Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Keputusan Ayah Wijaya


__ADS_3

Setelah selesai semua ritual penyelenggaraan jenazah. Rombongan pengantar jenazah Ibu keperistirahatan terakhirnya kemudian pulang dengan beriringan. Keluarga besar kembali ke rumah utama Wijaya sedangkan pelayat yang lain sudah pergi menuju tujuan mereka masing masing.


Semua keluarga telah berkumpul di rumah utama keluarga Wijaya. Mereka semua duduk di ruang keluarga. Mereka terlihat sangat lelah. Kepala pelayan menghidangkan puding di atas meja dan juga minumuan dingin untuk semua anggota keluarga. Mereka sama sekali tidak melirik ke hidangan yang ada di sana.


"Wijaya, boleh aku bertanya sesuatu ke kamu?" tanya Ayah Sari sambil menatap wajah sahabatnya itu.


"Tanya apa Hans?" jawab Tuan Wijaya.


"Tapi kamu tidak boleh marah. Aku hanya penasaran saja." ujar Tuan Hans.


"Baiklah, aku tidak akan marah. Lagian sudah setua ini masih sensian dengan pertanyaan orang kan tidak mungkin." ujar Tuan Wijaya.


"Jadi apa yang mau kamu tanyakan?" tanya Ayah Wijaya sambil menatap Tuan Hans.


Tuan Hans terlihat berpikir, dia masih ragu untuk bertanya. Tapi rasa penasaran di dalam dadanya sudah tidak bisa lagi dia bendung. Dia benar benar ingin menanyakan hal itu kepada Wijaya.


"Ada apa Hans?" tanya Wijaya sekali lagi.


"Begini, apa kamu tidak ingin membawa Nana Ghina kembali pulang ke rumah ini?" tanya Hans sambil menatap Wijaya.


Semua yang mendengar pertanyaan Ayah Sari menatap langsung ke arah Ayah. Mereka semua juga penasaran dengan jawaban dari Ayah. Ayah terlihat berpikir untuk menjawab pertanyaan dari Ayah Sari. Dia cukup lama terdiam. Ayah sebenarnya sudah ada jawaban, tetapi dia ingin melihat ekspresi ke dua anaknya. Apakah anaknya masih berharap Nana mereka kembali atau tidak sama sekali.


"Wijaya, maaf kalau pertanyaan saya mengganggu kamu." ujar Tuan Hans.


"Oh tidak sama sekali Hans. Tadi kamu menanyakan kepada saya bukan, kalau dari dalam diri saya, sudah tidak ada pintu maaf lagi buat dia. Dia sudah terlalu membuat saya kecewa atas perlakuannya kepada Ghina dan Argha." ujar Tuan Wijaya dengan mantap menjawab pertanyaan Tuan Hans.


"Tapi semua ini bisa berubah kalau Ghina dan Afdhal menerima Nana mereka kembali. Mereka kan juga sudah mendengar jawaban dari Saya. Jadi, semua ya terserah mereka lagi. Mereka maunya gimana." ujar Tuan Wijaya sambil menatap kedua anaknya itu. Bagi Tuan Wijaya yang sekarang terpenting adalah kedua anaknya bahagia dengan hidup mereka. Dia juga akan bahagia dengan hidupnya sekarang.


Afdhal dan Ghina saling memandang. Mereka berdua sama sama menggeleng tanpa janjian. Ghina dan Afdhal berjalan menuju ayah mereka.


"Ayah, kami berdua sayang sama Ayah. Apapun keputusan yang Ayah ambil, berarti itu adalah keputusan terbaik yang akan kita jalani bersama sama." ujar Ghina sambil memeluk Ayahnya.


"Ayah apapun keputusan Ayah, kami berdua ikut, karena kami hanya punya Ayah." ujar Afdhal juga memeluk Ayah Wijaya.


"Makasi, kalian berdua adalah kehidupan Ayah." jawab Ayah Wijaya.


"Atuk jadi Argha dengan Mami Anggel dan calon dedek nggak penting bagi Atuk?" ujar Argha yang protes dengan kalimat yang dikeluarkan oleh Atuk Wijaya.


"Sayanglah masak nggak. Cucu Atuk paling keren. Paling oke. Paling pintar." ujar Ayah sambil membawa Argha kedalam pelukannya.


"Jadi kedua nenek lampir nggak ada yang balik ke rumah kita ya Atuk?" tanya Argha kepada kedua Atuknya.

__ADS_1


"Nggak. Nenek lampir mami udah Atuk buang." jawab Papi.


"Sama, nenek lampit nana juga udah atuk buang." jawab Ayah.


"Hore Argha suka, Argha jadi aman, nggak ada yang akan menghina Argha dan Bunda lagi. Yeyeyeyeyye Argha bahagia." ujar Argha dengan wajahnya yang benar benar terlihat sangat bahagia itu.


Aris dan Ghina serta keluarga yang lainnya sangat senang melihat Argha yang bersorak seperti itu. Mereka sangat yakin beban yang ditanggung Argha selama ini sudah habis. Untung Ayah Sari bertanya hal yang tadi kepada Ayah.


"Nah sekarang Hans giliran saya yang bertanya." ujar Wijaya.


"Apa?" tanya Hans.


"Berhubung kamu sekarang hanya punya Sari, apa kamu akan tetap pulang ke Padang?" tanya Wijaya.


Hans terlihat terdiam, dia tidak tau mau menjawab apa. Dia tidak ingin pulang, tetapi tidak tau akan tinggal dimana.


Bram yang melihat kebingunan di mata mertuanya langsung saja menuju ayah mertuanya itu.


"Ayah, Ayah akan tinggal dengan aku dan Sari. Ayah tidak boleh ke Padang lagi. Kita akan bersama sama membawa Sari lagi ke tengah tengah keluarga besar kita." ujar Bram.


"Baiklah Nak. Ayah akan tinggal bersama kalian berdua." ujar Ayah Hans.


"Tapi Pi" ujar Bram yang nggak ingin Papi merasa keberatan ada Ayah di rumah utama.


"Bram. Nggak ada yang keluar dari rumah utama. Ayah, menantu Papi dan juga kamu akan tetap tinggal dengan Papi." ujar Papi dengan nada tidak bisa di tawar lagi.


"Wah Argha senang ada dua Atuk di rumah. Atuk Ayah juga tinggal dengan Atuk Papi dan Atuk Hans ya. Jadi kan Argha punya tiga Atuk di rumah." ujar Argha dengan begitu antusiasnya.


"Argha sayang, kalau semua Atuk untuk Argha, terus dedek cantik nanti Atuknya siapa?" tanya Anggel kepada Argha.


Argha terlihat berpikir. Mereka yang melihat gaya penerus perusahaan Soepomo dan GA Grub itu hanya bisa tersenyum dan geleng geleng kepala saja. Mereka sama sama menantikan jawaban dari Argha.


"Iya juga ya Mi. Ya udah Atuk Papi aja untuk dedek cantik, dari pada nanti dedek cantik marah sama kakak gantengnya." ujar Argha dengan polosnya.


Bayu yang mendengar jawaban Argha langsung menyemburkan air minum yang berada di dalam mulut tanpa sempat menelannya.


"Loh Papi Bayu kenapa? Heran dengan kegantengan Argha?" tanya Argha dengan luar biasa pedenya.


"Nggak kamu memang ganteng. Terus nanti banyak yang suka kamu Gha. Nggak pusing kamu milih?" tanya Bayu mulai menjahili Argha.


"Pusing pusing dikit nggak apa apa Papi. Asala jangan pusing lama lama kayak Daddy." ujar Argha melirik Daddynya.

__ADS_1


"Loh Gha, Daddy nggak ngapa ngapain kok bisa kena ya." ujar Aris yang protes mendengar jawaban putranya itu.


"Daddykan bener apa yang Argha bilang. Daddy memang susah dulu menentukan pilihan." ujar Argha membela diri.


"Bukan payah menentukan pilihan, tapi belum nemu yang tepat aja." jawab Aris sok bijak dengan jawabannya.


"Lah udah ketemu yang tepat masih tetap selingkuh. Weak" ujar Argha sambil menjulurkan lidahnya kepada Aris.


"Keren. Skak mat." ujar Bram.


Semua orang sebenarnya ingin tertawa, tetapi melihat suasana yang seperti ini tidak mungkin rasanya mereka tertawa mendengar jawaban Argha.


Saat mereka semua ngobrol hal hal receh, ponsel milik Bram berdering dengan nyaring. Bram melihat dokter Toni memanggil. Semua orang melirik ke arah Bram.


"Siapa Bram?" tanya Aris.


"Dokter Toni." jawab Bram.


Bram yang sangat paranoid dengan telpon dari rumah sakit memberikan ponselnya kepada Daniel.


"Niel tolong terima." ujar Bram.


"Tapi Pi." ujar Daniel menolak permintaan Bram.


"Tolonglah Niel." ujar Bram.


Daniel menerima ponsel milik Bram. Daniel menerima panggilan tersebut. Raut wajah Daniel terus berubah ubah saat menerima panggilan dari dokter Toni.


"Ada apa Niel?" tanya Ghina.


"Kita harus ke rumah sakit sekarang Bunda" ujar Daniel.


"Ada apa Niel" teriak Bram yang baru saja balik dari dapur dan mendengar harus pergi ke rumah sakit.


"Ada sesuatu Pi. Kita harus cepat." ujar Daniel.


Mereka semua bergerak menuju rumah sakit.


"Bik Ina tolong kalau ada yang datang katakan kami semua ke rumah sakit." ujar Ghina meninggalkan pesan kepada kepala rumah tangga.


Tiga buah mobil besar bergerak dari rumah utama. Di depannya ada sebuah mobil hitam yang di tugaskan sebagai pembuka jalan dan dua motor hitam, dibagian belakang ditutup dengan tiga motor besar mengiringi perjalanan keluarga besar di negara I. Mereka bergerak dengn sangat cepat.

__ADS_1


__ADS_2