Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Berita Duka


__ADS_3

Aris yang menerima telpon dari Papi mendadak terduduk di atas sofa. Ghina dan Bram yang melihat saling pandang pandangan.


"Ada apa sayang?" tanya Ghina.


Aris hanya diam saja. Hal ini semakin membuat bingung Ghina dan Bram.


"Sayang ada apa?" ulang Ghina bertanya kembali.


Tapi hal yang sama tetap terjadi tidak ada respon yang diberikan oleh Aris. Ghina meraih ponsel milik suaminya itu. Dia melihat panggilan Papi masih tersambung.


"Hallo Papi ini Ghina ada apa Pi?" tanya Ghina yang berusaha menenangkan hatinya.


Ghina sangat takut sesuatu terjadi dengan Ayahnya atau Ibu Sari.


"Ghina, kamu di rumah sakit? Bukannya kamu semalam sudah pulang?" tanya Papi yang heran Ghina sudah berada di rumah sakit kembali.


"Ceritanya panjang Pi. Ada apa Papi nelpon pagi pagi dan membuat Kak Aris menjadi terdiam seperti patung." ujar Ghina yang melirik ke arah suaminya yang masih bersikap seperti tadi.


"Ibu Sari Ghina. Ibu Sari meninggal barusan. Kami sekarang sedang mengurus untuk kepulangannya ke rumah utama wijaya." ujar Papi.


"Ibu Pi?" tanya Ghina memastikan kembali.


"Iya nak Ibu" ujar Papi meyakinkan Ghina.


"Baiklah Pi. Kami akan ke rumah sekarang. Ayah bagaimana Pi?" tanya Ghina yang ingat dengan Ayah Wijaya yang ternyata juga dipindahkan ke rumah sakit Soepomo.


"Ayah wijaya sudah sadar, sekarang sudah di ruang rawat. Sedangkan Ayah Sari, beliau terlihat sedikit terpukul Nak." ujar Papi memberitahukan keadaan kedua Ayah yang ditanyakan oleh Ghina.


"Sekarang kamu harus ke rumah Wijaya. Papi dan yang lainnya akan berangkat ke sana sekarang juga. Frenya tolong kamu kasih tau agar sekalian membawa Argha." Papi memberikan beberapa instruksi kepada Ghina.


"Kak Bayu apa sudah tau Pi?" Ghina teringat dengan sahabatnya Mira.


"Belum Nak. Tolong kamu juga hubungi mereka ya. Biar mereka langsung menuju kediaman Wijaya." ujar Papi.


Ghina memutuskan panggilan telponnya dengan Papi. Aris yang tadi sempat syok sudah kembali sadar.


"Kak Bram, kakak harus jaga Sari. Kami akan pergi dulu. Semoga Ayah mau kalau Ibu dikuburkan di sini saja, tidak kembali di bawa ke Padang." ujar Ghina.


"Oke Ghin. Kakak akan jaga Sari. Kalian hati hati berkendara ya." ujar Bram.


Aris dan Ghina berjalan dengan sangat cepat menuju mobil. Aris membawa salah satu pengawalnya untuk mengemudikan mobil. Dia sama sekali tidak mau mengambil resiko dengan membawa mobil sendirian.


"Kita ke rumah utama Wijaya." perintah Aris kepada pengawal.


"Siap Tuan Muda." jawab pengawal itu.

__ADS_1


Ghina yang teringat belum menghubungi Frenya dan Bayu memilih untuk menghubungi Frenya.


"Sayang, kamu hubungi kak Bayu ya. Biar aku menghubungi Frenya." ujar Ghina kepada Aris.


Aris dan Ghina menghubungi kedua orang tersebut. Mereka menginfokan kalau Ibu Sari meninggal dunia dan akan dibawa ke rumah Wijaya Grub. Sedangkan untuk Frenya ada perintah tambahan sebelum ke rumah Wijaya harus menjemput Argha terlebih dahulu di sekolahnya.


Ghina juga menghubungi Alex, dia meminta semua pengawal untuk bergerak ke rumah utama wijaya grub. Semakin banyak orang menyolatkan almarhumah Ibu Sari maka semakin lapang jalannya.


Semua orang bergerak dari tempat mereka masing masing menuju kediaman utama rumah Wijaya Grub. Mereka semua bergerak dalam kecepatan yang bisa dikatakan tinggi.


Aris dan Ghina datang terlebih dahulu. Semua maid di rumah Wijaya sudah menyingkirkan sofa sofa yang ada di ruangan luas itu. Mereka juga sudah menyiapkan kasur dan keperluan untuk memandikan jenazah sekaligus untuk mengkafani jenazah. Pergerakan maid di keluarga Wijaya patut diacungi jempol.


Aris dan Ghina masuk kedalam rumah. Melihat kondisi rumah yang sudah berea membuat Ghina tersenyum bahagia.


"Bik apa semua sudah siap?" tanya Ghina kepada kepala maid di sana.


"Sudah Nona. Semua sudah siap. Kita hanya tinggal menunggu kepastian dari Ayah Nona Sari dimana Ibu dari Nona Sari akan dikebumikan." jawab kepala Maid.


Sedabgkan di luar rumah beberapa papan karangan bunga berdatangan dari kolega bisnis yang mengenal Sari dan Bram. Beberapa pelayat dengan memakai pakaian serba putih juga sudah datang ke rumah utama Wijaya grub. Berita tentang kematian Ibu Sari dengan cepat menyebar di negara I. Beberapa wartawan juga sudah berada di depan gerbang utama rumah.


Afdhal dan Anggel yang baru datang dari rumah sakit langsung tersenyum melihat Ghina dan Aris yang sudah ada di rumah utama.


"Aku kira kalian belum datang." ujar Afdhal.


"Mana mungkin Uda. Saat Papi telpon tadi kami langsung bergerak dari rumah sakit ke sini." ujar Ghina.


"Hallo Ayah. Ada apa?" tanya Afdhal.


"Afdhal, Ayah mengizinkan Ibu dikuburkan di sini. Ayah menyerahkan kepada kalian semua dimana Ibu sebaiknya dikuburkan." ujar Ayah Sari.


"Terimakasih Ayah. Ibu akan kita kuburkan di pemakaman milik keluarga Soepomo dan Wijaya." ujar Afdhal.


Afdhal kemudian menutup panggilan telponnya dengan Ayah Sari. Ghina memandang Afdhal dengan tatapan penuh tanya.


"Ayah beberapa bulan yang lalu membeli lahan untuk dijadikan kuburan dua keluarga kita. Jadi semua keluarga akan dikuburkan di tanah itu, mulai sekarang." ujar Afdhal menjawab pertanyaan tersirat dari tatapan Ghina.


"Oh baiklah. Ini berita kejutan." ujar Ghina.


Para pelayat sudah masuk ke dalam rumah utama. Para pengawal sudah berdiri di posisi mereka masing masing untuk menjaga keadaan di sekeliling rumah utama.


"Sayang kita harus menemui para pelayat. Mereka kebanyakan kolega Papi dan Ayah." ujar Aris mengajak Ghina yang sibuk di belakang.


Aris, Ghina, Afdhal dan Anggel serta Bayu dan Mira menemui para pelayat yang datang. Mereka mengobrol seputar pernikahan Bram dan Sari yang harus diadakan secara mendadak itu.


"Kami kira Nona Sari hamil duluan Tuan." ujar salah satu kolega yang memang tidak suka dengan Sari.

__ADS_1


Ghina yang mendengar langsung menampar pria tidak sopan itu. Pria itu sontak ingin membalas tetapi salah satu pengawal sudah memiting tangannya kebelakang.


"Alex" teriak Ghina memanggil salah satu orang kepercayaannya.


"Saya Nyonya." ujar Alex berdiri tepat di depan Ghina.


"Batalkan semua kerjasama perusahaan GA Grub maupun anak cabang perusahaan dengan perusahaan bajingan ini. Biat perusahaan itu jatuh bangkrut. Kalau perlu beli seluruh sahamnya." ujar Ghina dengan nada tinggi membuat semua orang menatap ke arah Ghina.


"Hahahaha mana bisa anda mencabut kerjasama perusahaan GA Grub. Presdirnya adalah sahabat saya." ujar Pria yang sebenarnya tidak tau siapa yang punya GA Grub.


"Dasar bodoh. Saya pemilik GA Grub. Apa yang tidak bisa saya lakukan. Sekarang buka telinga Anda lebar lebar dan yang lainnya." ujar Ghina yang sudah sangat sangat emosi.


"Kalau kalian sempat mengganggu keluarga besar saya. Maka siap siap kalian akan berakhir dijalanan seperti dia." ujar Ghina sambil menunjuk pria yang sudah berani menghina sahabat sekaligus kakaknya itu.


"Maaf Nyonya. Perusahaan Z sudah jatuh ke tangan kita. Nanti selepas penguburan Ibu saya akan mengurus berkas berkasnya dengan Frans." ujar Alex.


"Kerja bagus Alex. Sita semua aset yang dimilikinya setelah itu lempar ke pelelangan. Saya tidak butuh aset milik dia." ujar Ghina dengan begitu dinginnya.


Pengawal menyeret pria tersebut menuju gerbang utama. Dia harus pulang jalan kaki karena semua asetnya sudah dibekukan oleh Juan. Mobil yang dinaikinya tadi juga sudah disita. Pria dan istrinya itu hanya bisa menyesali apa yang sudah dilakukannya tadi. Dia benar benar telah salah memilih lawan.


Ghina yang semula kesal sudah kembali seperti semula. Aris sudah berhasil menenangkan kembali istrinya yang sempat berada di puncak emosinya.


Tidak beberapa setelah kejadian tadi, suasana juga sudah kembali normal dan kondusif, terlihat sebuah mobil hitam mewah dengan plat nomor GA di belakang masuk ke dalam perkarangan rumah utama. Tepat dibelakang mobil mewah hitam itu terdapat sebuah ambulance yang membawa jenazah Ibu Sari. Tepat di belakang ambulance ada mobil milik GA Grub yang di dalamnya ada Papi dan Paman Hendri. Ghina sengaja tidak membolehkan Papi membawa mobilnya sendiri, makanya Ghina mengirimkan pengawalnya untuk menjemput Papi ke rumah sakit.


Ketiga iring iringan mobil berhenti tepat di pintu masuk rumah utama. Ayah terlihat turun dari pintu belakang ambulance. Sedangkan dari depan dokter yang menangani Ibu turun. Beberapa pengawal membantu menurunkan keranda yang didalamnya terbaring Ibu Sari. Pengawal membantu mengangkat dan memindahkan Ibu ke atas kasur yang sudah diletakkan di tengah tengah rumah. Ayah terlihat sangat tegar. Tidak terlihat bekas tangisan di pipinya, atau mata merah habis menangis.


Janazah Ibu disemayamkan dikasur hanya sebentar saja. Setelah itu Ayah meminta supaya jenazah ibu lekas dimandikan serta dikafani. Ayah tidak mau berlama lama dalam menyelenggarakan jenazah. Ayah sama sekali tidak menunggu saudara Ibu yang lainnya dari kampung. Semua saudara Ibu yang masih berada di ibu kota sudah dijemput oleh anak buah Ghina tadi. Mereka sekarang sudah berada di rumah utama.


Semua penyelenggaraan jenazah telah dilakukan. Sekarang jenazah Ibu akan disholatkan di mesjid milik keluarga Wijaya. Aris, Bram, Bayu, Afdhal, Daniel dan Steven mengangkat keranda Ibu, sedangkan Ayah membawa fhoto Ibu dan berjalan paling depan. Suasana haru mengiringi iring iringan jenazah menuju mesjid yang terletak masih di dalam komplek perumahan Wijaya Grub. Para pelayat semua pergi menyolatkan Ibu, begitu juga dengan pengawal. Ghina hanya menempatkan lima pengawal untuk menjaga rumah utama, selebihnya mereka ikut menyolatkan Ibu ke mesjid.


Selesai menyolatkan Ibu keranda dimasukkan ke dalam mobil ambulance milik rumah sakit Soepomo. Iring iringan mobil yang sangat panjang terlihat mengiringi mobil ambulance tersebut. Mereka semua akan mengantarkan Ibu menuju peristirahatan terakhirnya di komplek makam keluarga.


Melakukan perjalanan sekitar tiga puluh menit, akhirnya iring iringan tersebut sampai di depan tanah yang sangat luas. Pada pintu gerbang berwarna putih itu tertera dengan sangat jelas logo WS yang ditulis dengan sangat besar dan memakai cat emas. Sedangkan di bagian atas pintu gerbang tertulis pemakanan keluarga Wijaya Soepomo Grub dengan cat emas juga. Iring iringan mobil masuk ke dalam komplek pemakanan, Ibu adalah jenazah pertama yang akan dikuburkan di kompleks tersebut.


Liang lahat untuk Ibu sudah selesai dibuat oleh penggali kubur yang memang sudah diperkerjakan di sana sebulan yang lalu. Ayah menyampaikan beberapa kata dan pesan kepada semua orang terkait dengan utang piutang Ibu semasa hidup serta memohon maaf atas semua kesalahan yang dilakukan oleh Ibu.


Setelah menyampaikan kata sambutannya, Ayah, Bram dan Aris turun ke dalam kuburan Ibu. Merekalah yang akan melakukan penguburan tersebut. Ayah melakukan semua yang diharuskan oleh agama terhadap jenazah istrinya itu. Ayah jugalah yang mengazani istrinya untuk terakhir kalinya.


Setelah selesai upacara penguburan, Ayah yang dikampung juga terkenal sebagai ustad memimpin pembacaan doa untuk istrinya itu. Saat itulah air mata Ayah tidak bisa lagi ditahan. Ait mata seorang suami yang berusaha tegar atas kehilangan sang istri yang sudah berpuluh tahun menemani, baik dikala susah maupun senang. Ayah terlihat tidak berusaha menahan tangisnya, Ayah membiarkan saja air matanya turun dengan derasnya. Bram berusaha menenangkan Ayah mertuanya. Selesai berdoa Ayah juga kembali tenang, Ayah tidak menangis lagi.


Selesai pembacaan doa dari Ayah, beberapa pelayat wanita menaburkan bunga di pusara Ibu. Ghina dan Mira kemudian berjongkok sambil memegang batu nisan Ibu.


"Ibu, kami berdua akan selalu menjaga Ayah dan Sari. Ibu yang tenang di sana ya. Jangan pikirkan keadaan kami di sini. Kami akan selalu mendoakan Ibu." ujar Ghina.


"Ibu yang tenang ya di sana. Kami akan selalu menjaga Ayah dan Sari." lanjut Mira yang sudah tidak mampu berkata apa apa lagi.

__ADS_1


Setelah selesai semua ritual penyelenggaraan jenazah. Rombongan pengantar jenazah Ibu keperistirahatan terakhirnya kemudian pulang dengan beriringan. Keluarga besar kembali ke rumah utama Wijaya sedangkan pelayat yang lain sudah pergi menuju tujuan mereka masing masing.


Semua keluarga telah berkumpul di rumah utama keluarga Wijaya. Mereka semua duduk di ruang keluarga. Mereka terlihat sangat lelah. Kepala pelayan menghidangkan puding di atas meja dan juga minumuan dingin untuk semua anggota keluarga. Mereka sama sekali tidak melirik ke hidangan yang ada di sana.


__ADS_2