Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
DRAMA yang GAGAL


__ADS_3

"Aku harus mencari cara agar Aris dan Bram tidak jadi pergi mencari dua manusia tidak berguna itu. Aku tidak mau mereka semua kembali lagi ke rumah ini." ujar Mami sambil berjalan mondar mandir di kamarnya.


Mami terus berpikir langkah dan cara apa yang harus dilakukannya untuk bisa menghentikan Aris dan Bram yang berniat untuk mencari Gina dan Arga. Mami berpikir dengan keras. Dia tidak akan memperbolehkan semua itu terjadi. Semua kerja keras dan perlakuannya kepada Gina dan Arga akan menjadi sia sia.


Tiba tiba Mami tersenyum dengan sangat bahagia. Sebuah ide terlintas di kepala cantiknya itu.


"Ya, itu ide yang baik" ujar Mami.


Mami kemudian ke dapur. Mami mengambil semua es yang ada di dalam kulkas. Mami sengaja meminum es tersebut di tengah malam. Ntah apa yang diharapkan oleh Mami dengan kelakuannya meminum es di tengah malam buta.


Setelah menghabiskan air es sebanyak satu teko, Mami mulai bersin bersin. Mami tersenyum senang, karena apa yang diharapkannya akan berhasil.


Tiba tiba perut Mami melilit, Mami berlari masuk ke dalam kamar mandi. Dia mengosongkan kantung kemihnya. Setelah yakin kosong Mami kembali meminum air es bagian ke dua. Mami benar benar niat untuk mewujudkan ide gilanya itu.


Mami terus saja meminum air es tersebut. Setelah habis air dalam teko kedua, Mami memilih untuk mandi dengan air dingin. Mami rela melakukan hal gila itu hanya untuk satu tujuan. Tujuan Mami yang sangat sangat membuat Aris marah. Mami menginginkan Aris dan Bram tidak pergi mencari Gina dan anak anaknya.


Matahari pagi menyinari rumah utama dengan siraman cahaya yang begitu terang. Mami dari mulai subuh sudah bersin bersin, efek dari minum air es dan mandi tengah malam. Mami berusaha untuk bangkit dari tidurnya, tetapi Mami merasakan tenaga dari tubuhnya tidak ada.


"Yes akhirnya aku berhasil, Aris dan Bram tidak akan tega meninggalkan aku dalam keadaan seperti ini. Sekarang yang harus aku lakukan adalah berusaha beracting sedemikian buruknya penyakit aku." ujar Mami kemudian.


Mami mulai beracting kalau dia sedang mengalami sakit yang lumayan berat. Papi yang sudah berada di meja makan tidak melihat keberadaan Mami.


"Maid, ada melihat Mami?"


"Maaf Tuan besar dari pagi kami tidak melihat keberadaan Nyonya besar dimana pun." ujar Maid menjawab sambil menundukkan kepalanya.


"Tolong kamu lihat keberadaan Mami di kamar tamu." perintah Papi kepada Maid. Papi yakin ada drama baru lagi yang dibuat oleh Mami.


Maid yang diperintah oleh Papi berjalan menuju kamar tamu. Dia berusaha mengetok pintu kamar tamu tempat Mami tidur selama ini.


Tok tok tok.


"Permisi Nyonya. Tuan besar memanggil Nyonya untuk sarapan. Nyonya sudah ditunggu di meja makan" ujar Maid.


Mami hanya membuka pintu kamar dengan remot yang ada. Maid yang melihat pintu kamar terbuka berjalan masuk ke dalam kamar. Betapa terkejutnya Maid saat melihat Mami memakai selimut tebalnya dan berwajah pucat.


"Nyonya besar kenapa?" ujar Maid dengan panik.


"Tolong katakan kepada Tuan besar dan yang lain untuk sarapan tanpa saya. Saya sedang sakit, seluruh badan saya tidak bisa digerakan." ujar Mami dengan suara yang dibuat sepelan dan sebegetar mungkin. Acting Mami layak diberikan empat jempol dan tambah dengan jempol yang lain.


"Baiklah Nyonya akan saya katakan kepada Tuan besar kalau Nyonya sedang sakit." ujar Maid tersebut.


Aris dan Bram yang sudah bersiap siap dari malam, menyeret keluar koper dan tas ransel yang akan mereka bawa saat melakukan pencarian Gina.


Aris dan Bram duduk di kursi mereka masing - masing. Mereka juga heran tidak melihat keberadaan Mami di sana.


Seorang Maid berjalan dengan tergesa gesa menuju meja makan. Papi, Aris dan Bram heran melihat tingkah maid tersebut.


"Ada apa Maid?" tanya Aris.

__ADS_1


"Anu Tuan Muda, anu" ucap Maid yang tegang dan tidak mengerti bagaimana harus mengatakan hal itu kepada Tuan mudanya.


"Ambil nafas dan berusaha tenang maid." Bram berusaha menenangkan kegugupan Maid tersebut.


"Nyonya besar sakit Tuan Besar." jawab Maid setelah bisa mengatur nafas dan pikirannya kembali.


Papi, Aris dan Bram saling pandang, sedangkan Maid sudah menghilang untuk melakukan pekerjaannya yang lain.


"Drama apa lagi ini." ujar Papi sambil menatap ke arah Aris dan Bram.


"Ntahlah Pi. Palingan Mami berusaha membuat kami untuk tidak pergi mencari Gina dan Arga." ujar Aris.


Bram mengangguk setuju. Semula Bram sangat menyayangi Mami. Tetapi rasa sayang itu sekarang berubah menjadi rasa jijik karena ulah Mami sendiri.


Mereka bertiga tetap menyelesaikan sarapannya. Tiba tiba Bram menginginkan segelas air es. Ntah kenapa dia begitu ingin minum air es.


Bram berjalan ke arah lemari pendingin. Dia kemaren yakin telah membuat es batu. Bram memang memiliki kebiasaan untuk minum es dalam satu hari itu. Betapa tercenangnya Bram saat melihat sama sekali tidak ada es batu yang telah dibuatnya kemaren.


"Maid" teriak Bram memanggil semua Maid.


Semua Maid berkumpul di dekat Bram. Bram terlihat marah dari tatapan matanya. Semua Maid menjadi menciut. Mereka saling memandang bertanya tanya siapa yang sudah membuat kesalahan.


"Siapa yang mengambil es batu saya? Kalian boleh mengambilnya tapi tolong di ganti. Ini tidak, bikin nggak mau minum mau." ujar Bram dengan murkanya.


Maid yang mendengar tuduhan Bram saling pandang. Mereka tidak ada yang mengambil es batu milik Bram.


"Maaf Tuan Muda, kami tidak ada yang mengambil es batu milik Tuan Muda." jawab kepala Maid.


"Ada apa?" tanya Aris yang melihat perubahan Bram.


"Es batu gue ilang. Gue udah tanya semua Maid tidak ada yang minum."


"Kapan loe buat?" tanya Aris.


"Sore pulang dari perusahaan. Rencana mau gue minum pagi ini." jawab Bram dengan kesal.


"Papi tau orangnya. Mari ikut Papi."


Mereka bertiga berdiri dari kursi. Papi berjalan terlebih dahulu diiringi oleh Aris dan Bram, Papi berjalan menuju kamar Mami.


"Jadi maksud Papi, Mami yang minum es tengah malam agar menjadi sakit di pagi hari?" tanya Bram mengeluarkan pemikirannya.


"Sepertinya benar Bram." ucap Papi.


"Hahahaha. Kita ikuti alur Mami aja Pi. Aku udah tau tujuan Mami kemana ini." ujar Aris yang sudah bisa menerka tujuan dan arah Mami kemana.


"Baiklah. Mari kita ikuti permainan Mami." ujar Papi yang memang penasaran ada apa lagi drama yang dibuat oleh Mami.


Tok tok tok

__ADS_1


"Mi ini Papi. Boleh Papi masuk Mi?" ujar Papi.


Mami sama sekali tidak bergeming. Papi bukan orang yang diharapkan oleh Mami untuk datang menemuinya.


Aris mengangguk kepada Papi. Aris kemudian berdiri di depan pintu kamar Mami.


Tok tok tok


"Mami ini Aris Mi. Buka pintunya Mi. Ada yang mau Aris bicarakan." ujar Aris sambil menahan rasa marah dan kesalnya.


Mami pura pura tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Aris. Mami masih pura pura tertidur.


"Mi tolong buka pintunya Mi." ujar Aris kembali dengan makin kesal.


Mami kemudian membuka pintu kamar memakai remot yang berada di atas nakas. Mami tidak ingin berjalan, dia ingin terlihat tidak mampu untuk berjalan, agar semua actingnya berjalan dengan lancar.


Papi, Aris dan Bram masuk ke dalam kamar Mami. Mereka melihat Mami yang tertidur di atas kasur. Aris yang sudah tidak tahan lagi melihat tingkah Mami langsung menuju ranjang Mami.


"Aris, Mami sakit sayang. Kamu jangan pergi ya Nak." ujar Mami dengan lemah.


"Mami sakit?" tanya Aris mendekar ke arah Mami.


"Iya nak, Mami sakit. Kamu jangan pergi sekarang ya Nak." ujar Mami masih berusaha membujuk Aris.


"Mami, Mami sakit kan gara gara ulah Mami sendiri. Mami yang minum es di tengah malam. Kenapa harus Aris yang menanggung akibat ulah Mami." ujar Aris dengan sinis.


"Mami nggak perlu buat drama yang lain lagi. Aris tetap akan berangkat dengan Bram. Izin atau tidak dari Mami." lanjut Aris dengan emosinya.


"Kamu nggak sayang sama Mami lagi Ris?" ujar Mami.


"Aris sayang sama Mami. Tapi karena ulah Mami makanya Aris udah nggak sayang lagi sama Mami. Jadi Aris mohon hentikan semua drama ini Mi." kata Aris dengan penuh emosi.


Setelah mengeluarkan semua unek uneknya. Aris berbalik untuk pergi dari kamar Mami.


"Aris, kalau kamu pergi maka kamu hanya akan mendengar berita tentang kematian Mami." ujar Mami dengan penuh emosi.


"Terserah Mami. Aku tidak peduli. Bagi aku sekarang yang aku pikirkan adalah anak dan istri aku." jawab Aris.


"Bram kamu akan ikut dengan gue atau akan menikmati drama yang dibuat Nyonya besar itu?" tanya Aris kepada Bram.


"Ikut loe." ujar Bram.


"Hay Bram. Dasar anak tidak tau diri. Sudah sukur saya mengangkat kamu jadi anak. Memang bener anak angkat banyak nggak tau diuntung." cerca Mami dengan penuh penekanan.


Plak. Sebuah tamparan melekat di pipi Mami. Papi menampar Mami dengan sangat kuat.


"Jangan pernah hina anak aku. Mereka berdua putra kandungku. Cukup mulut dan perbuatan anda yang sudah ketahuan. Ini ke atas kalau masih ada lagi yang terbongkar. Aku sendiri yang akan melemparkan semua barang anda dari kamar ini." kata Papi dengan menggebu gebu.


Mami tertunduk melihat Papi yang luar biasa murka. Mami tidak membayangkan akan seperti ini jadinya keadaan. Dia berharap Aris akan membatalkan keberangkatan. Ternyata sama sekali tidak, malahan yang lebih parah Papi menampar Mami.

__ADS_1


Aris dan Bram masuk kedalam mobil. Mereka akan mencari Gina di negara J tempat Sari kemaren berada. Sedangkan Papi menuju perusahaan Jaya Grub. Mulai hari ini Papi akan bekerja sendirian. Hendri ditempatkan di Soepomo Grub.


__ADS_2