
Ayah, kita sudah lama tidak makan malam bersama Gina dan Arga. Kapan kapan kita undang mereka makan di sini Yah. Aku kangen adik dan ponakan aku itu." ujar Afdhal di tengah tengah makan malam mereka.
Nana yang mendengar niat Afdhal untuk mengundang Gina dan Arga makan malam bersama mereka langsung membanting sendok dan garpunya. Suasana makan malam yang hangat berubah menjadi mencekam gara gara ucapan Afdhal. Afdhal pun terkejut dengan ulah Nana. Dia merasa ada sesuatu antara Nana dan Gina
"Afdhal ini untuk pertama dan terakhir. Jangan pernah sebut nama dia lagi di rumah ini. Paham kamu." ucap Nana dengan nada ketusnya.
Afdhal makin melongo dengan kalimat yang diucapkan Nana barusan. Dia benar benar tidak paham apa yang terjadi di rumah ini sekarang.
"Nana kenyang. Silahkan lanjutkan." ujar Nana yang langsung pergi dari meja makan.
Afdhal menatap Ayah. Dia yakin Ayah pasti tau semua cerita itu.
"Ayah?" tuntut Afdhal.
Ayah kemudian menceritakan semua yang terjadi kepada Afdhal. Afdhal mencerna semua yang dikatakan oleh Ayah. Dia hanya bisa geleng geleng kepala dengan sikap yang diambil oleh orang tuanya yang lebih mempercayai orang lain dari pada anak sendiri.
"Ayah, apa ayah sebegitu percayanya dengan nyonya Soepomo?" ujar Afdhal dengan nada kecewa.
"Ayah lebih percaya Gina. Tetapi Nana lebih percaya Nyonya Soepomo." ujar Ayah menatap Afdhal.
"Aku akan bicara dengan Gina. Aku sangat tidak percaya dengan Nyonya Soepomo. Aku tau Gina seperti apa. Aku juga tau Daniel seperti apa." lanjut Afdhal kemudian.
.
.
.
Afdhal yang baru saja sampai di kantor dan sama sekali tidak ada jadwal langsung mengambil ponselnya. Dia akan menghubungi Gina dengan tujuan meminta bertemu dengan Gina.
"Hallo Gina?" tanya Afdhal.
"Iya Uda, ada perlu apa uda?" tanya Gina sambil membantu Arga mengambilkan mainannya.
"Uda mau bertemu dengan kamu Gin. Apakah kamu bisa ke kantor Uda?" tanya Afdhal dengan harapan yang besar.
"Baiklah uda. Nanti saat aku siap mengantar Arga terapi, aku akan ke perusahaan." jawab Gina.
"Oke. Uda tunggu."
.
.
.
"Uda uda, aku sudah tau apa yang akan uda tanyakan kepadaku Uda." kata Gina sambil tersenyum.
"Semoga uda bisa berpikir apakah aku salah atau memang Mami yang salah." lanjut Gina sambil bermain dengan Arga kembali.
Tak terasa hari sudah masuk waktu zuhut. Gina menukar pakaian Arga dan mengajak Arga untuk sholat. Arga mengikuti seluruh gerakan Gina. Selesai sholat mereka berdua turun ke lantai satu rumah menuju parkiran untuk pergi terapi.
Ternyata Mami sedang duduk di kursi tamu. Ntah apa yang ditunggu oleh Mami. Melihat Gina yang turun dengan ArgA, Mami merubah posisi duduknya untuk melihat Gina dan Arga berjalan di depannya.
"Wah anak kurang mau kemana ini? Terapi lagi? Udah dua tahun terapi tapi hasilnya tetap nihil. Udah kamu di rumah aja. Pasrah aja dengan keadaan kamu." ujar Mami dengan ketus dan tanpa perasaan sedikitpun.
Gina berusaha menyabarkan hatinya. Kalau menuruti kata hato Gina sudah pergi dari rumah itu. Tetapi selagi Aris tidak mengusirnya, maka dia akan tetap bertahan.
"Hay kau ya kau. Kapan akan angkat kaki dari rumah ini? Atau karena sudah terbuang dari keluarga Wijaya makanya kau tetap bertahan di sini." ujar Mami sambil menunjuk kiri Gina.
Gina yang memang tidak ada niat membalas, langsung melanglah keluar menuju tempat mobilnya di parkir. Dia lebih memilih dian daripada ikut dalam pertengkaran tak ada guna itu.
Mami yanh melihat Gina langsung pergi menyambar kunci mobilnya. Dia berniat mengikuti Gina dan memberikan bukti kepada Aris kalau Arga tidak sempurna. Salah seoranh maid yang sangat setia dengan Gina melihat Mami yang pergi langsung menghubungi Gina.
"Hallo Nyonya. Nyonya besar mengikuti Nyonya." ujar maid saat telpon baru diangkat Gina.
"Baiklah. Makasi maid. Saya akan mengalihkan perhatian Mami." ujar Gina.
Gina langsung menghubungi dokter Rani.
"Hallo dokter." ujar Gina saat telpon baru tersambung.
"Iya Nyonua ada apa? Apakah Arga izin lagi Nyonua?" kata dokter Rani dengan nada cemas.
"Tidak dokter. Tapi saya mau meminta tolong kepada dokter."
"Ada apa Nyonya? Kalau saya bisa saya pasti akan bantu Nyonya." jawab dokter Rani meyakinkan Gina.
"Jadi gini dok, bisakah kita terapi Arga hari ini di perusahaan Bramantya Grub. Saya akan memastikan satu tempat kosong untuk Arga dan dokter melakukan terapi." ujar Gina mengutarakan maksud dan tujuannya menelpon dokter Rani.
"Baiklah Nyonya saya akan kesana sekarang." ujar Rani menyetujui permintaan Gina.
Rani kemudian mengambil semua barangnya dan melangkah pergi menuju perusahaan Bramantya Grub. Gina yang dalam perjalanan menyempatkan berhenti di supermarket untuk membeli buah dan air mineral untuk Arga.
Saat kembali dari membeli semua keperluan Gina melihat mobil Mami parkir lumayan jauh dari mobilnya.
"Mari kita bermain Mami." ujar Gina sambil tersenyum.
Gina melajulan mobilnya mengambil jalan memutar untuk menuju perusahaan Bramantya. Gina sengaja melakukan itu agar Mami terus mengikutinya dan berujung kekesalan karena Gina pergi membawa Arga ke perusahaan Bramantya grub.
Setelah puas berkeliling Gina membelokkan mobilnya masuk ke dalam kawasan perusahaan Bramantya, Mami yang melihat langsung berhenti mendadak dan mengakibatkan mobil di belakang Mami mengklason dengan kencang. Gina hanya tertawa melihat kejadian itu.
"Hahahahaha. Rasain nenek lampir" ujar Gina.
Gina kemudian menuju ruangan Afdhal. Gina sengaja naik dari lift khusus direktur yang disediakan di bastman perusahaan.
Ting. Bunyi lift yang sampai di lantilai yang dituju. Gina dan Arga keluar dari dalam lift. Terlihat seorang sekretaris yang sudah dalam posisi berdiri untuk menyambut kedatangan tamu yang muncul dari dalam lift.
__ADS_1
"Siang Nyonya Gina. Silahkan langsung ke dalam karena Tuan sudah menunggu." ujar sekretaris memberitahukan keberadaan Afdhal kepada Gina.
Sekretaris membukakan pintu untuk Gina, terlihat di dalam ada Afdhal dan Budi mantan asisten Gina dahulu.
"Duduk Gin" ujar Afdhal.
"Wow ada Arga keponakan ku." ujar Afdhal sambil menggendong Arga.
"Om" ucap Arga.
"Wow sungguh mantap kamu udah bisa manggil om." ujar Afdhal sambil tersenyum.
"Uda, apakah ada ruangan yang bisa di pakai Arga untuk terapi dengan dokternya?" tanya Gina kepada Afdhal.
"Terapi?" tanya Afdhal.
"Ya Arga terapi autis Uda." ucap Gina.
"Budi tolong sediakan satu ruangan untuk Arga." ujar Afdhal memerintah Budi.
Budi langsung keluar dan menyediakan sebuah ruangan untuk Arga dan terapisnya.
Gina kembali menghubungi dokter Rina.
"Hallo dokter apakah sudah sampai?" tanya Gina.
"Sudah Nyonya. Saya di resepsionis tidak bisa ke atas." ujar dokter Rani.
"Uda dokter Rani ditahan resepsionis." ujar Gina kepada Afdhal.
Afdhal mengambil ponsel Gina.
"Dokter serahkan ponsel dokter kepada resepsionis. Biar saya yang memberi izin." ujar Afdhal.
Afdhal kemudian berbicara kepada resepsionis untuk mengantarkan dokter Rina ke ruangannya.
Tok tok tok.
"Masuk" ujar Afdhal.
Dokter Rina masuk ke dalam ruangan Afdhal.
"Kak" ujar Arga yang langsung berlari menuju Rina.
"Arga." ujar Rina.
"Tuan ruangan sudah siap" ujar Budi kepada Afdhal.
"Dokter silahkan ikuti Bapak itu." ujar Afdhal kepada Budi.
Dokter Rani dan Arga serta Budi pergi menuju ruangan tempat Arga akan melakukan terapi.
"Sekarang coba ceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Kenapa Arga bisa terapi Autis." ujar Afdhal yang baru menemukan sebuah kenyataan baru tentang keponakannya.
"Arga di diagnosa autis oleh dokter Rani uda. Tetapi sekarang kemajuannya sungguh pesat. Rencana akau akan menghubungi kak Anggel untuk tes psikologi Arga." ujar Gina.
"Oke aku akan hubungi Anggel sekarang juga biar datang ke kantor. Kebetulan ada dokter Rani di sini." ujar Afdhal.
Afdhal langsung menghubungi Anggel agar datang ke perusahaan sekarang. Anggel yang memang sudah selesai praktek langsung menuju perusahaan Afdhal. Dia penasaran dengan cerita singkat Afdhal tentang Arga.
"Terus masalah Daniel?" ujar Afdhal.
Gina menceritakan sekilas tentang kasus yang menimpa Daniel.
"Uda kalau ragu, aku ada buktinya." ujar Gina yang berjalan mengambil laptop milik Afdhal.
Gina memutar video rekaman cctv yang diambil Gina dari cctv rumah utama. Betapa terkejutnya Afdhal ternyata semua itu adalah kelakuan Nyonya Soepomo sebagai dalangnya. Gina yang lupa menghapus video Mami memaki Arga akhirnya terlihat oleh Afdhal. Wajah Afdhal berubah memerah dan sangat terlihat sedang menahan marahnya.
"Gina ini apa apaan ini Gina?" ujar Afdhal menahan marahnya.
"Itulah uda yang terjadi sampai sekarang." kata Gina menunduk lesu.
"Aris tau?" tanya Afdhal.
"Nggak uda." jawab Gina.
"Nana tau masalah Arga?" tanya Afdhal.
"Yang tau hanya uda, Daniel dan Frenya." jawab Gina.
"Kenapa?" tanya Afdhal penasaran.
"Uda taukan ya bagaimana tanggapan Mami? Gina takut tanggapan yang lain juga akan seperti itu. Tambah lagi sekarang Nana sudah membenci Gina." ujar Gina mengusap air matanya.
Afdhal mendekati Gina, dia membawa adiknya ke dalam pelukannya. Dia sangat tau penderitaan yang dialami oleh adiknya itu.
"Apa yang bisa uda tolong Gin?"
"Jangan beritahukan siapapun. Oke Anggel karena dia dokter. Yang lain tidak." ujar Gina sambil menatap memohon kepada Afdhal.
"Baiklah uda setuju. Tetapi apabila terjadi sesuatu kepada dirimu, kamu harus mengabari uda. Uda nggak akan membiarkan kamu sendirian menghadapinya." ujar Afdhal.
"Sekarang Daniel bagaimana?" tanya Afdhal yang teringat dengan anak angkat Gina yang sangat baik.
"Kembali ke UK Uda. Dia melanjutkan kuliahnya di sana." ujar Gina.
"Masih kamu yang membiayai?"
__ADS_1
Gina mengangguk.
"Frenya?"
"Frenya di Bali. Dia tinggal di sana mengurus perusahaan yang di sana." jawab Gina memberitahukan keberadaan kedua anaknya.
"Apakah mereka aman?"
"Aman"
Saat mereka berbincang masalah perusahaan Anggel kemudian masuk ke dalam ruangan Afdhal.
"Mana Arga?" tanya Anggel.
"Sedang terapi kak." jawab Gina.
"Kenapa baru ngomong sekarang Gin. Tapi apakah dia terapi udah lama?" tanya Anggel yang takut Gina terlambat menterapis Arga.
"Udah dari usia satu tahun kak." jawab Gina.
"Diet?"
"Ada."
"Sekarang dia udah mau ngomon" tanya Anggel yang terlihat sangat khawatir.
Gina mengangguk.
"Sayang lebih baik kamu nanti berbicara dengan dokternya Arga." kata Afdhal.
Gina, Afdhal dan Anggel berbicara seputar anak autis. Apa yang boleh dikonsumsi apa yang tidak. Serta kemungkinan terburuk yang akan diderita Arga.
.
.
.
Tiga jam berlalu, akhirnya Arga selesai terapis dengan Rani. Arga, Rani dan Budi masuk kembali ke dalam ruangan Afdhal.
"Rani?" ujar Anggel saat melihat dokter Rani.
"Anggel" jawab Rani.
Dua dokter cantik beda spesialisasi itu saling berpelukan.
"Kamu kenapa bisa ada di sini?" tanya Anggel kepada Rani.
"Aku siap terapi Arga. Sedangkan kamu kenapa ada di sini?" tanya balik dokter Rani.
"dokter.Rani, dokter Anggel calon kakak ipar saya." jawab Gina.
"Dokter Rani silahkan duduk." ujar Afdhal.
Sedangkan Arga sibuk bermain ponsel milik Budi.
"Jadi kamu yang terapi Arga?" tanya Anggel kembali.
Rani mengangguk dengan pasti.
"Gina, kamu mendapatkan dokter yang paten dibidangnya. Aku yakin Arga pasti sembuh" jawab Anggel dengan penuh keyakinan. Anggel sangat tau kapasitas Rani sampai dimananya.
Gina tersenyum mendengar apa yang dikatakan Anggel. Ternyata Daniel tidak salah memilihkan dokter untuk Arga.
"Ah kamu bisa aja Nggel." jawab Rani yang terlihat malu.
"Jadi gimana Arga?"
"Kemajuannya sangat pesat. Aku yakin dia akan bisa seperti anak normal lainnya. Tapi aku butuh bantuan kamu." ujar Rani.
Pembicaraan dua dokter itu disimak oleh Gina dan Arga. Mereka yang tidak tau akan dunia itu hanya bisa menyimak tanpa bisa memberikan masukan. Bagi Gina dan Afdhal, Rina dan Anggel memberikan yang terbaik buat Arga.
"Apa yang bisa gue bantu?" jawab Anggel yang ikut antusias.
"Cek IQ Arga ya. Gue akan menaikan program gue." ucap Rani.
"Oke beso kita akan uji." jawab Anggel yang langsung mengokekan permintaan Rani.
"Gin, mulai besok kamu dan Arga terapi di tempat kakak saja. Jadi kakak juga bisa melihat perkembangan dari IQ nya Arga serta tingkat emosional Arga." ujar Anggel.
"Baik Kak. Kemanapun kata orang asal itu terbaik untuk Arga akan aku lakukan Kak." jawab Gina.
"Anggel" panggil Afdhal.
"Ya sayang?" jawab Anggel sambil melihat ke arah Afdhal.
"Kamu harus bantu keponakan ku" ujar Afdhal sambil berlinang air mata melihat Arga keponakan gantengnya itu.
Anggel memeluk Afdhal. "Sayang, kita akan tau apakah Arga berada di level aman atau tidak setelah melakukan tes IQ. Kita harus berdoa dan berusaha untuk Arga." jawab Anggel berusaha menenangkan kembali hati kekasihnya itu.
"Uda" jawab Gina yang tidak ingin siapapun mengasihani Arga.
Afdhal menghapus air matanya. "Maafkan Uda Gin" kata Afdhal.
Gina mengangguk memaklumi emosional Afdhal.
Mereka kembali berbincang seputar autis. Gina banyak mendapat pencerahan dari kedua dokter itu. Gina berjanji di dalam hatinya akan menjauhi Arga dari hal hal yang membuat dirinya tertekan.
__ADS_1
Setelah bercerita cukup lama, mereka semua kembali ke rumah masing masing. Gina dan Arga mampir ke rumah makan yang menyediakan masakan tanpa penyedap rasa. Rumah makan yang sengaja didirikan oleh Gina untuk Arga.
Semenjak kejadian Mami memaki Gina karena masih menggunakan fasilitas rumah utama, semenjak itu Gina mengubah konsep salah satu rumah makannya menjadi rumah makan ramah anak. Dimana di sana tidak ada yang namanya pengawet makanan, penyedap masakan, pewarna masakan. Semua yang dijual di rumah makan itu aman dan sehat. Mulanya Gina pesimis dengan usahanya itu, ternyata peminat makanan sehat luar biasa banyak. Koki yang dari tiga orang sekarang menjadi enam untuk memasak masakan yang dipesan konsumen