Ghina
"Baik sayang. Jangan cemaskan Ayah. Kita akan tetap menurtup rapat aib ini. Dan akan membawanya sampai mati." ujar Ayah.
"Baik Ayah. Kita akan bawa sampai mati rahasia kelam ini." ujar Ghina.
"Ayah apa kita akan mengadakan tahlilan di rumah?" tanya Ghina yangbingat dengan kematian Bundanya.
"Nggak usah menurut Ayah. Karena itu akan membuat orang curiga." ujar Ayah.
"Uda, kenapa diam?" tanya ghina yang melihat afdhal diam.
"Uda nggak habis pikir kenapa bisa dia berbuat begitu." ujar Afdhal.
"Jangan dipikir Afdhal. Biarkan saja. Dia sudah menerima ganjarannya." ujar Ayah.
__ADS_1
Mobil SUV masuk kedalam parkiran rumah sakit. Mereka tidak ingin ada yang curiga kenapa keluarga inti Wijaya pergi subuh hari