
Nyonya, ada telpon dari Nyonya Mira." ujar Bik Ima sambil mengangkat telpon rumah ke arah Ghina.
Ghina pergi menuju Bik Ima. Dia mengambil telepon dari Bik Ima.
"Tumben nelpon ke rumah. Kok nggak ke ponsel gua." ujar Ghina menyapa Mira.
"Udah berkali kali gue nelpon ke ponsel Nyonya. Tapi Nyonya dimana, ponsel nyonya dimana." ujar Mira yang memang suduh berkali kali menghubungi Ghina ke ponsel, tetapi sama sekali tidak ada respon.
Ghina mengingat ingat dimana letak ponselnya di simpan.
"Sorry Mir. Ponsel gue di kamar. Gue sekarang ne di dapur. Ada apa?"
"Jam berapa mau ke markas?" tanya Mira.
"Terserah loe aja. Gue hari ini nggak ke perusahaan. Males."
"Jam sembilan gimana? Biar nanti kita agak lama melihat pelakunya. Pulang dari sana ngemoll gimana?" ujar Mira.
"Ke tempat Sari gimana?" ujar Ghina yang males untuk pergi ke mall. Ghina sedang kangen dengan Sari. Ke rumah sakit selain bisa bertemu dengan Sari, Ghina juga bisa melihat Baby A.
"Oke rumah sakit aja. Kita udah lama nggak nengok Sari. Aku juga kangen sama dia." ujar Mira yang ingat dengan sahabatnya yang masih dalam keadaan koma. Koma yang sudah terlalu lama.
"Sip. Gue tunggu loe di rumah ya."
"Oke"
Ghina memutus sambungan telpon antara dirinya dengan Mira. Setelah selesai menelpon, Ghina kemudian kembali ke dapur. Semua menu sarapan telah selesai dilanjutkan oleh Bik Ima.
"Udah bibik selesaikan?" tanya Ghina memandang Bik Ina yang ternyata telah selesai memasak semua menu sarapan.
"Sudah Nyonya. Saya hanya tinggal melanjutkan sedikit saja tadi lagi. Ini sekarang udah siap." ujar Bik Ina.
Ghina membawa semua hasil menu sarapan ke meja makan. Ghina menata dengan begitu rapi menu sarapan pagi itu. Setelah selesai menata meja makan, Ghina kembali ke kamar. Dia akan melihat sibungsunya, apakah sudah selesai bersiap siap atau masih berada di kasur.
__ADS_1
Tok tok tok. Ghina mengetuk pintu kamar Argha.
"Masuk Bun, nggak di kunci." ujar Argha dari dalam kamar sambil menata rambutnya.
"Jadi anak Bunda yang ganteng ini belum siap berkemas kemas?" ujar Ghina sambil menatap Argha dari belakang.
"Belum. Argha sedang sibuk. Jadi agak lama siapnya." jawab Argha sambil tersenyum.
"Dasar, ada aja alasannya." kata Ghina.
Ghina memasangkan dasi Argha. Argha sudah terlihat rapi dan gagah dengan tampilannya.
"Ayuk kita sarapan."
Ghina dan Argha kembali menuju kamar.
"Sayang, kok belum siap?" tanga Ghina yang melihat Aris belum memakai dasinya.
"Udah lupa cara makai dasi sayang." jawab Aris menggida istrinya.
"Natapnya biasa aja. Ngapain harus kayak gitu banget coba." ujar Ghina sambil mengusap wajah Aris.
"Hahahahahaha. Kamu mupeng sayang." ujar Aris meledek Ghina.
"Mana ada sayang. Kamu yang mupeng." jawab Ghina.
"Udah udah sama sama mupeng juga kali." ujar Argha sambil berdiri tegak pinggang menatap Daddy dan Bunda yang sibuk dengan kata mupeng.
"Selesai. Ayuk turun, kita sarapan setelah itu berangkat kerja." ujar Ghina.
Ghina menggandeng tangan Aris dan tangan Argha. Mereka bertiga turun menuju meja makan. Semua anggota keluarga sudah berada di meja makan. Keluarga Soepomo makan dalam keheningan seperti biasanya.
"Sayang, jadi pergi dengan Mira?" tanya Aris saat Ghina mengantarnya menuju mobil.
__ADS_1
"Jadi sayang. Jam sebilan tadi janjian dengan Mira."
"Hati hati ya. Jangan berbuat aneh aneh." kata Aris.
"Aman sayang."
Cup. Aris mengecup kening Ghina. Ghina mencium punggung tangan Aris. Mereka kemudian saling berciuman sekilas. Hal yang selalu sukses membuat Argha menjadi muntah.
Tiga buah mobil berjalan meninggalkan rumah utama. Ghina kembali masuk ke dalam rumah.
"Ghina, bisa Papi berbicara sebentar?"
"Bisa Pi. Ada apa?" tanya Ghina.
"Ada apa dengan kafe Bayu. Papi kemaren kurang paham." ujar Papi.
"Jadi gini Pi. Ada tiga orang yang mencuri semua file dan berkas berkas milik Bayu dari dalam brangkas." kata Ghina memulai ceritanya.
"Terus pencurinya sudah di tangkap?" tanya Papi yang tidak sabaran.
"Sudah Pi. Yang menolong menemukan Bimo dan Jero."
"Perasaan Papi udah lama tidak melihat Jero dan Bimo dari kemaren." tanya Papi yang tidak melihat Jero dan Bimo.
"Mereka sedang membantu Alex menangkap siapa dalang dibalik kecelakaan Sari Pi. Jadi, Bang Aria mengizinkan mereka untuk pergi." lanjut Ghina.
Papi mengangguk tanda mengerti dengan yang diceritakan oleh Ghina.
"Papi jalan dulu Ghin. Papi mau ke rumah Ayah Wijaya."
"Hati hati Pi. Ghina juga mau ke markas black jack. Penasaran dengan tiga pelaku pencurian itu." ujar Ghina memberitahukan dia mau ke markas.
"Kamu hati hati ya. Jangan ceroboh saat mengemudi." pesan Papi.
__ADS_1
"Baik Pi."
Ghina kemudian pergi ke kamar setelah memastikan kalau Papi telah berangkat dari rumah utama.