Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Frenya


__ADS_3

Pagi harinya saat Aris dan yang lain masih tertidur. Mamk dan Nana telah datang sambil membawa sarapan.


"Haduh untung saja anaknya nggak rewel dan nggak banyak tingkah." ujar Mami sambil melihat Blip yang enak tertidur bersama dengan kedua orang tuanya.


Mami menuju arah Aris. Dia langsung menepuk Aris dengan sangat kuat. Aris yang mendapat pukulan kuat langsung duduk dari tidurnya. Dia melihat Mami sudah berdiri tegak pinggang.


"Enak ya tidur. Udah jam sembilan." ujar Mami.


"Mi, kami baru tidur jam lima pagi. Saat kami mau tidur Blip bangun Mi. Itu baru tidur jam lima pagi." jawab Aris sambil menggosok matanya.


"Oh maaf. Mami kira Blip nggak bangun tengah malam." kata Mami yang merasa bersalah karena sudah membangunkan Aris dengan memakai kekerasan.


Gina dan Daniel yang mendengar suara ribut ribut langsung bangun dari tidur mereka yang baru sebentar.


"Ada apa Mi?" tanya Gina kepada Mami.


"Ini Mami kira kalian enak tidur dari malam dan Blip tidak berulah. Mami bangunkan Aris dengan cara mukul dia. Eeee ternyata kalian baru tidur jam lima." kata Mami dengan wajah merasa bersalahnya.


Oek oek oek, Blip yang merasa terganggu tidurnya langsung terbangun dengan tangis yang begitu keras.


"Nah dia protes." kata Daniel.


Nana langsung menggendong Blip. Nana di bantu Mami pergi memandikan Blip. Sedangkan Aris menyuapi Gina sarapan.


"Neil, kamu nggak visit?" tanya Mami kepada Daniel.


"Nggak Nek. Aku ambil cuti sehari ini. Pengen selalu dekat anak bayi menggemeskan itu." ujar Daniel sambil melihat Blip.


"Mandi dulu." ujar Nana.


Saat jam makan siang kantor. Semua keluarga besar datang untuk makan siang di rumah sakit. Mereka membuat modus makan siang bersama di chat grub keluarga, padahal mereka sebenarnya hanya ingin melihat Blip.


Tok tok tok, bunyi pintu kamar yang di ketuk.


"Kamu udah visit kan Gin? Blip juga udah di kontrol. Siapa lagi itu?" tanya Mami.


"Nggak tau juga Mi." jawab Gina.


Daniel pergi membukakan pintu kamar rawat Gina. Ternyata di depan pintu berdiri seorang perempuan yang baru malam tadi video call dengan mereka berempat.


"Bunda liat siapa yang datang." ujar Daniel dengan suara riangnya.


Seorang perempuan berperawakan tinggi semampai membawa tas ransel langsung masuk ke dalam ruangan Gina.


"Bunda" teriak perempuan cantik tersebut.


"Frenya?" tanya Gina yang tidak percaya itu adalah anak gadisnya.


"Bener. Tapi ini kalau dandanan kampus. Kalau asli mah masih cakepan aku dari pada Bunda." jawab Frenya dengan girang tanpa memperdulikan orang sekitarnya.


"Hus. Nggak lihat semua orang memerhatikan kamu." tanya Gina sambil melihat ke keluarga besarnya.


"Op sorry Bunda." kata Frenya yang terlihat malu.


"Sayang itu siapa?" tanya Mami kepada Gina.


"Ini Frenya Mi. Waktu Gina memperkenalkan Daniel kan nama Frenya juga Gina sebutkan. Nah ini orangnya." kata Gina kepada Mami sekaligus keluarganya.


"Kamu terangkan sana siapa kamu sebenarnya." ujar Gina kepada Frenya.


"Oke Bun." ujar Frenya kepada Gina.


Sebelum memperkenalkan dirinya kepada keluarga besar Gina. Frenya ke kamar mandi untuk membersihkan mukanya terlebih dahulu. Dia nggak ingin semua keluarga Gina menolak kehadirannya karena fisiknya. Setelah selesai membersihkan mukanya, Frenya keluar dan kembali ke tempat keluarga berkumpul.


Semua orang yang berada di sana kaget melihat tampilan sebenarnya dari Frenya. Dia bener bener sesosok perempuan sangat cantik. Berbeda dengan saat dia datang tadi.


"Kok?" tanya Mami yang heran.

__ADS_1


Mami masuk ke dalam kamar mandi. Dia tidak ada melihat siapa siapa di dalam kamar mandi.


"Tenang Oma. Aku wanita yang tadi. Aku berpenampilan seperti itu agar tidak di ganggu para kaum pria yang akan merusak konsentrasi kuliahku. Tapi berhubung kuliah ku sudah selesai. Maka selamat tinggal Frenya cupu dan selamat datang Frenya modis." kata Frenya dengan gembira.


Daniel yang melihat tingkah adik angkatnya itu hanya bisa geleng geleng kepala dan pasrah saja. Mereka berdua memang memiliki kepribadian yang berbeda. Daniel sangat dingin sedangkan Frenya ya seperti yang dibaca.


"Jadi kamu kenal dengan Gina dimana?" tanya Nana yang penasaran.


"Kenal Bunda di panti asuhan. Aku diambil Bunda dari panti asuhan. Terus di sekolahin Bunda di luar negeri bareng kak Daniel. Tapi karena kak Daniel lebih suka dunia kedokteran maka dia kuliah di sana. Sedangkan aku lebih suka ke dunia bisnis makanya kuliah bisnis sekaligus arsitektur. Kalau masalah arsitektur itu adalah syarat kuliah dari Bunda. Kalau nggak arsitektur maka aku nggak boleh kuliah." ujar Frenya menceritakan sejarahnya.


"Kenapa kamu bisa masuk panti asuhan?" tanya Mami yang penasaran dengan latar belakang kelyarga Frenya.


"Kedua orang tuaku meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil." jawab Frenya dengan santainya


"Makanya semenjak itu, aku nggak mau lagi ikut atau belajar bisnis. Tapi waktu bertemu Bunda, Bunda mengatakan, aku bisa membalas orang yang sudah membuat aku menjadi yatim piatu dengan kepintaran aku di dunia bisnis. Makanya akhirnya aku kuliah di dunia bisnis." ujar Frenya.


"Maksud kamu, keluarga kamu meninggal karena kecelakaan akibat persaingan bisnis?" tanya Papi yang tiba tiba teringat dengan suatu kejadian dimasa lalu.


"Benar atuk. Aku hari itu ikut dengan Mami dan Papi. Tapi di tengah jalan ada mobil yang mengejar dan menembaki setiap sisi mobil kami. Setelah yakin mereka kalau kami semua sudah meninggal, mereka membuat seakan akan kami mengalami kecelakaan." ujar Frenya yang terpaksa harus mengingat kembali kepahitan hidup yang harus dijalaninya.


"Saat tabrakan itu terjadi. Aku diselamatkan oleh sopir yang saat itu berpura pura meninggal. Dia mengantarkan aku ke panti asuhan. Dia juga memberikan semua identitas keluarga. Sopir itu mengantarkan aku ke panti agar aku tidak diketahui masih hidup." lanjut Frenya.


"Nah saat aku di panti itulah bertemu dengan Bunda. Jarak usia kami yang sepuluh tahun. Membuat Bunda hanya mau dipanggil kakak. Tapi karena aku mengatakan aku butuh Bunda bukan kakak, makanya Bunda rela dipanggil dengan kata Bunda." kata Frenya sambil menatap Gina.


"Saat itulah Bunda membuka kembali semua cakrawala aku supaya aku tidak terpuruk makin dalam di lembah kesunyian. Bunda membawa aku melihat lihat anak anak yang keberuntungannya di bawah aku. Disanalah aku mulai kembali bangkit. Sampai kata Bunda, kamu bunda sekolahkan dengan uda kamu yaitu Daniel di luar negeri. Kamu harus ngambil jurusan arsitektur." ujar Frenya.


"Saat itu aku mengambil dua jurusan sekaligus. Tapi karena isi otak ini yang nggak mau diam. Aku menjalankan kuliah tidak seerti mahasiswa biasanya. Aku terus dan terus belajar. Tujuan aku hari itu adalah aku harus bisa buat Bunda dan uda Daniel bangga dengan aku yang sempat terpuruk ini. Maka dengan sekuat tenaga aku kuliah. Dan akhirnya berkat mereka aku bisa lulus S3 bidang bisnis." lanjut Frenya sambil menatap Gina dan Daniel.


"Sekarang apakah kamu minat balas dendam dengan orang yang mencelai keluarga mu?" tanya Papi yang tau keluarga mana yang telah mencelai orang tua Frenya.


"Nggak Atuk. Aku udah janji dengan uda Daniel, nggak akan balas dendam lagi. Tapi kalau seandainya mereka tau dan mau membuat urusan dengan aku, maka aku akan langsung beli tanpa adanya penolakan." ujar Frenya yang dari matanya terlihat semburat api.


"Sepertinya wanita ini sangat tangguh." ujar ayah berbisik kepada Papi.


Papi mengangguk tanda setuju dengan pendapat Ayah.


"Jadi sekarang kamu pulang mau mengambil alih perusahaan milik ayah kamu?" tanya Papi keceplosan bertanya.


"Tau, saat itu terjadi konflik dalam perusahaan keluarga kamu. Istilahnya perebutan pemilik saham terbesar. Papi kamu bersaudara tiga orang. Papi kamu adalah anak nomor dua dan paling pintar mengendalikan perusahaan. Karena kedua saudaranya tidak ingin Papi kamu yang memegang kendali, maka mereka buat sebuah konspirasi pembunuhan." ujar Papi.


"Bener Atuk. Sekarang perusahaan itu sepertinya masih berjalan. Tapi aku tau mereka main di bawah tanah. Tapi selagi mereka tidak menyangkut pautkan dengan aku, aku nggak ambil pusing." jawab Frenya.


"Nah Atuk udah tau kehidupan aku. Jadi apakah aku diterima dalam keluarga ini atau tidak?" tanya Frenya


"Nak semua yang sudah dianggap anak oleh Gina, maka mereka akan menjadi cucu kami. Tapi pertanyaannya apakah Daddy kamu mau nerima kamu atau nggak." jawab Papi sambil melihat ke arah Aris.


Gina menatap Aris dengan penuh harap.


"Terima Pi. Kenapa nggak." jawab Aris.


Frenya memeluk Mami, Nana, Ayah dan Papi bergantian. Dia mengucapkan rasa terimakasihnya kerena sudah mau menganggap dia sebagai bagian dari keluarga Soepomo.


"Bram seperti biasa." ujar Aris.


"Aman. Masalah gampang." jawab Bram yang sudah tau apa keinginan Aris.


Oke oke oke terdengar tangis dari Blip.


"Dia protes karena nggak ada yang merhatiin dia." ujar Nana.


Blip menatap Frenya. Frenya juga menatap Blip.


"Gantengnya uni. Cepat besar biar bisa main tembak tembakan dengan uni. Uni paling pintar kalah uda." kata Frenya.


"Maksud kamu nak?" ujar Nana yang mendengar ucapan Frenya.


"Aku atlet tembak kampus nenek. Semua orang kenal aku. Aku paling ahli dalam menambak." ujar Frenya yang sadar dia telah salah ucap. Untung aja dia pandai mengelak. Daniel langsung tersenyum.

__ADS_1


"Satu lagi ujar Bram dan Bayu." bersamaan.


Frenya melihat ke arah Daddy.


"Dad, kemaren kata uda, adek Daddy satu cowok. Lah itu kok dua? Kenapa duduknya dekat tante Mira?" tanya Frenya kepada Aris sambil menggendong Blip.


"Nah namanya Papi Bayu, dia juga adik Daddy. Sedangkan tante Mira berubah menjadi Mami Mira karena dia." ujar Aris yang belum selesai berbicara.


"Istrinya Papi Bayu. Nah Papi Bram berpacaran dengan tante Sari. Kata uda yang Papi Bram nggak berani ngajak nikah. Bener Dad?" tanya Frenya yang membuat malu Bram.


"Bener. Tos dulu." jawab Aris sambil tos dengan anak gadisnya.


"Selamat bro, lawan loe dua. Loe jangan nunggu Blip umur dua tahun. Habis lie dibetigain." ujar Bayu menepuk bahu Bram.


"Tenang Pi. Papi pasti bisa bawa tante Sari kepelaminan. Tante Sari itu gampang dibujuk. Pake jengkol aja selesai Pi." ujar Frenya membuka rahasia Sari.


"Jadi kamu penggila jengkol Yang???? Batlru tau aku." ujar Bram yang nggak percaya dengan ucapan Frenya.


"Dikit" jawab Sari sambil menatap tajam Frenya. Frenya kembali menatap Sari.


"Frenya sini duduk." ujar Mami yang membawa Gina duduk dekat dua pasang kakeknya.


"Ada apa oma?" tanya Frenya.


"Kamu mau kerja di perusahaan Oma?" tanya Mami.


"Nggak Oma. Aku udah ada perusahaan sendiri. Walaupun kecil aku mau mengembangkannya menjadi besar." jawab Frenya.


"Oma, bukan Frenya menolak pemberian dari Oma Mami dan Oma Nana, tapi sungguh Frenya akan bantu sekuat tenaga saat Frenya dibutuhkan. Tapi Frenya juga mau perusahaan yang punya Frenya maju juga. Bunda dan Daddy pasti bangga dengan Frenya." ujar Frenya.


"Baiklah. Tapi kamu harus janji, nggak seperti uda kamu yang sampe sekarang nggak pernah bawa pacar ke rumah. Selalu sendirian. Oma berdua mau, kamu membuka hati untuk pria tampan. Kami berdua nggak akan nengok dia dari keluarga mana. Tapi asal dia sayang kamu, maka kami setuju." ujar Mami.


"Waduah Mi. Baru juga dia pulang, udah suruh cari jodoh. Kasian Bram Mi." ujar Bayu yang akan mulai lagi.


"Udah udah. Kami pulang dulu ya sayang. Kamu baek baek ha. Kan makin rame yang jagain kamu." ujar Nana, pamit kepada Gina.


"Tenang aja Na." jawab Gina.


"Bram nanti loe balik sini lagi." perintah Aris kepada Bram.


"Siap komandan." jawab Bram sambil memberi hormat seperti tentara.


Saat semua anggita keluarga sudah pulang. Tinggallah Aris, Gina dan tiga anaknya.


"Sayang, kamu terbang kapan? kok bisa mendadak datang gini?" tanya Gina yang penasaran dengan kedatangan Frenya.


"Jadi gini, saat Bunda video call itu aku udah menyusun semua baju ke dalam koper. Aku memang ada niat pulang. Aku mau wisuda virtual dengan kehadiran semua keluargaku. Aku kan wisudawan termuda dan tertinggi IPKnya."


"Nah saat Bunda ngomong aku boleh pulang, aku langsung japri Stepen. Stepen malam itu juga terbang ke sini. Nah tau nggak Bun, dia terbang hanya dengan sati co pilot dan satu pramugari." ujar Frenya melapor kepada Giba.


"Nah saat itu ya Bun, pas pulang aku jadi co pilotnya. Ternyata ilmu aku masih ada Bun." lanjut Frenya.


"Loe nerbangin boing?" tanya Daniel.


"Boing? Nggak Hellicopter" tanya Aris.


"Mana ada heli sampe negara E Dad. ada ada aja." jawab Frenya.


"Jadi kamu bisa nerbangin boing?" tanya Aris penasarab.


"Bisa. Itu bukan penerbangan perdana, tapi udah yang kesekian kali. Makanya aku nggak ada takutnya." jawab Frenya.


Mereka kemudian bercerita tentang semua kegiatan Frenya selama di negara E. Mereka lebih banyak tertawa mendengar cerita Frenya.


"Terus kenapa pake topeng kayak tadi?" tanya Aris yang memang dari cerita Daniel, dia sudah penasaran.


"Aku kalau tampilan gini, paskti selalu di siul, di ajak kenalan, di kasih nomor ponsel. Nah karena itu aku bergaya seperti yang tadi. Mereka yang semuanya suka godain aku, langsung menghilang tak tau arah." ujar Frenya.

__ADS_1


"Ayuk makan Dad. Cerita sama Frenya nggak akan habis. Dia bawa lima puluh koper untuk tanya jawab. Jadi kalau diselesaikan sekarang takutnya nanti nasi dingin samba dak lamak." jawab Daniel.


Mereka kemudian makan malam bersama. Setelah makan malam Frenya tidur di kasur yang ditiduri Aris semalam. Sedangkan Aris dan Daniel berbagi sofa tempat duduk. Daniek yang tidurnya lasak, lebih memilih tidur di karpet dari pada jadi anak durhaka, karena menendang orang tua.


__ADS_2