
Frenya telah sampai di negara U. Dia sudah dijemput oleh supir dari perusahaan yang diminta oleh Gina untuk menjemputnya.
"Kita kemana Nona?" tanya pak Sopir.
"Kita langsung ke mansion saja Pak." jawab Frenya. Frenya memang terkenal sangat dingin dengan semua orang yang tidak dalam lingkungannya.
Sopir melajukan mobilnya ke arah mansion utama yang terletak di daerah pinggiran kota. Daniel sengaja membeli mansion yang jauh dari hiruk pikuk kota. Mereka semua adalah orang orang yang butuh ketenangan. Mereka lebih memilih ribet untuk pergi ke kota dari pada menikmati hiruk pikuk kota selama dua puluh empat jam.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, Frenya akhirnya sampai juga di mansion utama milik keluarganya. Gerbang menjulang dengan logo GA terdapat di pintu gerbang.
Arga yang sedang bermain bola dengan beberapa pengawal melihat mobil kantor yang masuk menatap tajam dan dingin ke arah mobil tersebut.
"Siapa Pak?" tanya Arga.
"Kurang tau Tuan Muda." jawab pengawal yang sebenarnya sufah tau siapa yang datang, tetapo diminta oleh Nyonya Besar untuk tidak mengatakan kepada Arga atas permintaan Frenya.
Arga yang memang tipe tidak ambil peduli membiarkan saja mobil dan orang yang ada di dalamnya. Arga kembali serius bermain bola. Frenya yang melihat Arga sudah kembali bermain turun dari dalam mobil.
"Arga" teriak Frenya memanggil.
"Arga" ulang Frenya sekali lagi.
Arga yang mendengar namanya di panggil melihat le sumber suara. Ternyata yang memanggilnya adalah Uni yang selama ini ditunggu tunggu Arga kedatangannya.
"Nya" ujar Arga sambil berlari dan memeluk Frenya.
"Tadi katanya nggak peduli dengan siapa yang datang. Sekarabg kenapa main peluk langsung?" ujar Frenya menggoda Arga.
"Arga kangen Nya." jawab Arga sambil mencium pipi Frenya.
"Sama. Frenya juga kangen Arga. Ayo masuk ke rumah. Ada yang mau Frenya ceritakan sama Arga." ujar Frenya sambil menggendong Arga.
"Nya turunkan Arga. Arga udah besar." ujar Arga yang berontak minta untuk diturunkan. Frenya menurunkan Arga yang brontak dalam gendongannya. Mereka berdua bergandengan tangan masuk ke dalam mansion.
Arga dan Frenya duduk di kursi tamu mansion. Seorang pelayan datang mengantarkan minuman untuk Frenya dan Arga.
"Mau cerita apa nya?" tanya Arga.
"Arga tau nggak kalau saat mau terbang ke sini Frenya ketemu dengan Daddy dan Papi Bram?" tanya Frenya.
Arga menggeleng dengan lemah. Frenya memerhatikan semua perubahan Arga.
"Arga kangen dengan Daddy?" tanya Frenya yang bisa membaca perubahan dari diri Arga.
Arga mengangguk. "Arga kangen Daddy Nya. Tapi Arga takut ngomong dengan Bunda. Arga takut Bunda sedih." ujar Arga.
"Arga mau pulang ke negara I?" tanya Frenya.
Arga menggeleng. "Arga nggak mau ke negara I. Arga cuma mau lihat wajah Daddy aja." kata anak kecil itu.
__ADS_1
Frenya berpikir sesaat.
'Arga, Frenya bisa mempertemukan Arga dengan Daddy. Tetapi Arga nggak boleh kelihatan oleh Daddy. Hanya Arga yang bisa luhat Daddy. Apa Arga setuju?" tanya Frenya.
Arga mengangguk dengan semangat. Dia setuju dengan yang dikatakan oleh Frenya. Bagi Arga yang penting dia bisa melihat Daddynya.
"Frenya serius mau ajak Arga tengok Daddy?" tanya Frenya.
"Serius. Frenya akan ijin Bunda dulu ya. Sekarang Arga istirhata siang dulu. Frenya ke kantor Bunda dulu." ujar Frenya.
Arga yang sudah bisa membaca Bunda tidak akan mengizinkan dirinya bertemu dengan Daddy langsung menarik tangan Frenya.
"Arga ikut." ujar Arga.
Frenya paham kenapa Arga ingin ikut dengan dirinya.
"Oke. Sana ganti baju. Kita cus ke kantor Bunda." jawab Frenya.
Frenya dan Arga naik ke lantai tiga mansion. Mereka akan berganti pakaian. Arga sudah bisa memilih dan memakai pakaiannya sendiri. Arga memilih dengan ligat pakaian yang akan dipakainya. Frenya juga mengganti pakaian dengan ligat.
Mereka berdua sudah siap untuk berangkat ke kantor.
"Nya naik mobil Arga aja." ujar Arga.
"Kuncinya?"
Frenya mengambil kunci mobil yang ditunjuk oleh Arga. Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan berangkat menuju kantor Gina.
Frenya melajukan mobil dengan kecepatan tinggi saat masih berada di jalan luar kota. Sedangkan saat masuk kota Frenya menurunkan laju mobilnya. Mereka berdua sampai di perusahaan GA Grub. Frenya dan Arga masuk dengan berjalan biasa saja menuju ruangan Gina.
Mereka berdua naik lift khusus petinggi perusahaan. Arga sudah biasa dilihat oleh karyawan kantor, sedangkan Frenya baru kali ini mengunjungi perusahaan utama.
"Apa Bunda ada?" tanya Arga kepada sekretaris.
"Ada di dalam Tuan Muda. Dengan Tuan Daniel dan Nona Rani." ujar sekretaris.
Frenya dan Arga langsung masuk ke dalam ruangan Gina.
"Bunda" teriak Frenya.
"Hay, kenapa tidak istirahat di mansion duluan. Kan Bunda juga akan pulang ke mansion." ujar Gina sambil memeluk Frenya. Mereka berdua sudah lama sekali tidak saling jumpa.
Frenya memeluk Daniel kemudian Rani. Mereka melepas rasa rindu yang selama ini mereka tahan.
"Bun ada yang mau Arga omongin dengan Bunda." ujar Arga dengan nada serius.
"Apa sayang?" ujar Gina sambil duduk di sebelah Arga.
"Arga mau ikut dengan Frenya ke negara E." ujar Arga.
__ADS_1
Gina menatap Frenya. Frenya mengangguk tanda ada sesuatu yang membuat dia memutuskan akan membawa Arga ke negara E.
"Oke. Tapi Aega janji tidak menyusahkan Frenya di sana." ujar Gina yang tau apa kemauan Arga.
"Bunda nggak marah?" tanya Arga menelisik dan mencari sesuatu dimata Bundanya.
"Ngapain harus marah sayangku. Bunda tau kamu pasti tidak akan menampakan wajah ganteng mu ini ke Daddy. Kamu boleh kok melepas rindu dengan melihat Daddy." ujar Gina.
"Makasih Bunda. Arga cinta Bunda." Arga menghambur ke dalam pelukan Bundanya. Dia benar benar bahagia atas izin yang diberikan oleh Gina.
"Kita berangkat nanti malam aja Nya." ujar Arga.
"Apa?" teriak Gina yang tidak menyangka Arga akan mengajak Frenya pergi dengan begitu cepat ke negara E.
"Ngapain lama lama Bun, kalau ujungnya akan pergi juga." ujar Arga dengan begitu antusiasnya.
"Yeyeyeyeye" ujar Gina meledek Arga.
"Yang nggak tahan mau ketemu Daddy." ujar Daniel berusaha ngeledek Arga.
"Dikit." jawab Arga.
Mereka kemudian berbagi cerita tentang berbagai hal. Apalagi dengan acara pernikahan Daniel dan Rani yang semakin dekat. Mereka serius membicarakan semua itu.
Tidak terasa hari sudah beranjak sore. Mereka semua kembali menuju mansion. Apalagi mereka nanti malam akan mengantarkan Frenya dan Arga ke bandara untuk terbang ke negara E.
Sebenarnya Gina berat melepas mereka berdua tetapi apa mau dikata Gina tetap harus merelakan Arga dan Frenya untuk pergi menuju negara E. Gina tidak boleh egois, Gina juga harus memikirkan perasaan Arga yang sangat ingin bertemu dengan Daddynya.
Sedangkan di negara E. Aris dan Bram sudah mendarat. Mereka akan menginap di hotel yang ada di pusat ibu kota. Aris dan Bram serta yang lainnya akan menginap di negara itu selama seminggu paling lama. Setelah itu mereka akan berangkat ke negara U untuk melanjutkan pencarian selama tiga minggu. Kalau dalam rentang waktu empat minggu tidak bertemu dengan Gina dan Arga, maka mereka akan pulang ke negara I untuk mengurus lamaran dan pernikahan Bram dengan Sari.
Aris serta yang lainnya karena lelah habis melakukan penerbangan memilih untuk beristirahat di kamar hotel masing masing. Mereka berencana akan makan malam melalui pesan antar ke kamar.
Aris langsung membersihkan badannya dan menukar dengan baju kaos favorit Gina.
"Sayang aku pakai ini lagi. Semoga di negara ini atau negara U aku bisa menemukan kalian berdua. Aku bener bener kangen dengan kalian." ujar Aris.
Aris membaringkan badannya di atas kasur. Dia mulai masuk ke alam mimpi.
Sedangkan Arga dan Frenya sudah berada di dalam pesawat untuk menuju negara E. Arga begitu semangatnya sampai sampai dia harus bertanya dengan pertanyaan bodoh kepada Stepen.
"Stepen apa nggak ada jalan tikus menuju negara E?" ujar Arga dengan wajah serius.
"Maaf Tuan Muda di atas awan tidak ada jalan tikus. Semua jalan terbuka lebar dan sudah ada aturannya." jawab Stepen.
"Oh ya sudahlah. Pasrah aja." jawab Arga.
Mendengar jawaban dari Arga. Frenya dan yang lainnya mendadak tertawa keras. Mereka tidak menyangka kalimat itu yang akan dikeluarkan oleh Arga dari dalam mulutnya.
Tidak terasa penerbangan mereka sudah selesai. Frenya sudah memesan hotel yang tanpa kebetulan dan tidak disengaja mereka satu hotel dengan Aris dan Bram. Suatu kebetulan yang akan membuat Arga melihat apa yang didambakannya selama ini.
__ADS_1